Duren Kampus

Duren Kampus
Maaf dari Dinda


__ADS_3

Pak Ujang cepetan kesini, ngebut Pak. Saya mau membawa Dinda ke rumah sakit.” Ujar Eliana pada panggilan suara itu. Eliana tidak kepanasan tetapi keringatnya bercucuran.


“Loh ada apa Non?” Tanya Pak Ujang. “Udah engga usah banyak tanya, cepat ke sini.” Sahut Eliana lalu memutuskan panggilan itu.


“Dinda maaf Aku tidak sengaja.” Eliana berkata sambil menatap Dinda. Dinda hanya merintih kesakitan tanpa menjawab Eliana. Eliana mondar mandir di samping Dinda menunggu Pak Ujang.


“Duh engga bisa nih, Pak Ujang pasti lama.” Eliana berbicara sendiri. Menyadari hal itu Eliana membuka Aplikasi Gojek pada ponselnya dan mengklik menu Gocar. Dia sedang memesan Taksi online.


Sekitar tiga menit Taksi online sudah sampai di depan rumah Eliana. Sebentar saja Taksi online itu sampai karena kebetulan posisi Taksinya masih di dalam perumahan Green Andara Residences.


Eliana berjalan bersama sahabatnya, sahabatnya itu sedari tadi hanya diam dan meneteskan air mata. “Perih dan sakit, Ibu….” Dinda seketika mengingat Ibunya kala terkena tumpahan kuah mi rebus itu. Dia memanggil-manggil nama Ibunya dalam hati.


“Pak cepat ke rumah sakit terdekat.” Perintah Eliana kepada supir Taksi online itu. Lalu Taksi itu melaju cepat hingga sampai di rumah sakit.


“Dok gimana? Tidak apa kan?” Eliana bertanya kepada Dokter UGD di rumah sakit tersebut. “Tidak apa, ini hanya luka ringan. Nanti silahkan tebus resep yang Saya berikan. Ada salep untuk membantu menghilangkan bekas luka.” Jawab Dokter itu kemudian meninggalkan Eliana dan Dinda.


“Puij syukur tanganmu engga kenapa-kenapa Din.” Ujar Eliana. Eliana mengepalkan tangan dan berdoa “Tuhan semoga Dinda tidak kenapa-kenapa. Sembuhkan Dia dengan cepat. Tuhan biarkan bekas luka di lengannya hilang. Amin.” Eliana mengangkat tangan kanannya dan menyentuh jidatnya dengan jari tengah dan membuat tanda salib.


Dinda yang terdiam sejak tadi melihat Eliana berdoa. “Kamu doa apa Eliana?” Tanyanya. “Aku berdoa agar Kamu cepat disembuhkan.” Eliana tersenyum lalu ekspresinya berubah menjadi sendu kala memandang lengan Dinda.

__ADS_1


“Maafkan Aku Dinda, Aku sungguh tak sengaja.” Eliana kembali meminta maaf. “Sudah tidak apa, ini juga bukan luka yang parah. Nanti juga sembuh.” Ujar Dinda tersenyum kepada sahabatnya.


Melihat senyuman itu, perasaan Eliana mulai membaik setelah mendengar Dinda memaafkannya. “Terima kasih Dinda.” Ujar Eliana. “Iya sama-sama Eliana.” Kemudian dua sahabat itu saling berpelukan.


Eliana berdiri meninggalkan sahabatnya untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. “Halooo..” Eliana mengangkat panggilan suara pada ponselnya tanpa melihat lagi siapa yang menelepon. Benda pipih itu Dia jepit di antara kuping dan bahunya. Sembari menelepon Eliana tersenyum menyapa perawat yang berjaga pada kasir.


“Halooo.. ini siapa?” Tanya Eliana pada panggilan yang tak ada balasan menjawab tersebut. Eliana melepaskan posisi ponsel dari kuping ke bawah dan menatap layar, ternyata penelepon tersebut hanya nomor asing yang tidak dikenalnya. Tanpa Eliana ketahui, itu adalah panggilan suara dari Alex.


Tut..tut..tut! Panggilan suara itu terputus. Eliana memutuskan panggilan suara itu. “Berapa totalnya Sus? Tanya Eliana pada penjaga kasir. Wanita yang berseragam putih itu memberikan sebuah kertas berisi tagihan.


“Bisa debit nggak Sus? Uang kes Saya tidak cukup.” Ujar Eliana sembari memberikan sebuah kartu ATM kepada penjaga kasir. “Bisa Mba.” Sahut penjaga kasir sembari menerima kartu ATM milik Eliana.


