
Disaat Rio sedang mengajak Cinta untuk menuju ke tempat lainnya sambil melihat-lihat keadaan varian isi tambak. Seorang pria separuh baya sedang melangkah mendekati Rio dan Cinta yang terlihat seru sekali melihat-lihat keadaan isi tambak. Dan, bapak itu sendiri tersenyum seperti mengenali siapa yang sedang datang ke tambaknya itu.
" Sepertinya ada orang yang mau beli benih ikan,," Gumam seorang pria paruh baya itu saat melihat Rio dan Cinta sedang asyik melihat-lihat kondisi tambak.
Dengan segera Bapak itu langsung melangkah keluar dari tempatnya yang sedang menghitung pelanggan lain setelah membeli benih ikan di tempatnya. Sesampainya di tempatnya Rio dan Cinta yang berbicara sambil tertawa bersama Bapak itu menyapa Rio dan terlihat seperti sedikit mengingat siapa orang yang datang ke tempatnya itu.
" Mas sama Mbaknya mau pilih benih ikan yang mana ?" Tanya Bapak itu dengan wajah ramahnya.
" Aakkhh, Bapak baru saja saya sampai kesini dan sedang lihat-lihat benih ikannya,," Jawab Rio sambil memberikan senyuman kepada Bapak penjual benih.
" Oohhh, boleh silahkan,," Bilang Bapak itu dengan wajah ramahnya.
" Eemm, sepertinya Bapak mengenali, Mas, siapa ya ?" Tanya Bapak itu sembari menyentuh keningnya mengingat-ingat kembali siapa orang yang berada di depannya ini.
" Saya Rio, Pak, anaknya Bu Gayatri yang sering beli benih ikan sekitar sepuluh tahun yang lalu,," Ucap Rio sambil memberikan sebuah ingatan kepada Bapak penjual benih ikan ini.
Dan, Bapak penjual itu terlihat seperti mengingat kembali ucapan Rio lalu spontan menjawab bahwa ia memang mengenali siapa yang telah datang ke tambak benihnya ini.
" Oohhh iya, Bapak baru ingat !" Seru Bapak itu dengan spontan menepuk lengan Rio dengan gaya ramahnya.
" Sudah lama sekali berarti ya, sekitar sepuluh tahun yang lalu,," Sambung Bapak itu lagi sambil mengingat kapan Rio sering datang ke tempatnya untuk membeli benih ikan.
" Iya Pak, betul,," Jawab Rio tersenyum sambil menyalami Bapak penjual benih.
Ketika, Bapak penjual benih itu mengingat siapa yang telah datang ke tempatnya tentu saja Rio langsung menyalami Bapak penjual benih memberikan rasa hormatnya kepada Bapak itu yang telah mengingat dirinya. Begitu juga dengan Cinta yang ikut menyalami Bapak penjual benih menunjukkan rasa hormatnya.
" Sepertinya Mbak ini istrinya Mas Rio ya ?" Tanya Bapak penjual itu kepada Rio.
" Betul sekali Pak,," Jawab Rio langsung tanpa harus menoleh lagi ke arah Cinta.
Betapa bahagianya Cinta ketika mendengarkan ucapan langsung dari Rio ketika orang lain yang menanyakan kepadanya tentang identitas yang selalu berada di sampingnya itu. Dan, tanpa ragu-ragu lagi Rio menjawabnya dengan lancar, sedangkan Cinta hanya tersenyum bahagia mendengar ucapan Rio barusan.
" Ternyata Kak Rio, nggak malu lagi memperkenalkan aku kepada siapapun sebagai istrinya,," Gumam Cinta dalam hati sambil mengulum senyumnya sendiri.
" Oohhh pantes sudah lama tidak kembali lagi ke tambak, ternyata sudah menikah,," Bilang Bapak penjual benih itu meledek Rio.
" Hehehehe, Bapak bisa saja, selama ini Rio kerja di luar kota, Pak dan tambak sendiri dikelola oleh Arif." Jawab Rio dengan senyumannya sendiri.
" Iya betul sekali, Arif yang sering datang kemari untuk membeli benih baru," Ucap Bapak penjual benih itu membetulkan pernyataan Rio dan Rio hanya mengangguk saja saat mendengar perkataan dari Bapak penjual itu.
