
Cuaca pagi menjelang siang itu terlihat mendung. Dinda masih duduk di taman kampus berdua dengan buku bacaannya. Dia sedang membaca buku Kebijakan Hukum Pidana. Dinda seorang gadis yang cerdas, sejak TK dia tidak pernah mendapatkan nilai yang jelek. Nilai yang didapat Dinda selalu saja di atas rata-rata, hingga akhirnya dia selalu rangking. Hanya Eliana yang sering menyalip nilainya dan itu juga tidak sering, ada beberapa kali semenjak mereka selalu bersama.
Eliana menyalip rangking Dinda ketika mereka sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Waktu mereka berdua masih kelas satu SD, di semester genap Eliana sempat mendapat peringkat satu mengambil rangking Dinda. Lalu setelahnya Dinda selalu rangking satu kembali.
Kemudian rangking kedua yang diambil oleh Eliana ketika mereka sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada semester ganjil kelas Sembilan, saat itu Dinda sempat bersedih karena merasa terpuruk tidak menjadi yang nomor satu disaat sudah kelas Sembilan yang mengharuskannya lulus dengan terbaik.
Selama hidupnya, Dinda selalu berusaha menjadi yang terbaik. Sejak kecil dia terbiasa hidup berdua dengan ayahnya. Ibunya pergi meninggalkannya saat dia berumur lima tahun dengan alasan tidak sanggup untuk hidup bersama ayahnya yang hanya seorang tukang ojek. Sebelum menjadi tukang ojek ayahnya sempat menjadi karyawan salah satu perusahaan terkenal di bidang Meubel. Tetapi pekerjaan itu tidak bertahan lama, roda yang berputar mengharuskan ayah Dinda terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga ayahnya harus kehilangan pekerjaan sekaligus kehilangan Istrinya.
Hal itu membuat Dinda mandiri sejak kecil. Ayahnya yang tanpa lelah bekerja dan selalu pulang dengan wajah tersenyum. Bahkan Dinda sudah mulai mengurus dirinya sendiri sejak umur lima tahun. Ayahnya mengajarkannya untuk melakukan itu semua mengingat bahwa ayahnya harus pergi mencari uang dengan menjadi tukang ojek. Jadi, ketika Dinda harus ditinggalkan sendirian di rumah dia bisa melakukannya sendiri.
Semua Dinda lakukan sendiri dari mulai mengambil nasi dan lauk di meja makan. Kemudian setelah makan piring dan gelasnya langsung dia cuci dan ditaruh lagi ke tempat piring. Lalu dia mandi dan mengenakan baju sendiri. Dia juga sudah mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan membereskan rumah di umur belia. Yah, walaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan karena umurnya yang masih kecil serta tenaga yang dihasilkan begitulah adanya. Setidaknya dia berusaha menjadi terbaik di depan ayahnya.
Terkadang saat Dinda makan sendirian di rumah, dia sesekali meneterkan air mata. Bukan karena kehidupannya yang penuh dengan banyak pekerjaan rumah. Tetapi dia hanya ingin diperhatikan oleh seorang ibu namun Dinda selalu berusaha ceria ketika berhadapan dengan Ayahnya. Saat dia sudah duduk di bangku kelas lima SD, dia mulai sadar bahwa semua beban yang diterimanya bukan seberapa dibandingkan dengan beban hidup yang harus dipikul oleh Ayahnya yang mengurusnya sejak kecil ditambah dengan harus mencari nafkah.
Dinda membuka selembar demi lembar buku yang dibacanya. Dengan perlahan dia mencoba memahami maksud dan isi dari buku mata kuliahnya itu.
“Dinda….” Sapa Eliana sembari menyenggol bahu Dinda menggunakan bahunya. Dinda hanya menoleh tersenyum membalas sapaan itu lalu melanjutkan membaca lagi. Kemudian Eliana ikutan duduk di samping Dinda yang kebetulan kursi taman itu di desain untuk dua orang. Eliana yang duduk bersampingan dengan Dinda melirik buku yang dibaca oleh temannya itu.
__ADS_1
“Oalahhh baca buku Kebijakan Hukum Pidana, rajin amat sih kamuuu.” Canda Eliana. Dinda mendengarkan tanpa merespon.
“ihhhh… penting amat ini buku dari pada aku.” Ucap Eliana sambil cemberut. Akhirnya Dinda yang mendengar perkataan itu menutup buku dan menaruhnya kembali ke dalam tas. Dia memutuskan untuk menyudahi membaca buku dan mencoba untuk merespon Eliana.