“Iya terima kasih Sus.” Jawab Eliana. “Sama-sama Mba.” Kata penjaga kasir. Eliana meninggalkan kasir menunggu di apotik rumah sakit tesebut. Dia menunggu obat yang telah diresepkan untuk Dinda. Setelah mengantri dan menunggu akhirnya nama Dinda disebutkan.


“Dinda kirana…” Panggil petugas apotik itu. Eliana berdiri mendekati sumber suara. “Ini ya Mba, Obatnya di makan tiga kali sehari dan salepnya dioleskan setiap dua kali sehari setiap sehabis mandi.” Kata petugas kasir sembari memberikan kantong plastic putih. Kantong plastic itu disertai tulisan nama rumah sakit, alamat dan nomor telepon rumah sakit.


Benda pipih yang ada di dalam kantong celana jeans Eliana bersedering. “Dinda..” Gumamnya setelah melihat layar. Eliana menyentuh layar ponselnya pada tombol yang berwarna hijau. “Halo Dinda” Sapa Eliana.


“Eliana masih lama kah? Ini sudah sore. Ayahku menanyakan keberadaanku. Aku tak memberitahunya bahwa Aku di rumah sakit, nanti Ayahku khawatir. Jadi Aku memberitahukan kepadanya bahwa Aku ada di rumah mu.” Terang dinda pada panggilan suara itu.

__ADS_1


“Iya sudah kok, tadi yang bikin lama saat mengantri untuk menebus obatmu Din. Apotik rumah sakit sangat ramai tadi.” Sahut Dinda. “Baiklah, Aku tunggu di sini.” Ujar Dinda.


Masih dalam panggilan suara itu Dinda melihat seseorang mendekatinya, Eliana! “Wah-wah baru ditelpon langsung muncul.” Ucap Dinda pada panggilan suara itu. Eliana datang dan berdiri di samping Dinda. “Iya beneran bentar kan hehehe..” Jawab Eliana pada panggilan suara itu.


Mereka saling sahut-sahutan dalam panggilan suara, padahal mereka sekarang sudah berada di samping masing-masing. Dua sahabat itu saling memandang satu sama lain, lalu tertawa bersama. “hahaha…” “Ups!” mereka berdua tertawa dan menutup mulut mereka.


“Hus… jangan ribut ini kan rumah sakit.” Tegur Dinda. “Iya iya lagian Kamu sudah liat Aku kenapa belum dimatikan telponnya.” Ujar Eliana. “Okay nih Aku matikan.” Dinda pun memutuskan panggilan suara itu.


“Sekarang Kita pulang.” Eliana berkata riang. Dua sejoli bergegas pulang. “Eh sendalku kemana?” Tanya Dinda. “Ya ampun apa Aku ke sini tanpa memakai sendal?” Dinda bergumam.


“Eh iya mana?” Eliana mengintip di bawah kasur dan melihat ke sekitar. “Dinda sepertinya Kamu ke sini tak memakai sendal.” Eliana menggaruk-garuk kepalanya. “Iya benar, ya sudahlah mari Kita pulang.” Sahut Dinda.


Dengan sangat malu, Dinda berjalan tanpa sendal. Eliana kembali memesan Taksi online dan pulang bersama Dinda.


Diperjalanan pulang, “Eliana se ingat Aku tadi Kamu telpon Pak Ujang suruh datang kan?” Dinda mengingatkan sahabatnya itu. “Oh iya bener.” Eliana tepok jidat. Karena panik Dia bahkan lupa membatalkan perintahnya kepada Pak Ujang agar tidak datang karena sudah menggunakan Taksi online.


“Tapi nelpon Dia juga nanggung sih hehe…” Eliana tertawa receh. “Nanti sampai rumah Dia juga akan nelpon. Sampai sekarang belum ada panggilan dari Pak Ujang, mungkin masih terkena macet di jalan.” Terang Eliana. Dinda hanya mendengarkan tanpa merespon.


Dua sahabat ini sampai di perumahan Green Andara Residences pada saat gelap. Taksi online yang mereka kendarai melaju santai tidak mengebut seperti saat mereka menuju rumah sakit. “Tak terasa udah gelap aja nih.” Ujar Eliana sesaat setelah turun dari mobil bersama Dinda.

__ADS_1


“Ini Pak, kembaliannya ambil saja.” Kata Eliana sembari memberikan uang kertas kepada Taksi online itu. “Baik terima kasih.” Jawab Bapak itu.


__ADS_2