Duren Kampus

Duren Kampus
Hendraku sayang


__ADS_3

Abipraya penasaran. Kenapa Alex tiba-tiba mematikan panggilan suaranya. Tidak biasanya dia seperti itu. Segera Dia menyusul ke rumah Alex. Belum sampai ke rumah Alex, Abipraya melihat Alex berjalan menuju rumah Eliana.


Sesampainya di halaman Eliana. Dia mendapati pak Didit dan Alex diusir halus oleh Eliana. Dengan menutup pintunya, Alex dan pak Didit berjalan terburu-buru meninggalkan rumah itu. Melanjutkan ke rumah sebelahnya.


Rumah ke tiga yang didatangi oleh Alex dan Pak Didit adalah rumah mba gendut itu. Sampai sekarang Alex tidak tahu siapa nama mba gendut itu.


Abipraya mengikuti mereka berdua. Berjalan diam tanpa menyapa. Agaknya Abipraya sedikit memahami situasinya sekarang. Ada sesuatu yang dicari oleh mereka berdua. Sama seperti Alex menanyakan nya di telepon tadi. Hendra, Hendra menghilang.


Sembari mengikuti Alex dan Pak RT, Abipraya juga melihat ke sekeliling komplek. Kalau-kalau dia menemukan Hendra lebih dulu.


Sesampainya Alex di rumah mba gendut itu. Langsung saja dia memencet bel.


Dingdong…dingdong..! Bel rumah mba gendut berbunyi. Mba itu keluar, menggunakan tanktop dan celana pendek. Sedikit mengganggu penglihatan Alex. Tapi tidak dengan pak Didit. Agaknya pak Didit terhibur kali ini. Dia ingin tertawa tapi segan kepada Alex yang sedang bersedih mencari anaknya.


“Mba Temble, mau tanya mba. Apakah mba melihat anak kecil umur satu tahun setengah? Namanya Hendra. Dia anak pak Alex.”


Jelas pak Didit kepada mba Temble. Kali ini mba Temble serius tanpa basa basi. Dan tidak genat-genit kepada Alex.


“Tidak ada pak, sejak tadi saya di rumah saja menonton K-Drama. Pemainnya Kim Bum dan Rain pak. Judulnya Ghost Doctorr dan…”


Mba Temble malah bercerita panjang lebar di luar konteks. Segera Alex menutup pembicaraan itu.


“Permisi mba Temble. Saya sedang mencari anak saya yang hilang. Jadi kami tidak punya banyak waktu sekarang.”


Kata Alex menyela pembicaraan mba Temble.


“Okay baik. Bye!”


Langsung saja si Temble itu melambai dan menutup pintu. Tanpa menunggu Alex serta pak Didit pergi terlebih dahulu.


Alex dan pak Didit tidak menghiraukannya. Mereka betul-betul tidak butuh basa-basi kali ini. Mereka berdua membalikkan badan. Dan bertemu Abipraya.


“Alex, langsung saja telpon kantor polisi! Jangan buang-buang waktu.”


Saran Abipraya setelah bertatap wajah kepada Alex.


“Iya pak Alex sebaiknya kita langsung ke kantor polisi saja sekarang.”


Kata pak Didit menambahkan. Alex setuju.


“Kalau begitu tunggu aku disini Alex. Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu.”

__ADS_1


Lekas Abipraya mengambil mobil sedannya. Alex dan pak Didit menunggu di depan rumah mba Temble. Sedangkan mba Temble masuk melanjutkan menonton drama korea. Tanpa menghiraukan lagi tetangga nya itu.


Settt.. Bunyi rem mobil sedan Abipraya terdengar jelas. Dia mengegas pollll mobilnya. Serta mengerem mendadak di depan rumah mba Temble.


Dengan terburu-buru Alex dan pak Didit masuk. Alex duduk di kursi depan bersama Abipraya. Sedangkan pak Didit duduk sendiri di bangku belakang. Mereka bertiga menuju kantor polisi kota Depok.


*


*


Susu formula yang dibuatkan ayahnya di botol itu habis. Hendra masih ingin menyusu. Namun karena susu yang habis, Hendra mencari ayahnya. Tidak ada siapa pun yang dia lihat. Melihat pintu terbuka, Hendra berjalan sambil tertawa. Dia keluar rumah.


Setelah di luar, Hendra melihat langit yang gelap. Hanya lampu jalan dan lampu teras rumah yang menerangi. Lalu dia melihat seseorang. Hendra mengira itu ayahnya. Kemudian Hendra mengikuti orang itu.


