
Cinta hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Rio yang begitu semangat sekali saat makan bersama seperti ini, sehingga membuat Cinta juga bersemangat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari bersama Rio dengan keadaan sederhana.
" Heemm, Kak Rio bisa banget ya mengatur suasana kehidupan,," Gumam Cinta sambil tersenyum menatap Rio.
" Ayo dek, dimakan makanannya jangan bengong," Bilang Rio yang sengaja meledek kelakuan Cinta.
" Hehehehe, Iya Kak Rio,," Ucap Cinta tersenyum.
Setelah selesai menyantap semua makanan yang ada di atas meja, dengan telaten Cinta membersihkan bekas peralatan makan dan dibantu oleh Rio. Sambil membantu Cinta saat mencuci piring dengan sengaja Rio memeluk tubuh Cinta dari belakang hingga membuat Cinta sedikit kaget merasakan tindakan Rio ini.
" Kak Rio bantu ya dek,," Gumam Rio seolah memeluk Cinta dari belakang.
" Heemm, iya Kak,," Jawab Cinta mengangguk.
" Tapi, kenapa Kak Rio bantunya dari belakang,," Gumam Cinta seketika membuat Rio tersenyum melirik wajahnya.
" Memangnya gak boleh, jika seorang suami membantu istrinya sambil dipeluk seperti ini ?" Tanya Rio pada Cinta hingga membuat Cinta gugup dengan sendirinya.
Karena, mendengar ucapan Rio seperti itu hingga membuat Cinta merasa canggung dan tersedak akan air liurnya sendiri, membuat Rio langsung mengambil air putih agar Cinta tidak tersedak lagi.
" Uhukk,," Suara Cinta yang tersedak saat mendengar ucapan Rio.
" Oooppss Dedek kenapa tersedak ?" Tanya Rio dengan segera melepaskan pelukannya dan mengambil air putih.
" Kak Rio sih, selalu godain Cinta,," Gumam Cinta sambil cemberut ke arah Rio.
" Hehehehe, maaf ya dek, ini minum,," Bilang Rio sambil memberikan air putih pada Cinta.
Dan, Cinta juga dengan segera duduk sambil menerima air putih dari tangannya Rio. Setelah meminum air putih itu barulah Cinta merasa sedikit lega, sedangkan pekerjaannya yang sedang mencuci piring tadi langsung diambil alih oleh Rio. Karena merasa lega, Cinta langsung mencegah Rio untuk melakukan pekerjaannya itu, namun, Rio tetap saja melakukan pekerjaannya tanpa menghiraukan Cinta yang sedari tadi telah mencegahnya itu.
" Loh, kok Kak Rio ngerjain pekerjaan Cinta sih." Ungkap Cinta sambil berdiri dan mendekati Rio.
" Nggak apa-apa dek, biar cepat selesai, karena, kita mau berangkat,," Gumam Rio sambil mencuci piring semuanya.
" Iya tapi, ini tugasnya Cinta Kak,," Bilang Cinta sambil mendorong sedikit tubuhnya Rio.
" Hehehehe nggak apa-apa dek, biar Kak Rio aja," Ucap Rio yang masih bersikeras melakukan pekerjaannya itu.
" Iiihhhh Kak Rio ini pekerjaan cewek, bukan cowok seperti Kak Rio,," Gumam Cinta seolah sedang meledek Rio.
" Hehehehe, memangnya cowok nggak boleh apa bantuin cewek untuk melakukan tugas ini,," Bilang Rio sambil meminta gelas di tangan Cinta.
" Heemm, Cinta jadi gak enak Kak, seolah Cinta dijadikan seperti majikan saja disini,," Gumam Cinta sambil memanyunkan wajahnya.
Karena, melihat Cinta sedikit memanyunkan bibirnya itu, hal itu membuat Rio langsung menoleh ke arah Cinta. Dan, dengan tersenyum lembut Rio menjelaskan ucapan Cinta yang sama sekali tidak pernah dianggap seperti orang lain di rumah ini. Dan, karena, sudah selesai mencuci semua piring kotor, dengan lembut Rio mengelus wajah Cinta dan baru kali ini Rio mendongakkan dagunya Cinta menggunakan jarinya sendiri.
" Dek, maaf ya, jika Kak Rio melakukan pekerjaan ini,," Gumam Rio sambil mendekatkan dirinya pada Cinta.
