
Hendra tengah asyik menonton TV, Dia sedang disuguhkan film kartun ABC Kids TV yang sekarang sudah berganti nama menjadi Cocomelon. Tontonan Hendra juga hasil download-tan dari Youtube agar Alex aman bekerja tanpa gangguan. Alex memutarkan video itu dan syukur lah Hendra menyukai video animasi bernyanyi yang mendidik dari channel itu.
Setelah selesai melakukan live streaming di akun Youtube miliknya. Alex mengecek komentar para subscribernya. Dia bersyukur atas segala pujian yang datang dari penjuru Kota, bahkan terkadang beberapa fansnya seperti para Gadis dan Ibu-ibu kerap kali menggoda Alex.
“Mas alex jadi Imam ku dong.” Komentar dari pengguna yang bernama Sang Dewi. Melihat komentar yang menggoda itu Alex merasa terhibur. Dia pun sering senyum-senyum sendiri kala membaca komentar dari para fansnya. Bukan karena kege-eran, melainkan komentar yang menggoda itu membuatnya geli, perutnya terasa terkocok. Alex merasa komentar yang menggoda lah yang paling lucu. Lain lagi jika ada yang memujinya. Alex bersyukur dan semakin semangat menggeluti pekerjaan itu.
Alex merasa cukup untuk pekerjaannya hari ini. Dengan menutup laptopnya Dia selesai, tiba-tiba Hendra balita kesayangannya datang mendekatinya. Hendra makin mahir saja berjalan sekarang, Dia bosan barangkali hingga mendatangi Ayahnya.
Tak sempat Alex membereskan sisa-sisa perjuangan memasak menu bubur timnya. Dia langsung saja menggapai Hendra dan menggendongnya saat Anak bungsunya itu mendekatinya. Kemudian Alex mengajak Hendra bermain kembali di ruang keluarga depan TV.
Di depan TV Alex dan Hendra tengah asyik bermain. Tak lupa beberapa cemilan Balita sudah siap menemani. Sesekali Alex memberikan cemilan itu kepada Hendra. Alhasil, Hendra pun kenyang sambil bermain.
Setelah bosan bermain Hendra menghampiri Alex. Mengucek matanya dan menguap. Alex pun sudah hapal dengan tindakan itu. Sekarang waktunya untuk menidurkan Hendra.
Hendra berbaring di pangkuan Alex. Alex mengelus rambut lembut Hendra perlahan. Mata Anak bungsunya itu mulai berkedip perlahan. Alex pun mematikan TV dan bernyanyi lagu twinkle twinkle little star lagi. Alex menguap! Dia ikutan mengantuk. Hendra sudah tertidur sekarang.
__ADS_1
“Waktunya beres-beres!” Kata Alex dalam hati. Dengan sangat hati-hati Alex mengambil satu persatu mainan yang tergeletak di lantai. Sangat perlahan berharap gerakan dan langkahnya tidak membangunkan Hendra. Sebentar saja, mainan itu sudah berada pada Box tempat Alex menyimpan mainan.
Dilanjutkan dengan menyapu, dan menyuci piring sisa memasak live streaming tadi. Piring yang digunakan cukup banyak. Namun tenaga Pria yang dimiliki oleh Alex membuat para piring-piring itu mengecil dan tidak ada apa-apanya.
Belum sempat semua piring selesai dibilas tiba-tiba saja air terhenti. “Apa yang terjadi?” Alex bergumam dalam hati. Dia menggapai telepon genggam miliknya. “Halo Pak Didit, Pak Didit di mana sekarang?” Masih menggunakan sarung tangan Alex menelepon Pak Didit dengan rasa heran.
“Iya Pak Alex Saya di rumah. Ada apa Pak? Anak-anak belum waktunya pulang Pak.” Jelas Pak Didit yang mengira ditelpon untuk perintah menjemput Andra dan Indra.
“Bukan Pak, Saya mau tanya rumah Bapak air nya jalan tidak?” Tanya Alex langsung ke titik permasalahan. Sekarang Dia melepas sarung tangan kanannya dan kembali menggapai telpon nya dengan tangan kanan yang telanjang.
