Duren Kampus

Duren Kampus
Masakan makan siang


__ADS_3

Diperjalanan pulang, “Pak Didit, apa masih sempat untuk menjemput Andra dan Indra Pak?” Tanya Alex yang sedang duduk di dalam mobil. Mobil mewah itu melaju santai.


“Kalau tidak macet masih sempat Pak.” Kata Pak Didit yang sedang menyetir itu. “Kalau macet gimana nanti Pak sama Andra dan Indra?” Tanya Alex, Dia sangat takut jika Anaknya pulang tidak ada yang menjemput. Rasa trauma atas kehilangan Indra masih berbekas di hatinya.


“Saya sudah pesan sama gurunya Pak Alex. Saya bilang tolong ditungguin sampai Saya datang.” Pak Didit mengambil sebatang rokok dan membuka kaca mobilnya.


“Alhamdulillah kalau gitu Pak.” Sahut Alex, ia lekas membuka juga kaca mobilnya kala melihat Pak Didit yang sedang menyempul asap rokok. “Pak tolong sebatang saja, kalau ada Anak-anak Saya di mobil tolong untuk tidak merokok ya Pak.” Pesan Alex.


“Iya Pak Alex.” Kata Pak Didit singkat. Lekas supir pribadi itu mematikan rokoknya dan membuang rokoknya yang masih sisa setengah itu.


“Engga coba tidur saja Pak? Pasti lelah hari pertama masuk kuliahnya.” Ujar Pak Didit sembari melirik Alex sekilas. “Ahh.. iya benar Pak. Memang rasanya melelahkan hari ini.” Sahut Alex.


“Ngomong-ngomong gimana kesan hari pertamanya Pak?” Tanya Pak Didit. “Ahhh tidak bisa Saya ceritakan panjang lebar Pak, yang jelas Saya dua kali kena usir dari kelas. Makanya sekarang Kita pulang agak cepat.” Jelas Alex.


“Ha… Apa? Pak Alex diusir dari kelas kok bisa?” Ujar Pak Didit yang pura-pura tidak tahu. “Ya jelas lah diusir lek lek lah wong Kamunya bawa Anak ke kelas.” Pak Didit bergumam.


“Iya Pak benar. Tapi Saya sedang tidak ingin membicarakannya lebih lanjut. Rasanya Saya lebih memilih untuk tidur sekarang. Hoaammm…” Alex menguap. “Ayah cucu…” Hendra menyela. “Iya sebentar ya..” Jawab Alex.


Kemudian Alex membuatkan susu untuk Hendra. Lalu Bapak dan Anak itu tidur bersama. Pak Didit melanjutkan perjalanan pulang.


“Pak, Pak Alex Kita sudah sampai Pak.” Ujar Pak Didit sembari membangunkan Ayah berserta Anaknya itu.

__ADS_1


“Hoamm..” Hendra menguap. “Ahh iya iya Pak.” Mata Alex terbuka, matanya langsung dikucek dan berkaca melihat apakah ada sesuatu atau tidak dipinggir mata itu, ternyata kosong dan tidak ada kotoran mata sehabis tidur.


Pak Didit turun menurunkan semua barang dan memasukkannya ke dalam rumah. Alex pun masuk kerumah bersama Hendra.


“Terima kasih Pak.” Ujar Alex. “Saya permisi mau jemput Andra dan Indra dulu ya Pak.” Kata Pak Didit. “Lah iya, kenapa tadi tidak mampir saja Pak?” Tanya Alex.


“Tadi sih sudah lewat tapi belum pulang Anak-anak dan masih sempat mengantar Pak Alex dulu jadi Saya anter pulang dulu Pak.” Jelas Pak Didit. “Ada-ada saja Pak Didit, kan bisa ditunggu saja Pak.” Gumam Alex.


“Ya sudah langsung ke sana ya Pak jangan mampir-mampir lagi.” Pesan Alex. “Siap Pak.” Jawab Pak Didit singkat. Kemudian Pak Didit pergi menjemput Abang dari Hendra tersebut.


Di dalam perjalanan Pak Didit menyetir santai sambil menyempul asap rokok tanpa batas. Tak lupa kaca mobil terbuka penuh. “Akhirnya Aku bisa merokok dengan bebas.” Gumamnya.


