Duren Kampus

Duren Kampus
Bernafas lega


__ADS_3

Alex masih bergelut di tengah kerumunan para fansnya. Dia mulai kepanasan sekarang, gerah agaknya.


“Bang Alex senyum dong! Mas Alex, Mas Alex. Blablabla….” Gemuru suara panggilan perempuan silih berganti. Alex seakan oleng, lengannya dipeluk bergantian oleh fansnya saat mengambil foto atau video. Bahkan pipinya dicubit-cubit sehingga wajah ganteng itu memerah sekarang. Bukan memerah karena malu melainkan memerah karena cubitan fans yang begitu kuat. Sangking gemasnya melihat kegantengan Alex.


Alex kebingungan, entah apa yang harus dia lakukan agar terlepas dari keramaian itu. Kepalanya penuh tak bisa berfikir, suara yang ribut membuat otaknya buntu.


Pak Didit yang melihat Alex dikerumuni fans mulai berpikir keras. Mencoba menyelamatkan bosnya, dia kini mencari Abipraya. Tak butuh waktu yang lama di sebelah kiri restaurant tempatnya menyantap makan siang tadi, Pak Didit menemukan Abipraya yang sedang menggaruk-garuk kepala.


Setelah menemukan posisi Abipraya, langsung saja Pak Didit mendekatinya.


“Pak Abi, tolong pikirkan bagaimana cara menolong Alex kali ini. Kalau tidak, bisa tidak pulang-pulang kita.” Ujar Pak Didit sambil menyenggol lengan Abipraya.


Abipraya terdiam, seraya berpikir keras. Entah apa yang harus dia lakukan. Namun Abipraya mendapatkan ide sekarang.


“Pak Didit ayo cepat kita masuk restaurant.” Ucap Abipraya yang langsung saja melangkah masuk resataurant tempat makan siang tadi. Pak Didit tidak menjawab, dia mengikuti Abipraya dari belakang.


“Pak boleh saya minta tolong?” Tanya Abipraya kepada seorang yang berkulit hitam dan berbadan kekar itu.


“Iya ada apa ya Pak?” Jawabnya sangar.


“Itu Pak teman saya di depan lagi kesusahan. Boleh kah Bapak menggiringnya ke Lobi agar bisa terlepas dari para fansnya. Nanti saya akan menunggu di Lobi dengan mobil.” Ujar Abipraya kepada Security restaurant yang telah mengembalikan kartu kredit Alex tersebut.


Security itu tegak terdiam di tempat. Tidak ada waktu lagi, semakin lama, keadaan semakin riuh. Segera Abipraya mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah di dompetnya serta memasukkan uang tersebut ke kantong baju security.


“Okay!” Kata Pak Satpam sambil memiringkan kepalanya ke kanan. Dia memanggil teman security yang satu lagi. Mereka berdua siap untuk melaksanakan perintah Abipraya.


“Permisi, maaf ibu-ibu berikan kami ruang untuk lewat.” Kata Satpam dengan wajah garangnya itu. Seperti magic, Satpam itu sudah ada saja di samping Alex. Tak mempan! Ibu-ibu dan para fans lainnya tidak memperdulikan Satpam itu.

__ADS_1


Kedua Security itu pun mengabaikan abaian para fans Alex. Langsung keduanya merangkul Alex di masing-masing kiri dan kanan. Lalu keduanya membentangkan dan meluruskan satu tangannya bak police line. Para fans Alex berhamburan, kerumunan kokoh itu bubar perlahan disisir oleh dua lengan kekar berkulit hitam itu.


Alex digiring keluar mall menuju Lobi. Beberapa fans bahkan masih mengejarnya. Tapi tameng dua Security itu tak tertembus. Akhirnya Alex sampai di Lobi dengan mobil LC yang terparkir menunggu. Lekas saja Alex masuk ke mobil dan mereka pulang dengan aman.


*


*


“Ayo Pak Didit kita harus cepat. Kita harus lebih dulu sampai ke Lobi sebelum Alex. Jangan membuat Alex menunggu karena jika menunggu tumpukan fans akan makin bertambah.” Kata Abipraya sembari berlari bersama Pak Didit.


“Siap Pak Abi!” Sahut Pak Didit singkat. Mereka berdua berlari kencang menuju parkiran seakan sedang dikejar kuntilanak. Keringat Pak Didit bahkan bercucuran sekarang. Setelah melewati beberapa menit, akhirnya mereka sampai ke mobil, masuk, dan langsung saja menge-gas melaju cepat menuju Lobi.


