
Alex berencana pergi untuk membawa Hendra imunisasi. Sebelum nya Hendra selalu di imunisasi di rumah. Namun sayang, dokter itu sedang sakit sekarang. Dan merekomendasikan Alex agar membawa Hendra di imunisasi ke rumah sakit tempat dokter tersebut membuka praktek. Disana ada temannya sesama dokter yang akan memberi imunisasi lanjutan kepada Hendra.
Jam praktek dokter tersebut dimulai pukul sembilan pagi ini. Jadi Alex lekas beberes rumah dan mempersiapkan segala keperluan Hendra. Tak lupa pula Alex membawakan Hendra mainan kesayangannya yaitu robot ironman.
Tepat pukul delapan pagi, Alex sudah duduk di teras rumah bersama Hendra menunggu kedatangan pak Didit. Setengah jam berlalu pak Didit belum pulang dari mengantar Andra dan Indra ke sekolah.
“Pak Didit sudah dimana? Saya harus mengangtar Hendra kerumah sakit untuk imunisasi. Bisa lebih cepat lagi pak?. Jam prakteknya jam sembilan pagi ini.”
Ujar Alex kepada pak Didit didalam telpon. Alex sedikit mendesak. Namun tiba-tiba seluruh wajah Alex ditutupi dengan selendang hitam. Sontak Alex berdiri dan menggeleng-gelengkan kepala. Bukan terlepas, selendang semakin melilit. Hendra memperhatikan dengan seksama dengan wajah datar. Entah apa yang dilakukan ayahnya, pikirnya. Pikir seorang balita yang belum mengerti.
Alex kesal. Langsung saja dia menarik selendang itu. Sekali tarik, lepas. Alex melirik kiri dan kanan. Celingak celinguk ditempatnya, tapi tidak jua menemukan jemuran. Dia berjalan dan berhenti di halaman rumahnya. Meninggalkan Hendra sendiri di teras.
Alex menoleh kearah kanan tepat rumah pak Didit berada. Tidak ada jemuran didepan rumah itu. Hanya ada suara pasar yang bergema dari dalam rumah. Alex mencoba melangkah kearah kiri nya sekarang. Berjalan menuju rumah bu Tuti tetangga yang dia tanyai ketika anaknya sakit. Belajar untuk mengurus anak yang sakit tempo itu.
Alex terkejut. Alex menganga sekarang. Dia melihat sosok yang tak dikenalnya. Bukan, jelas itu bukan bu Tuti. Bu Tuti seorang ibu-ibu paruh baya berambut putih dan berambut pendek. Sedangkan dia, seorang gadis berambut panjang. Rambutnya basah, seraya berkata bahwa aku baru habis mandi.
Gadis itu mengibaskan jemurannya. Percikan pakaian basah itu mengenai wajah Alex. Bahkan masuk mulut Alex yang tengah terbuka. Bukan kaget, Alex mengecap dan menelan percikan air dari pakaian yang di jemur gadis itu.
Setelah selesai menjemur pakaian gadis itu mengangkat wadah tempat dia menaruh pakaian yang mau dijemur tadi. Menunduk, mengangkat dan berdiri. Saat berdiri dia bertatap wajah dengan Alex yang berdiri diam bak patung.
Gadis itu melirik tangan Alex yang memegang selendang hitam miliknya.
“Loh kenapa bisa selendang hitam itu dengan abang?.”
Tanya gadis itu heran. Sambil menunjuk selendang miliknya. Alex tidak merespon. Langsung saja gadis itu mendekatinya. Alex masih saja mematung. Syukurnya mulut yang terbelanga itu sudah tertutup saat menelan percikan kain basah tadi. gadis berambut panjang itu mengambil selendang milik nya. Perlahan. Alex tidak bergerak sedikit pun. Atau menyapa misalnya. Hanya matanya yang bergerak mengikuti alur ditariknya selendang itu secara perlahan.
Gadisi itu sedikit takut melihat Alex. Dia merasa aneh melihat seorang pria yang mematung. Setelah mengambil selendangnya dia berlari masuk ke rumah. Tanpa memperdulikan wadah tadi. Dia meninggalkannya.
Kini Alex tersadar bahwa sudah cukup lama dia mematung. Seketika dia salah bertingkah. Maju selangkah arah kerumah bu Tuti kemudian membalik arah tiga ratus enam puluh derajat. Segera masuk rumah, menutup pintu, dan mengintip dari gorden jendela.
__ADS_1
Alih-alih dia berharap melihat gadis itu lagi. Dia malah mendapati Hendra yang masih duduk bermain sendiri ditempat duduknya tadi.
