
Eliana keluar rumah menggunakan almamater kuning. Masuk ke mobil jemputan pak Ujang. Alex mengintip di balik gorden jendela rumahnya. Dia mengambil laptopnya.
Membuka Youtube dan menulis “penerimaan tahun ajaran baru universitas indonesia”. Muncul video yang di harapkan Alex. Alex menyimak dan menulis beberapa point penting dari video itu.
Setelahnya, dia mengklik channel nya. Melihat-lihat pekerjaan nya yang sudah satu bulan dia tinggalkan. Ribuan komentar yang masuk. Alex membaca beberapa komentar teratas yang masuk. Semua menanyakan kebaradaan Alex. Subscriber nya ternyata menunggu Alex berhari-hari untuk live streaming. Bahkan subscriber menurun sepuluh persen dari jumlah sebulan lalu.
Hendra menghampiri Alex. Alex menggapai dan memangkunya. Dia berencana melakukan live streaming saat itu juga.
“Hai semuanya, ini aku Alex. Bersama dengan balita kesayangku Hendra. Saya disini tidak untuk membuatkan menu untuk kalian. Lihatkan di belakang saya bukan dapur. Melainkan ruang tamu. Saya ingin meminta maaf kepada seluruh pelanggan channel saya yang sudah kecewa. Saya sungguh minta maaf karena tidak melakukan update menu bubur tim untuk adek-adek balita di luar sana. Dan karena tidak memberikan menu inspirasi untuk ibunda nya juga.”
Alex berkata dengan raut wajah yang sedih. Bukan untuk mendramatisir keadaan. Tetapi itulah yang dia rasakan sekarang. Sedikit yang menonton kali ini. Yang biasanya bisa mencapai tiga juta penonton. Hari ini hanya sembilan ratus ribu yang sedang menonton Alex live.
“Penyebab absen nya saya tidak memberikan menu terbaik saya adalah saya sedang mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Saya terjatuh dari atap rumah dan mengalami patah tulang di bagian belakang. Hal itu mengharuskan saya untuk operasi. Hingga saya Absen selama satu bulan.”
Alex melanjutkan menjelaskan kronologi absen nya dia dari Youtube. Mungkin sekalian curhat barangkali. Dengan menceritakan kejadian secara rinci dari awal sampai akhir, Alex menutup live streaming dengan mengangkat tangan Hendra untuk melambai.
Seketika komentar membanjir. Pujian dan dukungan kembali datang dari penjuru kota. Emak-emak yang baper bahkan menangis melihat video itu.
Tak butuh waktu dua puluh empat jam. Hanya enam jam setelah live steaming itu, Alex kembali viral dan menjadi top of searching Youtube. Luar biasa!
Setelahnya Alex melanjutkan dengan mengurus Hendra. Lalu menghubungi pak Didit.
“Assalmualaikum pad Didit, boleh saya minta tolong pak?.”
Tanya Alex di telpon yang tersambung dengan pak Didit.
“Walaikumsalam iya boleh dong pak. Pak Alex ini ada-ada saja. Kalau pak Alex yang minta tolong saya tidak berani menolak pak hehehe.”
Rayu pak Didit kepada Alex sembari tertawa ringan. Bukan tidak dia seperti itu. Uang dua juta sudah mendarat kereningnya terlebih dahulu.
“Begini pak, tolong bapak pergi ke universitas indonesia. Ambilkan brosur, formulir, atau apa pun keperluan untuk penerimaan mahasiswa baru pak.”
Jelas Alex dengan jelas. Alex menelpon memandang rumah Eliana. Selain keinginan yang sejak lama ini ingin berkuliah, dia semakin bersemangat ingin masuk universitas agar selalu bisa bertemu dengan Eliana. Alex mulai menaruh hati pada gadis cantik itu.
__ADS_1
“Oh baik pak, siap pak!”
Jawab pak Didit dengan sigap. Semua di lakukan dengan sempurna. Tanpa ragu mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di universitas indonesia. Mengambil fakultas hukum sama seperti fakultas yang di ambil oleh Eliana.
Berharap, selain di balik gorden jendela rumahnya, di kampus nanti dia bisa bertemu dengan Eliana.
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru masih dua minggu lagi. Alex tak sabaran agaknya. Setiap hari dia membuka email masuk miliknya. Berharap ada email masuk dari universitas indonesia dan menyatakannya di terima di universitas itu.