Titituuuttt…tittituttt… suara ponsel Pak Didit berdering. Dia melempar benda pipih itu kepada Abipraya.


“Ini Pak, tolong diangkat, saya sedang fokus!” Kata Pak Didit memberanikan diri. Mengingat bahwa dia harus melaju kencang sekarang. Tidak ada waktu untuk mengangkat telepon itu.


“Halo, Pak Didit saya di rumah Alex bersama Indra.” Ujar Eliana ringkas. Abipraya bingung suara siapa ini? Siapa yang menelepon? tapi dia mengabaikan kebingungan itu.


“Pak Didit, Indra aman. Indra bersama Eliana.” Ujar Abipraya kepada Pak Didit. Pak Didit mendengarkan, dia hanya terus menyetir. Di pembelokan dia membanting stir.


“Auww.. Pak?!” Kepala Abipraya terbentur kaca pintu mobil. Ingin kesal tapi Abipraya membatalkan. Pak Didit juga terlihat cuek seraya tidak menyadari perbuatannya itu.


Titituuttt…titittutt… ponsel Pak Didit kembali berdering kembali. Sebelum mengangkat telepon itu Abipraya membaca kontak panggilan suara itu. Mba Gendut! Siapa Mba Gendut itu? Sejenak Abipraya berpikir lalu mengabaikannya lagi.


“Halo Pak Didit, Andra bersama saya sekarang di rumah.” Ujar perempuan itu dengan nada cempreng.


“Okay!” Jawab Abipraya singkat. Belum sempat menutup panggilan itu. Ada lagi panggilan suara lain yang bernama Mba Aisyah. Langsung saja Abipraya mengangkat telepon itu tanpa menutup telepon dari Mba Gendut.

__ADS_1


“Halo… assalamualaikum Pak Didit, Hendra bersama saya Pak. Dia sedang di rumah saya sekarang.” Ucap Aisyah lembut dan sedikit melehkan hati Abipraya.


“Okay!” Jawab Abipraya singkat lagi. Dia menutup kedua panggilan suara itu sekarang.


“Pak Didit, Andra dan Hendra, aman!” Tegas Abipraya. Pak Didit tidak menjawab dia masih saja fokus menyetir menuju Lobi. Tak lama dia pun mengerem dan menunggu Alex di pintu masuk Plaza Indonesia.


*


*


Alex keluar dari pintu masuk mall, langsung saja Abipraya turun dan membukakan pintu mobil sebelah kanan. Tanpa basa-basi Alex masuk dan duduk. Abipraya kembali naik dan masuk di kursi sebelah kiri depan samping Pak Didit. Segera Pak Didit menginjak gas mobil dan pergi meninggalkan Plaza Indonesia.


Alex manarik nafas, dia bernafas lega, menghilang di tengah keramaian itu bak seorang yang memiliki banyak hutang namun lunas seketika.


“Eh Pak Didit stop-stop Pak!” Perintah Alex. Pak Didit mendengarkan tetapi tetap saja melaju kencang sembari melihat spion kiri dan kanan. Dia memperhatikan dengan seksama kalau-kalau ada fans fanatic Alex yang menguntit tapi sepertinya aman.


“Pak Diditttt….” Alex memanggil Pak Didit sedikit berteriak. Pak Didit masih saja mengabaikan Alex. Dia lebih takut melihat kerumunan fans Alex dibandingkan suara teriakan Alex.


“Ada apa Alex?” Tanya Abipraya berusaha menenangkan.


“Ketiga anakku ketinggalan Abi. Cepat putar balik! Pak Didit cepat…” Alex berkata, sekarang wajahnya menampakkan ekspresi gerang sekaligus cemas. Abipraya terlihat santai. Melihat Abipraya santai, Alex pun geram.


“Abi… seperti itu kah?” Tanya Alex melihat Abipraya dengan mata yang membulat, Alex melotot sekarang.


“Alex tenang! Andra dan Indra serta Hendra aman sekarang. Anak-anakmu sudah berada bersama bidadarimu.” Ujar Abipraya sembari tersenyum geli.


“Maksudnya bagaimana?” Tanya Alex bingung.

__ADS_1


“Tadi para tetanggamu menelepon bahwa mereka sudah bersama dengan masing-masing anakmu. Masing-masing dari mereka bersama dengan calon ibu yang berbeda hahaha..” Abipraya tertawa lepas sekarang. Walaupun itu hal melegakan tetapi tetap saja baginya itu lucu.


“Alhamdulillah” Ucap Alex bersyukur dan mengabaikan ejekan Abipraya. Dia kembali bernafas lega. Dia bernafas lebih lega dari sebelumnya.


__ADS_2