Duren Kampus

Duren Kampus
Nasi padang satu juta


__ADS_3

“Nanti kalau sudah makan buanglah sampah pada tempatnya ya.” Kata Bu Tanjung kepada para calon Babysitter Alex. “Tempat sampah ada di depan sana pinggir jalan.” Ujar Bu Tanjung sembari menunjuk ke arah tempat sampah itu berada. Tong sampah itu berwarna kuning dan biur, setiap rumah di perumahan itu di bekali dengan tong sampah masing-masing dua untuk satu rumah. Yaitu warna biru sampah organik dan kuning anorganik.


Bu Tanjung yang sudah selesai makan siang memulai lebih dulu membuang sampah di tong sampah. Para calon Babysitter itu masih makan, Bu Tanjung selesai lebih awal, ternyata Dia sangat kelaparan.


Istri dari Pak RT itu mengambil benda pipih yang tergeletak pada meja yang ada di teras. Lalu Bu Tanjung kembali melakukan panggilan suara untuk Suaminya. “Ayah, lama amat sih, kasian yang lain pada nungguin nih.” Ucapnya pada panggilan itu.


“Iya ini nanti selesai makan Lailatul bisa langsung keluar.” Sahut Pak Didit pada panggilan itu.


“Iya jangan kelamaan, masih banyak yang belum ini.” Kata Bu Tanjung yang kemudian mematikan panggilan itu tanpa memberi salam lagi.


Lailatul keluar dan langsung pulang, Dia terlihat terburu-buru hingga tak menyapa lagi Bu Tanjung. “Hemm…” Bu Tanjung menghela nafas melihat Lailatul pergi. “Akhirnya pulang juga tu Anak.” Dia menyeru dalam hati. Bu Tanjung memperhatikan sekitar, semua perempuan itu selesai makan siang, menyadari hal itu Bu Tanjung melanjutkan seleksi itu.


“Selanjutnya atas nama Kaila Embara” Teriak Bu Tanjung.


“Saya Bu.” Jawab Kaila singkat.


“Sini langsung masuk saja.” Sahut Bu Tanjung.


Kemudian perempuan mungil itu bergegas masuk ke dalam rumah Alex. Bu Tanjung mengantuk, matanya terkatup, Dia menunggu sambil mengangguk-angguk tertidur.


“Bu Kaila sudah selesai.” Ucap Kaila sembari memegang bahu Bu Tanjung perlahan. Dia mencoba membangunkan Bu Tanjung tetapi Bu RT itu tertidur pulas dan mengorok. “Ibu bangunnn.. Kaila sudah selesai nih.” Ujar Kaila dengan sedikit menaikkan nada suaranya serta menggoyangkan bahu Bu Tanjung dengan dorongan yang lebih bertenaga.


“Eh iya okay. Maaf Ibu ketiduran, Kamu kalau mau pulang, nanti Kita kabarin kalau di terima.” Kata Bu Tanjung yang masih mengantuk namun harus bangun.

__ADS_1


“Baik Bu, Saya permisi Bu.” Ujar Kaila pamit dan pulang.


“Selanjutnya atas nama Tuti Miranda…” Teriak Bu Tanjung.


Kegiatan itu berlalu tak terasa, satu persatu Bu Tanjung memanggil para calon Babysitter yang belum masuk rumah Alex. Panggilan yang di mulai dari Tukiyem, hingga yang sekarang atas nama Tuti Miranda. Selanjutnya Bu Tanjung memanggil Alexandra, kemudian setelah selesai Bu Tanjung memanggil lagi dengan nama Susanti lalu Ariana dan yang terakhir adalah Tiara Andari.


“Fiuhhhh….” Bu Tanjung mengeluarkan nafasnya melalui mulut. Ada lega yang Dia rasakan setelah semuanya telah dipanggil masuk. Kesebelas orang itu semuanya pulang setelah selesai diwawancarai langsung oleh Alex. Halaman rumah Alex kini kosong lalu Bu Tanjung masuk rumah Alex dengan membawa Map dari kesebelas orang itu.


“Bagaimana Pak Alex, adakah yang sesuai kriteria Pak Alex?” Tanya Bu Tanjung penasaran.


“Semuanya masuk kriteria Bu, kalau Saya tidak banyak macam syarat. Cuma satu yang Saya butuhkan asalkan Hendra betah sama orang itu, orang tersebut bisa langsung Saya terima.” Terang Alex.


“Ada tidak Pak yang Hendra kehendaki?” Tanya Bu Tanjung lagi.


“Maksudnya bagaimana Pak? Bagaimana Pak Alex bisa tahu kalau Hendra tidak menhendaki mereka semua.” Tanya Bu Tanjung sedikit heran. Bagaimana bisa anak umur dua tahun sudah punya kehendaknya sendiri, sedikit mengherankan.


