
Alex menuju kasir, disusul oleh Abipraya. Setibanya di kasir Alex meminta kartu kredit yang dia berikan tadi kepada satpam.
“Maaf Mba, tadi saya ada kasih kartu kredit saya ke security. Boleh saya minta?” Tanya Alex.
“Sebentar ya Pak.” Sahut Mba-mba itu meninggalkan kasir dan melangkah ke arah satpam. Alex hanya memandangi dari kejauhan. Mba itu mendekati security dan berbicara yang Alex tidak mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mba itu. Kemudian Pak Satpam mengeluarkan kartu kredit Alex dari saku bajunya. Mba kasir langsung saja mengambil kartu tersebut dan kembali ke meja kasir.
“Benar ini kartu bapak?” Ujar kasir sembari memperlihatkan kartu kredit platinum milik Alex.
“Iya benar Mba.” Jawab Alex ringkas.
“Udah pakai ini saja Alex!” Kata Abipraya sembari memberikan kartu kredit miliknya.
“Jangan Bi, ini aku yang traktir. Aku yang ajak kan!” Sahut Alex kepada Abipraya. Alex pun mendorong tangan Abipraya yang sedang memegang kartu kredit itu. Melihat penolakan Alex, Abipraya mengerti dan kembali memasukkan kartu kredit miliknya ke dalam dompet.
Setelah membayar semua tagihan dan sewa restaurant, lekas Alex menggendong Hendra. Abipraya kembali memegangi tangan kedua anak Alex yaitu Andra dan Indra. Pak Didit membawakan tas perlengkapan anak-anak Alex. Mereka berlima berjalan keluar meninggalkan restaurant.
Baru beberapa langkah meninggalkan restaurant Alex kembali dikerumuni para wanita. Mereka lupa bahwa masih berada di PI (Plaza Indonesia) karena keasyikan makan bersama tanpa adanya gangguan. Pak Didit mulai kelabakan sekarang, dia panik. Apalagi Abipraya, dia kehabisan akal. Jika Abipraya mengatakan kebakaran lagi, apakah berhasil?. Sedangkan Alex tidak mencemaskan dirinya. Alex hanya mencemaskan ketiga anaknya, terlebih kepada Hendra.
“Kebakaran… kebakaran…!” Teriak Pak Didit yang mencoba meng-copy perkataan Abipraya yang berhasil mengusir kerumunan itu.
“Ga usah ngadi-ngadi lu!” Teriak seorang ibu-ibu yang terlihat mencibir.
“Iya bener! Kite pade kagak ketipu lagi deh, percuma.” Sahut seorang ibu yang lain.
“bang Alex foto dong bang.” Pinta seorang gadis lagi.
Hendra kini cemberut dan seketika menangis histeris. Hendra ketakutan lagi mendengar setiap celoteh yang tak henti-hentinya itu. Di tambah lagi kilatan lampu yang silih berganti.
Pak Didit, Abipraya, Andra dan Indra bergeser otomatis. Desakan itu membuatnya menjauh dan menghilang dari samping Alex. Pak Didit sesak nafas, dia mencari udara segar dengan menjauh dari kerumunan setelah disenggol sana sini oleh fans Alex.
Abipraya sekarang malah kewalahan di antara kerumunan itu. Bahkan tangannya terlepas dari memegang Andra dan Indra. Kedua anak Alex yang dipegangnya itu menghilang dikeramaian. Celingak-celinguk Abipraya mencari anak Alex. Namun badan dua kecil dua krucil itu sudah tenggelam di tengah lautan paran fasn fanatic Alex.
*
*
“Aisyah, nanti bisa minta tolong ke PI tidak? Aku mau beli alat urut kaki yang baru, yang ini sudah rusak.” Ujar Bu Tuti kepada Adiknya itu.
__ADS_1
“Ke PI? Kenapa harus ke PI Uni?” Tanya Aisyah, dia merasa terlalu jauh jika harus pergi ke Plaza Indonesia hanya untuk membeli satu barang saja.
“Iya adanya cumin di situ. Kalau di tempat lain ada jual ya aku suruh kamu di tempat lain. Soalnya kalau di PI pasti mahal kan.” Sahut Bu Tuti sambil mengeluarkan uang kertas di dompetnya.
