
Pipipp! Bunyi klakson menggema di udara. “Berangkatlah Alex, belajarlah dengan giat. Cepat selesaikan kuliahmu.” Pesan Aisyah sembari mengambil Hendra dari Ayahnya. “Baiklah, terima kasih Aisyah.” Sahut Alex.
Alex berlari masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu adalah mobil sedan keluaran dari dealer Tesla. Mobil listrik yang berwarna merah itu terparkir tepat di depan rumah Alex.
“Apa ada yang ketinggalan Alex? Jika tidak Kita bisa berangkat sekarang.” Kata Najwa sambil melirik Alex. “Tidak ada, ayo Kita berangkat.” Sahut Alex menoleh ke arah Najwa. “Okay lets go!.” Ujar Najwa singkat. Lalu ia menginjak pedal gas pada mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Kemudian Pak Didit datang menghampiri Aisyah. “Mba Aisyah, apa Andra dan Indra sudah siap?” Tanya Pak Didit kepada tetangganya itu. “Kurang tahu Pak. Saya baru saja sampai di sini karena mau menjemput Hendra dan membawanya ke rumah. Coba Bapak masuk dan cek ke dalam.” Terang Aisyah.
“Ckck.. bisa-bisanya Pak Alex meninggalkan kedua putranya.” Seru Pak Didit. “Mungkin Dia seperti itu karena sudah merasa aman dan menganggap Kita semua adalah keluarganya.” Sahut Aisyah. Perempuan berhijab itu selalu saja berpikir positif dalam setiap situasi.
“Ahhh.. benar Mba Aisyah.” Jawab Pak Didit mengiyakan. Tidak ada gunanya berdebat dengan manusia Alim seperti Aisyah. Ujung-ujungnya pasti selalu saja berprasangka baik walaupun kenyataannya tidak selalu demikian.
Pak Didit masuk sendirian dan keluar rumah bertiga dengan kedua Anak dari Alex. “Tante Kami permisi mau berangkat ke sekolah dulu ya.” Ujar Andra sembari bersalaman dan mencium punggung tangan Aisyah. Begitupun dengan Indra, ia seakan selalu mengcopy apa yang dilakukan oleh Kakaknya itu. Indra juga menyalami Aisyah dan mencium punggung tangan AIsyah.
“Hati-hati di jalan sayang.” Ucap Aisyah lembut. Kemudian kedua putra dari Alex tersebut masuk ke dalam mobil mewah Ayahnya bersama dengan supirnya. Lalu mobil berjalan menjauh meninggalkan rumah Alex.
Aisyah menutup rumah Alex tanpa menguncinya. Karena memang tidak ada kunci rumah yang sedang ia pegang. Lagipula komplek atau perumahan itu terbilang aman karena security yang berjaga selama 24 jam penuh.
Aisyah pulang dengan membawa Hendra, hal itu sudah satu tahun ia lakukan. Sekarang Hendra sudah makin besar dan sudah tidak cadel lagi dalam bertutur bahasa.
Sementar itu di waktu yang sama, Alex masih dalam perjalanannya ke kampus bersama sang Ketua kelas. “Alex, apa tugasmu sudah Kamu selesaikan?” Tanya Najwa memastikan. “Sudah dong! Sudah aman.” Sahut Alex membanggakan diri.
__ADS_1
“Paling juga Kak Eliana yang membantumu mengerjakannya.” Ujar Najwa sinis. “Lah itu sudah tau nanya!” Pungkas Alex. “Huuu dasar ya, coba aja Kak Eliana enggak ada. Pasti Kamu akan meneleponku dan menanyaiku.” Ucap Najwa jutek.
“Enggak sih, masih ada Dinda yang bisa kuhubungi.” Jawab Alex tak mau kalah. Kali ini Najwa tak menyaut lagi perkataan dari Alex. Gadis berparas arab itu hanya cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
“Jangan cemberut gitu dong Najwa, cantikmu ilang entar.” Kata Alex menghibur. “Oh tidak bisa, kalau soal cantik, cantikku tak akan pudar untuk selamanya.” Canda Najwa. Lalu kedua orang itu tertawa bersama-sama dan melanjutkan perjalanan mereka.
Sesampainya di Kampus, seperti biasa Alex berjalan bersama dengan Najwa. Beberapa mahasiswi yang menyukai Alex tentu sangat iri atas kedekatan yang terjadi di antara dua orang ini.
“Tuh liat tu, Alex lagi jalan sama Bodyguard-nya.” Celoteh salah satu mahasiswi yang dilewati dua sejoli ini. Sayangya kepekaan Alex agaknya kurang, jadi saat Dia berjalan atau mengerjakan sesuatu sering kali Alex tak mendengarkan ataupun menghiraukan sesuatu itu. Kecuali masalah Anaknya, untuk hal ini Alex malah sangat peka dibandingkan Ibu lainnya.
Najwa yang mendengar percakapan mahasiswi itu sontak menoleh ke arah mereka. “Huekkkk…” Najwa mengejek dengan mengeluarkan lidah tanpa sepengetahuan Alex. “Isshhh…” Mahasiswi itu hanya memasang ekspresi kesal kepada Najwa kemudian Najwa pun kembali melihat ke depan berjalan bersama Alex.
