Duren Kampus

Duren Kampus
Makan bareng Alex


__ADS_3

“Ergh..” Hendra sendawa. Alex melirik Hendra lalu tersenyum. Pak Didit juga ikutan tersenyum saat mendengar sendawa Anak yang berumur dua tahun itu. Sedangkan Hendra memanyunkan bibir lalu tertawa.


“Itu sepertinya Alex Din.” Eliana menunjuk ke arah Alex yang sedang tertawa bersama Anaknya dan Pak Didit. Mata Dinda berbinar saat melihat Alex tengah tertawa, gigi rapi yang putih, kulit putih dan hidung mancung miliknya sangat sempurna saat dipandang dari samping seperti itu.


Seketika Dinda tersipu malu, pipinya memerah, Dia masih saja memandang Alex dan berdiri kaku seperti patung. Eliana yang melihat ekspresi Dinda mulai bingung, ekspresi yang baru pertama kali Dia temukan pada sahabatnya itu.


“Din Kamu kenapa? Kebelet pipis?” Tanya Eliana sembari menyentuh punggung sahabatnya. “Hadew” tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena terpesona dengan wajah Duda ganteng itu.


“Tidak Eliana, Aku sedang tidak ingin pipis. Tadi tiba-tiba perutku keroncongan aja. Yuk kita makan.” Ajak Dinda yang langsung merangkul lengan Eliana dan mengajaknya menuju ke meja Alex.


Langkah Dinda maju dua langkah, lengan Eliana tertarik, tetapi Eliana masih berdiri tegap tak bergerak. Dinda yang menarik lengan sahabatnya itu otomatis mundur satu langkah. “Ada apa Eliana?” Tanya Dinda.


“Aku pengennya makan di Bikun Din.” Terang Eliana. “Ya ampun Eliana please deh makan di tempat Alex aja yuk.” Pinta Dinda dalam hati. “Loh kenapa begitu Eliana?” Tanya Dinda. “Entahlah.” Jawab Eliana singkat.


“Eliana bukannya tadi sudah bilang sama Alex kalau mau ke sana. Jangan berjanji jika tidak bisa menepatinya Eliana. Lebih baik sejak tadi kau menolak ajakan makan Alex.” Jelas Dinda, tentu agaknya Dia yang akan kecewa berat jika makan bareng Alex.


“Tapi…” Ujar Eliana. “Ya sudah kalau begitu mari ke kantin Bikun.” Sahut Dinda, Dia kembali menjadi sahabat Eliana, sahabat yang selalu mengalah dan mengikuti kemauan Eliana.


“Terus bilang apa sama Alex nanti?” Tanya Eliana. “Yah mana Gue tauk! Ribet amat sih Elu Eliana fiuh.” Ujar Dinda menggunakan logat khas Jakarta.


“Yah sudah Kita ke sana saja makan bareng Alex.” Ucap Eliana dan menarik lengan Dinda. “Ya ampunnn… ya sudahlah.” Sahut Dinda menampakkan sedikit wajah yang kesal namun dalam hati Dia sangat kegirangan.


“Hai Alex..” Tegur Dinda saat berdiri di depan meja Alex bersama Eliana. “Hai Dinda.” Sapa Alex. “Akhirnya Dia menyapaku.” Dinda bergumam. “Hai Eliana, silahkan duduk.” Kata Alex yang menunjukkan satu kursi yang kosong.


“Engga bisa Lex, kursi cuman satu. Aku ke sini sama Dinda.” Sahut Eliana. “Din Kita duduk di meja itu saja yuk.” Ujar Eliana sembari menunjuk meja yang kosong.


“Pak Didit tolong ambilkan kursi Pak.” Perintah Alex kepada supirnya. “Baik Pak.” Jawab Pak Didit singkat. lalu Pak Didit mengambil satu kursi dan menaruh kursi tersebut di sampingnya.

__ADS_1


“Mau pesan apa?” Tanya Alex. “Kamu pesan apa Lex?” Tanya Eliana balik. “Kami sudah makan tadi, piring sudah di ambil tadi.” Sahut Alex.


“Jadi Kamu sudah makan? Terus ngapain ngajak makan bareng.” Jawab Eliana ketus. “Ehmm… maaf Pak Alex Saya permisi merokok saja ya Pak. Ini kursinya Saya kembalikan lagi ke tempat tadi. Saya mau pindah meja saja dan sekalian merokok.” Ujar Pak Didit lalu mengembalikan kursi yang diambilnya tadi.


“Hendra mau ikut Bapak?” Tanya Pak Didit pada balita itu namun Hendra menggeleng. “Ya sudah biarkan saja Hendra di sini Pak.” Sahut Alex.


“Aku masih harus banyak mengobrol tentang Kampus Eliana. Kamu kan seniorku paling tidak Kamu tahu banyak dari pada Aku.” Jelas Alex. “Mau tahu soal Kampus enggak harus ke Kita, kan banyak yang lain.” Eliana menjawab ketus.


“Ehmm… Eliana lebih baik Kita pesan dulu, jadi bisa menunggu sambil mengobrol.” Kata Dinda sambil memegang paha Eliana. Saat Eliana melihatnya mata Dinda langsung membulat memberi isyarat untuk selalu baik.


“Mba tolong ke sini?” Ujar Eliana memanggil pelayan kantin. “Kita pesan Sop bening satu, Sop Betawi satu minumnya es jeruk dua ya.” Kata Dinda kepada pelayan kantin yang sudah menghampiri. “Thanks Din sudah pesanin.” Ujar Eliana.


Akhirnya mereka banyak mengobrol mengenai Kampus hingga Alex mengerti. Obrolan itu tentu di dominasi oleh Dinda. Karena Eliana terlihat kesal hari ini, sedangkan Dinda dengan senang hati ingin bertemu Alex.