“Astaghfirullah, iya Hendra.”
Segera Alex keluar rumah, sebelumnya dia merapikan rambut lalu keluar. Alex kembali duduk menemani Hendra. Sesekali Alex melirik kesebelah kiri. Sayang, apa yang dia harapkan. Tak kunjung keluar. Tak lama pak Didit datang.
“Maaf pak Alex tadi itu macet pak.”
Segera pak Didit menjelaskan sebelum ditanya. Alex tidak ambil pusing. Dia bergegas masuk mobil. Dilanjutkan dengan pak Didit yang mengangkat tas berisi perlengkapan Hendra.
“Pak Didit, kita ada tetangga baru lagi ya?.”
Tanya Alex penasaran. Dia tengah duduk di bangku depan sambil memangku Hendra.
“Tetangga baru?”
Pak Didit menjawab sekaligus bertanya. Dia berusaha mengingat warga yang melapor sebagai penghuni baru. Hanya Eliana yang melapor, selebihnya untuk keperluan lain.
Pak Didit kembali bertanya. Alex semakin heran dan penasaran.
“Atau jangan-jangan dia tidak melapor ya pak?”
Tanya Alex lagi. Tangannya memegang dagu seraya berpikir.
“Memangnya tetangga baru kita itu siapa pak Alex?. Eh saya maksud, dimana bapak melihat ada warga baru?.”
Pak Didit yang berpikir sekarang. Apa betul ada seorang warga yang pindah dan tidak melapor.
“Tadi selagi saya menunggu pak Didit datang. Saya melihat seorang gadis di rumah bu Tuti pak.”
__ADS_1
Alex menjelaskan tidak rinci kali ini. Dia malu, dia tahu kalau tingkahnya tadi memalukan.
“Oalahhhh pak Alex. Perempuan itu bukan warga baru pak. Memang betul dia jarang keluar rumah. Sama saja toh seperti pak Alex. Jarang keluar rumah hehehe.”
Ujar pak Didit jujur. Alex mengerti sekarang.
“Oh ya pak, pak Alex juga perlu tahu. Bahwa perempuan yang bapak sebut gadis itu, dia bukan lah seorang gadis.”
Pak Didit menambahkan.
“Maksudnya gimana pak?.”
Kini kening Alex mengkerut. Berpikir yang tidak-tidak. Pak Didit menoleh dan mengerti ekpresi dan isyarat yang ditunjukkan Alex.
“Oh bukan, seperti yang saya maksud pak Alex. Maksud saya adalah perempuan itu adalah seorang Janda. Adik bungsu bu Tuti. Dia pindah setahun lalu hampir bertepatan dengan menduda nya pak Alex.”
Jelas pak Didit. Memang pak Didit pak RT yang baik agaknya. Alex senyap. Menyimak. Sekaligus malu jika membayangkan tingkahnya tadi.
“Perempuan itu bernama Aisyah pak. Dia janda yang tidak memiliki anak. Bisa dibilang janda kembang. Dengar-dengar dia itu bercerai dengan mantan suaminya karena suaminya suka mabuk. Juga ringan tangan pak. Bu Tuti yang mengetahui hal itu tidak menerima adik bungsu nya diperlakukan seperti itu. Saat melihat adiknya babak belur, lebam. Bu Tuti mengambil tindakan dan melaporkan nya ke polisi yang berujung perceraian.”
Jelas pak Didit panjang lebar. Penyakitnya kumat. Ditanya satu dijawab sepuluh. But its okay. Alex menyukai hal itu. Hendra tertidur tanpa dielus elus, mendengar celoteh pak Didit, agaknya dia merasa dibacakan sebuah dongeng.
“Mba Aisyah itu wanita soleha pak Alex. Dia rajin sholat berjamaah di masjid pada saat subuh dan maghrib. Juga rutin mengikuti pengajian. Istri saya sering bercerita kepada saya. Ketika pengajian, dia tidak banyak merumpi seperti ibu-ibu yang lain. Dia lekas pulang jika pengajian selesai.”
Pak Didit melanjutkan dengan seksama. Seratus!. Tak lagi dijawab sepuluh, kali ini dia menjawab dua puluh. Serasa Alex ingin mentransfer uang kerekeningnya.
“Dan perempuan janda kembang itu…”
Tak sempat pak Didit menyelesaikan kalimatnya Alex memotong.
__ADS_1
Pak Didit kita sudah sampai tadi. Pak Didit melewati rumah sakit itu. Sepertinya kita harus memutar arah pak.
Pak Didit sontak tepok jidak!. Dan segera berfokus diri ke jalan raya.