Alex menoleh ke belakang ke arah mahasiswi yang berbicara tadi. Alex tersenyum kepadanya, seketika mahasiswi itu melemas tak berdaya saat mendapatkan senyuman dari Alex. “Enggak usah dikasih senyum-senyum gitu ke mereka. Entar mereka baper lagi, entar Dia pikir Kamu itu suka sama Dia.” Tegur Najwa.
Alex hanya diam tanpa menjawab, karena baginya tidak hal lucu yang ia lakukan barusan. Dua sejoli ini melanjutkan langkahnya sampai ke kelas.
“Hai Alex, gimana kemarin acara ulang tahun Anak Kamu? Lancar jaya gak?” Sapa Siska dengan manja, ia meraih lengan Alex dan merangkulnya. Alex yang tiba-tiba dirangkul itu merasa tidak nyaman. Ditambah lagi dengan tatapan Najwa yang tajam seakan ingin menelan dirinya.
“Alhamdulillah lancar Sis, tapi loh kok Kamu tahu? Padahal itu acara tertutup dan hanya keluarga sama tetangga yang di undang.” Sahut Alex. Alex juga mencoba melepasnya rangkulan dari Siska tersebut.
“Yaiyalah tau, Aku suka pantengin Kamu di akun Facebook dan Instagramnya Bu Tanjung.” Jawab Siska, ia kembali merekatkan rangkulannya kepada Alex. Najwa yang melihat itu seakan geram sekali kepada Siska. Tapi Najwa adalah seorang Ketua kelas, jadi Dia harus tetap professional bukan. Soal rangkul merangkul itu hak Alex dan Siska. Tidak ada campur tangan dirinya di dalam hal itu.
__ADS_1
Sesampainya pada kursi yang biasa ia duduki, Najwa hanya terduduk sambil melipat kedua tangan. Ia duduk dengan kaki kanan di atas paha kiri, lalu mulai melihat ke langit-langit kelas untuk menghindari pertujukan yang membuatnya cemburu itu.
“Emm.. maaf Siska, jika Kamu terus memegang lenganku seperti ini, gimana bisa Aku duduk. Kursi ini cuma cukup satu orang Sis.” Ujar Alex berusaha melepaskan rangkulan Siska pada lengannya.
“Oh iyaaa OK! Silahkan duduk Alex.” Sahut Siska, dan berniat untuk duduk di samping kanan Alex. Namun, usahanya itu jadi gagal, karena ada Meimei yang lebih dulu duduk di kursi tersebut. Siska hanya terduduk sambil memandangi Alex dan tak melihat ada orang yang sudah duduk di bangku itu.
“Aww… Siskaaa..” Teriak Meimei kala pahanya diduduki oleh teman kuliah itu. Sontak orang-orang yang ada di kelas itu melihat Siska dan Meimei. Beberapa dari mereka terlihat sinis dan tak menghiraukan dua orang itu. Dan yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan tingkah dua orang itu.
“Yeeee… salah sendiri kenapa duduk di sini.” Kata Siska menyalahkan Meimei. “Loh kok? Memangnya ini kursi punya Elo?” Sahut Meimei tak terima. “Iya dong, dari kemarin kan Aku duduknya di sini.” Jawab Siska sinis.
“Ya enggak bisa gitulah, kursi ini milik siapapun yang berkuliah disini. Enggak ada yang namanya kepemilikan.” Pungkas Meimei dengan wajah yang geram. “Iya benar, Meimei benar Sis.” Sahut Reza yang telah duduk di samping kanan Meimei.
“Sini Kamu duduk di sampingku saja.” Ajak Reza sembari memukul perlahan kursi kosong yang ada di samping kanannya. Ia bahkan tersenyum manis, seakan ada niat terselubung dari senyumnya itu.
“Ihhh ogah ah, mending Aku duduk di belakang.” Terang Siska. Kemudian Siska berjalan ke belakang untuk mencari kursi yang kosong. Ia mengacuhkan ajakan Reza. Reza tampak sedikit cemberut saat ajakannya ditolak oleh Siska.
“Nah loh ditolak kan Lu!” Bisik Antonius dari belakang. “Loh tumben Kamu duduk belakang Ton.” Sahut Reza kaget. “Ton? Panggilan apa itu? Panggil saja Antonius. Panggil yang lengkap.” Pungkas Antonius sedikit kesal.
“Iya-iya Antonius! Terus kenapa Kamu duduk dibelakangku, kenapa Kamu enggak duduk di depan saja.” Tanya Reza lagi. “Iya gimana enggak duduk di belakang jika kursi bagian depan sudah penuh.” Jawab Antonius jujur.
Reza lalu memperhatikan kursi depan, “Eh ini ada satu di samping kananku kosong.” Kata Reza datar. “Beneran boleh duduk di situ? Bukannya itu untuk Siska.” Ejek Antonius. “Ahhh… ya sudah jika kau memang ingin duduk di belakang. Biarkan saja kursi ini kosong.” Terang Reza cuek.
__ADS_1
“Eh iya-iya, Aku pindah. Aku enggak betahan kalau duduk di belakang, sejak kecil kalau sekolah Aku selalu duduk depan sih.” Kata Antonius yang kemudian berpindah duduk di samping Reza. “Ya-ya-ya I see!” Jawab Reza cuek. Lalu ia tak lagi menghiraukan Antonius hingga akhirnya Dosen masuk ke kelas tersebut.