Duren Kampus

Duren Kampus
Toleransi


__ADS_3

Gerrkk… Ponsel Alex bergetar. Duren itu memeriksa ponselnya, benar! Ada sebuah pesan masuk. Sebuah pesan dari Najwa Ketua Kelas. “Alex, Dosen sudah keluar barusan.” Isi dari pesan tersebut.


Kemudian Alex membalas pesan itu “OK. Terima kasih Najwa.” Lalu menekan tombol kirim. Duren itu duduk menunggu Bapak tersebut. Memperhatikan setiap orang yang melaluinya. Dalam jarak lima meter Alex melihat seseorang berambut putih dan berkacamata.


“Nah itu Bapaknya.” Gumamnya. Hendra yang tertidur masih dengan posisi yang sama dalam pangkuan Alex. lekas Alex kembali menggendong Hendra dan melangkah mendekati Pak Dosen.


“Permisi Pak, Saya Alex mahasiswa kelas B yang Bapak usir tadi.” Sapa Alex. Alex berbicara sambil bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hendra masih tertidur. Bapak itu memandang Hendra sekilas.


“Ahh.. ya sudahlah. Ikuti Saya ke ruangan.” Perintah Dosen tersebut. Dia menghela nafas iba kala melihat Alex yang bergoyang-goyang agar anaknya tetap tertidur saat berbicara padanya.


“Silahkan duduk saudara Alex.” Perintah Dosen. “Baik terima kasih Pak.” Sahut Alex. Alex duduk dengan posisi Hendra yang duduk di pangku membelakangi sang Dosen dengan dagu yang bersender di bahu Ayahnya.


“Maaf Pak, tadi kata Najwa, Bapak memanggil ke ruangan dan Saya harus menunggu Bapak hingga Saya sudah ada di dalam ruangan ini. Sebenarnya ada apa ya Pak?” Tanya Alex memberanikan diri.


Telapak kaki kanan Alex menghentak perlahan ke lantai. Dia kelihatan cemas, kalau-kalau Alex nanti bisa dikeluarkan dari Kampus karena nekat membawa Hendra ke Kampus.


“Saudara Alex, sebenarnya yang ingin Saya bicarakan ini cukup serius. Ini menyangkut Anak yang sedang saudara pangku itu. Siapa Anak itu saudara Alex?” Tanya Dosen memastikan.


“Ini adalah Anak bungsu Saya Pak. Saya memiliki tiga Anak, yang pertama dan yang kedua sudah bersekolah jadi bisa Saya tinggal. Yang bungsu ini bernama Hendra, masih berumur dua tahun lebih. Dia yang paling kecil dan paling lengket kepada Saya Pak.” Jelas Alex sambil mengelus lembut rambut Hendra.

__ADS_1


“Iya tapi saudara Alex, walaupun Anak ini adalah yang paling bungsu dan lengket sama Pak Alex tidak seharusnya Pak Alex membawa Dia sampai ke Kampus.” Ujar Dosen sembari menaruh kedua tangannya di atas meja. Wajahnya menatap tajam kepada Alex.


“Ibunya ke mana Pak Alex? bukan kah seharusnya Anak Pak Alex sama Ibu nya saja.” Terang Pak Dosen.


“Istri Saya sudah meninggal dua tahun yang lalu Pak.” Alex berkata dengan nada yang rendah. Matanya mulai berkaca-kaca, ia kembali teringat kepada Nindi dan nasib malang Hendra yang tak sempat mencicipi Air Susu Ibu (ASI) Ibunya sendiri.


“Oh Maaf saudara Alex, Saya turut berduka cita. Tidakkah Pak Alex bisa menitipkannya kepada sanak saudara, keluarga, atau neneknya?” Tanya Dosen tersebut.


“Neneknya meninggal di hari yang sama dengan Istri Saya Pak. Almarhumah meninggal karena kecelakaan mobil…” Seketika air mata Alex berlinang. Dia tak sanggup melanjutkan ceritanya kala mengingat bahwa dirinya sendiri yang menyetir waktu itu.


“Oh sekali lagi Saya minta maaf dan turut beduka cita.” Ujar Dosen sembari memberikan tissue kepada Alex.