“Ini ongkos plus uang untuk beli alat urut kakiku. Jangan lama-lama ya, kakiku sudah pegel ini.” Pesan Bu Tuti kepada adiknya yang sudah menjanda itu.
“Baiklah Uni.” Jawab Aisyah pasrah. Akhirnya Aisyah pergi menggunakan Busway. Dia seorang yang sederhana, mobil yang parkir di rumah Bu Tuti tidak dipakainya. Dia lebih suka bebaur dikeramaian padahal Aisyah tidak banyak bergaul. Sesampainya di PI dia langsung saja menuju ke Store tempat penjualan pijatan eletronik untuk kakaknya tersayang. Dia mengikuti setiap pesan dari kakaknya. Setelah membeli alat itu dia berniat langsung pulang tanpa harus cuci mata lagi.
Aisyah berjalan perlahan di tengah kemegahan Plaza Indonesia. Tiba-tiba seorang Wanita menyenggolnya tanpa sengaja. Wanita itu berlari kencang diikuti segerombolan Wanita lainnya.
“Astaghfirullahal’azim” Ucap Aisyah dengan wajah kaget. Aisyah menggeleng-gelengkan kepala. Ada apa dengan para Wanita itu berlari, lalu dua ibu-ibu kembali menyenggol Aisyah sampai terjatuh.
“Auuww…” Tak sengaja Aisyah berteriak lirih. Dia terjatuh dengan posisi suster ngesot sekarang. Aisyah semakin penasaran, sebenarnya ada apa yang terjadi sehingga para perempuan itu berlari, menyenggolnya, dan bahkan tanpa permintaan maaf.
Aisyah menyusulu kerumunan itu yang menuju ke suatu tempat. Sempat saja Aisyah membaca tempat itu. Cork and Screw Restaurant.
“Hanya sebuah restaurant ternyata.” Aisyah bergumam. Tak sengaja dia melihat Hendra. Hendra yang menangis ketakutan. Sontak dia ikut ke dalam kerumunan itu berusaha untuk meraih Hendra.
*
*
“Okay.” Jawab Eliana singkat. Kemudian Dinda berjalan meninggalkan Eliana sendirian. Eliana mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
“Halo, Pak Ujang di mana?” Ujar Eliana dipanggilan suara ponselnya kepada Pak Ujang.
“Saya di parkiran Mba.” Jawab Pak Ujang yang sedari tadi menunggu di parkiran kampus UI. Lalu Pak Ujang menyusuri kampus untuk mencari Eliana. Tak butuh waktu yang lama, dia menemukan Eliana yang sedang berdiri menunggunya.
Mobil itu berhenti tepat di samping Eliana. Tanpa pikir Panjang Eliana langsung ke dalam mobil dan Pak Ujang segera menyetir meninggalkan kampus.
“Mau ke mana kita Mba Eliana?” Tanya Pak Ujang sembari memandangi Eliana di spion dalam mobil.
“Ga tau nih Pak. Mau pulang kerumah juga bosan mau ngapain. Tadi Dinda langsung pulang. Jadi bingung mau ngapain?” Sahut Eliana yang sedang bingung.
“Keliling-keliling saja dulu Pak.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya itu.
“Baik Mba.” Jawab Pak Ujang yang sekarang memandang ke depan dan menyetir dengan focus.
__ADS_1
Eliana kembali mengambil benda pipih yang ada di tasnya itu. Membuka Instagram, melihat-lihat trend fashion yang dikenakan oleh Bunga Citra Lestari (BCL).
“ih sepatu lucu.” Ucap Eliana dalam hati. Lekas Eliana melihat caption dari foto itu. Ternyata tokonya ada di Plaza Indonesia. Eliana kepincut habis dengan sandal sepatu yang terlihat mewah itu.
“Pak ke PI sekarang ya!” Perintah Eliana lagi.
“Baik Mba.” Jawab Pak Ujang yang sekarang menyetir ke arah yang diperintahkan oleh bosnya itu.
