Duren Kampus

Duren Kampus
Solusinya Alex


__ADS_3

Alex masih dengan jantung yang berdebar. Dengan mengendarai roda empat miliknya itu Alex merasa bimbang. Bimbang ingin melaju cepat karena sedang membawa tetangganya yang sedang butuh pertolongan agar cepat sampai ke rumah sakit atau dengan bayangan masa lalu yang kecelakaan dan harus merenggut nyawa Istri dan mertuanya.


Ditengah kebimbangan itu tiba-tiba Alex dikejutkan dengan suara perempuan. “Alex tidak usah mengebut, santai saja.” Ujar Bu Tuti yang sudah dengan posisi duduk. “Dari tadi ku lihat Kamu bingung. Sebentar ngegas sebentar mengerem. Ada apa Alex? Apa kau masih trauma dengan kejadian dua tahun lalu?” Tanya Bu Tuti memandangi Alex.


Alex menoleh perlahan, Dia berkeringat. Kalau-kalau yang sedang berbicara itu adalah Arwah dari Bu Tuti. “Ibu manusia atau Rohnya Bu Tuti?” Tanya Alex sembari menoleh perlahan.


“Dasar O’on Lu.” Bu Tuti menjitak kepala Alex. Seketika Alex mengerem mendadak. “Gedebug!” “Awww..” Bu Tuti kejedut dashboard mobil. “Oon sih boleh, tapi jangan nge rem mendadak juga dong Alex.” Bu Tuti mengerutu.


Dengan segera Alex mencari tempat parkir yang aman dan memberhentikan mobilnya. “Ibu tidak apa?” Tanya Alex yang tengah memandangi Bu Tuti. “Tidak apa, Kamu pikir Saya hantu? Saya tidak apa-apa. Emangnya Kita mau ke mana Alex?” Tanya balik Bu Tuti.


“Mau ke rumah sakit, Saya pikir Ibu sedang pingsan, atau sekarat.” Kata Alex jujur. “Enak aja, siapa yang sekarat? Aku itu cuma tidur tadi, sangking ngantuknya yah jadi Aku tidur dilantai.” Sahut Bu Tuti beralasan.


“Lantas, kenapa Aisyah menangis histeris kalau Ibu hanya tidur?” Tanya Alex heran. “Eggak tahu! Aisyah aja yang lebay.” Jawab Bu Tuti pura-pura tidak tahu.


“Baiklah, kalau Ibu tidak kenapa-kenapa Kita pulang saja Bu.” Tawar Alex. Alex memutar setir mobilnya. “Eitsss.. jangan, bisa antar Ibu ke Pasar Pramuka?” Bu Tuti menghentikan lengan Alex kala membelokkan stir mobilnya.


“Loh ngapain kesana Bu? Jauh amat itu.” Alex mengerutkan keningnya. “Iya, karena kelamaan tidur, kepalaku jadi pusing. Jadi mau ke sana beli obat.” Sahut Bu Tuti.


“Iya ke apotik saja bu, kesana kejauhan.” Kata Alex. Agaknya Alex sedang merasa aneh dengan tingkah Bu Tuti. “Iya adanya cuman disitu Alex! sudah antarin aja deh. Soal Anak-anakmu Dia pasti aman kalau sudah sama Aisyah.” Tambah Bu Tuti.


“Benar juga.” Jawab Alex dalam hati. “Baiklah Bu, silahkan pasang sabuk pengaman Ibu.” Ucap Alex yang kemudian melanjutkan perjalanannya sesuai arahan dari tetangganya itu.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu suasana terasa hening. Alex tak memulai percakapan, Dia sedang focus menyetir mobil dengan kecepatan sedang.


“Alex, kemarin ku lihat di Facebooknya Bu RT Kamu sedang cari Babysister ya?” Bu Tuti memulai percakapan. “Iya benar Bu. Ibu tahu dari mana?” Tanya Alex.


“Ya tahulah, Lu engga mikir komplek perumahan macet parah gara-gara elu yang nyari Babysister. Dasar!.” Bu Tuti menyeru dalam hati.


“Kemarin Aku sempat melihat beberapa postingan Bu Tanjung di Facebook dengan beberapa calon Babysistermu.” Bu Tuti melanjutkan. “Tetapi, kenapa sampai saat ini rumahmu malah jadi kosong saat pagi sampai siang.” Tambah Bu Tuti.


“Ahhh… iya benar Bu. Memang benar Saya waktu itu sedang mencari Babysister. Tapi, ngomong-ngomong apa Bu Tanjung mengepost semua kegiatanku? Kok Ibu bisa tahu?” Tanya Alex heran.


“Ya ampun Alex, apa kau tidak tahu. Bahkan fotomu yang sedang duduk di teras saja ada semua di akun media sosial Bu Tanjung. Dia bagaikan ketiban duren jika mengepost soal Kamu. Setiap postingan yang mencakup Kamu pasti banyak yang komen dan like-nya Lex.” Terang Bu Tuti.


“Oh pantes aja ya…” Alex bergumam. “Oh ternyata seperti itu. Oh ya jadi, Saya memang sempat mencari Babysister untuh Hendra tempo hari karena sekarang Saya sudah berkuliah. Bahkan Saya sempat menyeleksi beberapa orang Bu. Tetapi yang Saya butuhkan adalah seseorang yang Hendra mau dan nyaman bersamanya. Diantara semua yang Saya seleksi itu, tidak ada satupun yang Hendra nyaman bersama mereka. Jangankan di gendong, di ajak main saja Hendra menolak. Anak Saya yang satu itu memang pemilih Bu.” Jelas Alex panjang lebar.


