
Anabelle kalau Kamu tidak usah.” Larang Bu Tanjung. Seketika Anabelle tersenyum malu lalu memasukkan kembali Map miliknya ke dalam tas.
“Emang Gue itu orang special kan ya.” Anabelle berkata sombong dalam hati.
“Sudah?” Tanya Bu Tanjung. “Jika sudah kumpulkan semua Map kalian kepada Anabelle!” Perintah Bu tanjung. Kemudian sebelas orang itu maju satu persatu dan memberikan Map miliknya kepada Anabelle lalu kembali berbaris di tempat masing-masing.
“Satu, dua, tiga, ….. sebelas. Sudah semua Bu sayanggg…” Ucap Anabelle centil kepada Bu Tanjung. Istri dari Pak Didit yang mendengar kalimat itu bermanyun, agaknya Dia tidak begitu suka kepada Anabelle.
“Ana coba berikan semua Map itu kepada Saya.” Pinta Bu Tanjung. Anabelle pun lekas memberikan semua Map itu kepadanya. “Ana tolong ambilkan kursi itu, bawakan ke sini.” Perintah Bu Tanjung lagi.
“Ihhh kursi itu kan berat Bu, nanti tanganku bisa lecet.” Keluh Anabelle. Mungkin Dia lupa dengan jakunnya hehe.
“Halah Kamu pasti bisa, Ibu yakin.” Tegas Bu Tanjung. Dengan bibir yang manyun dan wajah yang cemberut Anabelle berjalan mengambil kursi.
“Ibu itu engga bisa liat wanita cantik bertangan lembut apa? Kan kasian tangankuuu.” Anabelle mengerutu dalam hati. Walaupun Dia berjakun tetapi Dia tidak mengerjakan hal berat, yah walaupun sebenarnya Dia bisa. Hanya saja Dia selalu merasa terlahir sebagai Wanita.
Dia mengangkat kursi dan menaruhnya tepat di samping Bu Tanjung, ringan saja Dia mengangkat kursi itu.
“Tuh bisa kan, masak engga bisa.” Ujar Bu Tanjung sembari duduk di kursi yang baru saja diangkat oleh Anabelle. Kemudian Anabelle berbalik badan dan berniat untuk mengangkat kursi satu lagi. “Eh mau ke mana Kamu Ana?” Tanya Bu Tanjung.
“Mau ambil kursi lagi Bu buat Saya.” Jawab Anabelle.
“Tidak usah, Kamu berdiri saja.” Tegas Bu Tanjung.
“Loh kenapa Bu, kaki lemahku sudah lemes ini.” Jawab Anabelle manja.
__ADS_1
“Jangan, entar isi dalemmu keliatan, rokmu saja sudah sependek itu.” Sahut Bu Tanjung beralasan. Dia sengaja mengerjai perempuan jadi-jadian itu.
“Ops! Iya benar bu.” Ucap Anabelle yang logikanya menerima keterangan Bu Tanjung. Baginya itu masuk akal dan tidak menjadi masalah jika Dia harus berdiri.
Setelah duduk Bu Tanjung memeriksa satu persatu berkas yang ada di dalam Map. Dia membaca biodata pelamar, pengalaman bekerja, dan lain-lain. “Sepertinya semuanya bagus, tinggal Alex lagi yang menyeleksinya.” Bu Tanjung bergumam dalam hati.
Bu Tanjung berusaha memastikan data semua orang itu sebelum bertemu dengan Alex. Dia merasa bertanggungjawab atas hal ini, mengingat Dia yang diberikan mandat oleh suaminya untuk mencarikan Alex pengasuh anak.
Istri Pak RT itu melirik mobil LC yang lewat dan melihat suami tengah menyetir untuk pergi mengantar anak Alex.
“Bu tunggu Ayah, jangan kerumah Pak Alex dulu. Nanti Kita bareng kesananya.” Teriak Pak Didit sambil melewati Istrinya. Bu Tanjung mengangguk seraya berkata iya dan Pak Didit berlalu.
“Ini.” Bu Tanjung mengembalikan semua Map itu kepada Anabelle. “Perhatian semuanya, istirahat di tempat gerak!” Setengah berteriak Bu Tanjung memberikan aba-aba yang diikuti oleh semuanya. Seketika mendengar perintah itu para calon Babysitter Alex istirahat di tempat. Anabelle juga mengikuti aba-aba itu dan memasang posisi istirahat di tempat namun Dia sedikit kesulitan untuk membuka lebar kakinya karena rok mini ketat di atas lutut yang dipakainya.
“Sebntar lagi Kita semua akan ke rumah Pak Alex, jadi mohon untuk menunggu sebentar. Sebentar lagi juga Pak RT datang, saat Dia datang kita akan langsung ke rumah Duren itu. Okay?” Kata Bu Tanjung.
*
*
“Aisyahhh…” Teriak Bu Tuti yang tengah Asyik menonton serial Bollywood di salah satu TV Nasional. Mendengar teriakan kakaknya bergegas Aisyah untuk pergi menghampiri kakaknya yang sedang duduk di sofa dengan posis yang meluruskan kaki. Sepertinya kaki Bu Tuti masih sakit, sendinya masih merasakan nyeri.
