
“Emm.. Memang Singkong goreng terenak cuman ada di Bikun.” Eliana mengunyah Singkong panas itu sambil menggeleng-geleng kagum. “Benar Eliana, enaknya tiada tara mah! Cocok banget lagi sama sambalnya.” Sahut Dinda. Sebentar saja mereka berdua melahap habis Singkong goreng itu.
“Kurang nggak sih Din?” Tanya Eliana yang masih mau makan lagi. “Ho’oh kurang, pesan satu lagi yuk.” Jawab Dinda yang merasa sama.
Dinda mengangkat tangan kanannya sebagai kode panggilan untuk memesan lagi. Seseorang yang lain menghampirinya lagi dengan membawa buku kecil serta pensil. “Kami mau pesan lagi Singkong Goreng Sambal Roa nya ya, satu porsi.” Pesan Dinda yang kemudian pesanan itu tercatat pada buku kecil yang dibawa oleh orang itu. “Baik, ditunggu ya Mba.” Sahutnya.
“Sruttt..” Dinda meminum Es Teh nya. Eliana sedang bermain ponsel dan menatap layar ponselnya. Jempol nya sibuk naik ke atas dan bawah membaca ulang mata kuliahnya pada awal masuk Universitas.
“Kamu lagi ngapain Eliana?” Tanya Dinda penasaran. “Ini lagi coba baca buku makul semester awal.” Jawab Eliana ringkas. “Ohhh… untuk Alex ya?” Tanya Dinda lagi. “Iya hari ini Dia janji ke rumah kan.” Sahut Eliana.
“Eh ngomong-ngomong Pak Ujang mana Eliana, kok belum sampai juga.” Kata Dinda sembari mengaduk-ngaduk es teh di atas meja. Dinda tidak sabar untuk bertemu Alex. “Paling masih kena macet, kalau sudah sampai Dia pasti nelpon nanti.” Jawab Eliana.
Dinda termanyun merasa bosan menunggu bahkan Es Teh nya sudah habis. Dinda melirik Es Teh milik Eliana, masih ada setengah. “Kalau Kamu engga minum lagi, buat Aku aja Es teh nya.” Kata Dinda sembari menopang dagu.
“Ini minum aja.” Eliana mendorong gelasnya dan menukar gelas yang berisi setengah itu dengan gelas yang kosong. “Ahh.. Thanks Eliana.” Jawab Dinda dan langsung menyedot habis Es Teh itu. Eliana terlihat cuek dengan focus membaca pada layar ponselnya.
“Tumben, kemarin jutek sama Alex sekarang sepertinya Kamu sudah mulai respect sama Alex.” Dinda melipat kedua tangannya di atas perut sembari memandangi Eliana. Eliana menghentikan kegiatan membacanya dan menaruh ponselnya dalam tas.
__ADS_1
“Sebenarnya Aku sedikit males sih Din ngeladenin si Alex. Tapi Kamu sendiri yang bilang kemarin kalau Tuhan tidak akan mengirimkan seseorang kepada Kita untuk minta tolong melainkan hanya Kita yang bisa membantunya.” Jelas Eliana.
“Eh iya bener hehehe…” Sahut Dinda. Dia tertawa kecil sembari menggaruk ringan rambut kepala sebelah kanannya. “Lagi pula biar Aku engga keliatan o’on amat, mending baca ulang makul yang dulu kan. Karena kemarin Dia itu membawa buku mata kuliah saat ke rumah. Jadi tebakanku Dia pasti mau minta tolong diajarin.” Terang Eliana.
“Belum tentu sih, mana tau Alex mau minta tolong tentang yang lain.” Kata Dinda. “Iya juga sih, tapi Kita lihat nanti deh.” Sahut Eliana sembari memeluk tas. Lalu Eliana merasakan getaran dalam tas itu dan mengambil ponselnya.
“Nih lihat.” Eliana memperlihatkna layar ponselnya pada Dinda. “Pak Ujang.” Ucap Dinda saat melihat layar ponsel milik Eliana.
