Duren Kampus

Duren Kampus
Salah satu fans Alex


__ADS_3

Alex sedang mencuci piring, keluarga kecil ini baru saja selesai makan siang. Anak-anak Alex tengah bermain bersama. Terlihat Andra sedang bermain mobil-mobilan bersama Hendra, sedangkan Indra sedang Asyik pada Tabletnya. Tak butuh waktu yang lama untuk mencuci semua piring itu. Mungkin karena Alex telah terbiasa, dia mencuci piringnya menggunakan sarung tangan berbahan karet berwarna hijau.


Setelah mencuci piring, Alex merapikan susunan piring lalu membereskan dapur. Tidak ada yang mengajarkannya hal itu. Itu semua dilakukan karena pernah melihat Nindi melakukan hal itu. Di setiap selesai makan bersama, Nindi langsung beberes dan mencuci piring bekas pakai sehingga dapur kembali rapi dan bersih.


Dapur sudah rapi dan bersih. Alex melangkah menuju ruang keluarga tempat anak-anaknya bermain. Karena keasyikan bermain, ketiga anaknya tidak begitu menghiraukan kehadiran Ayahnya itu. Karena melihat anan-anaknya yang asyik bermain, Alex sekarang menuju ruang tamu. Dia duduk sambil membaca buku mata kuliah yang dibelinya online tempo hari.


Duda keren itu membaca buku dari mulai lembar satu ke lembar lainnya namun sayang, semua kalimat yang di abaca sulit untuk dia pahami. Bagaimana tidak sudah lima belas tahun dia tidak pernah membaca buku. Dari tamat SMA dia langsung merantau ke Jakarta lalu menganggur dua tahun. Kemudian dia bertemu dengan Nindi dan mendapat pekerjaan. Setelah bekerja tiga tahun dia pun langsung mendapatkan promosi kenaikan jabatan.


Alex menjabat sebagai Manager di Supermarket kota selama tiga tahun. Dia mengumpulkan banyak uang dan kebaranian untuk melamar Nindi. Akhirnya dia menikahi Nindi dan jalan hidupnya berjalan hingga sekarang. Tidak pernah dalam waktu yang lama dia membaca buku perlajaran apalagi buku mata kuliah Fakultas Hukum. Agaknya kepala Alex mulai mumet!


Duren itu meletakkan bukunya di meja tamu depan sofa. Dengan meletakkan buku itu di meja tak sengaja dia melihat tetangganya yang baru saja pulang dibalik Gorden yang putiht transparan. Yah, itu Eliana yang sedang bersama Dinda berjalan masuk kerumahnya.


*


*


Sinar matahari sangat terik, kegiatan belajar mengajar tatap muka di kelas Eliana selesai. Tidak ada lagi mata kuliah yang harus dia hadiri hari ini begitu juga dengan Dinda.


“Haaa.. Akhirnya selesai juga, Aku tidak sabaran untuk pulang dan tidur.” Kata Eliana sembari menguap dan menaikkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-ototnya.


“Iya bener, tuh coba lihat di luar, matahari juga sangat terik. Sepertinya sangat panas di luar Eliana.” Sahut Dinda sambil memandang ke arah jendela kelas.


“Eits iya, Aku tidak bisa tidur siang hari ini.” Ujar Eliana.


“Loh ada apa?” Tanya Dinda.

__ADS_1


“Apa kamu lupa Din? Hari in ikan kita mau mengerjakan tugas dari Pak Sugiono.” Ucap Eliana serius.


“Oh iya yaaa..hehe…” Kata Dinda yang pura-pura lupa. Sebenarnya ketika Eliana mengatakan ingin tidur siang, Dinda sedikit senang, berharap Eliana melupakan janjinya hari ini.


“Tidak apa Eliana, kalau kamu ingin istirahat. Biar Aku nanti yang mengerjakan tugas kita. Kamu tidak usah khawatir.” Tawar Dinda kepada Eliana.


“Jangan Din, keenakan dong Akunya. Aku harus tetep bantu mengerjakan. Paling tidak nilai bagus yang ku dapat karena hasil kerjaku juga kan.” Kata Eliana menolak.


Biasanya untuk seorang anak yang kaya raya dan cantik, ini adalah momen di mana mereka merasa lega. Ketika tidak harus repot untuk mengerjakan tugas kuliah dan tawaran itu datang dengan sendirinya tanpa harus meminta seseorang mengerjakannya. Tetapi berbeda dengan Eliana, walaupun dia kaya dan dimanjakan dia selalu berusaha sebisa mungkin. Itu yang membuatnya pintar dan cerdas, karena dia gadis yang mau belajar bukan hura-hura. Hal ini lah yang membuatnya sempurna di mata Dinda.


