Duren Kampus

Duren Kampus
Mas


__ADS_3

“Apa tidak bisa kamu saja Dinda? Aku malas bertemu Alex. Itu Duda pasti ada perlunya lagi.” Ujar Eliana ketus.


“Eliana, ingat, Tuhan tidak mengirim seseorang kepada kita melainkan hanya kita yang mampu menolongnya.” Kata Dinda bijak, nadanya kian melembut bak pastor di dalam Gereja. Eliana seketika tersadar.


“Oh iya terima kasih Dinda sudah mengingatkanku.” Wajah jutek itu seketika melembek. Eliana tersadar bahwa melakukan kebaikan yang lebih utama disamping senang atau tidaknya kita terhadap seseorang itu.


Lekas Eliana berdiri dan pergi untuk membukakan Alex pintu. Dinda hanya mengikuti sahabatnya dari belakang.


“Iya ada apa mas?” Sapa Eliana mencoba akrab setelah dia membukakan pintu. Di belakangnya Dinda mencoba mencuri pandang untuk menatap wajah blasteran nan tampan itu. Alex yang mendengar sapaan Mas seakan terbang menembus awan.


“Mas? Ini kali pertama Eliana memanggilku Mas. Entah mengapa panggilan itu terdengar familiar seperti Eliana sering menyebut dan memanggilku seperti itu. Aku suka panggilan itu.” Alex bergumam.


“Begini Mba Eliana, bolehkah saya bertanya sesuatu?” Tanya Alex dengan lembut. Dia berusaha bersikap baik dan wajar agar panggilan Mas itu tetap melekat padanya.


“Iya kalau boleh tahu mau dibantu apa ya?” Eliana balas bertanya lalu memandang tangan Alex yang sedang memeluk beberapa buku.


“Eliana suruh masuk dulu, jangan ngobrol di pintu.” Bisik Dinda kepada tuan rumah itu. Ingin rasanya dengan antusias dia mengajak Alex masuk namun aksinya terhenti mengingat bahwa dia juga tamu bukan tuan rumah.


“Maaf Mas bisa kembali lagi besok? Soalnya hari ini Saya dan teman Saya ingin mengerjakan tugas kuliah kami.” Lanjut Eliana jujur. Dinda yang mendengar kalimat Eliana kini bermurung hati. Agaknya dia sedikit kecewa dengan keputusan temannya itu.


“Apakah besok Aku masih diajak main kesini?” Dinda bergumam. Lekas dia kembali duduk ke ruang tamu.


“Oh begitu, maaf sudah menganggu.” Sahut Alex sedikit kecewa namun senang mendengar Eliana memanggilnya Mas. “Tapi besok kan Aku bisa kembali kesini lagi.” Alex menyeru dalam hati.


“Besok ada di rumah jam berapa Mba?” Tanya Alex memastikan.


“Jam tiga sore, sekitar di jam segitu Saya sudah pulang. Oh ya, jangan panggil Saya Mba, panggil saja Saya dengan sebutan nama.” Pungkas Eliana yang merasa risih di panggil Emba-Emba.

__ADS_1


“Baiklah, Eliana agar tidak menganggu Saya pamit pulang. Besok Saya akan kembali kesini.” Ujar Alex sembari pergi meninggalkan rumah Eliana. Sesaat setelah Alex berbalik badan.


BRAK! Suara tutupan pintu terdengar keras. Sontak Alex terkejut. “Ya ampun Eliana itu marah atau apa sih?” Alex menyeru dalam hati. “Ya sudahlah dipanggil Mas saja itu sudah kemajuan bagiku” kembali Dia berbicara dalam hati. Benar, jika mengingat sikap Eliana selama ini kepada Alex ini kali pertama Eliana tidak terlalu jutek kepada Alex.


Duda keren itu berjalan menyebrangi jalan perumahan, tiba-tiba Pak Didit datang menghampiri.


“Pak Alex dari rumah Mba Eliana? Tumben Pak.” Sapa Pak Didit yang sekarang posisinya sudah disamping Alex yang sedang berjalan bersama.


“Iya Pak Saya ada perlu sama Eliana tadi.” Jawab Alex.


“Perlu apa Pak? Tadi Saya juga lihat Bapak langsung ditutupkan pintu oleh Mba Eliana sama seperti waktu itu pas kita sedang mencari Hendra Pak.” Jelas Pak Didit yang sekarang sudah berada di teras rumahnya Alex.


