Duren Kampus

Duren Kampus
Tak ingin usai


__ADS_3

Adam bersiap-siap. Dia menggantikan mertuanya untuk mengikuti ospek. Adam adalah menantu dari anak kedua dari bu Tanjung dan pak Didit. Dia seorang sarjana komputer yang menganggur. Namun sangat menurut kepada mertua. Rajin disuruh sana-sini.


Hanya mobile legend yang sering menguras waktunya. Yang kadang membuat bu Tanjung kesal. Tapi bu Tanjung tidak pernah melarang Adam bermain ML. Hanya hal itu yang membuat Adam merasa rileks diluar pekerjaan rumah yang dibebankan kepadanya.


Tugas Adam dirumah adalah mengurus taman. Membersihkan halaman, memperbaiki genteng yang rusak. Mengecet rumah yang usang. Membersihkan WC, mengurus kelima cucu pak Didit. Dan segala pekerjaan berat yang jika ditulis di kertas kecil bisa sepanjang lima meter.


Lalu? Tugas bu Tanjung bersama kedua putrinya?. Merumpi dan mengomel. Di tambah pekerjaan baru bu Tanjung untuk kepoin Alex. Dengan mengikuti Ospek, paling tidak beban pekerjaannya di rumah bisa berkurang.


“Adam cepat! Jangan sampai kita telat. Mahasiswa Universitas Indonesia terkenal disiplin dan ontime.”


Suruh pak Didit kepada menantunya itu. Hari ini tidak perlu pak Didit ke halaman Alex lagi. Hatinya senang sepertinya. Sengaja pak Didit pergi lebih awal. Jadi, saat Alex menelpon dia bisa beralibi sudah sampai dan sedang mengikuti Ospek. Sehingga rencananya bertukar peran bersama Adam tidak harus ketahuan.


Tititut… Tititutt! Benar! Ponsel pak Didit menerima panggilan suara dari Alex.


“Halo assalamualaikum pak Alex.”


Ujar Alex di ponsel pak Didit.


“Walaikumsalam pak Alex.”


Jawab pak Didit santai. Dia melirik Adam sambil komat kamit tanpa suara. Hanya mulutnya yang mengisyaratkan bahwa Alex yang menelepon.


“Pak Didit jangan lupa ikut ospek hari ini. Ospek berjalan tiga hari sampai besok. Dan selalu pakai perlengkapan lengkap Ospek ya pak.”


Pesan Alex kepada supir yang sekaligus Pak RT itu.


“Oh siap pak! Aman pak. Aman terkendali.”


Pak Didit menjawab sigap tanpa beban. Alex menutup panggilan dengan salam dan dijawab pula dengan pak Didit.


Tak lama mereka sampai di Universitas Indonesia. Mencari tempat parkiran, pak Didit memarkirkan mobil Alex di tempat yang teduh.


“Ayah, Adam pergi dulu. Assalamualaikum.”

__ADS_1


Ujar Adam sembari menyalami pak Didit. Pak Didit mengangguk.


“Ayah tunggu disini saja ya.”


Sahut pak Didit. Bergantian, sekarang Adam yang mengangguk. Lalu Adam berlari menuju barisan Ospek. Tanpa ragu Adam memasuki gugus yang sudah diberitahu terlebih dahulu oleh mertuanya. Dan beberapa nama teman gugusnya.


“Alex Cornelius?”


Ketua gugus mengabsen. Adam menaikkan tangan, dia ragu menjawab. Ketua mengerutkan alis. Heran, bagaimana bisa perut buncit itu tiba-tiba hilang dalam sehari. Ketua gugus mendekat. Adam gemetar.


“Adipati… kamu dipanggil senior sekarang juga.”


Teriak salah satu peserta Ospek. Tak jadi ketua gugus itu mendekati Adam. Adam menghela nafas segar. Adam sedikit bosan, melihat semua mahasiswa yang Ospek.


“Jelas ini bukan duniaku. Duniaku hanyalah mobile legend.”


Kata Alex dalam hati.


“Hai Alex.”


“Oh iya disini namaku Alex bukan Adam.”


Adam bergumam. Seketika dia menoleh dan menjawab. Tak sempat menjawab, dia melihat sosok cantik bagai bidadari di depan matanya. Adam jatuh cinta pada pandangan pertama. Seketika dia melupakan istri dana anaknya dirumah.


“Iya aku Alex, salam kenal. Dedek manis namanya siapa?.”


Adam menggoda perempuan itu.


“Namaku Ayu.”


Ayu menjawab dengan malu-malu. Dia sengaja menegur Adam lebih dulu. Perempuan itu tak sengaja melihat Adam saat turun dari mobil Landcruiser milik Alex. Menyangka bahwa Adam anak dari orang kaya.


“Dek Ayu, boleh minta nomor whatssapp mu dek”

__ADS_1


Kedap kedip mata Adam mengobrol dengan Ayu. Ayu pun membalasnya. Agak geli melihat mereka seperti itu. Namun saat ini mereka merasa dunia milik berdua.


Gemuru suara Sound sistem arahan senior dan panitia Ospek tak terdengar lagi oleh mereka berdua. Tanpa basa basi, telunjuk dan jari tengah Adam berjalan perlahan hingga akhirnya menyentuh tangan Ayu.


Ayu merespon. Dan mereka berpegangan tangan sambil tersenyum malu.


Ospek selesai pada hari itu.


“Dek Ayu sampai ketemu besok ya. Hari ini hariku sungguh terasa singkat. Itu semua karenamu. Tunggu aku esok lagi ya dek manis.”


Adam berkata sambil menoel dagu Ayu. Ayu seakan terbang. Adam berjalan meninggalkannya. Melihat lelaki itu berjalan masuk mobil LC yang seharga dua milyaran itu. Hati Ayu berbunga, begitu pun dengan Adam. Seakan memohon kepada semesta agar hubungan ini takkan pernah usai.


“Toktoktok. Ayah bangun.”


Adam mengetuk kaca depan mobil untuk membangunkan mertuanya. Secepat kilat pak Didit terbangun dan segera membuka kunci mobil.


“Sudah selesai Adam? Bagaimana Ospekmu?”


Tanya pak Didit penasaran. Sekarang dia melihat wajah Adam yang ceria. Senyum-senyum sendiri.


“Alhamdulillah enak sekali Ospeknya ayah. Tidak masalah besok aku ikut lagi. Aku bahkan merasa Ospek ini tak ingin usai.”


Seketika Adam menyetel tip mobil. Memutar lagu dari keysia yang berjudul tak ingin usai. Pak Didit sedikit heran.


“Ada apa Adam. Sepetinya kau sedang kesenangan?.”


Pak Didit kembali bertanya.


“Tidak ayah, hanya saja aku baru merasakan bagaimana rasanya berkuliah. Walaupun hanya berperan menggantikan ayah maupun pak Alex. Itu saja sudah cukup ayah. Rasa senangku sangat besar hari ini.”


Adam menjawab mertuanya sembari bernyanyi lagu yang diputarnya itu.


Pak Didit tersenyum senang. Yang menjadi beban darinya menjadi kesenangan dengan menantunya. Dia bersyukur.

__ADS_1


Tapi, itu hanya kebohongan Adam. Dia sedang jatuh cinta lagi. Dan tidak mungkin dia menceritakan hal itu kepada mertuanya. Ayah dari istrinya.


__ADS_2