" Oh ya Mas, Mbak, mari silahkan dipilih benih ikannya,," Ucap Bapak penjual benih itu yang menawarkan keindahan tambak tempat benih ikannya itu.
" Jika sudah ditentukan nanti langsung berikan catatannya kepada Bapak benih apa saja yang ingin dipesan," Sambung Bapak penjual benih itu lagi.
" Oh iya Pak,," Jawab Cinta dan Rio bersamaan.
Karena, sudah mendapatkan tawaran dari Bapak penjual benih untuk memilih terlebih dahulu benih ikan mana yang akan dipilih, dengan senang hati Cinta mengikuti jejak Rio mengelilingi tambak itu. Lalu, saat Rio dan Cinta sedang mengelilingi tambak benih ikan, tanpa rasa malu dan canggung Cinta langsung bertanya kepada Rio tentang ucapan yang baru saja dikatakannya kepada Bapak penjual benih.
" Eeemm Kak, Cinta boleh nanya ?" Tanya Cinta dengan suara lembutnya menyela keheningan.
" Mau nanya apa dek ?" Jawab Rio sambil memberikan peluang untuk Cinta bertanya.
" Barusan saat Kak Rio menjawab pertanyaan dari Bapak penjual itu kira-kira spontan langsung dijawab atau dipikirkan dulu ?" Tanya Cinta kepada Rio seketika membuat Rio bingung atas pertanyaannya yang cukup berbelit-belit.
" Eeemm maksudnya dek ?" Tanya Rio balik dengan wajah bingungnya.
" Itu ucapan Kak Rio barusan yang mengatakan bahwa Cinta." Bilang Cinta sambil menjelaskan maksud pertanyaannya dan langsung dipotong oleh jawaban dari Rio.
" Ooohh iya, Kakak ngerti maksudnya, ya, memang benar, Kak Rio jawabnya itu spontan langsung karena, bagi Kakak Dedek bukanlah istri sandiwara melainkan istri yang sesungguhnya,," Jawab Rio dengan suara lembutnya sehingga membuat Cinta tertegun sejenak ketika mendengar penjelasan dari Rio yang begitu indah sekali.
__ADS_1
" Benarkah ?" Tanya Cinta dengan wajah yang terlihat meminta jawaban pasti dari Rio.
" Heemm benar sa,,," Gumam Rio lembut sambil menatap wajah Cinta dengan tatapan penuh keyakinan serta penuh kasih sayang.
Disaat Rio sedang serius menjelaskan maksud dan isi hatinya kepada Cinta, tiba-tiba seorang pekerja tambak kebetulan menegur Rio dan Cinta yang sedang fokus dalam suasana indah di antara hati mereka berdua. Dan, karena, teguran itu membuat Rio kehilangan fokusnya dalam menyebut Cinta dengan panggilan sayang.
" Maaf permisi Mas, Mbak, numpang lewat,," Sapa pekerja tambak kebetulan lewat di antara tempat Rio dan Cinta sedang berdiri.
" Oh iya Pak, silahkan,," Ucap Rio dengan wajah sedikit kaget ketika mendengar suara sapaan yang dilakukan oleh pekerja itu.
Sedangkan, Cinta sendiri tertawa kecil ketika melihat perubahan wajah Rio yang sedang fokus akan mengutarakan sesuatu hal padanya berubah menjadi kaget karena adanya orang yang menegur mereka berdua saat di tengah jalan tambak benih ikan.
" Hahahaha, kenapa wajahnya berubah gitu Kak,," Celetuk Cinta seakan membuat Rio salah memilih tempat untuk menyatakan perasaannya.
" Hehehehe, nggak apa-apa dek,," Jawab Rio sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya, udah yuk lebih baik kita buat pesanan benih ikannya, lalu pergi ke kantor urusan agama untuk ngambil surat keterangan nikah kita,," Ucap Rio mengalihkan perhatiannya pada Cinta.
" Oke,," Jawab Cinta sambil menggandeng tangannya Rio tanpa uluran dari tangannya Rio lagi.
Sambil tersenyum senang, Cinta menggandeng tangan Rio melangkah bersama menuju tempat Bapak penjual ikan yang sedang melayani para pembelinya. Dan, Rio malah terlihat begitu malu karena, salah memilih tempat dan waktu untuk mengutarakan perasaan hatinya terhadap istrinya itu.
