Duren Kampus

Duren Kampus
Aku tahu


__ADS_3

Pintu rumah terbuka lebar, Andra berlari menuju mobil, sedangkan Indra sudah naik sejak tadi.


“Andra… Dasimu.” Teriak Alex sembari berlari mengejar Andra. Dia meninggalkan Hendra sendirian di dalam rumah namun Hendra berjalan menyusul ayahnya. Andra yang sudah berada di halaman rumah ketika mendengar panggilan ayahnya seketika berbalik dan berlari mengahampiri Alex.


“Iya Ayah maaf Andra lupa.” Ujar Andra kepada Ayahnya sembari mengambil dasi itu dan berbalik badan serta berlari lagi. “Ayah Andra pakai dasi di dalam mobil saja.” Kata Andra yang sudah sampai di dekat mobil dan berteriak kepada Ayahnya. Alex hanya mengacungkan jempol dan tersenyum lalu kedua anaknya itu berangkat pergi ke sekolah.


Alex kembali masuk kerumah setelah melihat Andra dan Indra berangkat. Tak lupa dia menggiring Hendra untuk masuk juga.


*


*


Seperti biasa Eliana duduk di ruang tamu menunggu kedatangan jemputannya. Menunggu supir pribadinya untuk datang dan mengantarnya ke Kampus. Ruang tamu itu berdesain minimalis modern dengan cat dinding yang berwarna putih polos diselingi beberapa wallpaper bergaris yang berwarna merah muda. Gorden abu-abu muda yang menggantung dari langit-langit itu menjuntai jatuh hingga ke lantai. Gorden itu terbuka lebar hingga jelas terlihat rumah Alex jika tengah duduk di ruang tamu rumah Eliana.


Sembari menunggu tak lupa Eliana menelepon Pak Ujang untuk mengetahui di mana keberadaannya sekarang. Sambil menelepon dia melihat Andra yang berlari ke arah mobil dan kembali ke rumah menghampiri Alex. Dia jelas melihat Andra mengambil dasi itu dan masuk ke mobil lalu berangkat.


Ternyata setiap pagi, Eliana selalu disuguhkan dengan pemandangan itu. Pemandangan di setiap pagi Alex yang mengurusi ketiga anaknya untuk berangkat ke sekolah. Untung saja sekarang sudah ada Pak Didit, sebenarnya dulu Eliana sedikit kasihan melihat Alex yang mengantar jemput anaknya dengan menyetir membawa Hendra.


Pak Ujang datang, Eliana menaiki mobil dan berangkat. Sesampainya di Kampus Eliana tidak mendapati Dinda, dia melanjutkan dengan masuk ke kelas dan duduk tanpa Dinda. Karena bosan sendiri dia memilih untuk bermain Handphone. Eliana melihat-lihat story IG miliknya. Kemudian terdengar suara teriakan salah satu temannya.


“Dinda itu Eliana, ngapain kamu ke situ?” Teriak salah satu mahasiswa yang melihat tingkah aneh Dinda. Mendengar suara itu sontak Eliana melihat ke sekeliling kelas, dia mendapati Dinda yang berdiri di belakangnya.


“loh kok di situ?” Kata Eliana dalam hati lalu dia mengabaikan hal ganjil itu. “Dinda…” Eliana berteriak senang. Sembari melihat Dinda berjalan melangkah ke arahnya Eliana sepertinya menyadari sesuatu itu lagi. Di merasakan perilaku Dinda yang lain lagi, sama seperti saat Dinda baru saja memotong rambutnya namun Eliana takut untuk menyadari hal itu hingga dia berpura-pura tidak tahu. Dia berusaha membohongi dirinya sendiri, karena itu dia terlihat biasa saja dan seperti tidak menyadarinya. Kemudian Eliana hanya tersenyum senang karena sekarang temannya sudah datang.


Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasanya hingga kelas itu usai.


*

__ADS_1


*


“Sudah ayo naik mobil, itu Pak Ujang sudah menunggu.” Ucap Dinda sambil menyeret lembut Eliana untuk masuk mobil. Eliana pun menurut dan langsung menaiki mobilnya.


“Sampai ketemu besok ya, bye bye…” Kata Eliana sembari melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Dia jelas melihat Dinda tersenyum, tetapi bukan senyum yang biasa dia lihat. Eliana menyadari ada yang aneh terhadap Dinda. Dia terlihat berusaha menolak dengan bilang Pak Doni sudah dijalan menjemputnya. Padahal di awal dia berkata bahwa Dinda keburu sudah bilang Pak Doni akan langsung pulang. Lah memang biasanya Dinda langsung pulang, tanpa dijelaskan Eliana juga mengetahui itu.


Pak Ujang menginjak gas mobil itu hingga mobil berjalan perlahan meninggalkan Dinda.


