
“Kakak namanya siapa?” Tanya Andra kepada Aisyah. “Nama Kakak Aisyah. Kamu namanya siapa?” Tanya Aisyah kepada Andra. “Namaku Andra, ini Adikku Indra dan ini yang paling bungsu bernama Hendra.” Jawab Andra memperkenalkan dirinya beserta kedua Adiknya.
Mereka duduk bersama di karpet depan TV. Hendra yang tengah di pangku oleh Aisyah mendongak untuk melihat Aisyah, “Kakak Aicaaa..” Sapanya.
“Iya sayang…” Sahut Aisyah. Aisyah mencubit lembut kedua pipi tembem Hendra. “Kalau sama Kamu Kakak kenal sayang.” Tambah Aisyah sembari memeluk Hendra.
“Kak Aisyah rumahnya dimana?” Kata Indra penasaran. “Rumah Kakak di sebelah Indra, eh betul ya nama Kamu Indra?” Tanya Aisyah memastikan. “Iya betul Kakak.” Sahut Andra mendahului Adiknya.
“Di sebelah rumah Kakak? Berarti Kita tetanggaan dong!” Kata Indra sambil menyentuh-nyentuh pipi kirinya dengan telunjuk seraya berpikir, Dia tampak lucu. “Iya benar sayang.” Sahut Aisyah.
“Sama dong kayak Kak Eliana, Kak Eliana juga tetanggaan.” Tambah Indra kemudian kembali bermain. “Oh ya? Eliana itu siapa?” Tanya Aisyah, semenjak tinggal bersama Kakaknya Dia memang tidak banyak mengenal tetangga.
“Kak Eliana yang rumahnya di depan rumah ini.” Sambung Andra. “Oh iya, hehe Kakak jarang keluar rumah sayang. Jadi tidak begitu mengenal tetangga.” Ujar Aisyah jujur.
“Sama dong, Ayah juga jarang keluar rumah. Di kesehariannya Dia hanya mengurusi Kami bertiga.” Kata Andra.
“Benar, kalau itu Kakak tahu sayang. Karena Kakak nya Kakak sering membicarakan tentang Ayahmu.” Sahut Aisyah.
“Benarkah? Kenapa Ayah sering dibicarakan orang ya. Di sekolah juga Ayah sering di omongin sama Ibunya teman-temanku.” Ujar Indra, ekspresi wajahnya jelas cemberut.
“Kenapa cemberut Ndra. Kan mereka ngomonginnya juga yang baik-baik. Mama teman Kita juga sering muji-muji Ayah kan.” Terang Andra.
“Iya tapi kan Aku engga suka. Aku sukanya Ayah sama Kak Eliana.” Jelas Indra. Ekspressi wajahnya seketika tersenyum malu.
Aisyah yang melihat tingkah bocah SD itu seketika tertawa. Aisyah tertawa sambil menutup mulut agar suaranya tidak begitu terdengar. “Lucunya Kamu Indra, kenapa emangnya dengan Eliana?” Tanya Aisyah, Dia masih saja menahan tawanya.
“Karena Kak Eliana itu cantik, baik, dan perhatian. Tapi Dia suka marah-marah gitu sama Ayah.” Terang Indra sambil mengingat kejadian yang telah mereka lalui bersama.
__ADS_1
“Loh kok marah-marah sama Ayah?” Aisyah melepaskan tangannya dan berhenti tertawa. Dia sedikit heran dengan keterangan Indra.
“Iya soalnya kan Indra ngerepotin terus. Terus waktu Ayah masuk rumah sakit, Kak Eliana yang tinggal disini jagain Indra sama Abang sama Adek.” Jelas Indra.
“Oh seperti itu, tidak apa Indra. Mungkin Kak Eliana tidak terbiasa dengan Anak-anak. Tapi kan Dia baik sama Indra sama saudara Indra yang lain. Jadi tidak masalah sayang.” Terang Aisyah.
“Kakak..” Hendra memanggil Aisyah. “Iya Hendra sayanggg.” Jawab Aisyah lembut. “Cucu..” Sahut Hendra. “Andra susu Adek dimana?” Tanya Aisyah. Ini kali pertama baginya di rumah itu dan tidak mengetahui di mana letak susu Hendra.
“Di sana Kak.” Ujar Andra sambil menunjuk ke tempat susu Hendra. Aisyah pun langsung meletakkan Hendra dan berdiri melangkah ke arah tempat Andra menunjukkan susu Hendra. Benar di sana ada kaleng susu Hendra beserta botolnya.
Aisyah membaca petunjuk penggunaan susu tersebut pada kaleng susu lalu membuatkan Hendra sebotol susu formula. “Ini sayang..” Aisyah memberikan botol susu itu yang terisi penuh kepada Hendra.
Hendra menyusu dan tertidur. “Andra, Indra Kita main di ruang tamu saja yuk. Adek lagi tidur.” Ajak Aisyah. Dia khawatir kalau-kalau Abang-abangnya Hendra ribut saat bermain.
“Iya Kak.” Sahut Andra manut. Kemudian Andra berdiri sambil menarik tangan Indra. “Mau kemana?” Tanya Indra kepada Andra. “Ssstt… jangan ribut sayang. Kita mau main di sana.” Ujar Aisyah sambil menunjuk ruang tamu.