Dan dia melalui hari demi hari seperi biasanya. Menjadi ayah dan merangkap menjadi seorang ibu.
Ada satu hal yang lupa di pikirkan oleh Alex. Ketika dia berkuliah, siapa yang akan menjaga anak-anaknya?. Tentu dia akan lebih kewalahan lagi bukan?. Dengan kehariannya saja mengurus tiga anak tanpa pembantu. Mengurus rumah dan sekaligus bekerja. Itu sudah membuatnya terpelanting kepentok tedmon. Itu pun sudah di bantu dengan pak Didit mengantar jemput anaknya.
Kalau di tambah lagi dengan berkuliah? Tidak bisa di bayangkan bukan. Tetapi itu menjadi keputusan final Alex yang memang sejak lama mendambakan merasakan bangku kuliah.
*
*
“Pak Ujang nanti tidak usah di jemput ya. Aku nebeng Dinda. Mau main kerumahnya.”
Mereka berdua merasa ada yang kurang jika tidak memasuki sekolah yang sama sejak TK. Tetapi mereka memiliki kehidupan yang bagaikan langit dan bumi.
Eliana keluarga terpandang, kaya, dan terhormat di lingkungan masyarakat. Ayahnya pemilik perusahaan tambang emas terbesar di indonesia. Sedangkan Dinda, anak dari tukang ojek gang mawar.
Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang persahabatan mereka berdua. Latar belakang keduanya tidak menjadi sesuatu yang menghambat persahabatan mereka melainkan makin mengeratkan dan membantu satu sama lain.
Eliana menghampiri Dinda dan duduk di bangku tepat di samping kirinya.
“Loh potong rambut kamu din?.”
Tanya Eliana heran. Dinda memotong rambutnya sebahu. Sama seperti Eliana. Namun Eliana tahu betul kalau Dinda itu selalu berambut panjang dari TK. Dan bapak nya juga selalu suka melihat Dinda berambut panjang.
“Iya ini, entah kenapa aku ingin berambut pendek. Soalnya bosan dari dulu berambut panjang. Sesekali kepengen nyobain hal baru.”
__ADS_1
Eliana hanya diam. Dia menyadari hal yang aneh. Seperti bukan Dinda yang di kenalnya. Tapi itu Dinda bukan orang lain. Dan mungkin memang sedang ingin mencoba hal baru.
“Oh gitu, okay tapi rambut pendek tidak mengurangi kecantikan kamu din. Tetep cantik eh.”
Kata Eliana sembari membentuk lingkaran menggunakan tangannya dan menaruhnya di kedua matanya.
Dinda hanya tersenyum tidak merespon banyak. Tidak pernah sekalipun dia merasa cantik di depan Eliana. Karena Eliana terlalu sempurna baginya. Cantik, kaya, bermartabat, di tambah lagi Eliana adalah gadis yang baik. Sungguh sempurna. Sedangkan dia, hanya seorang anak tukang ojek bermodalkan kepintaran.
“Hus jangan melamun, pak dosen sudah masuk tu.”
Tegur Eliana kepada Dinda. Dan di lanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar.
*
*
Ningnong…ningnong… Alex di kejutkan dengan bunyi bel rumahnya sendiri. Untung saja Hendra tengah bermain di atas karpet. Bukan sedang tidur, kadang-kadang suara bel yang membangunkannya.
Lekas Alex membuka pintu. Terlihat pegawai pengantar surat berbaju oren menunggu di depan pintu.
“Selamat pagi pak, saya dari kantor pos. Ini ada surat untuk bapak. Apa benar bapak adalah bapak Alex cornelius?.”
Tanya pegawai kantor pos itu. Alex mengambil surat itu dan memberi paraf tanda penerimaan surat.
“Iya benar itu saya.”
Jawab Alex singkat tanpa basa basi.
Setelahnya petugas kantor pos itu permisi dan pergi.
Alex membuka amplop cokelat itu. Di dalam nya berisi surat yang pengirimnya dari universitas indonesia.
Sekejap dada Alex berdegup kencang. Pantas saja ketika mengecek email tidak ada. Pemberitahuannya melalui surat ternyata. Lekas Alex membuka dan membaca surat itu.
__ADS_1
Amazing!! Alex di terima menjadi mahasiswa di fakultas hukum universitas indonesia. Selamat Alex. Selamat berkuliah!