
Aisyah keluar bersama dengan Hendra. Anak bungsu dari Alex itu tengah digendong oleh Aisyah. Aisyah mengenakan kerudung pasmina hitam dan baju gamis hitam polos yang menjuntai kelantai, dengan begitu kakinya yang memakai kaos kaki berwarna kulit itu tak tampak lagi.
Alex selalu menyukai adegan itu. Adegan dimana Aisyah memakai selendang hitam ditambah dengan Hendra yang telihat nyaman didalam dekapannya. Mata Alex tertuju kepada Aisyah, Aisyah hanya terus memandangi Hendra. Sedangkan Hendra melihat ke arah Ayahnya dan Bu Tuti memperhatikan tatapan mata Alex.
“Hemm.. seperti yang ku harapkan. Alex sudah mulai tertarik kepada Aisyah.” Bu Tuti menyeru dalam hati. Bibirnya tersenyum kala memperhatikan keduanya.
“Ayahhh..” Hendra terlihat senang dengan kedatangan Ayahnya. Lekas Alex berdiri mendekati Aisyah untuk mengambil Anaknya. Dengan lembut Aisyah pun mengarahkan Hendra untuk diambil oleh Ayahnya.
“Kita pulang ya sayangg..” Kata Alex sembari mengecup kening Hendra. “No…” Tolak Hendra. Baginya rumah itu sudah menjadi rumah keduanya. “Endlaa maunya dicini sama akak Aicaaa..” Terang Balita berumur dua tahun lebih itu.
Seketika Alex tertawa ringan kala mendengar celoteh lucu dari Anaknya itu. Tersadar bahwa Dia tertawa sambil dilihat oleh dua orang perempuan, Alex mengembalikan ekpsresinya ke wajah yang biasa-biasa saja.
“Jadi bagaimana ini? Hendra tidak ingin pulang Alex.” Ujar Bu Tuti dengan rencana lain. “Biarkan saja Hendra pulang, Dia akan nyaman jika bersama dengan Ayahnya.” Ucap Aisyah lembut lalu berbalik badan dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruang tamu itu. Hendra Dia letakkan di sofa.
Alex hanya memandangi punggung mungil dilapisi kain hitam itu tanpa menjawab. “Bagaimana kalau Kita mengajak Hendra untuk jalan-jalan. Lagipula sudah selama enam bulan Kami tidak pernah keluar rumah karena Kami berdua sibuk mengurus Anakmu Lex.” Kata Bu Tuti dengan ekspresi yang memelas.
Aisyah yang mendengar kalimat Kakaknya sontak membuat langkah kakinya berhenti. “Uni!” Tegur Aisyah sambil melongo. “Apa? Apa Aisyah?” Sahut Bu Tuti dengan tatapan melotot. Seketika nyali Aisyah pun menciut. Tidak ada gunanya mengajak singa garang berbadan gemuk untuk beradu mulut.
“Baiklah, kebetulan juga Saya lagi tidak ada kegiatan lain. Andra dan Indra juga belum pulang dari les. Jadi sekarang Saya Free. Jika berkenan untuk menemami Hendra untuk jalan-jalan silahkan, akan Saya antarkan kalian kemana pun.” Jelas Alex.
Mendengar perkataan Alex seketika Bu Tuti kegirangan dan langsung meninggalkan ruang tamu itu berganti pakaian. Sedangkan Aisyah masih berdiri berhadapan dengan Alex. “Alex jangan dengarkan setiap perkataan Kakakku.” Tegas Aisyah.
“Tidak apa sekali-kali Aisyah.” Sahut Alex ringkas. Aisyah hanya bisa menghela nafas dan pergi. Kemudian Aisyah kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil wudhu dan mengaji di atas sajadah.
Bu Tuti sudah siap, namun Dia mendapati Alex bersama Hendra di ruang tamu tanpa Aisyah. “Apa Aisyah belum keluar juga Alex?” Tanya Bu Tuti. “Iya sejak tadi Aisyah tidak ada di sini Bu.” Sahut Alex.
“Hem… bisa-bisanya Aisyah menolak untuk jalan-jalan. Apa itu Anak tidak bosan di kamar terus.” Bu Tuti menyeru dalam hati. “Baiklah akan ku panggil Aisyah terlebih dahulu, Kamu tunggu di sini Alex.” Jelas Bu Tuti.
__ADS_1
Kali ini pintu kamar Aisyah terkunci hingga mengharuskan Bu Tuti untuk mengetok terlebih dahulu. Tok.. tok.. tok! Bu Tuti mengetok pintu perlahan, Dia berbisik memanggil Adiknya di pinggir pintu kamar Aisyah yang tertutup rapat itu. Tetapi sayang, tidak ada jawaban dari Adik kandungnya itu.
