
Eliana memeluk erat Indra, setelahnya dia berdiri sambil memegangi tangan Indra. Gadis itu berjalan bersama Indra keluar Mall.
“Halo Pak Ujang jemput sekarang ya.” Kata Eliana di dalam panggilan suara pada ponselnya. Dia berdiri bersama Indra di depan pintu masuk Plaza Indonesia dan menunggu kedatangan supir pribadinya.
“Iya halo Mba, siap Mba.” Jawab Pak Ujang singkat. Pak Ujang yang sedari tadi tidak meninggalkan parkiran Mall itu langsung saja menginjak gas menuju pintu masuk untuk menjemput bosnya.
Tak butuh waktu lama Pak Ujang sudah sampai di depan pintu masuk PI. Langsung saja Eliana membuka pintu mobil dan mempersilahkan Indra masuk terlebih dahulu, kemudian disusul dengan dirinya.
“Pak Ujang kita pulang ya!” Perintah Eliana kepada Pak Ujang.
“Baik Mba.” Sahut Pak Ujang singkat. Dia memperhatikan Indra di kaca spion dalam mobil.
“Itu bukannya anak yang Mba Eliana temukan pas SMA dulu kan?” Tanya Pak Ujang sembari mengingat masa itu. Dia mengerutkan alis dan jidatnya mengingat masa di mana dia pertama kali menemukan Indra dan membawanya ke kantor polisi.
“Iya benar Pak. Ini Indra anak Alex tetanggaku.” Sahut Eliana jutek. Mendengar respon Eliana, Pak Ujang tak berani bertanya lebih lanjut.
Jalan raya lancar jaya, Pak Ujang menyetir dengan santai dan sampai. Eliana turun bersama Indra, sedangkan Pak Ujang memutar balik kendaraan roda empat itu dan pergi. Bukannya masuk rumah, Eliana malah menyebrang menuju rumah Alex. Mencari-cari kunci rumah Alex di bawah elap kaki yang tak kunjung dia temui.
“Kakak kunci rumah sekarang ayah taruhnya di situ kak.” Ujar Indra sembari menunjuk ke ventilasi rumah di atas pintu. Langsung saja Eliana mengambil kunci itu dan membuka pintu rumah lalu dia masuk bersama Indra.
Untuk kedua kalinya dia memasuki rumah itu. Setelah sempat tinggal bersama ketiga anak Alex saat Alex dirawat di rumah sakit waktu itu. Eliana masuk menyusuri rumah Alex, tidak ada yang berubah. Semua terlihat sama seperti waktu itu.
__ADS_1
“Indra cuci tangan dulu gih!” Perintah Eliana kepada Indra sembari menunjuk ke arah dapur. Kemudian dia menyemprotkan handsanitizer kepada kedua telapak tangannya.
“Iya kak.” Jawab Indra sambil tersenyum manis.
Eliana duduk di ruang tamu Alex memandangi foto keluarga yang tertempel di dinding. Melihat wajah Alex bersama dengan keluarga utuhnya. Dia memperhatikan wajah Nindi, almarhumah istri Alex. Setelahnya Eliana kembali memandangi wajah Alex dalam foto itu.
“Betapapun susahnya hidupmu, kegantenganmu itu tidak pernah berkurang Alex.” Ucap Eliana dalam hati. Seketika dia teringat karena belum memberi kabar kepada Alex bahwa Indra bersamanya. Namun dia tidak menyimpan nomor handphone Alex. Tidak ada kontak no HP Alex dengannya, yang ada hanya nomornya sendiri yang dia berikan kepada Alex di rumah sakit kala itu.
Segera Eliana mengambil benda pipih yang berada di dalam tasnya.
“Halo, Pak Didit saya di rumah Alex bersama Indra.” Ujar Eliana ringkas di dalam panggilan suara itu.
“Okay tunggu di sana.” Jawab Abipraya.
“Indra, sudah selesai belum?” Teriak Eliana sambil berjalan menuju dapur. Tidak ada Indra di dapur, dia melanjutkan dengan masuk kamar Andra dan Indra. Kamar yang penuh dengan wallpaper bergambar Mcqueen Diecast itu pun kosong. Lalu dia masuk ke dalam kamar Alex. Di dalam kamar Alex dia menemukan Indra.
