
Eliana berlalu dalam kebimbangan, bukan karena masalah agama ataupun keyakinan yang ia anut. Untuk urusan itu Dia tidak akan pernah untuk menyimpang ataupun murtad pada agamanya sendiri. Hanya saja, dadanya terasa sesak, hatinya berkecamuk. Kenapa disetiap Dia mencintai seseorang selalu berakhir dengan kesedihan.
Gadis cantik itu berjalan menyebrang dari rumah Alex ke rumahnya. Air matanya menetes sedih atas rasa yang sudah ia miliki dan tak bertepuk sebelah tangan tapi harus ia tampik karena tak seiman. Namun hal itu membuatnya lega, paling tidak Dia bisa berusaha untuk mencari pengganti yang lain.
Tetapi rasa kepada Duda keren itu adalah rasa sayang yang paling tulus yang pernah ia rasakan. Rasa yang tumbuh tanpa adanya hubungan resmi sebagai kekasih. Rasa yang tumbuh tanpa melihat status Duda yang disandang oleh Alex. Rasa yang tak memperdulikan lagi bahwa Duda itu bahkan telah beranak tiga yang harus Dia tanggung dengan mengurusnya yang dirinya sendiri pun susah untuk Dia urus.
Eliana membasuh air matanya dengan lengan, mencoba tegar, masuk ke dalam rumah dan berakhir di atas kasur. meringkus. Ingin sekali rasanya Dia menelpon Dinda sahabatnya, hanya sekedar untuk meluapkan isi hatinya agar merasa ringan. Tetapi tetap saja Dia berusaha menahan diri untuk tidak menganggu momen penting keluarga sahabatnya itu.
Gadis cantik itu kemudian berlutut dihadapan patung Yesus Kristus. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mulai bedoa. “Tuhan, Aku akan terus meminta ini ya Tuhan. Bimbinglah Aku untuk selalu menjadi Anakmu. Amin.” Eliana menyentuh jidatnya kemudian membuat tanda salib. Saat berdoa, air mata Eliana masih saja berjatuhan tak tertahankan.
Eliana kembali meringkus di atas kasur dan mencoba untuk menghapus kembali air mata yang membasahi pipinya. Mencoba untuk memejamkan kedua matanya, mengosongkan pikirannya dan mengingat Tuhan.
*
*
“Mau kemana Kamu Aisyah?” Tanya Bu Tuti kepada Adiknya. Aisyah yang tengah berjalan melewati Kakaknya itu mencium aroma wangi parfum vanilla di hidungnya dan melihat Adiknya sudah berpakaian rapi. Aisyah mengenakan jubah hitam dan hijab hitam, tak lupa kaos kaki, hingga semua auratnya tertutupi selain dari wajah cantik nan sejuk itu.
__ADS_1
“Biarkan hari ini Aku mengurus masalah pribadiku Uni.” Sahut Aisyah tanpa menoleh lagi melihat Kakaknya lalu berlalu keluar rumah. Bu Tuti hanya terlihat cuek sambil mengerucutkan bibirnya dan memutar kedua bola matanya.
“Kemana lagi Kamu kalau bukan untuk menemui Ghandy. Aisyah-aisyah watak polosmu sangat mudah untuk ditebak.” Bu Tuti menyeru dalam hati. Tangan gemuknya menggapai remote TV dan membesarkan volume suara TV saat melihat Aktris Favoritenya si Jodha Akbar meninggal dunia. “Ha…? Hikssss.” Bu Tuti menangis meneteskan air mata, tak percaya dirinya menemui kisah Bollywood itu untuk mematikan pemeran utamanya.
Kemudian Bu Tuti terharu kala melihat sang raja yang meminta doa kepada rakyatnya untuk Istrinya tercinta hingga sang ratu bisa hidup kembali. Kakak dari Aisyah itu merasa lega dan membasuh pipinya dengan baju yang sedang ia pakai. Dia melanjutkan tontonannya tanpa memperdulikan lagi Aisyah yang pergi yang Dia tidak tahu kemana perginya.
Benar saja! Aisyah turun dari taksi online di depan Penjara. Memasuki Penjara itu dengan berbagai lika liku pemeriksaan dan masuk keruang tunggu untuk menjenguk tahanan yang tak lain dan tak bukan adalah Ghandy sang mantan suami.
Aisyah menunggu lama, karena pada saat ini kunjungan tahanan di sana sangat ramai, mengingat bahwa ini adalah weekend. Para keluarga tahanan datang untuk menjenguk keluarga mereka di Penjara itu.
“Nona Aisyah, panggilan kepada Nona Aisyah untuk tahanan atas nama Ghandy M.P.” panggilan yang berulang disebutkan untuk Aisyah. Ketika Aisyah baru menyadari panggilan itu ia pun menjawabnya “Iya Saya Pak.” Aisyah berdiri menghampiri sumber suara.