“Halo Pak di mana?” Eliana mengangkat panggilan suara itu. “Saya di parkiran Mba.” Jawab Pak Ujang. “Pak ke sini aja ke kantin.” Perintah Eliana. “Baik Mba.” Jawab Pak Ujang singkat. Kemudian Pak Ujang berbelok dan menginjak gas mobil menuju kantin. Panggilan itu diakhiri oleh Eliana.
“Tuh sepertinya Pak Ujang sudah sampai.” Kata Eliana saat melihat mobil sedan yang berjalan perlahan dan berhenti. Eliana dan Dinda berdiri meninggalkan kantin Bikun, tak lupa sebelum meninggalkan kantin Eliana membayar tagihan makanannya.
“Jangannn.. Ini bayaranku yah.” Dinda memasukkan uang kertas itu ke dalam kantong celana jeans Eliana. “Dinda sudah engga usah, jangan gitu ahhh.. ini beneran Aku traktir.” Eliana mengembalikan uang Dinda.
Karena jarak yang dekat, Eliana mengembalikan uang Dinda tepat di samping mobil. “Udah Mba Dinda rejeki mah jangan ditolak, kalau enggak mau buat Saya aja sini.” Tawar Pak Ujang sembari mengadahkan tangannya.
Dinda tidak menjawab Pak Ujang, Dia kembali menaruh uang itu ke dompet miliknya lalu menaruh lagi dompet itu ke dalam tasnya. “Ayo naik.” Ujar Eliana yang sudah masuk duluan ke dalam mobil. Lalu Dinda menyusul masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Pak langsung pulang aja ya.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya. “Siap Mba.” Jawab Pak Ujang singkat.
Sesampainya di rumah, sebelum masuk Dinda menoleh ke rumah Alex. Dinda melihat beberapa orang tengah menunggu di depan rumah Alex. Tak ketinggalan Dinda pun melihat Bu Tanjung yang duduk di kursi teras.
Dinda menunggu kedatangan Alex selama berjam-jam di rumah Eliana. “Menunggu memang hal yang membosankan.” Gumamnya. “Eliana Alex kemarin janji datang jam berapa ya?” Dinda menghampiri Eliana yang sedang memasak mi instan di dapur.
“Tidak usah ditunggu-tunggu amatlah, yang perlu Dia. Kalau Alex tidak datang Kita juga engga rugi kan.” Jawabnya cuek. Eliana memasukkan mi keriting itu ke dalam air yang mendidih.
“Emm.. Eliana sih iya engga perlu-perlu amat, tapi kan Aku mau ketemu Alex.” Dinda bergumam dalam hati sembari cemberut. Takut ketahuan langsung saja Dinda memasang wajah yang tersenyum dan bertanya kepada sahabatnya itu. “Masak Mi apa? Mi goreng atau rebus?”
“Mi rebus rasa soto, Kamu mau?” Tawar Eliana. “Mau dong.” Sahut Dinda. “Okay Kamu tunggu saja di meja makan biar Aku masakin.” Ucap Eliana. “Widihhh.. lagi rajin nih, Okay!” Jawab Dinda.
Selang beberapa menit mi rebus itu sudah siap. Pertama Eliana meletakkan semangkuk mi panas di atas meja yang kursinya kosong. “Ini untuk Aku karena engga pakai cabe rawit dan telur.” Kata Eliana selepas meletakkan mangkuk itu. Dinda mendengar tanpa merespon, dia sedang sibuk dengan layar ponselnya.
Lalu Eliana berjalan membawa mangkuk dengan isi yang sama dan berencana meletakkannya di depan sahabatnya. “Ini buat my bestie yang pakai cabe rawit super pedas dan pakai telur.” Kata Eliana yang kemudian menurunkan mangkuk panas itu sambil melirik layar ponsel Dinda.
“Nonton apaan sih Din? Tanya Eliana penasaran. “Wushhh…” “Auww.. panas-panas aduh huf-huf” Mangkuk panas itu tumpah tepat di lengan Dinda. Dinda kesakitan. “Aduh maaf-maaf Din” Ujar Eliana.
__ADS_1
Eliana bergegas mengambil tissue dan mengelap lengan Dinda. “Aduh perih banget, aduh..” Dinda masih merintih kesakitan. Eliana kelabakan, Dia kebingungan harus berbuat apa. Yang terlintas dibenak Eliana hanya menelepon Pak Ujang.