Duren Kampus

Duren Kampus
Hendra


__ADS_3

Terlihat Hendra tengah bermain dengan Abipraya. Agaknya Abipraya punya teman baru sekarang. Andra dan Indra sedang bermain bersama cucu pak Didit. Sedangkan Abipraya bermain bersama Hendra. Hendra tertawa, berlari, bermain dengan ceria. Melihat hal itu tentu membuat Alex bersyukur. Anak dan temannya bermain gembira bersama.


Keseharian Abipraya mengurus bisnis banyak menguras otaknya. Maka dari itu terkadang dia pergi clubbing untuk menghilangkan suntuk. Namun sayang, nge-club menghabiskan uang banyak. Merasa terancam dengan perencanaan keuangannya. Abipraya mengalihkan refreshing otaknya bersama Hendra. Dan berhasil! Selain menyenangkan sahabatnya. Bermain bersama Hendra tidak perlu merogoh kantongnya.


“Alex aku pamit pulang.”


Ucap Abipraya sembari melihat jam tangannya. Tak terasa dia bermain bersama Alex dari sore hingga maghrib.


“Okay. Thanks Abi.”


Sahut Alex sembari melambaikan tangan. Abipraya balas melambai sesaat sudah di depan pintu rumah. Lalu menghilang tanpa dilihat oleh Alex. Perhatian Alex tertuju kepada mainan yang berserakan. Abipraya pulang tanpa membereskan. Tidak masalah bagi Alex. Yah walaupun harus susah payah membereskannya lagi. Semua terbayar dengan kegembiraan yang Abipraya berikan kepada Hendra.


Sesaat setelah selesai membereskan. Adzan maghrib pun berkumandang. Alex bergegas menunaikan ibadah sholat maghrib. Masuk kamar dan meninggalkan Alex di ruang keluarga yang tengah berbaring sambil menyusu.


Setelah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib Alex menggantung peci dan melipat sarung serta sajadahnya. Lalu keluar untuk berencana memberi makan malam Hendra.


Sebelum keluar kamar, dia mengambil telepon genggamnya terlebih dahulu.


“Halo, assalamualaikum pak Didit. Andra dan Indra kenapa belum pulang?.”


Tanya Alex ke pak Didit. Alex mulai khawatir. Kedua putranya belum pulang sejak sore tadi. Sebelumnya mereka sudah minta izin kepada Alex untuk bermain bersama cucu pak Didit yang kebetulan seumuran dengannya.


“Walaikumsalam. Andra dan Indra sedang makan malam bersama keluarga kami pak. Nanti selesai makan malam saya antar ke sebelah pak. Kasian, mereka sedang lahap-lahap nya makan pak.”


Sahut pak Didit yang tak tega melihat Andra dan Indra menyudahi makannya. Mereka sangat lapar sehabis berenang bersama dengan cucunya. Mereka berenang bersama di kolam renang plastik yang di pompa milik pak Didit.


“Baiklah kalau begitu pak.”


Alex lega, setelah mengatahui kedua putranya itu aman-aman saja. Dia menutup panggilan suara itu. Tak lupa dengan memberi salam terlebih dahulu. Barulah dia keluar kamar. Dia mendapati ruang keluarga kosong.


Alex berusaha mencari Hendra di kamar Andra dan Indra. Ternyata tidak ada. Dia kembali mencari ke dapur, toilet, masih tidak ada. Alex mulai cemas. Alex menuju ruang tamu sekarang. Sial! Pintu tidak terutup. Pintu terbuka lebar. Segera Alex berlari keluar rumah. Tidak ada siapapun di luar. Begitu pun Hendra.


Alex berlari masuk rumah dan langsung menuju kamar. Mengambil telepon genggamnya lalu menelpon Abipraya.


“Abi, apa Hendra di rumah mu?.


Tanya Alex cemas.

__ADS_1


“Hendra? Tidak. Tadi aku pulang Hendra ku tinggal di ruang keluarga. Dan kamu lihat waktu itu.”


Ujar Abipraya sedikit heran.


“Abi tadi kamu pas pamit, pulang tak menutup pintu ya?.”


Tanya Alex lagi. Alex semakin cemas. Karena kalau itu dia, selalu dia menutup pintu. Kalaupun terbuka hanya pintu teralis saja yang ditutup. Pintu rumah dibiarkan terbuka. Untuk mengantisipasi hal seperti ini.


“Oh iya memang tidak ku tutup. Memang nya ada apa Alex?.”