" Sebenarnya, Kak Rio tidak pernah menganggap Dedek orang lain seperti dulu, Kak Rio menganggap Dedek sebagai majikan, tapi, semenjak Dedek sudah menjadi istri sah Kak Rio, di dalam benak Kak Rio, sebenarnya Kak Rio sudah menganggap Dedek sebagai keluarga Kakak, jangan pernah berpikiran bahwa Kak Rio menganggap Dedek sebagai orang asing di rumah ini. Kak Rio selalu menghargai semua aktivitas yang dilakukan Dedek di rumah,," Ucap Rio sambil mendongakkan wajah Cinta tepat di hadapannya.
" Apa Kak Rio salah jika Kak Rio membantu Dedek untuk melakukan aktivitas rumah ?" Tanya Rio serius menatap wajah Cinta.
__ADS_1
" Tidak Kak,," Jawab Cinta sambil menggelengkan kepalanya.
" Berarti Kak Rio bolehkan untuk membantu pekerjaan Dedek, Kak Rio harap Dedek senang jika Kak Rio dan Dedek melakukan pekerjaan rumah secara bersama dalam keceriaan, karena, jika melakukan suatu tugas secara kompak dan bersama maka akan mendapatkan sebuah hasil yang memuaskan,," Ucap Rio menjelaskan maksud pekerjaannya pada Cinta.
" Heemm, Cinta mengerti Kak, tapi, Cinta merasa nggak enak saja jika Kak Rio selalu membantu Cinta, takutnya nanti ada tetangga yang lihat dan berkata, seolah-olah Cinta tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dan selalu mengandalkan Kak Rio untuk melakukannya,," Gumam Cinta yang mengkhawatirkan cibiran para tetangga terhadap rumah tangga mereka.
Seketika hal itu membuat Rio tergelitik hingga tertawa, ternyata di dalam pikiran Cinta saat ini adalah cibiran para tetangga terhadap rumah tangga mereka. Bukan karena Rio yang selalu membantunya dan membuat dirinya merasa tidak enak atas kelakuan Rio padanya itu.
" Hahahaha, Kak Rio pikir tadi apa dek ?" Tanya Rio sambil tertawa.
" Memangnya, Kak Rio pikir apa ?" Tanya Cinta balik pada Rio.
" Ya, Kak Rio pikir, Dedek merasa gak enak saat tinggal di rumah ini tanpa melakukan aktivitas apapun, hanya karena itu. Nggak tahunya karena, cibiran para tetangga,," Ungkap Rio yang masih menahan tawanya.
" Tenang saja dek, tetangga tidak akan pernah mencibir kegiatan Dedek saat berada di dalam rumah ini, karena, sudah jelas sekali bahwa Dedek merupakan seorang istri yang rajin bagi rumah tangganya dan juga suaminya seperti Kak Rio,," Bilang Rio dengan sengaja memberikan sebuah semangat pada Cinta hingga membuat Cinta akhirnya bisa tersenyum mendengarkan pujian itu.
" Hihihihihihi, Kak Rio bisa aja ya mujinya,," Gumam Cinta sambil tersenyum senang.
" Bagaimana, udah lega ?" Tanya Rio pada Cinta hingga membuat Cinta merasa heran.
" Lega apanya Kak ?" Tanya Cinta balik yang terlihat penasaran.
" Perasaannya,," Jawab Rio sambil menunjuk ke arah dada Cinta.
" Kak Rio apa-apaan sih,, udah," Jawab Cinta sambil melangkahkan kakinya melewati Rio sambil menahan rasa geli yang dilakukan oleh Rio.
Seketika membuat Rio tertawa melihat ekspresi wajah Cinta yang merasa sedikit malu karena perlakuannya itu. Dengan segera Rio mengejar langkah kaki Cinta yang sedang berjalan menuju kamarnya dan terlihat sedang mengambil sebuah tas yang akan dibawakannya itu.
" Jadi langsung pergi nih dek ?" Tanya Rio saat masuk ke dalam kamar sambil berdiri di depan pintu.
" Hehehehe, oke kalau begitu,," Seru Rio memajukan langkahnya.
" Eeehhh dek, biar Kak Rio aja yang bawakan semua barangnya,," Bilang Rio sambil mengambil tas dari tangannya Cinta.
