
Eliana mengepalkan kedua tangannya lalu berdoa “Tuhan, tolong terangi hatiku yang pernah mengecap karunia sorgawi. Dan pernah mendapatkan bagian dalam Roh Kudus, bimbinglah Aku untuk selalu menjadi AnakMu.” Eliana mengangkat tangan kanannya dan menyentuh jidatnya dengan jari tengah dan membuat tanda salib.
“Amin.” Keduanya berkata Amin, baik Eliana ataupun Dinda. Sahabat dari Eliana itu ikut bedoa bersamanya. “Sekarang mari Kita ke rumah Alex.” Ajak Dinda. Keraguannya kepada Eliana sudah hilang. Dinda selalu mencoba agar temannya itu selalu berada kepada jalan yang benar.
Dingdong! Bel rumah Alex berbunyi. Mendengar bel tersebut, Alex pun lekas keluar dan membuka pintu. Mendapati Eliana di depan matanya membuatnya senang. Seketika hatinya berdebar tak karuan. Gadis yang selalu ia curi perhatiannya saat berada di Kampus.
“Tadaa! Kami bawain Nasi Padang buat Kamu.” Eliana mengangkat kantong plastic itu di depan Alex sesaat setelah Duda keren itu membuka pintu. “Wah, repot-repot amat.” Sahut Alex.
Melihat kantong plastic yang berisikan makanan itu membuat Alex semakin senang. Alex tersenyum memancarkan sinarnya. Eliana terpanah, Dinda terkagum, dan Alex tersipu malu.
“Mari masuk.” Ajak Alex dengan membuka lebar pintu rumahnya. Tak lupa Dia mengambil kantong plastic yang diberikan oleh tetangganya. “Kok sepi? Andra dan Indra mana?” Tanya Eliana kala memasuki rumah Alex yang hanya melihat keberadaan Hendra.
“Andra dan Indra pergi les dan belum pulang. Eh makasih loh sudah bawain makanan. Seharusnya Aku yang bawain Kalian makanan. Karena kalian berdua yang sering membantuku baik itu di Kampus dan di sini.” Terang Alex sumringah.
“Ini enggak seberapa sih Lex, kalau sudah berteman ya gitu harus saling berbagi satu sama lain. Dan Kamu jangan sungkan jika ingin bertanya kepada Kami seputar mata kuliah yang belum Kamu pahami.” Pesan Dinda.
Ketiga orang dewasa itu duduk di sofa ruang tamu. Hendra pun duduk tepat di samping Ayahnya. “Tunggu sebentar ya..” Pesan Alex lalu meninggalkan kedua tamunya di ruangan itu.
“Sini-sini yok Henn..” Ajak Eliana kepada Anak bungsu tetangganya itu. Tapi Hendra hanya berlari menyusul Ayahnya menolak ajakan dari Eliana. “Hahaha…” Dinda hanya tertawa geli melihat seorang Eliana yang ditolak Balita kecil nan lucu itu. Eliana melirik sinis temannya saat ditertawai.
“Seneng kan Kamu ada temen seperjuangan ditolak Hendra.” Ujar Eliana ketus. “Ho’oh” Jawab Dinda ringkas. Gerkk.. tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, ia lekas mengangkat panggilan suara yang bergetar pada ponselnya itu.
“Halo iya Ayah? Benarkah Ayah? Baiklah Aku pulang sekarang.” Seketika Dinde menutup panggilan itu. Matanya berkaca-kaca setelah melakukan panggilan suara dari Ayahnya.
“Ada apa Din?” Tanya Eliana memastikan, Dia pikir sahabatnya yang satu itu sedang sedih. “Ibuku pulang Eliana.” Jawab Dinda. Wajah sahabatnya itu berseri, tak sengaja air matanya menetes.
“Puji Syukur, Terima kasih ya Tuhan, pulanglah Dinda.” Eliana memegang kedua tangan Dinda dengan erat. “Jangan lampiaskan kemarahanmu, cukup peluk erat Ibumu karena telah kembali.” Eliana menampik air mata yang jatuh di pipi sahabatnya itu.