“Oh itu maaf Pak. Saya terlalu cepat ambil kesimpulan tadi. Iya Pak mati, sudah dua hari air bermasalah. Mesin air PDAM Kota sedang rusak Pak.” Jawab Pak Didit, supir dan sekaligus tetangga Alex. Alex bingung, Kenapa air mati dua hari yang lalu tetapi baru hari ini Dia merasakannya? “Loh kok bisa ya Pak rumah Saya baru mati hari ini.” Jelas Alex kepada Pak Didit. Dia melanjutkan dengan membuka sarung tangan yang sebelah kiri.
Duda itu tahu bahwa Pak Didit tidak bisa memberinya jawaban lebih lanjut.Dia hanya mematikan dan meletakkan telpon genggam miliknya di atas meja makan. Alex mulai keluar rumah untuk mengecek saluran air miliknya.
Pada saat keluar rumah Alex berjalan hinga ke halaman dan tak sengaja melihat seorang gadis. Ternyata gadis itu adalah tetangga baru nya. Seorang gadis yang tinggal sendirian serta sedang menyirami tanaman bunganya. Gadis itu berambut panjang sebahu, Alex tersenyum kepadanya seolah ramah terhadap tetangga barunya. Gadis itu tidak membalas senyum Alex. “Gadis yang cuek tapi cantik.” Gumamnya lalu Alex membuang pandangan nya.
__ADS_1
Alex sibuk melihat ke halaman depan, samping, dan belakang rumah. Dia menatap setiap jejak pipa di tanah. Alex berkeliling, Keliling rumah tidak membuat Alex mendapatkan jawaban. Semua saluran pipa yang tertanam itu terlihat sama saja seperti pipa milik tetangganya. Alex mencari sesuatu yang bisa menampung air.
Akhirnya Alex kembali mencari. Kali ini ia memperhatikan genteng rumah. Mencari tempat tampungan air. Tedmon. Tetapi Alex tak kunjung melihat tedmon di atas rumahnya.
“Dimana bisa Nindi dan bu Aminah menaruh tedmonnya kalau bukan di atas rumah? Sedangkan sifat air adalah berjalan dari tempat tinggi ke dataran rendah. Kalau pun tedmonnya di bawah, tentu ada dinamo lain yang beroperasi. Sedangkan sejak tadi, Aku tidak menemukan dinamo selain dinamo yang sering dipakai itu.” Alex bergumam.
Alex sedang berpikir. Tak menyerah, Dia mengambil tangga di Gudang dan menaiki genteng rumahnya. Alex menyusuri sudut genteng rumahnya, dari sudut ke sudut. Saat tiba di sudut terakhir Dia tidak juga menemukan tedmon itu.
Alex menyerah, seakan Dia melakukan pencaharian di luar logika. Alex kembali ke sudut awal tempat Dia memanjat dan menaruh tangga. Dia sedang jongkok dan melamun sekarang. Sebentar saja lamunannya lalu Alex menemukan sesuatu, sempurna! Akhirnya di sudut bawah sebelah kamar Andra dan Indra ada tedmon yang berukuran besar. Tedmon itu dapat menampung seribu dua ratus liter air.
Alex bergegas, ingin mengecek dan melihat isi tedmon tersebut. Dia berusaha mengangkat tangganya dari atas. Perlahan dan hati-hati, Alex memikul tangga itu dan berubah haluan ke arah kiri.
“Gedubrak!!! Arghhhh….!” Suara dentuman jatuh, suara tangga terjatuh terdengar jelas. Alex jatuh, kepalanya dihantam tedmon besar itu. Badannya terlempar ke dinding rumah serta tangga itu menimpanya. Sakit. Alex hanya bisa berteriak kesakitan.
Alex berusaha memindahkan tangga ringan itu. Sebentar saja, karena cukup ringan. Dengan posisi terbaring Alex berusaha terbangun dan duduk. Naas. Sepertinya tulang belakang Alex ada yang patah. Dia tidak bisa bangun untuk duduk apalagi untuk berdiri. Sayup-sayup Alex melihat genteng rumah yang di ujung itu bergoyang.
__ADS_1
“Jangan…jangan jatuh jangan.” Gumam Alex cemas melihat genteng itu bergoyang tepat berada di atas kepalanya. Genteng itu berhenti bergoyang dan tidak bergerak. Alex menghela nafas segar “Fiuhh…”.
Tetapi ada genteng lain yang menyusul menghantam genteng yang bergoyang tadi. Genteng bergoyang akhirnya tak bergerak lagi melainkan berpindah tempat seketika. Sial! Genteng itu akhirnya jatuh tepat di kepalanya. Dan… Alex pingsan.