“Maksud Saya begini Bu, sejak masuknya orang pertama yang bernama Tukiyem, Saya mencoba untuk memberi mereka kebebasan agar bisa merayu Hendra dan bermain dengannya. Karena jujur Hendra ini Anaknya susah sekali mau dengan orang lain selain Saya. Maklum, memang sejak lahir Hendra yang Saya yang urus hingga membaui Ibunya sendiri pun tidak. Baginya hanya Saya Ibu dan Ayahnya yang membuatnya enggan untuk bersama orang lain selain Saya. Jadi dari ke semua orang yang datang tadi, tak satupun yang berhasil menggendong Hendra. Jangankan menggendong, berhasil mengajak Hendra mengobrol pun tidak. Paling Hendra hanya menjawab namanya saja ketika ditanya namanya siapa.” Jelas Alex.


Kepala Alex yang sebelah kiri mulai sakit, mungkin migrainnya kambuh karena sebentar lagi Dia akan berkuliah namun tak kunjung mendapatkan Babysitter. Karena kepala yang berdenyut itu, lekas Alex menyentuh dan memijit kepalanya itu dengan tangan sebelah kiri. Tangan kanannya masih menyangga Hendra dalam pangkuan agar tidak jatuh.


“Jadi bagaimana Pak Alex, apa perlu Kita mencari lagi Babysitter-nya Pak? Masih ada waktu walaupun tak banyak. Untuk sementara bagaimana kalau Hendra biar Istri Saya saja dulu yang urus menjelang Pak Alex mendapatkan Babysitter.” Tawar Pak Didit kepada bosnya itu. Agaknya Dia mulai kasihan melihat Alex.


“Ayahhh…. Ngapain suruh Ibu sih? Cucu Kita aja di rumah terbengkalai. Apalagi kalau di tambah dengan Hendra lagi haduh Ayah…” Bu Tanjung menyeru dalam hati. Bibirnya Dia tutup rapat tapi bergerak-gerak, mata melotot-lotot tapi tak jua terdengar suara darinya.

__ADS_1


Alex memandangi Bu Tanjung setelah mendengar tawaran Pak Didit sedangkan Bu Tanjung memandangi Suaminya berharap mereka bertatap mata agar Bu Tanjung bisa memberikan kode lampu merah pada Suaminya.


Kepekaan Alex melihat ekspresi Bu Tanjung membuatnya eggan untuk menitipkan Hendra kepada Istri dari supirnya tersebut. Lagipula terakhir kali Bu Tanjung memegang Hendra malah dititipkan kepada Eliana.


“Terima kasih Pak tawarannya tapi Saya tidak ingin merepotkan. Biarkan saja, nanti Saya akan mencoba mencari jalan keluarnya.” Ujar Alex yang sekarang berdiri dan melangkah menuju teras rumah sebagai aba-aba pengusiran secara halus kepada sepasang suami istri itu.


Alex melangkah, Pak Didit mengikuti begitu pula dengan Bu Tanjung hingga akhirnya mereka berempat sampai di teras dan masih dalam posisi berdiri. Hendra yang masih dalam gendongan Alex hanya diam sembari bermain sendiri bersama Dino T-Rex miliknya yang berhasil Dia ambil sendiri di atas meja.


“Kalau begitu Kami berdua izin pamit ya Pak Alex.” Ujar Pak Didit yang merasa lelah dan izin pamit.


“Iya Pak Didit terima kasih banyak atas bantuannya, terima kasih juga ya Bu.” Ucap Alex sembari tersenyum penuh syukur.


“Iya tidak masalah Pak Alex.” Sahut Bu Tanjung yang tersenyum malu-malu. Apakah mungkin Dia tersipu malu akibat senyuman Alex? Maybe.


Pak Didit melangkah pergi, tiba-tiba langkah itu terhenti karena Bu Tanjung menarik ujung bajunya. “Ayah jangan pula dulu.” Bisik Bu Tanjung kepada Suaminya. Alex memperhatikan sembari mengerutkan keningnya.


“Ada apa sih Bu?” Tanya Pak Didit setengah berbisik namun terdengar jua di kuping Alex.


“Ayah uang nasi padang tadi belum Ayah.” Bisik Bu Tanjung. Tetapi karena jarak yang begitu dekat, bisikan itu tetap saja terdengar oleh Alex.


“Ohhh iya itu Bu hampir Saya lupa, nanti Saya transfer saja ya Bu.” Sahut Alex. Dia melupakan tagihan nasi padang siang tadi. “Berapa jumlahnya Bu?” Tanya Alex memastikan.


“Satu juta Pak.” Jawab Bu Tanjung.

__ADS_1


“Busyetttt…! Nasi padang apa sepuluh porsi satu juta.” Terang Pak Didit yang sedang menganga sekarang, Dia terkejut mendengar nominal itu. Sontak kaki Pak Didit diinjak oleh Bu Tanjung dan menutup mulut Suaminya.


__ADS_2