Duren Kampus

Duren Kampus
Keramaian


__ADS_3

Royce Chocolate menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi di Plaza Indonesia. Tujuan utama mereka weekend pada hari ini adalah karena ketiga anak Alex. Jadi Alex memutuskan untuk membelikan anak-anaknya cokelat.


“Mba saya pesan Nutty Bar dua kotak sama Rum Raisin tiga kotak.” Ujar Alex kepada karyawan di Toko cokelat itu. Karyawan perempuan itu mengangguk dan segera mengambil pesanan Alex. Kemudian dimasukkan ke dalam kantong belanja ramah lingkungan setelah discan di kasir.


“total nya satu juta lima ribu rupiah Pak.” Kata Mba itu. Alex pun mengambil dompet dari kantong belakang celananya. Dia mengambil sebelas lembar uang kertas yang berwarna merah.


“ini Mba, kembaliannya untuk Mba saja ya.” Ucap Alex sembari memberikan uang kertas itu. Mba karyawan itu mulai memencet tombol yang ada di kasir. Setelahnya keluar struk belanja Alex. Mba itu memberikan belanjaan Alex beserta cokelatnya dengan kedua tangan. Sembari memberikan kantong belanjaan itu, tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada Alex. Dijawab Alex dengan mengangguk dan pergi.


“nah Sekarang kemana kita Alex?” tanya Abipraya. Dia masih memegang erat tangan kedua anak Alex yaitu Andra dan Indra.


Dikejauhan mereka mulai mengambil perhatian para perempuan. Tak sedikit dari mereka yang memperhatikan. Beberapa bahkan berbisik-bisik kepada temannya.


“eh itu bukannya Alex?” bisik seorang perempuan kepada temannya. “ih iya itu Alex! Duren ganteng!” Teriak teman yang dibisikkannya tadi. Seketika perempuan yang tahu maksud dari teriakan itu menoleh. Bahkan ada yang langsung berlari menuju Alex. Tiba-tiba Alex dikelilingi perempuan. Mereka berasal dari berbagai genre seperti remaja, para gadis, dan emak-emak.


Semua berlari mendekati Alex. Abipraya dan Pak Didit menjauh otomatis sekarang. Bukan karena ini menjauh, melainkan bergeser secara otomatis akibat desakan keramaian itu. Bahkan Andra dan Indra harus ikutan menjauh. Tinggallah Alex Bersama Hendra sambil memegang kantong belanjaannya tadi.


“ya ampun ini beneran Mas Alex?” teriak seorang gadis.


“MasyaAllah gantengnya kamu bang Alex.” Sahut seorang Ibu-ibu sembari menoel dagu Alex.

__ADS_1


“Oh my god! Lucunya kamu dedek. Pasti karena papamu handal dalam mengurusimu sayang.” Kata seorang remaja yang sedang hangout Bersama teman-temannya.


Suara para perempuan itu bergemuru sehingga membuat Alex tidak bisa mendengar apa saja yang sedang mereka katakan. Ditambah lagi desakan para perempuan membuat Alex risih. Betapa tidak, seumur hidup baru kali ini dia dikerumuni dikeramaian seperti itu. Sebelumnya? Hanya komentar pujian yang bertubi-tubi. Sekarang dia menghadapi kondisi sebagai seorang selebritas yang muncul dikeramaian.


“hem permisi-permisi, bolehkah saya melanjutkan kegiatan saya bersama anak saya?” Alex mulai mencari celah untuk kabur. Tidak ada cela untuk kabur, mereka terlalu banyak. Ratusan perempuan mengelilinginya sekarang yang setiap menitnya bertambah.


Perempuan yang menjadi keramaian itu semua terdiri dari fans Alex. Tak lupa para fans Alex mengambil kesempatan ini untuk foto bareng. Kilatan kamera bergantian sekarang. Sebagian dari fans itu juga ada yang sedang merekam Alex bersama Hendra. Tapi Hendra mulai takut melihat kilapan lampu kamera HP yang silih berganti menjempret. Hendra menangis! Lekas Alex mencari Abipraya dan Pak Didit yang sejak tadi menghilang di sampingnya.


“Pak Didit, sini tasnya kasih saya saja. Kasihan Hendra Pak. Dia sudah menangis sekarang, cepat kesana Pak Didit.” Ucap Abipraya benar. Pak Didit meletakkan tas itu di samping Abipraya. Tidak bisa Abipraya memakainya sekarang. Mengingat bahwa kedua tangannya sedang digenggam oleh Andra dan Indra.


Lekas Pak Didit menuju ketempat keramaian yang dikelilingi para perempuan itu. Berniat untuk menyelamatkan Alex juga Hendra. Pak Didit berusaha mencoba, tapi keramaian itu menghalangi jalannya untuk sampai di samping Alex.