Sekarang Abipraya yang bertanya. Sontak Alex tegang. Pikirannya mulai kacau. Dia menutup panggilan suara itu tanpa menjawab dan pamit. Lalu berlari keluar. Alex berlari secepat mungkin kerumah pak Didit.


Toktoktok. Alex mengetuk pintu pak Didit yang tertutup. Disaat maghrib seperti ini, pintu rumah warga biasa tertutup.


“Assalamualaikum. Pak Didit, pak Didit”


Teriak Alex. Suaranya terdengar terburu-buru. Mendengar hal itu, pak Didit lekas membuka pintu rumahnya. Dia meninggalkan keluarganya yang sedang makan malam, dan piringnya di meja makan.


“Walaikumsalam pak Alex, ada apa?.”


Ujar pak Didit dengan tangan yang masih bekas makan itu. Pak Didit kali ini berbaju putih dan mengenakan sarung. Persis seperti pak RT sejati.


Alex langsung ke intinya. Ekspresi Alex menunjukkan hal yang tak biasa. Sinyal itu dipahami oleh pak Didit. Dan langsung pak Didit keluar rumah.


“Pak Alex, ayo cepat kita tanya tetangga terlebih dahulu.”


Sahut pak Didit. Dia tidak lagi memperdulikan tangan dan pakaiannya. Lekas mereka berdua berkeliling mencari Hendra. Menyusuri rumah tetangga.


Rumah pertama yang didatangi adalah rumah bu Rosa. Rumah itu tepat berada di depan rumah Pak Didit.


Dingdong. Suara bel berbunyi. Bu rosa mengintip di jendela.


“Alex!”


Gumamnya. Segera dia berganti pakaian. Menggunakan dress merah, lalu memakai lipstik. Dia seakan ingin pergi makan malam.


“Haduh coba dipencet lagi pak Didit. Kenapa lama sekali.”

__ADS_1


Ujar Alex yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Pak Didit pun langsung memencet kembali.


Dingdong…dingdong! Mendengar bel berkali-kali bu Rosa mempercepat proses dandan. Dan taraaa… dia bak putri sekarang. Baginya momen ini adalah momen durian runtuh.


“Iya ada apa pak Alex?”


Bu Rosa menyapa sambil mengangkat dan meletakkan tangan kanannya di konsen pintu. Berpose seakan mau pemotretan. Tak lupa suaranya di pelankan senada menggoda. Alex dan pak Didit tidak terpesona sekalipun. Pikiran mereka fokus mencari Hendra.


“Maaf bu Rosa. Apa bu Rosa melihat Hendra?.”


Tanya pak Didit kepada bu Rosa. Alex celingak celinguk memperhatikan dalam rumah bu Rosa. Berharap melihat Hendra.


“Hendra? Siapa itu Hendra pak Didit?.”


Tanya bu Rosa dengan lembut. Suara dan perkataannya melambat. Sekarang dia berganti pose menyender ke konsen pintu sambil mengedipkan mata ke Alex. Sedangkan Alex, melihat itu membuatnya permisi secepat kilat.


“Pak Didit kita ke rumah Eliana saja pak. Jangan membuang waktu. Disini tidak ada Hendra.”


Alex berbisik kepada pak Didit. Pak Didit menanggapi.


“Maaf bu sepertinya yang kami cari tidak disini. Kami pamit bu.”


Ucap pak Didit dan langsung bergegas ke rumah Eliana bersama Alex. Bu Rosa bersedih. Mulutnya cemberut. Dia mengentakkan kaki ke lantai.


“Duren runtuh itu pergi dibawa pak RT buncit itu hiks!”


Bu Rosa bergumam. Seketika dia menutup pintu dengan kesal.


Rumah ke dua yang didatangi adalah rumah Eliana.


Dindong..! Sekali saja memencet bel pintu terbuka. Eliana!. Alex serasa rindu melihat paras itu. Paras jutek nan menawan. Kali ini Alex yang bertanya. Dia tidak ingin kesempatannya untuk menyapa didahului oleh pak Didit.


“Mba Eliana, apa mba melihat Hendra?.”


Tanya Alex lembut. Eliana tentu heran. Hal apa lagi ini. Sudah cukup baginya seminggu bersama ketiga anak Alex. Kenapa nama salah satu anak itu disebut lagi. Eliana mulai kesal.


“Tidak, tidak anak disini. Tidak ada Hendra disini.”

__ADS_1


Jawabnya ketus dan langsung menutup pintu. Alex dan pak Didit saling menatap. Mengabaikan perlakuan tidak sopan itu. Dan berlari ke rumah selanjutnya.


__ADS_2