" Eehhh, nggak apa-apa Kak, biar Cinta aja,," Gumam Cinta sendiri sambil melarikan diri dari Rio yang sedang ingin mengambil tas di tangannya dan dengan jahilnya Cinta menciumi pipinya Rio.
Karena, kelakuan Cinta yang terlihat begitu agresif serta jahil ini membuat Rio hanya bisa menahan diri untuk tidak melakukan suatu hal yang berhubungan erat dengan sebuah ikatan cinta.
Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Cinta yang terlihat selalu menggemaskan itu. Jika saja Cinta tidak datang bulan saat kepergiannya ke kota kali ini, kemungkinan besar Rio tidak bisa lagi untuk menahan hasrat cinta yang ada di dalam tubuhnya. Karena, kelakuan Cinta saat bersama dengannya ini selalu mengundang emosi hasrat tubuhnya meningkat.
" Heemm, Dedek, awas ya jika nanti Dedek nggak lagi datang bulan, jangan salahkan Kak Rio jika Kak Rio tidak bisa menahannya lagi." Ucap Rio sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cinta yang sudah pergi jauh keluar dari kamarnya ini.
Sambil membawakan semua barang yang ada, dengan segera Rio melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menguncinya lalu, Rio telah sampai di luar rumah dan melihat Cinta sedang sibuk berbicara dengan Arif.
" Eehhh kebetulan ada kamu Rif,," Gumam Rio sambil meletakkan tasnya ke atas meja luar rumah.
" Iya Mas Rio, kebetulan Mbak Cinta udah bilang tadi, bahwa Mas Rio dan Mbak Cinta akan pergi keluar kota sekitar beberapa hari untuk membeli bibit." Ucap Arif sambil diiringi senyuman dari Cinta.
" Hehehehe betul sekali, Rif, benar yang dikatakan Mbakmu, Mas Rio dan Mbak Cinta sekitar beberapa hari akan keluar, nah, Mas Rio titip rumah sementara sama kamu ya Rif, paling sekitar beberapa hari lagi akan pulang Rif,," Bilang Rio sambil menepuk pundak Arif.
" Oh baik Mas, siap dikerjakan,," Jawab Arif sambil memberikan hormat kepada Rio dan Cinta.
__ADS_1
Cinta hanya bisa tersenyum senang melihat Arif begitu patuh pada Rio. Karena, sudah ada Arif yang datang ke rumahnya terlebih dahulu jadi, Rio tidak lagi menghentikan mobilnya ke tambak untuk menitipkan rumahnya pada Arif. Dengan segera Cinta dan Rio berpamitan langsung kepada Arif dan memasuki mobilnya.
" Ya udah Rif, kalau gitu Mbak dan Mas Rio pergi dulu ya, hati-hati di rumah dan di tambak,," Ucap Cinta sambil memberikan sebuah pesan kepada Arif.
" Siap Mbak,," Jawab Arif mengangguk.
" Ya udah Rif, Mas berangkat dulu ya, kamu hati-hati di rumah,," Bilang Rio juga pada Arif.
" Oke Mas, hati-hati juga ya,," Ucap Arif sambil menerima kunci rumah dari Rio.
Setelah menitipkan rumahnya dan juga tambak kepada Rio, dengan segera Rio melajukan mobilnya ke jalanan untuk keluar kota. Saat ini mobilnya Rio masih melintas di perjalanan kampungnya dan Cinta masih biasa saja duduk di dalam mobil itu tanpa adanya pergerakan sedikitpun.
Setelah memasuki perjalanan yang terlihat akan hutan lebat barulah Cinta bergerak sedikit mendekati Rio yang sedang menyetir mobilnya itu. Dan, Rio hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Cinta yang jelas sekali terlihat bahwa Cinta takut akan keadaan hutan lebat seperti ini.
" Ada apa dek ?" Tanya Rio kepada Cinta yang sedang mendekatinya itu.
" Hehehe, Cinta takut Kak,," Jawab Cinta sambil nyengir sendiri mendekati Rio.
" Kak, bolehkan kalau Cinta meluk Kak Rio ?" Tanya Cinta sambil tersenyum menatap wajah Rio yang sedang fokus pada jalanan.