“Pak berhenti.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya saat berada di pembelokan jalan Kampus. Pak Ujang pun menurut dengan perintah itu dan memberhentikan mobil.


“Pak Saya sedikit menyadari hal aneh, jadi saya mau memastikan hal itu.” Ujar Eliana yang duduk di kursi belakang. Dia mengerutkan keningnya dengan posisi tangan kiri yang menopang tangan kanan di atas perut. Tangan kanan memegang dagu, terlihat seperti orang yang sedang berpikir. Tetapi Eliana tidak berpikir, dia mengingat sesuatu.


“Pak Ujang itu Dinda masih berdiri di sana. Bisa Pak Ujang ikuti dia tanpa ketahuan?” tanya Eliana yang sekarang sudah memutar badan dan melihat Dinda dari arah kaca mobil bagian belakang.


“Siap, aman Mba Eliana, la wong Bapak ini supir hebat e hehehe..” Sahut Pak Didit sedikit bercanda yang kemudian tertawa ringan. Pak Ujang memutar arah hingga mobil itu mengarah ke Dinda. Mobil itu masih di pembelokan, jadi agak sulit untuk dijangkau mata Dinda namun di dalam mobil Eliana dan Pak Ujang jelas melihat Dinda yang berdiri sendiri.


“Benar, dia tidak dijemput Pak Doni. Dinda tidak pergi ke parkiran atau tetap berdiri di tempat yang tadi menunggu jemputan Ayahnya.” Kata Eliana dalam hati.


“Pak Ujang ikutin Dinda Pak. Tapi ingat jangan sampai ketahuan Pak.” Pesan Eliana kepada Pak Ujang.


“Baik, siap Mba.” Sahut Pak Ujang singkat. Kemudian nona dan supir pribadinya itu mengikuti arah langkah kaki Dinda tanpa ketahuan. Mobil itu maju perlahan dan berhenti sesekali.


“Lah Mba itu kenapa Mba Dinda duduk di halte Bis Kampus?” Tanya Pak Ujang heran.


“Lah iya saya juga tidak tahu, makanya sekarang kita nguntitin Dinda. Malah Bapak tanya ke saya.” Ucap Eliana sedikit kesal.


“Hehehe… Iya Mba.” Sahut Pak Ujang yang kini sedikit menyesal telah bertanya.

__ADS_1


Mereka berdua jelas melihat Dinda duduk di halte fakultas hukum, ketika Bis kuning itu datang Dinda menaiki dan masuk ke dalam Bis.


“Pak ikutin lagi Pak.” Ujar Eliana sembari memegang pundak supir pribadinya.


“Engge Mba.” Kata Pak Ujang yang menggunakan bahasa jawa itu. Lalu mobil Eliana kembali membuntuti Dinda.


Sahabat kecilnya itu turun dari Bikun (Bis kuning) kemudian berjalan santai sambil bermain HP hingga akhirnya Dinda keluar dari area Kampus. Dinda terus berjalan sendiri menyusuri jalan raya, naik tangga penyeberangan dan kembali berjalan.


“Ya ampun itu Mba Dinda kuat juga ya berjalan. Dia yang berjalan kok Bapak yang capek ya…” Ucap Pak Ujang.


“Husss ikutin aja Pak, kalau soal berjalan dari dulu emang Dinda suka jalan Pak, bagi Dinda itu belum seberapa Pak. Bahkan dulu pertama kali kenal pas dia lagi jalan dari rumah ke sekolah TK. Karena pakai seragam yang sama waktu itu kita mampir untuk mengajak pergi sekolah bareng. Tapi dia menolak, Bapak ingat?” Kata Eliana yang flashback mengingat awal pertemuannya dengan Dinda.


“Oh iya ingat Mba, waktu itu badan Bapak masih besar dan brewokan mungkin dia takut.” Sahut Pak Ujang.


“Iya takut lah wajah Bapak seperti penculik hahaha…” Sahut Eliana sembari tertawa.


“hehehe…” Pak Ujang menyengir, agaknya dia tidak tersinggung dengan perkataan Eliana. Maklum lah Eliana kan bosnya mau tersinggung juga ya memang seperti itulah wajahnya dahulu. Mungkin lebih tepat jika dibilang seperti Bodyguard dibanding penculik.


Dinda terlihat menaiki Busway yang datang lalu Busway itu menghilang perlahan dari pandangan Eliana dan Pak Ujang.


“Sudah Pak sampai disini saja, kita pulang.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya yang sudah kurus sekarang.


“Baik Mba.” Jawab Pak Ujang singkat lalu menyetir.


Mobil melaju di jalan, Eliana termenung.


“Dinda Aku tahu, Aku tahu ada sesuatu yang aneh pada dirimu. Tetapi aku tidak menyangka hal aneh itu adalah kau menghindariku. Mungkin kau tidak sadar, tapi aku sudah mengetahuinya sekarang.” Kata Eliana dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2