“Baiklah Din.” Dinda menjawab sembari bergegas kembali ke rumah Eliana. Lalu kembali lagi ke rumah Alex setelah mengambil tas miliknya, melemparkan sebuah kunci rumah kepada temannya itu yang langsung ditangkap dengan sempurna dengan Eliana.
“Bye Din.” “Bye-bye Eliana.” Keduanya saling melambai dan Dinda menghilang dibalik pintu. Alex datang dengan membawa tiga botol minuman kaleng berperisa. Ia meletakkan minuman kaleng itu di meja beserta biscuit camilan Anaknya.
“Maaf Eliana, cuma ini yang ada.” Kata Alex tidak enakan melihat suguhan makanan yang ada di atas meja. “Tidak apa ini saja sudah cukup bagi rumah yang tak berpenghuni seorang perempuan.” Canda Eliana. Kemudian kedua tertawa kecil bersamaan. Sedangkan Hendra diam dengan wajah datar tanpa mengerti maksud dari percakapan dua orang dewasa itu.
__ADS_1
“Loh Dinda kemana?” Alex mencari ke seisi ruangan itu yang ada hanya Eliana bersama dengan dirinya dan Hendra. “Dia pulang mendadak karena ada urusan keluarga.” Sahut Eliana.
Untuk pertama kalinya Eliana berada di rumah itu bersama dengan Alex. Eliana masih mengingat dengan jelas pada saat dirinya mengurusi ketiga putra Alex waktu itu sendirian.
“Waktu terasa begitu cepat, Aku tak pernah menyangka Kamu pernah tinggal dirumah ini bersama Anak-anakku Eliana. Dan terima kasih untuk semua pertolonganmu.” Kata Alex dengan lembut. Hanya pada kesempatan ini Dia dapat berbicara kepada gadis yang menarik hatinya dengan instens.
Eliana menggapai minuman kaleng yang ada di depannya dan membukanya, menelan seteguk air itu dan berkata “Jangan sungkan Alex, sudah seharusnya tetangga saling menjaga.” Lalu Eliana mengembalikan kaleng minuman itu di atas meja.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil yang datang. Seketika Alex dan Eliana melongo, tak terkecuali dengan Hendra. Mereka sedang memperhatikan dengan seksama siapa yang datang. Ternyata mereka adalah putra pertama dan putra kedua Alex dibarengi dengan supir pribadinya.
“Ayahhh..” Teriak Indra dengan senyuman lalu mencium punggung tangan Ayahnya diikuti oleh Adiknya. Kemudian Andra berlalu dengan masuk ke dalam kamarnya.
“Kakak…” Sapa Indra kepada Eliana. Anak Alex satu itu langsung duduk dipangku oleh Eliana. “Indra, jangan! Kamu sudah besar kasian Kak Eliana.” Tegur Alex kepada putra keduanya. “Tidak masalah Alex.” Sahut Eliana.
Putra kedua dari Alex itu selalu menyukai Eliana semenjak pertama kali bertemu pada beberapa waktu itu kala Indra menghilang dari sekolah. Eliana Wanita pertama yang membuatnya nyaman selain dari Ibunya.
“Kakak boleh tidak Indra panggil Kakak dengan panggilan Mama?” Tanya Indra tiba-tiba. Mendengar kalimat itu membuat Eliana terkejut. Terlebih lagi dengan Alex, Indra berhasil membuatnya Speechless tak bisa berkata-kata.
Eliana melirik Alex, Alex melirik Eliana. “Hemm.. Alex Aku permisi pulang. Niatku ke sini untuk memberikan Nasi Padang itu dan sudah kuberikan jadi sudah waktunya Aku pulang.” Kata Eliana sembari permisi. Dia jelas tampak salah tingkah.
Eliana melangkahkan kaki keluar rumah. “Tunggu…” Kata Alex. Langkah kaki Eliana pun terhenti. Alex menatap punggung indah itu “Apa Kamu mau makan bareng bersama Kami? Aku kebetulan sudah memasak.” Ajak Alex ragu-ragu.