Sementara itu Alex yang masuk ke rumah bersama Hendra langsung menyalakan TV. Memutar video animasi edukasi dari Youtube, lalu Alex masuk ke kamar dan membereskan barang-barangnya.


Alex membuka lemari kitchen setnya dapurnya, tak ada satupun lauk disana. Duda itu membuka lemari es dan mengambil beberapa bahan makanan untuk di masak. Dia mengambil ayam dan sayur bayam.


Api kompor sudah hidup, minyak goreng sudah panas. “Syurrr…” Ayam mentah yang sudah dibumbui itu terperosot ke dalam kuali dan meletup-letup. Sambil menunggu Ayam yang digoreng matang, Alex membersihkan dan memotong sayur bayam.


Keran westafel dibuka, aliran air mengairi bayam, Alex mencucinya sebanyak lima kali sayur itu agar bersih. Kemudian Alex membuat sayur bayam bening di kompor sebelah kuali Ayam goreng. Selang beberapa menit, lauk pauk siap disajikan.


Setelah selesai memasak Alex mendekati Hendra dan melihatnya. Hendra masih tenang bermain sendiri dan menonton TV. Alex kembali ke dapur dan mencuci peralatan kotor selepas memasaknya tadi. Setelah beres Alex kembali ke ruang keluarga dan memenami Hendra.

__ADS_1


Gerkkk.. ponsel yang berada di kantong celana Alex bergetar. Langsung saja Dia mengecek dan membuka pesan itu. “Alex Kamu sudah cek email? Ada email masuk ga?” isi pesan tersebut yang tak lain dan tak bukan dari Najwa sang ketua kelas.


“Sebentar ku cek.” Balas Alex dalam pesan itu. “Iya sudah masuk thanks Najwa.” Alex kembali mengirim pesan kepada Najwa setelah mengecek kotak masuk emailnya.


“Okay, ada kendala hubungi Aku ya.” Balas Najwa. “Iya, terima kasih Najwa.” Balas Alex kembali. Kemudian Alex kembali bermain dengan Hendra.


Sebuah mainan berbentuk donat yang terbuat dari plastic sedang disusun oleh Hendra dengan bantuan sang Ayah. Mainan itu berulang kali disusun kala sudah tersusun rapi. Alex sedang bermain sambil mengedukasi Anak bungsunya.


Ding dong! Bel rumah Alex berbunyi. Lekas Dia membuka pintu rumahnya. Hendra berjalan menyusul di belakang Alex.


“Ayahhh..” Indra berkata sambil memeluk Ayahnya yang disusul pula oleh Andra. “Langsung ganti baju sana gih, jangan lupa tas sama baju digantung dulu. Habis itu ayo Kita makan.” Perintah Alex kepada kedua Anaknya itu.


“Iya Ayah.” Jawab Andra dan Indra bersamaan. “Ayo siapa yang duluan sampai kamar dia yang menang ya.” Kata Andra. “Ayo siapa takut!” Sahut Indra.


Kedua Abang Hendra tersebut seketika berlari kencang. Indra berlari sambil berbelok menghindari sofa di ruang tamu. Andra lebih unggul dengan meloncati sofa itu. Dan akhirnya, Andra terjatuh.


“Hahaha.” Tawa pecah dari Indra, Hendra maupun Alex. Seketika suasana rumah itu mencair, keluarga ini tertawa bersama. Bahkan Indra tertawa sambil berguling-guling dilantai.


Alex mendekati putra sulungnya. “Kamu tidak apa Andra?” Tanyanya tulus. “Tidak apa-apa Ayah hehehe.” Sahut Andra sambil tersenyum malu.


“Sudah jalan saja seperti biasa, jangan pake tanding-tanding lari lagi.” Pesan Alex. “Siap Ayah.” Jawab Andra sembari menaruh tangan memiring menyentuh jidat ala pasukan tantara yang hormat kepada komandannya.

__ADS_1


Andra berdiri dan berlari lagi. “Aku menang. Ueekkk..” Ejek nya saat sudah berada di pintu kamarnya. “Yah… Abang curang nih.” Sahut Indra cemberut.


“Sudah tidak apa, cepat ganti baju dan cuci tanganmu.” Ujar Alex sembari menyentuh punggung Indra. “Iya Ayah.” Jawab Indra singkat.


__ADS_2