Geram, Bu Tuti menarik nafas dalam-dalam. “Aisyahhhh….” Bu Tuti kembali berteriak. Bahkan pot bunga yang ada di atas meja ruang tamu bergetar. Seketika Hendra memeluk erat Ayahnya. Aisyah yang mendengar jeritan itu sontak menyudahi mengajinya “Shadaqallahul Adzim”.
“Ada apa Uni? Kenapa Uni belum berangkat juga.” Aisyah membuka pintu kamarnya. “Kami menunggumu. Kenapa kau malah mengenakan mukenah itu, bukankah kau pergi untuk berganti pakaian?” Bu Tuti melotot lagi.
“Tidak Uni, kalian saja yang pergi biar Aku yang menjaga rumah.” Sahut Aisyah lalu menutup pintu kamarnya “DUGHKK!!”. “Aisyahhhh..” Suara Bu Tuti kembali bergema, bukan hanya pot bunga yang bergetar sekarang, bahkan jendela ikutan bergetar.
Hendra yang mendengar jeritan itu menangis kembali. Alex panik, Dia berpikir apa itu? “Apa ini yang di maksud gempa bumi buatan?” Gumamnya.
Tangisan Hendra jelas terdengar hingga ke kamar Aisyah. Sontak Aisyah keluar dengan mukenah yang ia kenakan, berlari melewati Bu Tuti dan menuju ruang tamu. Dia mendapati Hendra sedang menangis dan dipeluk erat oleh Ayahnya.
Hendra menangis histeris, hati Aisyah pun teriris. Kemudian Hendra tak sengaja melihat Aisyah “Akak Aicaaa.. huaaa.” Panggil Hendra yang masih menangis itu. Aisyah mendekati Hendra, lalu Alex pun memberikan Hendra kepada Aisyah.
Hendra kembali ke dalam dekapan Aisyah, perlahan tapi pasti Hendra pun berhenti menangis. “Alex silahkan pergi tanpa Aku. Pergi saja dengan Kakakku jika kau ingin.” Tegas Aisyah kepada Alex.
“Ada apa Alex? Kenapa kau terlihat sependapat dengan Kakakku.” Ujar Aisyah yang telah meletakkan Hendra ke sofa lagi. “Aisyah, melihat hal barusan terjadi, ku rasa ada baiknya jika kau ikut. Hendra akan sangat membutuhkanmu.” Jelas Alex.
“Tidak Alex, Aku tidak ingin rencana kecil Kakakku ini menjebakmu.” Ujar Aisyah sembari melirik Kakaknya itu. “Apa? Apa kau bilang? menjebak Alex? Dari mana pula kau mendapat pemikiran seperti itu. Tidak mungkin Aku menjebak Alex!” Terang Bu Tuti sinis. Kakak dari Aisyah itu melipat kedua tangannya di atas perut dan memiringkan bibirnya ke atas.
“Uni, Aku bukan Anak kecil lagi yang bisa ditipu dengan mudah. Untuk urusan menjaga Hendra masih bisa ku terima Uni, karena memang Hendra Anak yang baik dan lucu sampai hatiku tergerak untuk menjaganya. Tetapi hari ini Aku tidak bisa menerimanya lagi.” Jelas Aisyah. Dia mulai muak dengan permainan Kakaknya sendiri.
“Ohhh.. jadi selama ini kau tahu Aisyah lalu kau pura-pura tidak tahu. Dasar kau Adik yang kurang ajar!.” Pekik Bu Tuti. Giginya beradu sama lain, Dia jelas terlihat kesal. “Kurang ajar apa Aku Uni? Aku hanya menolak karena ku rasa Uni sudah kelewatan. Jangan memaksakan keadaan Uni.” Aisyah menjawab kembali Kakaknya. Untuk pertama kalinya Aisyah memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri.
“Kau, kau berani melawanku?” Teriak Bu Tuti tangannya terangkat untuk menampar Adiknya itu. Mendengar teriakan itu Aisyah langsung mengambil Hendra lagi. Alex pun tak tinggal diam, seketika Dia mendekati Bu Tuti dan berada di depan Aisyah untuk melindunginya.
“Alex..” Bu Tuti berkata lembut dan menurunkan tangannya. Alex hanya menatap tajam kepada Bu Tuti sembari mengeleng kepalanya isyarat untuk tidak melakukan tamparan itu. Seketika Bu Tuti merasa tertampar sendiri. Dia malu, Dia merasa sangat malu dengan perbuatan yang hampir saja menampar Adik kandungnya..