*


*


“Aisyah, bisa kamu ke super market yang di simpang depan?.”


Ujar bu Tuti kepada Aisyah.


“Iya uni.”


Hal itu tidak menjadi masalah bagi bu Tuti. Yang terpenting baginya, Aisyah tidak mendapatkan perlakuan kasar lagi dari suaminya. Di tambah lagi, dia ada yang mengurus. Bu Tuti sering sakit-sakitan karena faktor umur. Tinggal sendiri dengan kondisi yang seperti itu. Tentu sedikit menyeramkan.


Mengetahui adiknya punya masalah KDRT. Vokal dia menyarankan perceraian dan lekas menyuruh adiknya tinggal bersamanya. Sah-sahnya saja baginya berbuat seperti itu.


“Itu ada dompet uni di atas kulkas. Bawa saja dulu Aisyah. Tolong belikan aku koyok pedas. Punggungku pegal dan sakit-sakit.”


Aisyah berdiri berjalan menuju kulkas. Mengambil dompet sesuai perintah kakaknya itu. Lalu Aisyah memasang hijabnya dan keluar rumah. Berjalan sendiri menyusuri jalan perumahan yang sepi.


*


*


Setttt… Abipraya kembali mengerem mendadak mobilnya. Seketika Alex dan pak Didit melanting ke arah depan. Alex terbentur dashboard. Sedangkan pak Didit terbentuk kursi Alex. Tidak terasa sakit mereka fokus ke perkara hilangnya Hendra. Karena yang terpenting adalah Hendra sekarang.


Setelah parkir Abipraya berlari masuk mendahului Alex. Sesaat Abipraya masuk, Alex menyusul di belakangnya. Alex juga berlari ketika turun dari mobil. Pak Didit? Dia tidak sanggup lagi berlari. Dia keberatan di perut. Dan fisik yang tidak mendukung.


“Permisi pak saya ingin melaporkan orang hilang.”

__ADS_1


Ujar Alex kepada pak Polisi yang berjaga.


“Sebelumnya silahkan duduk pak.”


Perintah pak polisi. Kemudian Alex dan Abipraya duduk bersamaan.


“Di antara kalian yang ingin melapor siapa?”


Tanya pak Polisi tersebut. Alex mengangkat tangan.


“Baik. Bapak namanya siapa pak?”


Tanya polisi lagi dengan santai. Energi positif polisi memancar kepada Alex dan Abipraya. Sekarang mereka berdua merasa sedikit rileks.


“Nama saya Alex pak.”


Jawab Alex singkat.


“Nama saya Abipraya pak.”


Sahut Abipraya sekarang.


“Saya tidak bertanya kepada bapak.”


Ujar polisi itu jujur sembari menunjuk Abipraya. Abipraya hanya bisa diam. Karena memang yang ditanya pada waktu itu adalah Alex. Dia merasa bersalah. Jadi Abipraya ingin menemukan Hendra lebih dulu.


“Pak Alex boleh saya minta KTP bapak?.”


Tanya polisi itu. Alex mengambil dompet yang berada di kantongnya. Memberikan kepada pak polisi itu KTP aslinya.


“Kita photocopy dulu ya pak. Sambil menunggu bisa bapak jelaskan kronologi menghilang orang itu?.”


Tanya pak polisi lagi. Alex mengangguk. Dia menjelaskan secara rinci kejadian hilangnya Hendra. Kemudian pak polisi yang satu lagi mulai mengetik di komputer. Menjelaskan secara rinci kejadian secara tertulis. Lalu di print.


Keduan tangan Alex dingin. Menceritakan kronologi itu membuatnya membayangkan hal-hal aneh. Dia merasa bersalah. Menyesal. Menyalahkan diri sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa seteledor itu?. Sudah dua kali anaknya hilang. Yang pertama adalah Indra. Namun setelah Indra ditemukan dia berjanji pada dirinya sendiri agar menjaga anak-anaknya.


Tapi hari ini kejadian itu terulang. Abipraya memperhatikan Alex. Memegang bahu Alex.


“Alex maafkan aku. Ini semua salahku.”


Abipraya lebih menyesal lagi. Baru kali ini dia dihadapkan dengan situasi seperti itu. Tak tahan Abipraya meneteskan air mata.

__ADS_1


Sedangkan Alex hanya berkata dalam hati.


“Hendra, Hendraku sayanggg…”


__ADS_2