“Okay baiklah jika kamu merasa perlu.” Kata Dinda Ringkas.


“Kalau begitu hayuk kita pulang.” Ucap Eliana. Segera mereka berdua bersiap untuk pulang. Pak Ujang telah menunggu sejak tadi di parkiran Kampus FHUI sehingga Eliana dan Dinda langsung pulang tanpa menunggu lagi.


“Iya Halo juga Pak, puji syukur Saya kabarnya baik Pak.” Jawab Dinda. Dia duduk di kursi belakang bersama Eliana.


“Bapak sendiri bagaimana kabarnya Pak?” Tanya Dinda balik.


“Alhamduillah Bapak baik Mba.” Jawab Pak Ujang yang sekarang mulai focus menyetir. Mobil itu melaju perlahan meninggal Kampus UI.


“Hari ini mau jalan ke mana Mba Eliana?” Tanya Pak Ujang kepada Eliana.


“Kita langsung pulang saja Pak, hari ini Kami berdua tidak berencana untuk pergi jalan. Ada tugas kelompok yang harus Kami kerjakan.” Sahut Eliana menjelaskan.


“Kerjain di rumah Mba? Tidak mencoba mengerjakan di Café dengan view yang indah.” Pak Ujang mencoba menawarkan suasana mengerjakan tugas yang lebih santai.

__ADS_1


“Bagus juga, bagaimana Din?” Tanya Eliana kepada sahabatnya itu kalau-kalau Dinda ingin merubah rencana.


“Tidak usah Eliana, ke rumah Eliana saja Pak. Lagi pula Saya bisa sekalian main ke rumah Eliana. Sudah lama tidak main ke sana hehe.” Sahut Dinda.


“Kalau begitu langsung pulang saja Pak.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya.


“Siap Mba.” Jawab Pak Ujang singkat.


Tak lama mereka sampai di rumah, Eliana turun dan masuk rumah bersama Dinda. Pak Ujang memutar balik mobil dan pergi.


“Mau minum apa Din?” Tanya Eliana sembari melangkah ke dapur. Dinda duduk di ruang tamu memandangi rumah Alex.


“Tidak usah repot Eliana, nanti biar Aku yang ambil sendiri.” Sahut Dinda yang sekarang berdiri dan mengikuti Eliana ke dapur. Dia mengambil gelas bening kosong dan menuangkan air putih dari teko. Dinda meminum segelas air putih.


“Di kulkas juga ada Cake Din kalau mau nanti ambil sendiri aja. Jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri lagipula Aku sendiri di sini jadi kamu mah bisa bebas. Kalau mau tinggal di sini bersamaku malah Aku seneng loh Din.” Ujar Eliana yang berjalan bersama Dinda untuk duduk di sofa ruang tamu. Eliana membawa beberapa potongan kue Red Velvet untuk di makan bersama sahabatnya.


“Eliana, semenjak tinggal di komples ini apa kamu sudah punya teman? Apakah kamu sudah berbaur dengan tetangga?” Tanya Dinda penasaran.


“Belum Din, Aku cuma kenal sama Pak RT karena penting untuk mengenalnya hehe.” Ucap Eliana sembari memakan kue bolu berwarna merah itu. Dinda ikutan mengambil sepotong kue di atas piring kecil dan memotongnya lalu menyantapnya seperti yang dilakukan Eliana.


“Apa kau tahu Eliana bahwa kau sedang bertetangga dengan siapa?” Tanya Dinda lagi.


“Dengan siapa? Memangnya kamu tahu? Sebenarnya di sini Aku tidak terlalu berbaur sih Din. Kamu kan tahu Aku, lagi pula Aku sibuk dengan kuliha beserta segudang tugasnya.” Ucap Eliana sembari tertawa. Dinda pun ikut tersenyum karena dia tahu betul soal itu.


Dinda mengenal Alex sama seperti Eliana. Dinda tahu kalau Alex adalah Ayah dari Indra, dia tahu semenjak menemukan Indra sepulang sekolah bersama Eliana kala itu. Mereka bersama memandang Alex dikejauhan yang menggendong Hendra masuk ke kantor polisi kala itu. Setelah Alex popular, Dia tahu betul bahwa itu Ayah dari Indra dan mulai mengikuti kegiatannya di TV serta menjadi salah satu Subscriber-nya Alex. Ternyata Dinda adalah salah satu Fans Alex.

__ADS_1


__ADS_2