Duren Kampus

Duren Kampus
Bu Tuti


__ADS_3

Aisyah langsung saja masuk ke dalam kamar dan disusul oleh Bu Tuti.


“Aisyah, apa yang kamu lakukan tadi? Kenapa kamu begitu cuek kepada Alex?” Ujar Bu Tuti kepada adiknya kesal.


“Kenapa Uni? Memangnya aku harus seperti apa?” Tanya Aisyah heran. Haruskah dia ramah kepada setiap lelaki? Tidak mungkin. Dia tahu betul harus menjaga jarak dengan setiap laki-laki kecuali suami dan muhrimnya.


“Aisyah tidakkah kau berpikir bahwa Alex itu sangat tampan? Bu Tuti kembali bertanya. Setelah kejadian menghilangnya Hendra dan ditemukan oleh Aisyah membuatnya berpikir bahwa itu adalah takdir adiknya.


“Tampan, tampan memang dia Uni. Sungguh Alex itu sangat tampan. Tapi Uni Alex itu aneh.” Aisyah berusaha menjelaskan. Baginya pertemuan pertamanya bersama Alex memberikan kesan yang buruk.


“Aneh bagaimana maksudmu Aisyah?” Tanya Bu Tuti lagi. Dalam hati Bu Tuti merasa heran melihat adiknya itu. Bagaimana bisa orang yang seganteng dan sekaya Alex dibilang aneh? Ditambah lagi Alex itu pria baik-baik.


“Dia sangat Aneh Uni. Waktu itu Aisyah pernah menjemur pakaian di halaman. Ada Alex yang menghampiri dan sedang memegang selendang hitam milik Aisyah. Entah mengapa selendang itu ada padanya. Yang jelas Alex sangat aneh. Dia hanya diam, kaku, dan seperti patung yang membuatku takut.” Jelas Aisyah kepada kakaknya. Dia hanya berusaha berbicara jujur.


“Ya ampun Aisyahhh.. itu kau bilang aneh? Itu hanya tindakan kaku karena terkesima melihatmu.” Ujar Bu Tuti kepada Aisyah setengah berteriak.


“Bagaimana bisa Uni langsung bilang kalau Alex terkesima melihatku? Tidakkah itu lebih aneh Uni? Uni langsung berkata demikian tanpa mengetahui apapun!” Jawab Aisyah geram. Berpikir kakaknya itu sedang mengada-ngada. Dia tidak merasa disukai oleh Alex. Walaupun faktanya Alex memang betul terkesima waktu itu. Untuk hal yang satu ini Aisyah tidak peka.


“Astaghfirullahhh.. ya Allah Aisyah.” Ucap Bu Tuti geram. Aisyah memang pintar mengurus rumah dan dirinya. Tapi dia bodoh! Bodoh akan lelaki. “Kenapa harus dia mencintai mantan suaminya itu? Bahkan setelah dipukuli sampai babak belur begini dia masih mengingatnya.” Gumam bu Tuti dalam hati.


“Uni aku lelah. Bolehkah aku istirahat saja Uni.” Pinta Aisyah kepada bu Tuti.


“Tunggu Aisyah, aku ingin bertanya satu pertanyaan lagi. Apa kau masih mencintai Gandy?” Bu Tuti tidak tahan lagi. Tanpa harus berpikir yang tidak-tidak. Dia memilih untuk memastikan hal tersebut dengan bertanya langsung kepada adik satu-satunya itu.

__ADS_1


Aisyah membisu. Bingung, apa yang harus dikatakannya? Memang betul mantan suaminya itu memukuli dia sampai lebam hingga babak belur. Tapi Aisyah tidak pernah berfikir kalau Gandy bukan orang baik. Gandy hanyalah korban minuman keras yang tak bisa dia tinggalkan.


Dengan membisunya Aisyah, Bu Tuti paham. Dia berniat keluar dari kamar itu.


“Baiklah Aisyah, Istirahatlah. Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu. Alex itu pria baik-baik. Selama hidupku aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang sebaik dia Aisyah. Dia tidak pernah meninggalkan rumah untuk hal sekedar membuang waktu. Bahkan aku tidak pernah melihat dia bermain perempuan atau sekedar mengenal perempuan lain selain almarhumah istrinya. Dia mengurusi anaknya tanpa beristri. Berlimpah uang, dia sangat kaya Aisyah. Kau saja yang tidak tahu. Kebanyakan perempuan di negeri ini sangat menginginkan Alex. Sedangkan kau? Jelas-jelas Alex menaksirmu. Kau bahkan berkata tidak seraya menolak dengan bahasa tubuhmu.” Jelas Bu Tuti panjang lebar. Dia sedang berusaha memberikan penjelasan kepada kehidupan sempit Aisyah.


Aisyah mendengarkan. Hanya saja dia terjebak masa lalu, masa dimana dia merindukan Gandy sebelum mengenal minuman keras. Atau mungkin sudah sejak lama Gandy kecanduan minuman keras namun Aisyah tidak tahu. Yang jelas Gandy adalah cinta pertama Aisyah.


“Kau wanita soleha Aisyah. Aku melihat itu. Kau bukan wanita biasa Aisyah. Alex pun demikian, dia bukan pria biasa. Ada takdir cinta di antara kalian. Dialah jawaban doamu selama ini Aisyah. Jika kau tidak yakin, berdoalah meminta kepada Allah. Meminta apa saja hikmah dari kejadian kau menemukan anak Alex. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini Aisyah. Semua terjadi atas izin Allah.” Kata Bu Tuti. Sepertinya dia paham tentang hal ini walaupun dia jarang sholat. Tetapi dia mengerti tentang semua terjadi atas izin Allah.