Sesampainya di Plaza Indonesia, langsung saja Eliana mencari toko yang dia lihat iklannya di akun Instagram miliknya. Agaknya Eliana terkena dampak dari iklan itu. Segera dia mencari-cari nama toko yang disebutkan di caption foto IG itu.
Tetapi belum sempat Eliana menemukan Toko sepatu yang dia cari, dia melihat Indra berjalan sendirian dan menangis. Untuk kedua kalinya dia menemukan Indra tengah sendirian dan menangis. Hanya saja kali ini dia menemukan Indra dalam kondisi yang segar dan di tengan keramaian. Langsung saja dia menghampiri Indra.
“Indraaaaa…” Eliana berteriak sebelum sampai di samping Indra. Indra menoleh, dia mengenal suara itu.
“Kakak….” Kini Indra yang berteriak dan menangis histeris. Indra berbalik badan dan berlari memeluk Eliana. Eliana pun jongkok dan membuka lebar kedua lengannya bersiap untuk memeluk Indra. Kini Indra berada dipelukan Eliana.
“Indra kok bisa kamu sendirian di sini? Ayahmu kemana?” Tanya Eliana lembut sembari mengusap rambut lembut Indra. Indra hanya menangis sambil mengucek kedua matanya. Lalu menunjuk kearah kerumunan yang di tengahnya terlihat Alex berdiri. Jelas Eliana melihat Alex yang dikerumuni para perempuan. Namun wajah Alex tidak terlihat senang melainkan cemas.
*
*
Mba Temble sedang mencuci mobil di halaman rumahnya. Seperti biasa dengan menggunakan baju ketat atas bawah yang menonjolkan lemak-lemak badannya dia merasa seksi. Mencuci mobil sambil memandangi Alex yang mengenakan kacamata hitam sedang mengobrol bersama Abipraya. Mba Temble pun menonjolkan kuping ke arah rumah Alex. Dia sengaja menguping pembicaraan Alex dan Abipraya. Setelah selesai menguping, langsugn saja dia masuk kerumah dan berganti pakaian. Bersiap-siap untuk mengikuti weekend-nya Alex dan yang lain.
Setelah merasa cantik, Mba Temble duduk di dalam mobil yang sudah dia hidupkan sebelumnya. Melihat Alex berangkat, langsung saja dia menguntit di belakang mobil Alex. Mba Temble mengikuti Alex hingga sampai ke Plaza Indonesia.
Setelah masuk Mba Temble juga ikutan terkesima melihat Alex dan Abipraya beserta Supir dan ketiga anaknya. Sungguh cuci mata weekend yang menyegarkan. Tak lupa Mba Temble juga melihat adegan Alex yang dikerumuni oleh para perempuan. Melihat hal itu, tak lupa Mba Temble mengambil kesempatan untuk berfoto bersama Alex. Mba Temble mengambil foto sebanyak mungkin di tengan keramaian. Sungguh kesempatan yang luar biasa tanpa disadari oleh Alex dan yang lain.
Setelahnya Mba Temble terus mengikuti Alex sampai akhirnya masuk ke dalam Cork and Screw Restaurant. Agaknya Mba Temble merasa kecewa sekarang, dia kehilangan Alex. Dia berusaha masuk ke restaurant itu namun dihalangi oleh security yang berjaga. Kemudian Mba Temble menunggu di luar restaurant hingga akhirnya Alex dan yang lain keluar. Ternyata Mba Temble menjadi contoh fans fanatic Alex yang lain yang ikutan menunggu di luar restaurant. Jadi ketika Alex keluar langsung saja fans Alex mulai berkerumun dan mendekati Alex. Melihat hal itu seketika lampu menyala hidup di atas kepalanya.
Ting!
Melihat Abipraya yang panik dan melepaskan tangan kedua anak Alex. Mba Temble langsung mengambil kesempatan ini. Segera dia meraih tangan Andra dan mengajak Andra menjauh dari kerumunan para Wanita itu.
*
*
__ADS_1
Aisyah bersama Hendra, Eliana bersama Indra, dan Mba Temble bersama Andra. Aisyah, Eliana, dan Mba Temble bak Trio Kwek-kwek dengan masing-masing memegangi anak-anak dari duda keren (duren) itu.