Eliana dan Dinda telah selesai makan. Sesekali Dinda mengajak Hendra mengobrol, tetapi Balita yang satu itu tidak banyak merespon Dinda dan dengan Eliana, Hendra tidak begitu mengenalnya.


“Ini..” Alex lebih dulu memberikan uang kertas miliknya. “Jangan.. ini saja Mba.” Eliana menepis lengan Alex dan ingin membayar tagihan makan siangnya. “Engga ini aja Mba.” Tambah Alex.


“Eliana Saya yang mengajakmu makan bareng, jadi biar Saya yang membayar makan siangmu.” Terang Alex lalu kembali menaruh uang kertas miliknya di atas nampan kecil tempat tagihan diletakkan.


Kemudian pelayan itu hanya mengambil uang pemberian Alex. “Kembaliannya untuk Mba saja ya.” Ucap Alex sembari tersenyum. “Biak terima kasih.” Sahut pelayan itu.


Eliana mengembalikan uangnya ke dalam dompet. “Setelah ini apa kalian berdua masih harus masuk lagi?” Tanya Alex kepada dua orang gadis yang ada di depannya itu.


“Iya benar, masih ada satu mata kuliah lagi yang harus Kami hadiri.” Jawab Dinda. “Oh begitu, kalau Saya malah engga ada lagi jadi pulang saja hehe..” Sahut Alex.


“Eliana apa besok mau berangkat bareng ke Kampus?” Tanya Alex. “Tidak usah Alex, ada Pak Ujang yang mengantar jemputku tiap hari.” Jawab Eliana.

__ADS_1


“Ahhh… sayangnya bukan Aku yang ditawarin.” Dinda menyeru dalam hati, ingin cemberut tapi enggan memperlihatkannya.


“Nanti kalau ada apa-apa sama Pak Ujang, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada Pak Didit untuk mengantarmu Eliana.” Tawar Alex sambil tersenyum. Semenjak ditinggal Nindi baru kali ini Dia begitu ramah terhadap perempuan sampai harus menawarkan Pak Didit untuk mengantar jemput Eliana.


“Oh begitu terima kasih bantuannya.” Jawab Eliana tersenyum balik. “Kalau begitu Kami duluan ya, Ayok Din.” Eliana berdiri dan langsung menarik lengan Dinda.


“Eh..eh iya Kami duluan Lex, bye.” Dinda melambai sembari ditarik oleh Eliana dan meninggalkan Alex.


“Kok buru-buru amat sih Din. Kita masuk kan masih setengah jam lagi.” Dinda berjalan cepat mengikuti jalan Eliana. Eliana berhenti dan menoleh ke arah Dinda. “Din kok Aku liat Dia suruh pergi ke Kampus bareng tadi kayak ganjen gitu ya.” Jelas Eliana.


“Ya ampun Eliana.. itu bukan ganjen Dia itu sedang berbaik hati sama Kamu karena Kamu tetangganya. Alex itu bukan type pria yang seperti itu Eliana.” Kata Dinda. Dua sahabat itu melanjutkan langkahnya.


“Maksudmu gimana sih Din.” Jawab Eliana ketus. “Begini, Alex itu sepeninggal istrinya, Dia belum pernah menikah lagi. Jangankan mau ganjen atau punya pacar, keluar rumah saja jarang banget Eliana. Dia itu sehari-hari cuman ngurusin Anak.” Jelas Dinda.


“Kok Kamu tahu sih, kan yang tetanggaan Aku.” Ujar Eliana menunjuk dirinya sendiri. “Apa Kamu lupa kalau Aku salah satu Subscriber-nya Alex hehe..” Sahut Dinda.


“Oh iya ya..” Kata Eliana. “Tapi Aku tahu Dia pria baik-baik bukan dari Akun Youtube nya sih. Bu Tanjung istri Pak Didit sering banget ngomongin Alex kalau lagi Live di Instagram. Disitu lah Kami semua yang nge-fans sama Alex jadi bisa tahu pribadinya Alex dan kesehariannya diluar konten membuat bubur timnya.” Jelas Dinda.


“Ya ampunnn ternyata Kamu fansnya Alex, kirain cuma Subscriber biasa hahaha..” Eliana tak menyangka kalau sahabatnya itu adalah fans Alex. “Kalau gitu mau dong ya Kamu tinggal bareng Aku pleaseee…” Tambah Eliana. Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Emm..” Dinda terlihat berpikir. “Mau banget Eliana. Aku sangat mau kapan lagi bisa bareng Alex dan sahabat.”Dinda menyeru dalam hati. Dia merasa seperti sedang mendapatkan lotre.


“Maaf Eliana.. Aku tidak bisa, jika Aku tinggal bersamamu, Ayahku akan tinggal sendirian di rumah dan Aku sungguh tidak tega meninggalkannya. Apalagi hanya sekedar ingin melihat Alex, mosok Aku harus ninggalin Bapak.” Terang Dinda.


“Yahhh….” Eliana cemberut. “Ya sudah enggak papa deh. Tapi sering main ke rumah Aku ya.” Pinta Eliana lagi. “Okay aman.” Jawab Dinda. Setelahnya mereka berdua sampai di kelas.


Sementara itu di kantin Pak Didit masih asyik menyempul asap rokok yang keluar dari mulutnya. “Pak Didit mari Kita pulang.” Alex menghampiri Pak Didit yang sudah siap dengan Hendra di dalam gendongan.

__ADS_1


“Oh iya Baik Pak.” Pak Didit mematikan rokoknya yang masih ada setengah itu. Kemudian Pak Didit mengambil tas Alex dan berjalan bersama.


__ADS_2