__ADS_1
“Hiksss..” Bu Tuti menangis lirih. Aisyah tercengang melihat Kakaknya menangis. Alex kebingungan harus berbuat apa melihat Bu Tuti menangis di depannya.
“Tahukah kau Aisyah, ini semua ku lakukan untukmu. Hanya demi kau, Aku rela bersandiwara. Dan kulihat memang benar adanya, jadi ku pikir kau bersedia menerima Alex. Tapi ternyata Aku salah.” Jelas Bu Tuti, ia menangis terseduh-seduh.
Kini Alex makin kebingungan dan memberanikan diri untuk angkat bicara. “Maaf, bukan bermaksud untuk memcampuri urusan kalian berdua. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi diantara kalian.” Ujar Alex.
“Ini bukan hanya diantara Kami berdua Alex. Ini juga mencakup dirimu.” Terang Aisyah tegas. “Lantas apa yang mencakup diriku? Tolong dijelaskan!” Tegas Alex.
“Alex maafkan Ibu nak, selama ini Aku menawarkanmu untuk menjaga Hendra karena Aku punya niat yang lain. Aku ingin menjodohkanmu dengan Aisyah, tetapi Aku tak tahu harus memulai dari mana. Jadi Aku memulainya dan berpura-pura sakit lalu menyeretmu dalam masalah itu. Itu semua Aku lakukan untuk mendekatkanmu kepada Aisyah dan kupikir itu berhasil. Ku pikir Aisyah tertipu begitu pun dengan engkau.” Bu Tuti masih menangis lirih.
“Aku tidak tertipu Uni, Aku hanya menghargaimu dan memang Aku senang bersama Hendra.” Sahut Aisyah ringkas. “Lalu apakah kau memang tertarik denganku Aisyah?” Tanya Alex tiba-tiba.
Bu Tuti yang mendengar hal itu melotot lagi, bahkan air matanya berhenti menangis. “Apa? Mengapa kau tanyakan itu Alex?” Tanya Bu Tuti heran. “Maaf Bu, Aku terlanjur terseret di dalam masalah perjodohan ini. Jika boleh jujur, laki-laki mana yang tak beruntung jika mendapatkan Aisyah. Tetapi yang selalu menjadi tanda tanya dalam diriku adalah sikap Aisyah yang selalu menghindariku Bu.” Kata Alex yang mencoba menatap Aisyah namun Aisyah masih saja tak ingin menatap Alex.
“Ahhh.. benar, Alex apakah kau bersungguh-sungguh?” Bu Tuti gembira mendengar kejujuran Alex. Ayah dari Hendra itu mengangguk perlahan. Melihat hal itu Bu Tuti mengelap semua air matanya dengan kedua telapak tangannya. “Aisyah cepat jawab.” Pinta Bu Tuti lembut, Dia juga memengangi lengan kanan Aisyah.
Tiba-tiba linangan air mata bercucuran di mata Aisyah. Aisyah diam seribu bahasa, namun air mata itu terus berjatuhan membasahi pipinya. Alex semakin bingung melihat Aisyah yang menangis. Bingung dengan ekspresi seperti itu, Dia tak tahu untuk menafsirkan arti tangis itu. Apakah tangis bahagia karena Alex sudah jujur padanya atau tangis kesedihan karena tak ingin bersama Alex dan menolaknya.
“Aisyah cukup jawab saja tidak perlu untuk menangis.” Ujar Bu Tuti. Dia mencoba untuk menggerakkan lengan Aisyah lagi namun Aisyah tetap saja menangis. Karena bingung dan tak tahu harus berbuat apa Alex pun berniat untuk permisi.
“Bu Saya pulang saja, sepertinya Aisyah tidak menginginkanku.” Kata Alex dengan raut wajah yang bersedih. Dia kembali mengambil dan menggendong Hendra, lalu melangkah kakinya. “Tunggu Alex!” Ucap Aisyah memandangi punggung bidang Alex.
Alex menghentikan langkahnya, namun Dia enggan untuk membalikkan badannya. Dia merasa malu dan merasa ditolak dengan Aisyah. “Beri Aku waktu Alex, bisakah kau menungguku?” Ujar Aisyah lirih.
Bu Tuti kaget mendengar hal itu. Nafasnya terasa lemah, jantungnya berdebar kencang. Terlebih lagi dengan Alex, seluruh badannya terasa ringan seakan terbang di udara, menciut bagaikan balon bocor. Dia tidak pernah menyangka akan kesempatan itu. Lalu Alex membalikkan badannya untuk menatap wajah Aisyah.
“Aku siap menunggumu.” Kata Alex sembari tersenyum. Aisyah hanya memandangi Alex dengan linangan air mata. Alex pun tak ingin berlama-lama dan pulang.
__ADS_1