“satu, dua, ….” Pak Didit menghitung dengan dada yang maju mundur. Kaki kanan di depan dan kaki kiri di belakang. Masih dengan posisi tangan yang tadi.


“tigaaaaa….” Hitungan Pak Didit selesai. Dia berlari kencang menembus keramaian itu. Tidak peduli lagi bahwa yang diterobos masuk itu adalah perempuan. Ini adalah kekuatan dari kepepet (the power of kepepet) demi menyelamatkan Hendra. Seketika Pak Didit sampai di tengah-tengah bak superman. Menarik tangan kiri Alex yang sedang menganggur karena tangan kanannya sedang menggendong Hendra.


“permisi-permisi Bu-ibu, Adek-adek, Mba-mba, semuanya permisi. Saya bodyguard Pak Alex! Permisi ada anak yang menangis sekarang.


Bertambah lagi kerjaan Pak Didit sekarang. Selain Pak RT, Supir pribadi, Pekerja MLM (Multi Level Marketing), Marketing perumahan, dan sekarang? Pengawal pribadi Alex. Sungguh luar biasa Pak Didit ini.

__ADS_1


Hendra sedang tidak nyaman, jadi mohon pengertiannya.” Pak Didit berteriak sambil menarik tangan Alex. Ada kemajuan, Alex mulai meninggalkan tempatnya beberapa Langkah. Namun hal itu masih membuat Hendra menangis. Anak bungsu Alex tidak jua merasakan kenyamanan.


“Kebakaran…kebakaran!” tiba-tiba dengan lantang Abipraya berteriak. Sontak kerumunan keramaian yang mengelilingi Alex bubar. Berlari ke sana ke mari seperti cacing kepanasan.


Pak Didit dan Alex juga Hendra berhasil keluar dari keramaian itu. Setelah keramaian itu mulai merenggang akibat kepanikan yang dibuat Abipraya. Akhirnya Pak Didit dan Alex yang sedang menggendong Hendra lari sekuat tenaga menuju tempat Abipraya. Mata Pak Didit melotot, berkedip bahkan mulutnya manyun-manyun. Seraya memberi sinyal untuk mengatakan ayo cepat lari.


Untung saja Abipraya pintar menanggapi. Sebelum mereka sempat mendahuluinya lekas Abipraya ikut berlari kencang sambil menyeret kedua anak Alex. Mereka berlima berlari sekuat tenaga. Salah satu fans Alex mulai menyadari bahwa Alex telah melarikan diri.


“itu Alex dia pergi.” Teriak Wanita itu.


Seketika keramaian yang sempat bubar itu lalu kompak berlari mengejar Alex. Alex yang menyadari hal itu berusaha berpikir mencari tempat persembunyian. Karena jika terus berlari tanpa bersembunyi lambat laun dia akan dicapai oleh para fansnya. Alex melihat sebuah restaurant sekarang, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke restaurant itu.


“Abi, Pak Didit, itu ada restaurant! Kita masuk kesana, ada satpam berjaga di depan restaurant itu.” Kata Alex lantang. Abipraya dan Pak Didit mengangguk. Andra dan Indra hanya memperlihatkan wajah cemas mereka. Sedangkan Hendra sudah berhenti menangis dan ceria. Bahkan Hendra tertawa sekarang, baginya momen berlari ini adalah permainan kejar-kejaran sesama anak kecil.


Mereka berlima memasuki Cork and Screw Restaurant yang ada di Plaza Indonesia. Sesampainya di depan restaurant, Alex memberikan Hendra ke Pak Didit dan memberi kode agar Pak Didit masuk duluan. Begitu juga dengan Abipraya, diberikan kode agar masuk lebih dulu bersama anak-anaknya. Abipraya dan Pak Didit melakukan sesuai perintah bahasa tubuh Alex. Mereka berempat masuk lebih dulu dan tinggallah Alex sendiri berdiri di depan dua security restaurant.


“Pak tolong tutup restaurant ini. Saya yang sewa selama satu hari.” Ujar Alex kepada salah satu security itu. Tidak merespon Alex, dia hanya menaikkan satu alis seraya berkata Anda ini siapa?.


“cepat Pak! Saya tidak punya banyak waktu lagi.” kata Alex sedikit memohon. Kemudian Alex mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya dan memberikannya kepada security tersebut. Kartu kredit Alex adalah kartu kredit platinum dengan maksimal limit seratus delapan puluh juta rupiah. Melihat jenis kartu kredit Alex, mata security itu terbelalak. Langsung saja dia bergegas dan menyenggol lengan temannya yang sedang berjaga bersamanya.

__ADS_1


“Cepat, ayo kita tutup cepat!” perintah security itu kepada temannya. Segera mereka berdua menutup restaurant itu. Akhirnya Alex bisa bersantai dengan tenang. Menghabiskan weekend-nya bersama keluarganya serta para sahabatnya.


__ADS_2