Duren Kampus

Duren Kampus
Aisyah menolak


__ADS_3

Hehehe… maaf Pak Alex Suami Saya ini tidak tahu apa-apa yang pesan Saya soalnya.” Ucap Bu Tanjung yang masih mendekap mulut Suaminya.


Alex sama terkejutnya dengan Pak Didit, tetapi kalimat Pak Didit sudah mewakilkan Alex beserta dengan ekspresinya. “Baiklah Bu karena uang kes Saya tidak cukup, nanti akan Saya transfer ke rekening Pak Didit.


Kini Bu Tanjung melepaskan dekapan tangannya. Pak Didit sudah kembali normal tanpa injakan kaki lagi serta mulutnya sudah tidak menganga sekarang. Dia tidak marah sama sekali kepada Bu Tanjung karena ujung-ujungnya uang itu akan mendarat ke rekeningnya sendiri.


“Iya terima kasih Pak, kalau begitu Kami pamit.” Ucap Bu Tanjung. Dia lekas menarik tangan Pak Didit dan lari terbirit-birit bersama Suaminya. Salah tingkahnya tak mau Dia perlihatkan kepada Alex, karena pada dasarnya Dia menyadari kesalahan dalam memberitahukan Alex nominal harga nasi padang yang seharga tiga ratus lima puluh ribu sudah dengan ongkos kirim dan menjadi satu juta rupiah.


-


“Aisyah, kenapa tidak menjawab?” Tanya Bu Tuti yang menunggu respon komentar dari Adiknya.


“Uni…” Aisyah menjawab dengan ragu.


“Iya katakan saja Aisyah.” Sahut Bu Tuti, Dia jelas menunggu jawaban dari Adiknya.


“Sepertinya kalau bekerja dengan Alex Saya lebih memilih di rumah membantu Uni.” Jawab Aisyah. Mendengar hal itu Bu Tanjung yang sedang merebahkan badannya itu sontak bangun untuk duduk. Kakinya Ia tarik dari sentuhan tangan Aisyah.

__ADS_1


“Ada apa Aisyah kenapa perkerjaan ini Kamu tolak?” Tanya Bu Tuti heran, sungguh jalan pikiran Aisyah tidak bisa Dia tebak.


“Ditolak? Diterima saja belum Uni bagaimana bisa untuk ditolak.” Jelas Aisyah.


“Sini sekarang Kamu duduk di sofa.” Ujar Bu Tuti sembari menyentuh sofa di sampingnya sebagai sinyal agar Aisyah duduk di sofa tersebut. Aisyah pun berdiri dari tempatnya duduk dan berpindah ke sofa tepat di samping Kakaknya. Sekarang mereka bedua duduk berhadapan dalam satu sofa.


“Bukan seperti itu maksud Kakak Aisyah, memang betul Kamu belum diterima, Maksud Saya disini adalah kenapa Kamu menolak kesempatan lowongan pekerjaan untuk menjadi Babysitter-nya Alex. Kalau Kamu tidak menyukai Alex, jangan pandang Alexnya, lihatlah Hendra. Hendra sangat butuh kasih sayang, Aisyah. Bukan kasih sayang seorang Ayah saja, Hendra juga butuh kasih sayang seorang Ibu Aisyah.” Jelas Bu Tanjung sembari menggenggam kedua tangan Aisyah seraya memohon.


“Uni memang benar, Aku bukan tidak menyayangi Hendra, Hendra adalah Anak yang sangat manis dan penurut. Juga bukan Aku membenci Alex, bagaimana mungkin Kita harus membenci sesama Mahluk Allah, tidak Uni kalau bisa jangan. Tetapi Uni, Aku adalah seorang Janda, dan Alex adalah seorang Duda. Akan ada fitnah diantara Kami jika Aku yang menjadi Babysitter-nya, Naudzubillah jangan sampai Uni.” Terang Aisyah.


Akhirnya jelas sudah alasan Aisyah menghindari Alex selama ini. Kesan pertama mereka bertemu sudah Dia lupakan namun Wanita soleha satu ini banyak berpikir sebelum bertindak.


Menurutnya ada fitnah diantara mereka pun tidak masalah karena memang niatnya Bu Tuti adalah menyatukan Alex dan Aisyah. Ini bukan soal biaya hidup Aisyah yang harus Dia tanggung, tetapi Bu Tuti sangat menyayangi Adik satu-satunya itu. Dia prihatin, bagaimana mungkin Adiknya yang polos mendapatkan Pria yang bahkan tidak pantas untuk Adiknya cintai, lelaki yang ringan tangan dan tak menghargai seorang Wanita.


