
“Ayo berangkat pak!” Mobil mewah itu melaju perlahan menyusuri jalan raya. Tempat pertama yang dituju adalah sekolah Andra dan Indra. Kedua Anak Alex itu turun, sebelum turun tak lupa mereka berdua menyalami Ayahnya dan pamit.
“Dadaa..” Andra dan Indra melambai saat mobil itu menjauh darinya. Alex memperhatikan kedua putranya di dalam mobil, mereka sedang memasuki pagar sekolah.
Alex yang duduk di kursi depan sedang memangku Anak bungsunya. Hendra terlihat menikmati perjalanan itu.
“Kita sudah masuk Kawasan Universitas Indonesia nih Pak Alex.” Ujar Pak Didit sembari menyetir mobil dan membuka kaca mobil diikuti oleh Alex yang membuka kaca mobil juga.
Alex memandangi Gedung dari Universitas satu persatu. “Besar juga ya Pak Kampusnya, Saya bisa nyasar nanti.” Terangnya. “Tidak akan nyasar, nanti Saya antar sampai di Gedung Fakultas Hukum Pak.” Sahut Pak Didit.
“Oh ya begitu, semoga saja Pak.” Ujar Alex. Ini pertama kalinya Alex menginjakkan kakinya di Kampus Universitas Indonesia. Jika Dia yang mengikuti Ospek itu bisa jadi Alex mengetahui Kampusnya lebih awal. Tetapi Alex tak berpikir panjang, bagaimana bisa Dia bisa mengenal Kampusnya lebih rinci? Tanpa mengikuti ospek.
“Pak Didit nanti bisa tolong jangan pulang dulu. Tungguin Saya selesai kuliah bisa Pak?” Perintah Alex kepada supir pribadinya itu. “Siap Pak Alex aman. Ada apa-apa nanti hubungi Saya saja.” Ujar Pak Didit yang kemudian Dia memberhentikan mobil tersebut.
“Ada apa Pak?” Tanya Alex. “Kita sudah sampai Pak.” Jawab Pak Didit. “Di sini?” Tanya Alex heran. “Iya di sini.” Jawab Pak Didit singkat. “Loh kok belajar di parkiran Pak?” Alex tak habis pikir.
“Ya ampunnn Pak Alex, ini ambil…” Pak Didit memberikan sebotol air mineral kepada Alex sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Alex memang sudah bego sekarang!” Gumam Pak Didit dalam hati. “Ini lebih baik Pak Alex minum dulu, sepertinya dari tadi Pak Alex kurang minum hingga tak bisa focus atau konsentrasi.” Saran Pak Didit yang sedikit prihatin melihat tingkah Alex pagi ini.
__ADS_1
“Oh iya benar terima kasih Pak.” Ujar Alex sembari meminum air mineral pemberian Pak Didit. “Glek..glek..glek..” Duda ganteng itu meminum habis air yang diberikan oleh Pak Didit tanpa bersisa. Melihat hal itu Pak semakin terheran.
“Ada apa yo Pak Alex, opo sampean belum sarapan yo?” Pak Didit bertanya dengan logat jawa nya. “Benar Pak, memang Saya belum sarapan.” Jawab Alex. Alex menaikkan suhu Ac mobilnya. Keringatnya mengalir jelas pada kening dan lehernya.
“Lah kalau belum kan tadi bisa mampir sarapan dulu. Waktu kita kan masih banyak.” Jelas Pak Didit yang menghela nafas panjang. Selama ini dimatanya Alex Pria yang ganteng dan percaya diri, tidak pernah Dia melihat Alex bertingkah aneh seperti ini.
“Sebenarnya bukan masalah sarapan atau tidaknya sih Pak. Saya meraga grogi, ini kali pertama Saya berkuliah Pak. Sudah puluhan tahun Saya tidak pernah merasakan lagi rasanya mengenyam Pendidikan. Dan itu membuat Saya bingung, khawatir, dan grogi Pak.” Jelas Alex sembari mengelap keringat menggunakan tissue yang Dia ambil di depannya.
“Oh seperti itu, atau kalau memang Pak Alex belum siap Kita pulang saja Pak.” Pak Didit menyarankan Alex untuk pulang bukan karena Alex grogi dan lain sebagainya. Dia lebih khawatir melihat Alex berkuliah dengan membawa Hendra ketimbang dengan Alex yang sibuk dengan mental lemahnya.