“Iya Uni, ada apa?” Jawab Aisyah lembut. Perempuan soleha satu ini selalu saja lembut dalam bertutur kata.
“Coba Kamu lihat, ada apa itu di luar ribut-ribut. Aku sudah membesarkan volume suara tipi masih kedengaran suara di luar sana.” Perintah Bu Tuti kepada Aisyah.
__ADS_1
“Iya Uni” Jawab Aisyah singkat. Lekas Dia pergi ke jendela depan untuk mengintip dan melihat situasi diluar sana. Tiba-tiba Aisyah bergemetar dan kembali menghampiri kakaknya. “Uni di luar sangat banyak sekali orang yang berkerumun dan di sana juga ada tiga orang Polisi yang sedang berdiri.” Jelas Aisyah yang tampak bergemetar. Tampaknya Dia takut melihat keramaian dibarengi dengan apparat yang berseragam lengkap itu.
“Benarkah Aisyah?” Bu Tuti bertanya heran, dengan keraguan Dia berusaha berdiri dan ingin melihat langsung hal tersebut. “Aduhhh.. lututku, kakiku…” Sedikit merintih Bu Tuti masih saja berusaha hingga Dia berdiri tegak dan begegas keluar bersama Aisyah.
Mereka berdua berdiri di teras rumah memandangi sekitar.
“Benar Aisyah ada Polisi, lebih baik Kamu masuk dan menunggu di dalam.” Ujar Bu Tuti sembari menunjuk ke dalam rumah sebagai perintah agar adiknya tidak perlu menyaksikan hal apa yang akan terjadi. Dia tahu betul bahwa ada trauma yang dialami Adiknya itu ketika melihat keramaian dan Polisi.
“Baik Uni.” Jawab Aisyah yang langsung membalik badan serta masuk ke rumah. Ada lega di dadanya karena arahan itu. Dia bisa masuk kamar untuk mengaji, itu lebih baik daripada menyaksikan orang-orang yang berkerumun itu.
Bu Tuti terus berdiri di halaman rumahnya sembari memperhatikan sekitar dengan kedua tangan di pinggang. Dia jelas melihat banyak orang yang selama Dia tinggal di perumahan itu, baru kali ini orang datang sebanyak itu tanpa adanya hajatan tetangga. Dia memperhatikan Polisi berkumis tebal dengan sebuah Toa.
“Oh jadi Si Inspektur Vijay yang ganggu acara nontonku.” Dia bergumam dengan kesal. Lantas Dia mulai mencerna apa saja yang dikatakan oleh Inspektur Vijay itu.
“Semuanya, yang masih belum meninggalkan komplek perumahan mohon untuk bubar dan pulang ke rumah masing-masing.” Komandan kembali menyerukan suara ke dalam Toa itu.
Dia mendengar jelas ucapan Polisi yang memgang Toa itu, tetapi belum saja logikanya mengerti. Dengan rasa penasaran, Bu Tuti melangkah maju dan berbaur bersama orang-orang yang berada di depan rumahnya. Hanya saja keramaian itu berangsur berkurang hingga tinggal puluhan saja yang tinggal namun Bu Tuti tetap ikut masuk serta mencoba mencari informasi.
Setelah berada di tengah-tengah puluhan orang itu Bu Tuti mendengar pembicaraan beberapa orang di sana. Lalu Polisi berwajah manis dengan tulisan di dada bajunya yang bernama Angga S., melihat Polisi itu Bu Tuti berjalan perlahan dan mendekatinya.
“Maaf semuanya, mohon untuk pulang. Karena hanya orang yang namanya yang dipanggil tadi yang akan diseleksi oleh Pak Alex. Jadi mohon kerjasamanya.” Dengan nada setengah berteriak namun sopan Angga berusaha membubarkan sisa keramaian itu.
“Haduh Adek ganteng, kita mah kagak mau jadi Babysitter-nya Alex, kita mau lihat langsung wajah ganteng Youtuber terkenal itu. Kami ini mau minta foto bareng sekalian.” Sahut seorang Ibu-ibu yang berbadan besar.
“Maaf Ibu untuk saat ini belum bisa, lagian Pak Alex tidak keluar rumah sejak tadi. Lain kali saja ya Bu dan mohon kerjasamanya Bu. Nanti warga sekitar bisa merasa terganggu dengan keramaian yang terjadi ini.” Angga berbicara seraya memohon dan menyentuh pundak Ibu itu mengarahkannya keluar komplek. Ibu itu terdorong pelan hingga melangkah maju dan meninggalkan lokasi.
__ADS_1
Setelah mendengar percapakan itu Bu Tuti langsung mengangkat kedua alisnya dan melotot-lotot. Dia memasang senyum terindah penuh ekspressi yang memiliki ide cemerlang. “Ternyata si Alex cari Babysitter, itu pasti untuk Hendra. Andra dan Indra kan sudah besar.” Bu Tuti bergumam dalam hati.