Ketika mendengar pertanyaan seperti itu, tentu saja hal itu membuat Rio langsung tersenyum mendengarkannya. Jelas sekali Rio mau jika tubuhnya itu sebagai bahan sandaran untuk istrinya, terserah istrinya mau memeluk tubuhnya ataupun menciuminya yang jelas Rio bersedia menerima perlakuan apapun dari Cinta.
" Heemm, kalau di hati Dedek nggak keberatan, ya pastinya Kak Rio juga nggak keberatan dek,," Jawab Rio sambil menoleh ke arah Cinta.
" Terima kasih,," Seru Cinta dengan spontan memeluk lengan Rio.
Karena, sudah mendapatkan izin dari Rio untuk memeluk tubuhnya itu jelas saja Cinta langsung memeluk erat tubuh yang sedang berada di sampingnya ini. Tanpa berpikir panjang lagi Cinta langsung memeluk erat lengan itu dan dengan manjanya Cinta meletakkan kepalanya di bagian lengan Rio yang begitu gagah.
" Heeemmm dek, jika hati Dedek merasa nyaman pada Kak Rio, Kak Rio harap jangan pernah berhenti untuk selalu seperti ini pada Kak Rio, Kak Rio juga berharap supaya hubungan pernikahan kita semakin erat untuk selamanya,," Gumam Rio dalam hati dan tak sadar telah menciumi puncak kepala Cinta.
" Apa, Kak Rio menciumi kepalaku,," Gumam Cinta dalam hati yang kaget ketika merasakan Rio sedang mencium puncak kepalanya itu.
Saat Rio sedang menciumi puncak kepala Cinta itu, hal itu membuat Cinta terpana atas kelakuan Rio yang spontan kepadanya itu. Cinta ingin sekali langsung menanyakan tindakan Rio kepadanya itu, namun, karena, Cinta merasa tindakan Rio hanya sekali saja, jadi Cinta mengurungkan niatnya untuk menanyakannya.
" Eemmm, Kak Rio hanya sekali melakukannya, jika lebih dari dua kali saja, aku akan langsung menciumi bibirnya,," Gumam Cinta dalam hati yang begitu ingin mencium bibirnya Rio.
" Ayolah Kak Rio cium Cinta lagi," Pinta Cinta dalam hatinya dengan bergumam sendiri mengharapkan perlakuan lembut lagi dari Rio.
Setelah ditunggu cukup lama oleh Cinta, Rio sama sekali tidak menciumi puncak kepala Cinta lagi dan akhirnya Cinta tertidur pulas karena, merasa nyaman ketika berpergian jauh bersama Rio dan bisa menggunakan lengan Rio sebagai bantalnya dan juga tubuh Rio yang bisa menghangatkan tubuhnya Cinta.
Dan, Rio hanya bisa tersenyum melihat wajah Cinta yang sudah tertidur pulas di sampingnya itu, dengan segera Rio menciumi kembali puncak kepala Cinta beserta memelankan laju mobilnya dan memberikan posisi yang nyaman bagi tubuh Cinta saat sedang berada di sampingnya itu.
" Heemmm ternyata Dedek udah tidur,," Gumam Rio sambil memelankan laju mobilnya.
Setelah selesai meletakkan Cinta di atas pangkuannya itu dan Rio sendiri bisa melihat bahwa Cinta saat ini telah memberikannya sebuah kesempatan untuk menciumi bibirnya itu dengan segera pastinya Rio melakukan hal itu pada Cinta.
" Heemm, wajah Dedek begitu menghanyutkan hati Kak Rio, izinkan Kak Rio untuk mencium bibir ini saat tertidur sayang,," Ucap Rio sebelum mendaratkan bibirnya pada bibir Cinta.
" Selamat tidur sayangku,," Ucap Rio setelah melepaskan ciumannya yang begitu terasa nikmat.
Dengan lembut Rio mengulangi kembali aksinya untuk menciumi bibirnya Cinta, setelah selesai menciumi bibir lembut istrinya itu barulah Rio kembali fokus dengan mobilnya dan melajukan perjalanannya.
__ADS_1
Sementara itu, di depan rumahnya Rio Arif yang sedang membuka pintu rumahnya Rio itu dan masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keamanan rumah, tanpa disangka Rossa kembali datang ke rumah itu dengan sengaja ingin melabrak Cinta kembali. Namun, sialnya Cinta sudah tidak ada di rumah itu, karena, Cinta dan Rio sendiri sudah pergi dari kediamannya menuju luar kota.
****