“Ahhh kebetulan perutku lapar.” Sahut Eliana membalikkan badan dan langsung memegang lengan Indra dan masuk ke dapur melewati Alex dan tak menghiraukannya lagi. Eliana duduk di meja makan dan membuka tudung saji di atas meja. Sepertinya Dia lupa sudah memakan sebungkus pop mie bersama Dinda.
“Hemmm… luar biasa Kamu Alex, Kau bahkan pandai memasak dibandingkan dengan diriku.” Eliana bergumam dalam hati. Alex menghampiri Eliana bersama Hendra, sedangkan Indra sudah duduk rapi bersama Kakak kesayangannya itu.
“Andraaa…” Teriak Alex memanggil putra sulungnya. Andra pun keluar dari kamarnya yang sudah tak memakai seragam sekolah lagi. “Oh iya Indra, Kamu belum mengganti seragam sekolah.” Tegur Eliana kepada Indra.
“Nanti saja Ma, habis makan. Besok juga seragam ini sudah tidak dipakai lagi.” Jawab Indra santai. Eliana menelan air ludahnya, tak percaya, sudah dipanggil Mama dengan Indra yang baru saja tadi ia meminta izin. Matanya melirik Alex, Alex tengah menyendok nasi dan membagikan nasi itu di piring berpura-pura tidak mendengar.
“Mari makan.” Senyum Alex kepada semuanya. Makan bareng itu berlangsung tiga puluh menit tanpa percakapan orang dewasa. Tak lupa Nasi padang yang dibawa tadi ludes di makan oleh kedua orang dewasa itu. Yang ada hanya celoteh ringan dari Hendra saat disuapi oleh Ayahnya. Indra yang sesekali disuapi dengan Eliana serta Andra yang mandiri dan makan sendiri. Mereka makan layaknya keluarga yang utuh sungguhan.
Setelah selesai makan Anak-anak membubarkan diri dengan menaruh bekas piring dan gelasnya pada westafel cuci piring. Eliana hanya mengusap setiap rambut Anak Alex yang meletakkan piring kotor di tengah dirinya yang sudah berdiri pada westafel itu untuk cuci piring.
__ADS_1
“Tidak usah Eliana, biar Aku saja yang mencucinya.” Tegur Alex yang mengambil sponge yang ada di tangan Eliana. “Tidak apa Alex, Aku sudah makan gratis di sini. Jadi biarkan Aku yang mencucinya.” Sahut Eliana.
“Makan gratis?” Alex menaikkan sebelah alisnya. “Tidak Eliana, Kamu tadi bawa Nasi Padang ke sini jadi Kamu itu tidak makan gratis.” Tambah Alex. Eliana hanya tersenyum menjawab dari kalimat Alex. Kemudian cuci piring itu berlangsung dengan mencuci bersama dengan kekompakan yang selaras.
“Okay, semuanya sudah beres Aku pulang ya.” Kata Eliana sembari membuka celemek yang ia kenakan saat mencuci piring. Alex tak bisa menahan Eliana, Eliana pun berharap ditahan oleh Duda yang berhasil mengambil hatinya.
Lagi, Indra mendekat dan menarik lengan Eliana. “Kakak temani Indra main.” Kata Indra sambil menyeret gadis itu hingga ke ruang keluarga. Andra dan Hendra yang sejak tadi sudah bermain bersama lebih dulu, mereka tidak begitu terkejut dengan kehadiran Eliana. Kegiatan bermain bersama itu sudah pernah mereka lakukan hingga merasa terbiasa.
Alex duduk di meja makan memandangi ketiga Anaknya bermain bersama Eliana. Hatinya tertegun haru, melihat canda tawa Eliana bersama ketiga putranya. “Nindi, tidakkah Kau bahagia putra Kita bermain bersama dengan Eliana?” Tanya Alex lirih dalam hati.
Seketika lamunannya buyar saat melihat Eliana berdiri dan mendekatinya. “Alex, maaf Aku tidak bisa menemani mereka bermain lagi. sebentar lagi sudah maghrib, tidak enak sama tetangga jika sampai malam.” Pamit Eliana.