“Bukan Pak, tadi itu Eliana tutup pintu karena sedang tidak bisa diganggu. Dia sedang mengerjakan tugas kuliah bersama temannya sehingga Dia menyuruh Saya datang di lain hari. Bahkan tadi itu untuk pertama kalinya Eliana sudah tidak terlalu jutek Pak.” Jelas Alex yang sekarang sudah masuk beberapa langkah dalam rumahnya.


“Yuk mari Pak masuk.” Ajak Alex singkat kepada Pak RTnya itu.


“Begini Pak Alex, keperluan Saya untuk bertemu dengan Pak Alex sebenarnya ingin mengkonfirmasi tentang pencarian Babysitter-nya Hendra Pak.” Pak Didit mulai to the point.


“Tidak bisa Pak Alex, Bapak harus menyeleksi mereka dulu Pak.” Tentang Pak Didit.


“Loh kenapa Pak?” Tanya Alex heran.


“Yaiyalah Pak Alex bagaimana sih, kan yang daftar lumayan banyak. Tapi Pak Alex mau menerima orang yang bekerja cuma satu kan?” Tanya Pak Didit balik.


“Oh iya Pak, Okay kalau begitu sampaikan kepada mereka bahwa saya tunggu untuk wawancara besok jam sembilan pagi di rumah ini.” Pesan Alex.


“Baik Pak.” Sahut Pak Didit singkat. “Kalau begitu Saya permisi Pak, Saya akan segera mengabari para pelamar pekerjaan sebagai Babysitter Bapak soalnya waktunya mepet ini Pak.” Tegas Pak Didit sembari berdiri dan pamit kepada Alex.

__ADS_1


“Iya Pak benar.” Alex meng-iyakan supir pribadinya itu. Sebelum Pak Didit keluar dari halamannya Dia kembali masuk rumah dan menutup pintu teralis.


Sementara itu, di rumah Eliana, Dinda sedang bermurung hati. Dia merasa duren runtuh kali ini gagal Dia tangkap.


“Ada apa Din? Kok cemberut?” Tanya Eliana setelah menghampiri Dinda di sofa dan terlihat manyun.


“Ha engga lah, aku cuman kepikiran sama tugas kita ini karena belum mulai juga.” Sahut Dinda yang mencoba mengelak untuk berkata jujur.


“Oh iya OK! Sekarang ayok kita kerjakan tugas dari Pak Sugiono.” Ucap Eliana dan segera membuka Laptop dan beberapa buku mata kuliahnya.


Di rumah yang lain, Pak Didit masuk ke rumah tanpa memberi salam.


“Adammm..” Teriak Pak Didit. Seketika Adam berlari dan mendekati mertuanya itu.


“Iya ada apa Ayah?” Tanya Adam dengan tangan kanan yang masih memegang ponsel yang sedang online di Mobile Legend (ML).


“Bu Tanjung kemana?” Tanya Pak Didit kepada menantunya itu.


“Ada apa Yah? Aku disampingmu ini. Masak tidak lihat?” Bu Tanjung yang menjawab pertanyaan itu. Adam pun berlalu tanpa pamit.


“Ayah ini mata di taruh di dengkul gitu Yah, Istri sendiri ga keliatan, jelas Mamak di samping Ayah yang berbadan sebesar itu.” Adam menyeru dalam hati ketika meninggalkan kedua mertuanya.


“Loh di situ Kamu?” Ujar Pak Didit kaget. Setelah masuk rumah Dia hanya langsung memanggil Adam tanpa melirik ataupun menoleh kiri dan kanan sehingga Dia tidak melihat Istrinya sendiri yang tengah duduk santai di ruang tamu bersama dengan smartphone-nya.


“Lah emang di sini dari tadi Ayahhh…” Jawab Bu Tanjung sedikit kesal.


“Begini, cepat kasih kabar kepada orang-orang yang mau melamar menjadi Babysitter-nya Alex. Sampaikan kepada mereka bahwa besok pagi jam sembilan ditunggu Alex di rumahnya untuk tes wawancara.” Jelas Pak Didit yang duduk bersama dengan Istrinya.

__ADS_1


“Oh begitu, iya Pak.” Sahut Bu Tanjung ringkas.


Dengan masih memegang ponsel, lekas Bu Tanjung membuat status diberbagai akun media sosialnya. Memberi kabar bahwa bagi siapa pun yang telah mendaftar menjadi Babysitter-nya Alex agar datang tepat waktu besok pagi.


__ADS_2