“Selain grogi Aku juga mikir Pak, gimana ceritanya Saya kesini bersama Hendra. Mana baru pertama kali lagi. Arghhhh…” Alex menyeru dalam hati. Dia merasa ada tekanan frustasi dari dalam dirinya.
Lekas Pak Didit membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Mengambil tas dan gendongan bayi milik Hendra. Lalu Pak Didit menghampiri Alex di kursi depan dan membukakannya pintu. “Mari Pak.” Ajaknya.
“Fiuhhhh… bismillahirahmanirrahim.” Ucap Alex pada bibirnya yang terdengar jelas oleh Pak Didit. Kemudian Alex memakai kacamata hitamnya. Memasang gendongan bayi yang berwarna hijau lalu mendudukkan Hendra di bagian depan bagai Ibu Kangguru yang sedang menggendong Anaknya.
“Wuiss mantep dah Pak Alex.” Puji Pak Didit. “Semangat terus Pak, pokoknya ada apa-apa Saya standby di sini menunggu aba-aba dari Bapak.” Ujar Pak Didit percaya diri.
__ADS_1
“Kali ini sepertinya Pak Didit bisa diandalkan.” Kata Alex dalam hati. Alex mengambil tas dukung miliknya dari tangan Pak Didit dan langsung memakainya. Badannya kini terlihat seperti seragam pasukan Brimob yang memekai rompi anti peluru namun bedanya Alex bukan memakai rompi melainkan memakai tas dukung di belakang serta gendongan bayi di depan beserta Hendra duduk menghadap ke Alex.
Sangat jelas perbedaan antara rompi Brimob dan kondisi Alex saat ini tetapi seperti itulah kira-kira.
“Saya pergi dulu Pak.” Ujar Alex melangkahkan kakinya. “Eits tunggu dulu Pak…” Tahan Pak Didit kepada Alex. Pada langkah kedua, langkah Alex terhenti dan menoleh melihat Pak Didit yang berlari kecil kembali ke kursi supir di mobil lalu Dia datang menghampiri Alex.
“Pakai ini Pak.” Kata Pak Didit sembari memberikan sebuah topi berwarna merah miliknya. “Topi ini semoga bisa membantu Pak Alex agar tidak terlalu dikenali. Mana tau nanti banyak fans Pak Alex di dalam.” Jelas Pak Didit.
“Nah kan hari ini Pak Didit tumben pinter.” Alex bergumam. “Baik Pak terima kasih Pak.” Jawab Alex kemudian pergi meninggalkan Pak Didit.
Pak Didit masuk ke dalam mobil, mobil itu tidak Dia matikan karena Pak Didit berniat untuk melanjutnya tidurnya yang tertunda. Dia menaikkan suhu Ac mobil, memutar lagu koplo lalu merebahkan kursi supir serta merebahkan badannya. Tak lupa Pak Didit membuka sedikit kaca mobil untuk sirkulasi udara di dalam mobil.
Alex hari ini mengenakan celana jeans standar berwarna biru. Kemeja putih lengan panjang dengan rompi berbahan dasar jeans berwarna senada dengan celana jeans yang ia pakai. Tetapi warna itu tidak matching dengan gendongan Hendra yang berwarna hijau stabilo. Serta sepatu kats warna putih.
Hendra mengenakan jeans celana panjang berwarna Abu-abu, sepatu berwarna hitam, dan kemeja berbahan kaos lengan pendek yang berwarna krem atau cokelat muda. Tak lupa kacamata hitam dan topi merah pemberian dari Pak Didit Alex pakai.
Berharap untuk bisa menyamar dan tidak menarik perhatian. Maka yang terjadi justru sebaliknya. Alex yang berjalan menunduk itu, setiap melewati mahasiswa lain, mahasiswa itu langsung menoleh ke arahnya. Bahkan mahasiswa atau pun mahasiswi yang jaraknya jauh dari Alex sudah memperhatikan Alex.
__ADS_1
“Ih itu siapa ya? Keran amat.” Ujar salah satu mahasiswi yang tak diketahui namanya. “Iya sih keren, tapi bawa anak gitu jadinya agak gimana gitu.” Jawab mahasiswi yang lain.