Alex menarik lengan Eliana hingga membuat langkah kaki gadis itu terhenti. Jelas gadis itu merasakan dentuman jantung yang berbeda, lebih cepat dari biasanya. “Eliana, tidak bisakah Kamu tinggal saja di sini bersamaku.” Kata Alex dengan nada yang serius.
Eliana terkejut kaku, membisu, tanpa melepaskan tangan Alex. Dan Alex? untuk saat ini Dia melupakan janjinya kepada Aisyah kala terlarut melihat kegiatan Anaknya bermain dengan gembira bersama Eliana.
“Alex apakah Kau serius?” Eliana membalikkan badan melepaskan genggaman tangan Alex pada lengannya. Alex duduk mendongak melihat Eliana, sedangkan Eliana menatap tajam mata Alex sambil berdiri.
“Aku serius Eliana, tidak seorang perempuan mana pun yang pernah tinggal di rumah ini dan mengurus Anak-anakku tanpaku selain dirimu. Aku tidak pernah bisa melupakan itu.” Terang Alex.
“Cuma karena itukah Kamu menyuruhku untuk tinggal bersamamu? Egois sekali.” Eliana melipat tangannya dan membuang muka. “Eliana, tidakkah Kamu tahu, Aku berkuliah di UI juga karenamu. Kamu ingat pertama kali Kita bertemu saat Kamu menyiram bunga di halaman sebelum Aku kepentok Tedmon?” Jelas Alex bernostalgia.
Eliana yang mendengar itu tertawa kecil kala mengingat Alex jatuh kepentok Tedmon. Karena Dia tahu betul kejadian itu, Eliana menjadi saksi mata satu-satunya yang menyaksikan kejadian itu.
“Tidak Alex, kali pertama Kita bertemu bukan saat itu melainkan ketika Kamu sampai di Polsek waktu menjemput Indra. Aku melihatmu turun dengan cemas menggendong Hendra. Waktu itu tidak ada keberanian dariku untuk menegurmu.” Jelas Eliana.
“Lantas, apa Kamu mau tinggal di sini?” Tanya Alex memastikan. “Alex, tidak secepat itu Kamu bisa langsung menyuruhku untuk tinggal di rumah ini. Tentu Kita butuh upacara pernikahan, persetujuan antar keluarga dan terlebih lagi Kita masih kuliah dan harus menyelesaikan kuliah Kita dulu.” Terang Eliana serius.
“Daaannn… Apa Kamu tahu dengan keyakinanku selama ini?” Eliana menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Duda itu. Alex tertegun dan terdiam, Dia tidak mengusik keyakinan ataupun agama apa yang dianut oleh Eliana selama Dia mendekatinya.
“Bukankah Kamu seorang muslim Eliana?” Alex menatap insten Eliana dan begitupun sebaliknya. “Ahhh, sudah kuduga Kamu tidak tahu Alex. Aku beragama Kristen.” Sahut Eliana.
Alex menundukkan kepalanya, Dia tahu betul tidak bisa mengajak gadis di depannya itu untuk masuk Islam hanya karena dirinya menginginkannya. Karena Islam adalah agama yang bukan untuk diyakini karena ingin menikah, itu harus murni dari hati, sama seperti yang dirinya lakukan dahulu.
__ADS_1
“Kenapa Kamu terdiam Alex?” Kali ini Eliana yang ingin memastikan. “Eliana Aku seorang Muallaf, dan Aku tidak ingin kembali ke agamaku dahulu seperti yang Kamu anut. Karena bagiku Islam lah agama yang paling benar. Tetapi Aku juga tidak ingin mengajakmu masuk ke dalam Islam hanya dengan berdasarkan rasa saling suka ataupun saling cinta. Kita semua punya keyakinan masing-masing. Dan masuk Islam harusnya dengan hati yang murni atas panggilan dari Ilahi.” Jelas Alex panjang lebar walaupun Eliana tidak memahami kata terakhir yang disebutkan oleh Duda keren itu.
“Alex jika boleh jujur Aku memang menyukaimu, bahkan dengan status yang sudah tak bersitri dan mempunyai tiga orang putra. Namun soal keyakinan, itu sudah harga mati. Aku pun percaya bahwa agamaku lah yang paling benar.” Eliana berlalu meninggalkan Alex.