“Ahhh… iya benar Bu. Kecuali sama Mba Aisyah, selain itu tidak ada.” Jawab Alex meng-iyakan. “Yah begitulah Lex, Aku menyuruhnya untuk menjadi Babysistermu saja. Tapi Aisyah menolak dan membuatku sedih.” Ujar Bu Tuti dengan wajah yang murung.


“Kenapa sedih Bu? Dan kenapa Aisyah bisa sampai menolak? Apa wajahku sangat menyeramkan, atau memang Dia tidak menyukaiku dari awal?” Tanya Alex bertubi-tubi.


“Bukan, bukan seperti itu. Dia hanya tidak ingin ada fitnah diantara kalian. Karena Aisyah itu seorang Janda dan Kamu Alex adalah seorang Duda. Dia adalah Adikku satu-satunya dan yang paling Alim Alex. Untuk bertatap mata saja enggan, apalagi sampai menyentuh yang bukan muhrimnya, Dia sangat menghindari itu. Dosa sih katanya hahhah..” Seketika Bu Tuti tertawa pada akhir kalimatnya.


“Ternyata seperti itu.. astaghfirullah!.” Seketika Alex tepok jidat. “Ada apa Alex?” Tanya Bu Tuti penasaran. “Emmm.. maaf Bu tadi Saya malah memegang pundaknya. Bukan bermaksud apa-apa sih Bu, hanya saja tadi Dia terlihat sangat ketakutan jadi Saya menenangkannya.” Terang Alex.

__ADS_1


“Ya ampun Lex, malah bagus kali, Lu peluk aja sekalian enggak masalah.” Kata Bu Tuti dalam hati. Memang dua saudara ini bagaikan langit dan bumi. Yang satu alim dan yang satu lagi bandit.


“Oh seperti itu, tidak masalah asal masih dalam hal yang positif dan tidak dilarang agama.” Sahut Bu Tuti. “hehehe iya Bu.” Jawab Alex singkat.


“Jadi bagaimana? Apa kau mau menjadikan Aisyah Babysister?” Bu Tuti ingin memastikan. “Kalau Aisyah menolak jangan dipaksa Bu.” Sahut Alex.


“Apa kau tidak repot mengurus Anak-anakmu? Kau bahkan sudah berkuliah sekarang. Membayangkannya saja Aku tidak sanggup. Tetapi tidakkah kau menjalaninya dengan sangat berat Alex?” Bu Tuti melanjutkan rencananya.


“Iya benar, sejujurnya Aku sangat kewalahan Bu. Tapi apa boleh buat, Aku sudah berusaha dengan mencari Babysister tetapi sia-sia. Jika memang Mba Aisyah setuju menjadi Babysister dengan senang hati Saya akan menerimanya.” Terang Alex.


“Bagus.” Bu Tuti bergumam. “Alex, ku rasa Aisyah akan menolak lagi jika ditawarkan menjadi Babysister mu. Lebih baik jika kau berangkat berkuliah kau titipkan saja Hendra padaku. Nanti akan di urus Aisyah. Karena Aisyah sangat suka dengan anak kecil. Ku rasa ini akan menjadi solusimu.” Kata Bu Tuti.


“Beneran Bu?” Sahut Alex lalu Dia mulai tersenyum. “Alhamdulillah, inikah solusi yang Engkau berika ya Allah. Terima kasih ya Allah karena telah menjawa doa-doaku.” Alex bersyukur dalam hati.


“Benar, Aisyah tidak akan sanggup menolak orang yang minta tolong selama Dia masih bisa menolong orang tersebut. Mulai besok, bawalah Hendra ke rumah.” Jelas Bu Tuti. “Baik Bu, sebelumnya Saya berterima kasih atas bantuan Ibu.” Sahut Alex.


Sementara itu di rumah Alex, Aisyah telah selesai menyuapi Hendra. Bahkan Anak bungsu dari Alex tersebut sudah bersendawa. “Alhamdulillah, sudah kenyang Kamu Hend?” Ujar Aisyah lalu mengelap bagian wajah Hendra dengan tissue basah.


Aisyah menurunkan Hendra dari kursinya kemudian Balita itu berlari menuju ruang keluarga. Di ruangan itu sudah ada Andra dan Indra yang bermain lebih dulu. Sedangkan Aisyah mencoba membantu dengan membereskan meja makan, mencuci piring serta menyapu dapur.


Adik dari Bu Tuti duduk di kursi meja makan setelah membereskan dan membersihkan dapur Alex. Dia hanya terduduk memandangi tiga orang Anak yang sedang bermain di depan TV. Tiga bersaudara itu tampak sangat akur, sesekali mereka tertawa riang.

__ADS_1


Aisyah yang menyaksikan riangnya Anak-anak Alex yang sedang bermain itu kembali mengingat masa lalunya. Dia sempat mengandung namun karena suami yang ganas, Aisyah keguguran. Dia menopang dagu dan menatap kosong Andra bersaudara.


“Astaghfirullah. Aku tak boleh melamun” Aisyah bergumam. Kemudian Aisyah bergabung bersama dengan Andra bersaudara dan bermain bersama.


__ADS_2