
Alex tersadar. Memperhatikan sekeliling. Dia tahu bahwa sedang berada di rumah sakit. Dia berusaha untuk bangun dan duduk. Tapi, seluruh badannya terbujur kaku dan kebas.
“Apa ini? Apa saya lumpuh?”
Dia mulai bergumam dan panik. Cemas. Belum selesai mencemaskan seluruh badannya. Dia teringat dengan Hendra. Kembali dia menoleh kiri dan kanan. Tidak ada hendra di sampingnya.
Sekarang Alex mengeluarkan keringat dingin. Pasrah! Cuma bisa menatap langit-langit ruangan sambil membayangkan wajah ketiga anaknya. Tetapi Alex semakin cemas.
Pikirannya mulai tidak terkontrol. Berpikir bahwa anak-anaknya masih aman atau tidak. Sudah makan atau belum. Dan bagaimana kebingungan anaknya saat pulang kerumah dan tidak menjumpai ayahnya dirumah.
Alex kembali pasrah. Memejamkan mata dan berdoa dalam hati.
“Ya Allah, tolong jaga ketiga anak-anakku ya Allah.”
Sambil memejamkan mata, tak sengaja air matanya menetes. Kecemasan nya itu memberi sinyal kepada matanya untuk menangis. Hanya setetes saja yang keluar.
Suster masuk ruangan. Mengecek keadaan Alex. Melihat Alex yang telah sadarkan diri suster itu memencet bel panggilan perawat.
“Pak Alex, saya izin pulang dulu ya. Ini saya panggilkan suster yang lain. Untuk menggantikan saya berjaga. Kami sedang ganti shift jaga. Ini ada remote pemanggil perawat ya pak.”
Suster itu memberi remote pemanggil perawat di telapak tangan Alex. Karena dia tahu betul bahwa Alex tidak akan dapat memencet tombol yang ada di atas kepalanya sebelum efek biusnya berakhir.
Kemudian perawat yang satu lagi masuk. Langsung saja suster yang tadi keluar ruangan. Perawat baru ini mengatur kecepatan jalannya infus ke arah normal. Dan keluar tanpa berkata.
Alex merasa lapar, haus, dan lemah. Alex memilih untuk tidur kembali. Memejamkan mata. Tiba-tiba…
“DARRR!!!”
Suara pintu terbuka dan terdengar sangat keras. Sontak Alex terkejut bangun dan duduk. Seperti bel otomotis. Tanpa sadar dia melakukan gerakan yang tak diduga itu. matanya terbelalak. Dia membisu seribu bahasa. Dan senang.
“Ayahhhh…”
__ADS_1
Andra dan Indra berlari memeluk ayahnya. Alex merasa sedikit sakit saat di peluk. Tetapi rasa senangnya menutupi rasa sakit itu. Efek bius operasi mulai menghilang.
Gadis itu masuk. Langsung saja dia menaruh Hendra di sofa.
“Ini, ini anak kamu. Kamu yang sakit kenapa saya yang harus repot!. Ini uang dari pak Didit. Uang jajan untuk anakmu. Tidak perlu. Saya ikhlas menjaga mereka.”
Gadis itu berbicara dengan nada yang tinggi. Jantung Alex berdegup kencang. Gadis itu terlihat mondar mandir satu atau dua langkah dan kembali ke tempat semula. sesekali di juga memegang jidat atau kepala nya. Dia terlihat stress!. Sedikit kesal dan marah agaknya.
“A..anu…”
Alex mencoba mejelaskan terbata. Belum sempat dia menyebut satu kata gadis itu memotong.
“Tidak, tidak perlu menjelaskan. Ini bukan salahmu. Pak Didit yang salah. Saya akan kerumah pak Didit.”
Masih mondar mandir juga gadis itu. Tiba-tiba Hendra tertawa. Mengangkat kedua lengannya ingin di gendong dengan gadis itu. Alex menyimak, baru kali ini dia melihat Hendra ingin di gendong orang lain.
“Tuh kamu lihat? Ini anak siapa? Anak kamu. Kenapa dia begitu lucu dan ingin di gendong olehku.”
“Kak permen?.”
Ujar Indra yang sudah di samping gadis itu entah darimana usulnya. Indra menarik narik baju gadis itu.
“Apa permen? Tidak ada permen-permen lagi. Dinda tidak disini.”
Jawab gadis itu ketus. Indra kecewa dan cemberut.
“Okay sampai disini saja. Aku mau pulang!”
Kata gadis itu ketus dan keluar. Tinggal lah Andra dan Indra, Hendra juga Alex di ruangan itu. Keadaan kembali senyap. Alex tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa langsung bangun dan duduk saja itu sebuah keajaiban.
Alex memandang gadis itu berjalan keluar. Hingga gadis itu semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
*
*
Setelah keluar dari kamar VIP tempat Alex di rawat. Eliana bergegas. Dia merasa kesal kembali berurusan dengan keluarga Alex. Pertama kali saat menyelamatkan Indra ketika sedang menangis di sudut trotoar yang buntu. Beruntungnya saat itu Eliana sedang dalam mood yang baik.
Tapi tidak kali ini. Mood nya sedang tidak baik. Dia baru saja mengetahui pacarnya selingkuh. Sangat kesal. Dan akhirnya memutuskan hubungan dengan pacarnya. Lalu tiba-tiba anak-anak Alex pun muncul di depan rumahnya.
Eliana mengambil telepon genggamnya. Menatap teleponnya, dia membatalkan niatnya untuk menelepon pak Ujang dan kembali berjalan menuju ruangan Alex.
Walapun Eliana kesal dan marah. Tetapi dia orang yang sangat baik. Membayangkan apa yang di lakukan nya tadi membuatnya menyesal. Melihat keadaan Alex dan ketiga anaknya, sebenarnya membuatnya sedih. Eliana berniat untuk kembali dan meminta maaf.
*
*
Alex bersedih. Bagaimana mungkin dia bisa menggapai Hendra dengan keadaan nya sekarang. Andra dan Indra belum terlalu bisa untuk menggendong adiknya. Apalagi mengurusnya. Tiba-tiba…
“DAR!”
Pintu terbuka lagi. Gadis itu kembali lagi. Alex sedikit takut dan gemetar lagi. Yah gadis itu Eliana. Gadis yang tak di kenal Alex. Namun di kenal oleh Indra.
“Okay, sampai kamu keluar rumah sakit ini saja. Akan ku jaga anak-anakmu.”
Ujar Eliana menunjuk-nunjuk Alex dan sedikit tidak sopan. Dia mengurungkan niat untuk meminta maaf. Setelah berkata Eliana menggendong Hendra. Memegang tangan Indra, dan memanggil Andra. Kemudian dia kembali menghilang dari pandangan Alex bersama ketiga anaknya.
Sebelum pergi Eliana sempat memberikan kertas kecil kepada Alex. Kertas kecil itu berisi nomor telepon Eliana. Di kertas itu pun ada tulisan kecil. Tulisan yang berpesan untuk menghubungi Eliana dengan cepat jika sudah keluar RS. Tak lupa Eliana juga menuliskan tulisan “ketiga anakmu aman denganku”.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah engkau kirimkan seseorang yang bisa menjaga anakku selama aku disini.”
Alex bersyukur dalam hati.
__ADS_1