“Uni maaf, Aku belum bisa untuk bekerja dengan Alex. Maafkan Aku menolak kesempatan ini Uni. Jika hanya soal pekerjaan, besok Aku akan mencari pekerjaan Uni agar Aku bisa menghidupi diriku sendiri.” Ucap Aisyah.


Aiysah menundukkan pandangannya ke bawah. Dia berusaha menyembunyikan bola matanya yang sudah dibasahi air mata yang menetes di kainnya. Tetapi Dia berusaha menahan air mata itu, Dia tidak ingin menampakkan kesedihan yang Dia rasakan kepada Kakaknya.

__ADS_1


“Bukan sayang, Aisyah Aku tidak pernah terbebani olehmu saat pertama kali kamu tinggal di rumah ini sampai sekarang. Hingga saat ini Aku malah merasa sangat terbantu dengan adanya Kamu tinggal di sini. Siapa yang mengurusiku saat ini? Kamu kan! Jadi soal itu jangan dipikirkan lagi. Kakak hanya ingin Kamu agar tidak merasa bosan di rumah terus, agar Hendra bisa menemanimu di rumah ini. Kalau hanya soal biaya, gaji pensiunku masih cukup untuk menghidupi Kita berdua Aisyah.” Kata Bu Tuti lembut.


Dia tidak ingin Aisyah merasa bersalah dengan tinggalnya Aisyah bersamanya. Karena memang faktanya malah Bu Tuti yang terbantu, jadi ada yang mengurusinya serta rumah pun ada yang yang membereskan tiap hari. Bahkan Bu Tuti tidak bisa berpikir bagaimana kalau tidak ada Aisyah di rumah itu. Semua pekerjaan rumah, memasak, hingga dirinya sendiri diurusi oleh Adiknya.


Aisyah memejamkan matanya, kepalanya masih menunduk. Dia berusaha untuk bersikap santai, menghilangkan kesedihannya dan mulai memandang Kakaknya. “Baiklah Uni terima kasih pengertiannya. Terima kasih selama ini sudah mau menampung Aisyah di sini.” Ujar Aisyah dengan raut wajah yang tak bersedih lagi.


“Aisyahhh.. cukup sekali ini Aku beritahu kepada Engkau, jangan pernah merasa terbebani karena tinggal di rumah ini. Ingat ya? Okay?” Jelas Bu Tuti.


“Iya Uni Okay.” Jawab Aisyah tersenyum.


“Sekarang lanjutkan untuk memijit Kakiku.” Bu Tanjung sembari merebahkan badannya dan kembali meluruskan kakinya agar mendapatkan pijitan dari Adiknya.


-


Setelah Pak Didit dan Bu Tanjung menghilang dari pandangan Alex, segera Dia masuk dan menutup rapat pintunya. Dia merasa kelelahan, walaupun tidak banyak mengambil energi fisiknya, hari ini pikirannya terkuras. Dalam satu hari, kepalanya langsung migrain karena Hendra tak jua mendapatkan Babysitter yang tepat sedangkan besok Alex harus masuk untuk berkuliah.


Dia meletakkan Hendra di atas karpet lembut di ruang keluarga. Hendra menguap, lekas Alex ke dapur mengambil botol susu ukuran 240ml beserta dengan dotnya, mengambil kaleng susu dan membukanya lalu mengambil tiga sendok penuh susu bubuk yang dimasukkan ke dalam botol tersebut. Kemudian alex mengisi botol itu dengan air panas sebanyak 60ml dan mengisi air biasa sampai penuh, Dia sedang membuatkan Hendra sebotol susu formula untuk Hendra.

__ADS_1


Segera Alex memberikan susu itu kepada Anak bungsunya. Hendra mengambil botol itu dan langsung menyedotnya. Glek…glekkk.. suara tegukan Hendra terdengar samar. Alex mengusap punggung Hendra, Hendra yang menyusu mulai tertidur. Sesekali botol susu itu lepas dari tangannya namun Alex dengan sigap mengembalikan botol itu ke tangan Hendra dan langsung disedot Hendra lagi.


Anak bungsunya itu tertidur sambil mengedot. Matanya terpejam namun dot itu masih saja di **** hingga habis. Akhirnya setelah botol susu itu habis di minum Hendra, Alex melepaskan botol susu itu perlahan dan meletakkannya di tempat cucian piring. Lalu Alex menggendong Hendra perlahan serta menaruhnya di tempat tidur milik Hendra.


__ADS_2