Sesampainya di tempat Bapak penjual benih ikan yang sedang duduk di tempatnya sambil menghitung pembelian pelanggan lain, Rio sendiri sengaja menunggu pelanggan yang sudah terlebih dahulu darinya membeli ikan. Setelah pelanggan itu selesai barulah Rio maju mendekati Bapak penjual benih ikan dan memberikan kertas pesanan yang telah dituliskannya.
" Bagaimana sudah selesai memilih benih yang akan dipelihara ?" Tanya Bapak penjual benih ikan itu pada Rio.
" Sudah Pak, sebenarnya sudah ditentukan dari rumah, cuma karena, ini pertama kalinya mengajak istri saya melihat tempat ini, makanya saya mengajaknya untuk mengelilingi tempat ini terlebih dahulu." Ucap Rio menjelaskan kelakuannya bersama Cinta saat sedang mengelilingi tambak itu.
" Oohhh iya nggak apa-apa, kalau mau lihat dan keliling juga nggak apa-apa kok,," Bilang Bapak penjual benih itu dengan ramah.
" Ini kertas pesanannya Pak dan jumlah benih ikannya sesuai dengan yang sudah tertera di dalam kertas pesanan ini,," Ucap Rio sambil memberikan kertas catatan pesanan benih ikan yang sudah ditulisnya sendiri.
" Oohh, baiklah nanti Bapak siapkan, kapan mau diambil benihnya ?" Tanya Bapak itu balik pada Rio.
" Oke, beres,," Ucap Bapak penjual benih itu tersenyum.
" Ya sudah, kalau begitu Rio izin dulu, Pak, terima kasih atas bantuannya,," Ucap Rio sambil memohon pamit kepada Bapak penjual itu dengan sopan.
" Iya, iya jangan lupa untuk sering-sering datang jika masih di kampung ya Mas Rio,," Ucap Bapak penjual itu dengan ramahnya menjawab pamitan dari Rio.
" Iya Pak," Jawab Rio mengangguk.
" Permisi Pak,," Gumam Cinta sambil menangkupkan kedua tangannya memohon pamit pada Bapak penjual benih ikan itu.
Dan Cinta juga memohon pamit kepada Bapak penjual benih ikan itu dengan sopan juga, dengan segera Rio mengajak Cinta menuju ke tempat dimana mereka telah meletakkan mobilnya. Sesampainya di dekat mobil Rio langsung melangkahkan kakinya lebih cepat dibandingkan Cinta agar lebih dahulu bisa membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Awalnya Cinta merasa heran dengan tindakan Rio yang seolah-olah melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah mendahului dirinya itu.
" Loh, kok tangan Cinta di lepas ?" Tanya Cinta dengan ekspresi wajah yang heran.
Tanpa adanya jawaban dari Rio, Cinta yang berekspresi kebingungan. Ternyata Cinta baru menyadari bahwa Rio sengaja melepaskan gandengan tangannya itu, agar bisa cepat membukakan pintu mobil khusus untuk istrinya.
" Silahkan masuk, istriku,," Ucap Rio dengan senyuman yang manis.
" Oooohhh, Kak Rio sengaja ya, mau mancing emosi Cinta,," Seru Cinta sambil tersenyum melangkahkan kakinya mendekati Rio yang telah mempersembahkan pintu mobil untuk dirinya masuk.
" Hehehehe, bukannya mau mancing emosi dek, cuma Kak Rio sekarang bahagia, jika Dedek juga bahagia saat bersama Kakak,," Ucap Rio sambil membantu Cinta untuk masuk ke dalam mobil.
" Cinta bahagia kok, malah bahagia banget, kalau Kak Rio nggak pernah cuek lagi kayak dulu,," Bilang Cinta yang mengingatkan betapa cueknya sifat Rio terdahulu.
" Benarkah, memangnya Kak Rio dulu cuek dek ?" Tanya Rio sambil menutup pintu mobil di tempat Cinta.
__ADS_1
" He'eh, cuek banget,," Jawab Cinta mengangguk.
" Cuma kayak gini nih, Selamat pagi, Non, Nona mau pergi kemana ?" Bilang Cinta sambil menirukan gaya dan suara Rio sewaktu ia menjadi supirnya Cinta.
