Duren Kampus

Duren Kampus
Hendra menangis


__ADS_3

Alex kembali berjalan dan mencari-cari di mana bisa Dia membeli sebotol air meniral. “Permisi Dek, apa Adek tau di mana kantin di fakultas ini?” Tanya Alex kepada seorang mahasiswa yang terlihat muda.


“Di sana Bang.” Jawab pemuda itu singkat. “Terima kasih Dek.” Sahut Alex. Sebelum meninggalkan Alex pemuda sempat melihat Hendra dan tersenyum lalu pergi.


Tak lama Alex sampai di kantin FHUI dan segera membeli sebotol air mineral. Lalu Alex membuatkan Hendra susu lagi. Hendra menyusu sambil duduk di gendongan depan Alex. Duda satu ini berencana kembali ke kelas karena masih ada mata kuliah yang harus Dia hadiri.


Hendra menyusu, Alex pun berjalan lagi masuk ke kelas. Sesampainya di depan pintu kelas ternyata Dosen tersebut sudah masuk duluan.


Tok..tok..tok… “Permisi bu.” Alex menunggu di pintu untuk dipersilahkan masuk. “Ya? Anda siapa?” Tanya Dosen itu yang sedang berdiri di depan papan tulis.


Bu Dosen itu mengenakan jilbab hitam, kemeja putih, celana hitam dan blazer yang berwarna hitam juga.


“Saya mahasiswa di sini Bu, mau masuk mengikuti jam pelajaran.” Ujar Alex. Hendra yang di dalam gendongan, terduduk sambil menyusu. Susu nya masih bersisa setengah botol.


“Ha… apa benar Dia mahasiswa di sini?” Dosen itu tercengang. Dosen itu bertanya sambil memandang ke arah mahasiswa yang duduk di bangku masing-masing.


“Iya benar Bu.” Jawab Najwa. Setelah mendengar pengakuan dari Ketua kelas, Dosen itu kembali menatap Alex. Untuk beberapa waktu Dosen itu terdiam sembari melihat Alex dan Hendra.


“Baiklah, silahkan masuk.” Perintah Dosen tersebut. “Baik, terima kasih Bu.” Sahut Alex dan langsung masuk duduk di bangku kosong samping Najwa. “Kursinya sengaja Aku sisain buat Kamu.” Kata Najwa setengah berbisik.


“Thanks Najwa.” Sahut Alex singkat. Alex melepaskan tas punggungnya. Tas itu diletakkan di lantai di samping kursi tempatnya duduk. Lalu Dia mengambil sebuah buku binder dan pena.


“Najwa, ini mata kuliahnya apa?” Tanya Alex setengah berbisik. “Pengantar Hukum Indonesia Lex.” Jawab Najwa. “Ohhh… OK.” Sahut Alex.

__ADS_1


Alex kembali membuka resleting tas punggung yang berwarna hitam itu lalu mengambil buku mata kuliah Pengantar Hukum Indonesia. “Bukunya bener itu, beli di mana?” Tanya Najwa setengah berbisik.


“Beli di toko Online hehe..” Jawab Alex. “Najwa, jangan mengobrol perhatikan jika Dosen sedang menjelaskan.” Tegur Dosen itu kepada Najwa.


“Hehehe… Baik Bu.” Sahut Najwa lalu kembali memperhatikan Dosen itu dan mengabaikan Alex.


“Ayahhh..” Panggil Hendra. “Sstt… kalau ngomong janga gede-gede ya sayang.” Kata Alex sembari menaruh telunjuknya di bibir. “Ini Ayah.” Ujar Hendra sambil memberikan botol susu kosong kepada Alex.


“OK. Pinter anak Ayah.” Ujar Alex sambil mengambil botol susu yang diberikan kepadanya lalu mengelus lembut rambut Hendra. Kemudian botol kosong itu diletakkan ke dalam tas Alex.


Siska yang berada di belakang Najwa tidak memperhatikan Dosen yang menjelaskan. Dia sibuk dengan melihat Hendra dan punggung lebar Alex dari belakang. Siska tengah menopang dagu dengan tangan kirinya, memutar-mutar pena pada tangan kanannya di atas meja.


“Husss…” Sapa Siska kepada Hendra. “Cilukba!” Siska membuka tutup tangannya memperagakan cilukba pada Hendra. “Hahaha..” Hendra tertawa. Tawanya sungguh lepas hingga di dengar oleh satu kelas.