“Indra cuci tangan sudah?” Tanya Eliana lembut.
“Sudah kak, tadi Indra cuci tangan di sini. Indra lebih suka cuci tangan di sini daripada di wetafel dapur.” Pungkasnya.
“oh begitu, baiklah sekarang hayuk kita main.” Ujar Eliana sambil merangkul bahu Indra. Sebelum meninggalkan kamar Alex, Eliana sempat memandangi sekeliling kamar itu. Kamar yang sederhana bagi seorang yang berstatus miliyarder seperti Alex. Terdapat dua kasur di kamar itu yakni kasur Hendra serta Kasur Alex. Tampaknya selama tinggal di rumah itu Alex belum jua mengganti kasurnya, spreinya juga terlihat usang.
__ADS_1
Ada sebuah meja kecil di samping kiri dan kanan kasur disertai laci meja dua tingkat. Lampu hias di salah salah satu meja kecil di damping dengan alarm digital yang cukup kecil. Kamarnya luas tapi minim furniture, Eliana bahkan berkhayal merenovasi kamar itu sesuai seleranya.
“Kakak ayok katanya mau main.” Indra yang tak sabar menunggu lamunan Gadis kesayangannya akhirnya menarik tangan Eliana. Sontak khayalan Eliana pun buyar dan dia tersadar lalu keluar dari kamar Alex.
“Indra memangnya mau main apa?” Ujar Eliana sembari duduk di ruang keluarga bersama Indra.
“Main mobil-mobilan.” Jawab Indra lembut. Eliana berdiri masuk ke kamar Indra dan mengambil Box tempat mainan Indra yang berwarna hijau. Sepertinya setiap sudut rumah Alex sudah diketahui oleh Eliana.
Box mainan itu cukup berat, Eliana sedikit kesulitan mengangkatnya. Akhirnya dia membawa Box itu dengan mendorongnya menggunakan kaki sebelah kanan.
“ehrgghhh…! Huff..hufff..” Eliana mendramatisir dengan terengah-engah. Sesekali dia berpura-pura mengelap keringat di jidat dan pipinya. Indra pun tertawa riang melihat tingkah lucu Eliana. Melihat Indra yang tertawa Eliana merasa terhibur, dari dulu sebenarnya Gadis ini ingin punya adik namun sayang dia adalah putri tunggal dari pemilik tambang emas terbesar yang ada di Indonesia.
Beberapa Langkah lagi Eliana sampai di dekat Indra. Namun Eliana memilih duduk terengah-engah, dia kembali berpura-pura.
“Haduh pegel, tolongin kakak dong Indra.” Eliana memasang wajah masam yang dibuat-buat dan Indra tertipu. Indar pun berdiri dan berjalan menuju Eliana sambil memijit bahu Eliana.
“Nah gitu, yang ini juga.” Kata Eliana sembari meluruskan kakinya dan minta kepada Indra agar kakinya dipijit pula. Dengan senang hati Indra melakukan hal itu.
“Sudah Indra, haduhhh sudah uenak eh sekarang kakak. Kamu mau dipijit juga tidak?” Kata Eliana menawarkan jasa pijit kepada Indra. Indra hanya menggeleng dan menarik-narik Boxnya.
“Hahahah….” Seketika Eliana tertawa melihat tingkah Indra. Dia terus berusaha mendorong Box itu yang bahkan satu senti pun tak bergerak. Kini Indra yang terlihat kecapekan, langsung saja Eliana kembali mengangkat Box itu dan membuka serta mengambil isi nya lalu diletakkan di atas Karpet depan TV.
__ADS_1
Indra langsung tersenyum manis, dia mengambil beberapa mobil-mobilan Hotwheels kesayangannya lalu menggapai jalanan mainan mobil itu. Jalanan mobilan itu belum tersusun rapi, Elianan mulai membantunya untuk membentuk jalanan mobil agar menjadi arena bermain mobilan yang sempurna.
Indra dan Eliana menikmati waktu bermain mereka. Berdua bermain di rumah Alex yang sederhana dengan tenang. Menunggu kepulangan Alex bak istri yang menunggu suaminya.