“Aisyah…” Ghandy terkejut saat melihat orang yang menunggu untuk menemuinya adalah mantan Istrinya. Lekas Ghandy duduk di hadapan Aisyah dengan tangan yang terborgol. Ghandy berusaha meraih tangan Aisyah dengan tangan terborgol itu. Saat ujung jari Ghandy berhasil menyentuh tangan Aisyah, langsung saja Janda kembang itu menurunkan tangannya di atas paha menghindari sentuhan Ghandy.
“Kita sudah bukan muhrim lagi Uda.” Tegas Aisyah. Seketika wajah Ghandy terlihat sedih, bibirnya bergerak-gerak tak percaya. “Aisyah apa Kau sudah melupakan cinta Kita? Cinta yang Kita lalui bersama selama bertahun-tahun.” Ujar Ghandy.
Mata tahanan itu berkaca-kaca tak percaya. Istri solehanya itu dengan mudah melupakannya, lebih tepatnya mantan Istrinya. Aisyah hanya diam tertunduk malu dan menangis, sejujurnya rasa sayangnya kepada mantan suaminya itu masih membekas walaupun hanya sedikit. Namun rasa yang membekas yang tinggal sedikit itu ingin ia tuntaskan hari ini.
__ADS_1
“Maafkan Aku Uda.” Isak tangis dari seorang Aisyah jelas terdengar walau tak terlihat. Dengan wajah yang menunduk, Ghandy hanya bisa melihat tetesan air mata yang jatuh ke bawah meja.
“Ada apa Aisyah? Jangang menangis, dengan Kau menangis seperti itu membuatku sedih.” Ghandy terus memandangi Aisyah berharap mantan Istrinya itu mengangkat dagu agar ia dapat melihat wajah yang teramat ia rindukan itu.
“Mulai hari ini Aku akan membuka hatiku untuk Pria lain Uda.” Aisyah terlihat mengelap ingusnya yang hampir keluar dengan tissue. Mendengar kalimat dari mantan Istrinya itu, Ghandy hanya pasrah, selama mendekam di dalam penjara membuatnya mengerti. Wanita mana yang bisa hidup bersama Pria berengsek seperti dirinya.
“Lelaki mana yang beruntung yang akan mendapatkan dirimu Aisyah?” Tanya Ghandy lirih, ia bahkan tertunduk malu kala mengingat aksi bejatnya kepada mantan Istrinya itu. “Jika beruntung, lalu mengapa Kau menyia-nyiakan Aku Uda!” Sontak mata merah Aiysah menatap Ghandy. Amarahnya seakan ingin ia luapkan.
“Jika perkataanmu benar, engkau lah laki-laki beruntung itu. Namun apa Kau menjagaku? Tidak! Kau hanya mendekap di Penjara ini.” Tegas Aisyah, Dia memandangi mantan suaminya itu yang masih tertunduk malu.
“Udaaa..” Nada Aisyah sedikit meninggi kala kecewa melihat lelaki yang yang ada dihadapannya itu pernah ia cintai. Ghandy mengangkat wajahnya, menatap mata Aisyah. “Maafkan Aku Aisyah, walaupun ini terlambat ku mohon maafkan Aku.” Sahut Ghandy, wajahnya memelas. Dia terlihat bersungguh-sungguh meminta maaf.
“Sudahlah, kalau pun jika Kau tak meminta maaf Aku akan tetap memaafkanmu.” Aisyah mengelap pipinya dengan kedua telapak tangannya namun mata perempuan berhijab itu masih saja sembab dan memerah. “Tak bisa kupungkiri, Aku semakin mengenal Allah karena sudah bersama denganmu. Ditambah lagi kedua orang tuamu yang Alim yang banyak mengajarkanku ilmu agama. Aku tidak pernah akan melupakan mereka, oleh karena itu kumohon Uda bertaubatlah dan jaga nama baik keluarga besarmu.” Terang Aisyah.
“Permisi Nona, waktu Anda bersisa lima menit.” Tegur petugas penjara itu mengingatkan. Aisyah hanya mengangguk memberikan sinyal bahwa dirinya memahami arti dari kalimat teguran dari petugas yang berbadan besar itu.
“Waktuku tidak banyak Uda, Aku akan selalu mendoakanmu. Terima kasih telah mengisi hari-hariku dulu dengan bahagia. Kau pernah menjadi anugerah terindah dalam hidupku walaupun hanya sebentar tetapi itulah hidup Uda. Harus Kita lalui hingga ajal menjemput, dan semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan yang benar. Amin.” Tutup Aisyah dalam pertemuan itu kemudian Dia berdiri dan meninggalkan mantan Suaminya.
__ADS_1
Ghandy hanya bisa melihat punggung Wanita yang berbaju hitam itu perlahan menjauh sambil mengisak tangis yang tak terbendung. Didominasi dengan rasa penyesalan yang cukup dalam, Ghandy diseret masuk ke ruangan tahanan oleh petugas kantor Penjara itu.
“InsyaAllah, atas izinMu ya Allah Aku akan berubah.” Kata Ghandy dalam hati sesaat setelah Aisyah menghilang dari pandangannya.