“ho’oh ada apa Eliana?” Tanya Dinda datar.
“Yah tidak ada apa-apa. Aku suka aja ganggu kamu kalau serius baca. Karena cuma aku yang bisa ganggu kan hehehe..” Ujar Eliana sambil tertawa kecil.
“Widih senang amat tuh muka, senang sih senang tapi itu mata kenapa menghitam seperti kurang tidur? Mata pandamu keliatan banget loh.” Kata Dinda sambil menunjuk ke wajah Eliana. Seketika Eliana sibuk memegang wajahnya dengan kedua tangan. Eliana mulai mengambil cermin kecil di dalam tasnya yang dia bawa kemanapun dia pergi.
“Oh iya yah, beneran mata panda.” Ujar Eliana cemberut.
“Tidak ada apa-apa, jangan khawatirkan aku. Sekarang aku malah lebih mengkhawatirkan kamu Dinda.” Jawab Eliana lebih perhatian lagi.
“Aku? Loh kok aku?” Tanya Dinda heran.
“Iya kamu Din, sebenarnya aku mau nanya sesuatu dari kemarin. Tapi entah kenapa selalu ku urungkan niat itu.” Kata Eliana yang menyiapkan hati untuk bertanya kepada temannya itu.
__ADS_1
“Emangnya ada apa Eliana? Perasaan aku tidak kenapa-kenapa deh dari kemarin.” Sahut Dinda yang mulai mengingat kejadian apa saja yang telah menimpanya seminggu yang lalu. Dia berusaha mengingatnya dan merasa tidak ada kejadian aneh ataupun musibah yang telah dia alami.
“Sebenarnya apa alasanmu untuk memotong rambutmu sependek itu Din? Aku tahu betul Ayahmu ataupun kamu sendiri sangat tidak menyukai perempuan berambut pendek. Yah, terkecuali diriku ya, aku tahu aku selalu menjadi pengecualian kamu hehehhe.” Ujar Eliana yang awalnya serius kemudian ditutup dengan ketawa yang semeringah.
“Hahahaha…. Eliana kamu lucu deh. Hahahah…” Dinda tertawa besar, karena tertawa yang lepas itu dia menutup mulutnya dengan kedua tangan berusaha menyembunyikan mulutnya yang tengah menganga. Melihat reaksi itu Eliana terdiam, dan tambah merasa aneh. Sejak kecil hingga SMA Dinda menjadi sahabatnya, tidak ada rahasia diantara mereka berdua namun akhir-akhir ini Dinda terlihat aneh seperti menyembunyikan sesuatu.
“Eliana tidak ada yang perlu dipikirkan. Aku memotong rambutku adalah benar ingin mencoba hal baru. Beneran, percaya deh!.” Ucap Dinda mencoba meyakinkan teman masa kecilnya itu. Eliana pun memilih diam dan tidak memperpanjang bahasan itu lagi.
“Loh kok sekarang malah diam?” Tanya Dinda. Malah Eliana yang terlihat ganjil sekarang.
“Engga lah, karena kamu tertawa dan sudah menjawab aku jadi mengerti hehehe.” Eliana menjawab santai, dia kembali pada karakternya.
“Kamu lapar tidak?” Tanya Dinda. “Perutku kosong ni, ke kantin yuk!” Ajak Dinda sembari memegang lengan Eliana seraya mengajaknya untuk meninggalkan taman nan asri itu.
“Iya lapar, hayuk makan.” Jawab Eliana bersemangat. Perutnya juga keroncongan sejak tadi. Eliana berdiri lebih dulu disusul oleh Dinda, mereka berdua berjalan meninggalkan taman kampus dan menuju kantin Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Sembari berjalan dengan memasang wajah yang ceria, Dinda benar menyembunyikan sesuatu kepada Eliana. Dia enggan bercerita kepada Eliana karena semua hal yang dia lakukan akhir-akhir ini adalah bayangan dari Eliana itu sendiri. Baginya Eliana yang sangat sempurna dengan kecantikannya, kecerdasannya, ditambah dengan kekayaannya membuat Dinda iri diam-diam.
__ADS_1
Kehidupan Dinda yang jauh dari kata sempurna di luar dari kepintarannya membuatnya iri dengan Eliana yang dia simpan sejak duduk di bangku SD. Oleh karena itu dia selalu berusaha agar rangking satu bersaing dengan Eliana. Rasa itu menumpuk dan muncul sekarang saat dia berada di kampus yang sama dengan Eliana.