Duren Kampus

Duren Kampus
Universitas


__ADS_3

Kletak… kletak… kletak! Suara high heels jelas terdengar menuju ruang kelas. Sepatu merah dengan tinggi 18cm, berbunyi mengeluarkan nada yang unik.


Alex mendengar langkah unik itu. Satu tahun lebih Dia di rumah mengurus Anak-anaknya tanpa memperhatikan lagi perempuan mana pun. Di hati Alex hanya ada nama Nindi seorang.


“Selamat siang semuanya.” Gema suara perempuan yang muncul di pintu kanan kelas. Bunyi sepatu itu semakin jelas sekarang yang mendekat ke arah Alex. Alex pun mencoba menoleh ke arah kiri untuk menghindari makhluk yang prasangkanya mempunyai paras yang pasti cantik.


Perempuan itu mendekat. Dengan menaruh kedua tangannya di atas meja Alex, dadanya pun tepat berada di depan kepala Alex. Tak tahan karena penasaran Alex memutuskan untuk mendongakkan wajahnya.


Damn!!! Hidung Alex menempel di dada dosen tersebut. Seluruh wajah Alex bertatapan dengan dada besar yang dibungkus kain merah itu. Dosen cantik berusia tiga puluhan berdiri tepat di depan Alex. Dosen itu berbaju merah ketat, dan rok hitam ketat sepaha.


Alex menahan nafasnya kalau-kalau Dia juga mencium aroma wangi yang tak tertahankan. Seluruh mahasiswa/i senyap memperhatikan mereka berdua. Alex berdiri seketika, dan ingin berjalan keluar kelas dengan terburu-buru.


Dung! brakkk… Alex terjatuh, kakinya tersangkut di kursi yang didudukinya tadi. Tiba-tiba kelas riuh, semua mahasiswa dan mahasiswi tertawa terbahak-bahak. Begitu pula dengan Bu Dosen tersebut. Dosen itu tertawa cantik dengan kedua tangan yang penuh menutup mulutnya.


“Alex tidak perlu segrogi itu terhadap Saya. Saya tidak pernah sekali pun marah di kelas. Ketika mengajar, Saya lebih mementingkan ilmu dari pada adab.” Ujar Bu Dosen menggoda.

__ADS_1


Alex yang sedang berdiri itu kembali duduk di tempat yang sama. Tangan Ibu Dosen bergerak perlahan dan memegang kerah baju kemeja Alex. Kelas kembali tenang, mereka semua memperhatikan Alex yang terlihat menarik di mata Bu Dosen.


Kemudian jemari lentik itu turun ke kancing pertama kemeja Alex. Alex bergeming. Dia terpacu dalam adrenalin yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


“Bapak Alex, eh maksud Saya Alex, ini belum terkancing.” Ujar Bu Dosen lembut sambil mengancing baju kemeja Alex. Keringat Alex masih bercucuran secara perlahan. Dia membuang pandangannya ke bawah sekarang.


Dengan memegang dagu Alex, Ibu itu mengangkat wajah Alex menggunakan ujung-ujung jemari lentiknya. Mengarahkan wajah Alex tetap berada di depan wajahnya.


“MasyaAllah. Sungguh indah paras wajah Dosen ini.” Alex bergumam dalam hati. Kali ini dia tak lagi menahan tatapannya. Dia memberanikan diri untuk menatap Dosen itu. Mereka beruda bertatap mata. Empat mata saling memandang satu sama lain tanpa kedap kedip.


Buntalan berada di balik kain hitam itu perlahan menjauh. Kali ini Alex fokus. Dia sedikit menikmati pertunjukkan yang ada di depannya. Lalu tiba-tiba Bu Dosen membalikkan badannya.


“Apa yang Kamu lihat Alex?” Bu Dosen bertanya sambil menaikkan alis sebelah kanan. Alex terdiam dan menunduk. Bu Dosen kembali berjalan menuju kursi Alex.


“Alex…” Dosen cantik itu merubah nada bicaranya. Alih-alih Dia kesal melihat Alex. Bu Dosen itu malah memanggil nama Alex dengan lembut.

__ADS_1


Alex pun sekarang tak berani lagi mengangkat dagunya. Keringat dingin nya kembali berucucuran keluar, semakin banyak, dan semakin kencang. Lalu Bu Dosen mengambil sapu tangan di kantong rok belakangnya. Dia mengelap keringat Alex dengan sangat lembut dan perlahan kemudian mengangkat dagu Alex lagi.


Dosen cantik itu dan Alex saling bertatapan kembali. Bu Dosen perlahan mendekati wajah Alex. Dengan sangat perlahan, hidung dari Dosen itu mulai menyentuh hidung Alex. Sedikit demi sedikit, dan terus saja Dosen itu mendekati wajah Alex. Alex pun refleks memiringkan wajahnya untuk merespon.


Semakin lama, semakin bibir dosen itu mendekat semakin Alex mendekatinya pula hingga sisa satu sentimeter saja jarak antara bibir Alex dan bibir yang berlipstik warna merah milik Bu Dosen tersebut.


Lalu ….


Kring…kring..kringgg. Alarm pagi berbunyi. Alex terbangun dari mimpinya. Benar wajah dan lehernya berkeringat padahal ia sedang tidak kepanasan.


Alex terduduk di kasur miliknya. Dengan membuka selimut tebal miliknya itu, Alex melihat ke celana pendeknya. Ternyata celana itu telah basah dikarenakan mimpi barusan. Entah itu mengompol atau Dia sedang mimpi basah.


Duda itu bergegas untuk pergi ke belakang rumah dekat dapur. Sebelum ke belakang tak lupa Alex mengganti celananya, membuka spreinya dan langsung mencucinya di belakang rumah dimana mesin cucinya berada.


Seiring dengan berputarnya mesin cuci itu, Alex bersiap untuk mandi dan melanjutkan aktifitasnya. Aktifitas pertama kali yang Dia lakukan setiap pagi adalah memasak bubur tim sambil Live di Youtube, karena memang inilah pekerjaan Alex untuk menafkahi ketiga Anaknya.

__ADS_1


__ADS_2