Karena tawa Hendra, se isi kelas kini melihat ke arah Alex. “Kamu yang barusan masuk nama Kamu siapa?” Tanya Dosen tersebut. “Alex Cornelius Bu.” Jawab Alex. Alex menunduk dan merasa bersalah.


“Alex, tolong kondisikan Anak yang Kamu pangku itu untuk diam. Dan yang lain lanjutkan mencatat apa yang ditulis di papan tulis ini.” Ujar Dosen lalu kembali menulis di papan tulis. Sesekali Dia memutar badan ke arah semua mahasiswa kala Dia ingin menjelaskan.


“Kakak…” Hendra memanggil Siska berharap diajak untuk bermain lagi. “Hendra sayang, jangan ribut ya.” Pinta Alex kepada Hendra. Alex berkata sambil berbisik di telinga Hendra. Seketika wajah Hendra berubah sendu.


“Huaaa….” Hendra menangis, Dia tak tahan lagi rasanya. Sejak tadi berada di dalam gendongan itu membuatnya gerah. “Huaaa…” Hendra menangis dan menarik-narik satu dari tali gendongan itu berharap bisa lepas dan turun untuk bermain.


“Sshhutttt…” Alex membelai rambut Hendra dan menepuk Anaknya perlahan. Tetapi Hendra tak kunjung diam.

__ADS_1


Konsentrasi belajar pun buyar, seketika kelas riuh. Dosen pun tak konsen lagi mengajar, beberapa dari mahasiswa juga merasa kesal dan terganggu mendengar tangisan balita itu.


“Saudara Alex, bisakah Anda keluar saja dulu memenangkan Anak itu. Karena kegiatan belajar mengajar Kita sangat terganggu oleh suara tangisan itu.” Jelas Dosen itu dengan nada yang lembut.


“Iya benar Bu.” Sahut Reza. “Iya Bu benar sekali, sangat menganggu telinga.” Tambah Antonius. “Nghusss…” Alex menghela nafas dan kembali mengambil tas punggungnya.


“Huaaa…” Hendra masih menangis. Dengan berat hati Alex segera meninggalkan kelas. Alex keluar dengan membasuh pipi kirinya, setetes air mata tak mampu lagi ia tahan. Lalu kemudian Alex menghilang dibalik pintu.


“Ya Allah… sungguh berat ujianMu, semoga saja Aku dapat melalui semua ini.” Alex berdoa dalam hati. Alex berjalan terus tak tahu arah, lalu Alex sampai di sebuah taman kecil dan melihat tempat duduk yang terbuat dari besi. Kursi itu kosong.


Alex duduk di kursi taman itu, melepaskan Hendra dari gendongan dan mendudukkannya tepat di sampingnya. Hendra masih menangis meneteskan air mata namun tidak sehisteris pada saat di kelas tadi.


“Ini sayang..” Alex tersenyum menyapa Anaknya serta memberikannya sebungkus cokelat. Hendra yang menerima cokelat itu langsung berhenti menangis dan kembali tertawa riang. Cokelat itu dibukakan terlebih dahulu hingga saat Hendra menerimanya Dia bisa langsung memakannya.


“Nyam..nyam…nyam..” “Enak” Ucap Hendra yang bibirnya dipenuhi oleh cokelat. Alex tak menyahut Hendra, Dia hanya tersenyum lalu kembali mengusap rambut Anak bungsunya.


Gerrkkk.. ponsel Alex bergetar. Sebuah pesan masuk pada ponselnya. Segera Alex memeriksa dan membaca pesan tersebut. “Alex Kamu di mana?” isi dari pesan itu yang pengirimnya tak lain dan tak bukan adalah Najwa.


“Aku di taman, Aku tidak bisa masuk, pasti di usir lagi nanti.” Balas Alex pada pesan itu. “Tidak apa, Dosen itu memberikan tugas bisakah kau mengirimkan alamat emailmu?” Balas Najwa pada pesan itu.


Alex memberikan emailnya dan menaruh lagi ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Gerkkk… ponsel Alex bergetar lagi, ada pesan masuk lagi. “Bagaimana Pak Alex, apakah lancar kuliahnya hari ini? Kalau ada apa-apa Saya masih menunggu di parkiran Pak.” Isi pesan dari Pak Didit yang merupakan Pak RT dan supir pribadinya.


Alex mengabaikan pesan terakhir yang masuk ke ponselnya. Alex membuka nama-nama kontak ponselnya dan mencoba menghubungi Eliana. Namun sayangnya panggilan suara itu tak terjawab.

__ADS_1


__ADS_2