" Apa iya, Kak Rio seperti itu ?" Tanya Rio lagi dengan wajah tercengang.
" Iya, itu pertama kali Kak Rio datang ke rumah Cinta dan saat itu Cinta,," Jawab Cinta sambil mengingat kisah pertama kali mereka bertemu.
" Saat itu Dedek baru masuk sekolah SMA,," Sambung Rio sehingga membuat Cinta mengangguk membenarkan ucapannya.
" Ya, bener,," Sahut Cinta.
" Dan mulai saat itu juga Cinta berpikir kayak gini,, idih, ini cowok kok jutek amat,," Bilang Cinta sambil memonyongkan bibirnya sehingga membuat Rio langsung meraih dan menangkupkan wajah Cinta dengan gemas.
" Iiihhhh, Dedek bisa aja ya,," Ucap Rio sambil tertawa senang ketika mendengar pengakuan dari mulut Cinta dengan gemas.
" Aduhhh, Kak Rio sakit,," Ucap Cinta yang bersandiwara.
" Aduh, maaf dek,," Sahut Rio yang langsung menghentikan tindakannya.
" Hehehehe, just kidding,," Celetuk Cinta sambil menunjukkan dua jarinya kepada Rio bahwa ia sedang bersandiwara.
" Aaahhh Dedek,," Ucap Rio sambil ikut tersenyum juga melihat Cinta.
" Hihihihihihi, ya udah yuk Kak kita pergi ke kantornya,," Bilang Cinta mengingatkan Rio bahwa mereka ingin pergi ke kantor urusan agama.
" Oohh iya, Oke,," Jawab Rio sambil melangkahkan kakinya memutarkan mobil.
Setelah sampai di tempatnya dengan segera Rio membukakan pintu mobil dan langsung masuk. Sambil membetulkan posisi safety belt yang sedang digunakan oleh Cinta, Rio sendiri langsung bersahut bahagia saat mobilnya akan meluncur ke jalan.
" Udah siap dek ?" Tanya Rio seolah mereka akan melakukan balapan.
" Hehehehe, Kak Rio ada ada aja, emangnya kita mau balapan,," Celetuk Cinta sambil tersenyum.
" Ya anggap aja kita mau balapan dek,," Jawab Rio sendiri.
" Hehehehe, oke oke, Cinta udah siap,," Ucap Cinta.
" Let's go,," Seru Rio melajukan mobilnya ke jalanan.
Dengan segera Rio membawa mobilnya ke arah jalanan dan langsung meluncur ke arah tempat tujuan yang telah mereka atur sebelumnya. Tidak terlalu jauh dari tambak benih ikan akhirnya mobilnya Rio telah sampai ke kantor urusan agama dimana tempat mereka menyatu dalam hubungan yang sah dalam ikatan pernikahan yaitu menikah secara resmi.
" Akhirnya sudah sampai,," Seru Rio sambil memarkirkan mobilnya ke dalam tempat parkiran.
Saat sudah selesai memarkirkan mobilnya, Cinta ingin segera membuka pintu mobil itu sendiri namun, Rio selalu mencegah Cinta untuk membuka pintunya, karena, Rio sendiri ingin membukakan pintu mobil khusus untuk istrinya itu.
" Jangan dibuka dulu dek,," Seru Rio kepada Cinta.
" Kenapa Kak ?" Tanya Cinta dengan wajah kagetnya.
" Biar Kak Rio aja ya dek,," Ucap Rio sambil keluar dari mobil.
" Heemmm, Kak Rio,," Gumam Cinta kembali duduk sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rio yang selalu romantis.
Dengan segera Rio berlari kecil memutar mobilnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk Cinta. Sambil tersenyum Rio menyambut tangannya Cinta dengan lembut dan hal itu membuat Cinta selalu merasa nyaman dan bahagia. Hanya Rio tidak tahu bagaimana bahagia yang dirasakan oleh Cinta saat ini.
" Silahkan turun istriku,," Ucap Rio menyambut Cinta dengan lembut.
" Hehehe makasih Kak,," Jawab Cinta mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Tentunya dengan lembut Cinta turun dari mobil dan Rio juga langsung menutup pintu mobilnya, setelah memastikan keadaan semuanya aman, barulah Rio menggandeng tangan Cinta untuk masuk ke dalam kantor urusan agama itu.
****