“Begini saudara Alex, demi kelancaran dalam belajar mengajar di dalam Kampus. Membawa seorang balita tentu di larang. Kenapa demikian? Karena membawa Anak ke kelas itu bisa menganggu kegiatan tatap muka pelajaran. Dimulai dari konsentrasi mahasiswa bisa terbagi kepada Anak saudara Alex, terlebih lagi kepada saudara Alex harus memperhatikan dua hal dalam satu momen yaitu Anak dan pelajaran. Belum lagi jika Anak tersebut rewel, menangis, BAB dan lain sebagainya. Itu akan sangat-sangat menganggu, itulah kenapa di dalam kelas di larang membawa Anak saudara Alex.” Jelas Pak Dosen.


“Namun karena memang Hendra tidak pernah disentuh orang lain selain diri Saya, hal itu membuatnya enggan untuk bersama orang lain. Jarang sekali Hendra mau diambil oleh tetangga apalagi Babysitter yang Saya ingin pekerjakan yang baru ia temui. Tetapi waktu terus berjalan Pak hingga akhirnya Saya harus masuk kuliah. Jadi tidak ada jalan lain lagi selain membawanya. Daripada harus meninggalkannya sendirian di rumah lebih berbahaya.” Tambah Alex. Air mata itu berangsur mengering sekarang.


Dosen itu menggaruk kepalanya, entah bagaimana Dia harus memberikan saran kepada mahasiswa satu ini. “Sungguh malang nasibmu nak.” Katanya dalam hati.


“Tidak adakah toleransi buat Saya Pak?” Tanya Alex, wajahnya kembali bersedih. Mata itu kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


“Begini saja saudara Alex, untuk sementara Saya akan membicarakan kondisimu ini kepada orang-orang yang mempunyai kepentingan di bidang ini.” Ujar Dosen itu.


“Saya mohon Pak. Tolong bantu Saya, biarkan Saya membawa Hendra ke kempus hingga Saya menemukan orang yang bisa menjaganya.” Alex berkata sembari menyatukan kedua telapak tangannya dan memejamkan mata seraya memohon.


“Nghusss…” Dosen itu mendengus pasrah. “Baiklah Saya akan membantumu. Tetapi segera temukan orang yang bisa menjaga Anakmu dan setelahnya belajarlah dengan giat di Kampus ini.” Ujar Dosen tersebut.


“Tidak ada jalan lain selain menolong pemuda ini. Niatnya untuk berkuliah sangat besar sampai-sampai harus membawa Anaknya. Jika pemuda ini berniat dengan setengah hati, mungkin Dia tidak akan datang dengan kondisi yang seperti itu.” Dosen itu bergumam dalam hati.


“Terima kasih Pak. Terima kasih banyak.” Ujar Alex sembari memegang tangan Dosen tersebut. Dia sangat gembira mendengar Dosen itu ingin membantunya. Bibirnya tersenyum lebar, hingga menampakkan seluruh gigi putih miliknya. Wajah Alex bersinar bak pangeran.


“Alhamdulillah…” Gumam Alex dalam hati. “Sangat di sayangkan wajah gantengmu itu saudara Alex. Karena dengan wajah yang seganteng itu, Kamu masih single selama dua tahun ini.” Ujar Dosen yang tersenyum kala melihat wajah riangnya Alex.


“Terima kasih Pak sekali lagi terima kasih Pak! Atas bantuan dan pujiannya. Semoga kelak Saya bisa membalas kebaikan Bapak.” Sahut Alex. Dia masih memegangi tangan Dosen itu.


“Ya sudah, lekas kembali ke kelas dan kembali belajar. Temui dosenmu dan jika Dia mengusirmu sampaikan kepadanya bahwa Saya akan berbicara kepadanya.” Kata Dosen sembari melepaskan tangan Alex.


“Baik Pak terima kasih.” Alex berucap sambil tersenyum senang.


“Emm…” Hendra terbangun. Segera Alex berdiri dan meninggalkan ruangan. Alex kembali duduk di tempat duduknya tadi.

__ADS_1


“Halo sayang Ayah sudah bangun.” Alex menyapa Hendra yang kedua matanya memerah sehabis tidur. “Ayahhh…” Kata Hendra yang masih sempoyongan.


“Cucu…” Ujar Hendra sambil mengucek kedua matanya. “Okay sayang, hayuk Kita beli air minum dulu ya.” Sahut Alex.


__ADS_2