Aisyah mendengarkan, masih membisu. Logikanya bergejolak. Akal sehatnya menerima semua perkataan kakaknya itu. Tapi perasaannya? Tetap saja merindukan Gandy. Mungkin karena Aisyah belum pernah membuka hati selain Gandy. Setelah dia tidak diperlakukan baik dengan Gandy, dia enggan membuka hatinya lagi. Ada luka di hati Aisyah. Luka trauma yang mendalam.


“Aisyah sekarang istirahatlah. Maaf jika mengganggumu. Aku menyayangimu Aisyah. Kaulah adikku satu-satunya di dunia ini. Aku tidak ingin melihat kau menderita. Aku ingin melihat kau bahagia dunia dan akhirat Aisyah. Hanya Alex jawabannya.” Bu Tuti menutup percakapan itu dengan lembut. Bahkan dia meneteskan air mata.


Bu Tuti keluar kamar dibarengi dengan menutup pintu perlahan. Aisyah menyadari hal itu, bahwa kakaknya telah keluar kamar setelah menutup pembicaraan itu. Kata-kata Bu Tuti menyentuh hati nya sampai ke ubun-ubun. Tetapi dia punya masa lalu yang kelam yang tak ingin diulanginya lagi.


Flashback on


Bu Tuti berencana berkunjung ke rumah adiknya hari ini. Hidup sendiri membuatnya bosan dan ingin mencari angin segar. Daripada melalang-buana tidak karuan. Dia berniat mengunjungi Aisyah. Adik bungsunya.


“Pak turunkan saya di persimpangan itu saja pak” kata Bu Tuti sembari menunjuk simpang tiga di depannya.


“Baik bu.” Ujar supir mobil online itu.

__ADS_1


Setelah sampai di titik tempat yang ditunjuk oleh Bu Tuti. Supir itu lekas menghentikan mobilnya. Bu Tuti segera turun dari mobil. Tidak lupa dia memberikan upah taxi kepada supir mobil online itu.


Bu Tuti berjalan menyusuri gang kecil yang ada di kota Jakarta. Tempat tinggal adiknya itu sedikit masuk gang. Dengan berjalan, Bu Tuti menenteng kantong plastik yang berisi buah-buahan.


Mengetahui Aisyah hamil tempo hari membuatnya gembira. Hari ini dia membelikan Aisyah buah-buahan untuk nutrisi bayi yang di kandung adiknya itu.


Tak lama Bu Tuti sampai di depan rumah Aisyah. Dia mangangkat tangan dan berusaha meraih tombol bel rumah Aisyah.


“Sial! Tinggi sekali bel rumah ini. Apa tidak ada orang pendek di dunia ini. Kenapa ini bel ditaruh tinggi sekali sih!” Bu Tuti mengerutu.


Memang Bu Tuti terbilang pendek bagi perempuan. Tapi tidak sependek itu, dia tidak cebol, hanya saja tingginya cuma seratus empat puluh sentimeter. Pendek bukan? hehehe.


Karena dia tidak bisa menggapai bel itu, dia langsung memegang gagang pintu rumah Aisyah.


“Alhamdulillah, ternyata pintunya tidak tertutup.” Ucap Bu Tuti dalam hati. Dia masuk tanpa mengucap salam. Dia lupa mengucap salam dan ketika dia selangkah sudah masuk lalu dia tersadar kalau sedang lupa. Tapi dia mengabaikannya. Dia Merasa berada di rumah sendiri. Dia terus masuk tanpa rasa bersalah.


Rumah itu terasa sunyi tapi berpenghuni. Jelas ada orang di dalam rumah. Karena mobil terparkir di luar dan terlihat sandal Aisyah dan Gandy. Bu Tuti terkejut memasuki ruang tamu yang melihat ada bercak darah di lantai. lansung saja dia masuk ke dalam dan mencari Aisyah.


Bu Tuti ke dapur mencari Aisyah. Tidak ada Aisyah di dapur. Otaknya berpikir keras, bertanya di mana Aisyah. Dia memutar badan dan melihat pintu kamar. Lekas dia menuju kamar itu, kamarnya Aisyah.


Belum sempat dia sampai ke pintu kamar Aisyah, pintu terbuka. Lekas bu Tuti menyumput di balik sofa abu-abu yang berada di ruang keluarga. Astaghfirullah! Dia mendapati Gandy membawa sebatang kayu yang sedang menyeret Aisyah keluar kamar. Aisyah tidak sadarkan diri.


Hati Bu Tuti tercabik-cabik. Dia seakan ingin berteriak minta tolong namun otak cerdasnya melarangnya. Ketika Gandy dan Aisyah menghilang di balik dapur. Bu Tuti segera berlari keluar untuk meminta bantuan. Dia bahkan melupakan kantong plastiknya yang jatuh di lantai.

__ADS_1


Bu Tuti lari sekencang mungkin. Berteriak minta tolong. “Tolong…tolongg… siapapun tolong saya!” Ujarnya.


Seketika orang ramai berkerumun. Bu Tuti menjelaskan dengan seksama. Yang kemudian keramaian itu menuju ke rumah Aisyah.


__ADS_2