Dua jam berlalu, Alex tak kunjung pulang. Aisyah melirik jam yang menempel di dinding, waktu menunjukkan pukul 16:30 WIB.
“Andra biasanya dimandikan oleh Ayah jam berapa?” Tanya Aisyah. “Jam empat sore, tapi kadang-kadang jam lima sore. Tidak menentu.” Jawab Andra.
“Kalau gitu sekarang Kita mandi yuk.” Ajak Aisyah kepada kedua Anak Alex. “Engga mau. Mau mandinya sama Ayah.” Sahut Indra. “Indraa…” Tegur Andra kepada Adiknya. Mata Andra jelas melotot.
“Biarkan saja Andra, kalau tidak mau, Indra jangan dipaksa.” Jawab Aisyah lembut. “Andra bisa mandi sendiri?” Tanya Aisyah lagi. “Bisa Kak.” Jawab Andra singkat.
“Kalau gitu Andra mandi duluan gih. Kakak mau bangunin Hendra dan memandikan Hendra juga.” Terang Aisyah. “Iya Kak.” Sahut Andra.
Andra pergi mandi, Aisyah membangun Hendra. Hendra terbaring di atas karpet. Tertidur pulas, Aisyah memandangi wajah imut Hendra, bulu mata yang lentik dan pipi yang tembem.
__ADS_1
“Hendra bangun sayang…” Aisyah membangunkan Hendra sambil mengusap-ngusap rambut lembutnya. Hendra tak kunjung bergerak dan bangun.
“Hendra…” Ujar Aisyah. Kali ini Aisyah menggaruk-garuk lembut telapak Kaki Hendra. Seketika Hendra menarik Kakinya dan masih tertidur. Aisyah tidak berhenti melakukan menggelitik telapak Kaki itu dengan menggaruknya.
Akhirnya setelah telapak kaki itu beberapa kali di garuk, Hendra membuka matanya. “Hendra bangun sayang.” Kata Aisyah yang sudah beradu pandang bersama Hendra. Anak bungsu Alex itu terduduk dan mengucek matanya lalu Aisyah menggendongnya.
Andra keluar dari kamar mandi menggunakan Handuk. Aisyah masuk ke kamar Andra langsung masuk ke kamar mandi Andra. “Kakak, jangan di sini. Biasanya Hendra itu mandi di kamar Ayah. Perlengkapannya juga lengkap di sana. Baju-baju Hendra juga adanya di kamar Ayah.” Jelas Andra.
“Oh begitu, Iya Kakak ke kamar Ayah ya. Kamu bisa ambil dan pakai baju sendiri?” Tanya Aisyah memastikan. “Bisa dong Kak, Andra kan bukan anak kecil lagi.” Andra memalingkan wajahnya. Agaknya Dia sedikit kesal dengan perhatian yang diberikan oleh Aisyah.
“Apa Dia tersinggung?” Aisyah bergumam dalam hati. “Iya Andra sudah gede kok, Kakak hanya ingin memastikan.” Ujar Aisyah. Dia mengelus lembut rambut Andra. Seketika Andra tersipu malu dan tersenyum.
Kemudian Aisyah masuk ke kamar Alex bersama Hendra. Dia memandikan dan memakaikan Hendra baju pajamasnya. Hari itu Aisyah sungguh mengurusi Anak-anak Alex. Bahkan Aisyah memasak untuk makan malam. Dia mengerjakan semuanya bagaikan di rumah sendiri.
“Semoga saja Uni tidak apa-apa. Ya Allah tolong jaga Kakakku, Amin.” Aisyah berdoa dalam hati. Dia sedang mencuci piring habis memasak. Dengan celemek dan sarung tangan plastik milik Alex, Aisyah mengerjakan semuanya.
“Kakak…” Hendra kembali memanggil Aisyah. Tangan mungilnya menarik-narik celemek yang sedang dipakai oleh Aisyah. Aisyah menghentikan kegiatannya, membuka sarung tangan plastic yang ia kenakannya. Lalu jongkok agar bisa sejajar dengan Hendra.
“Iya sayang ada apa?” Tanya Aisyah. “Hendra mau e’ek.” Terang Hendra jujur. “Ayo cepat ke toilet.” Segera Aisyah membawa Hendra ke toilet. Benar! Hendra sedang BAB.
“Kakak.. sudah.” Terang Hendra. Lekas Aisyah masuk dan membersihkan bekas BAB itu. Dia mengurusi Hendra seperti anak sendiri.
“Hendra anak pintar. Sudah bisa ngomong kalau mau buang air besar. Yang ngajarin siapa?” Ujar Aisyah sembari memakaikan Hendra celana. “Ayahh..” Sahut Hendra.
“Sudah terpasang, Kita siap-siap makan malam gih.” Ucap Aisyah mengelus lembut rambut Hendra. Hendra langsung berlari tanpa menjawab, Dia hanya mengulas senyum ceria saat meninggalkan Aisyah.
“Alex lelaki yang luar biasa! Di umur dua tahun Dia bahkan bisa memberikan toilet training kepada Hendra hingga Anak bungsunya itu sudah lepas dari popok. Jaman sekarang banyak Ibu yang masih menggunakan popok pada Balita seumuran Hendra. Alex mampu mengurusi semua pekerjaan rumah sendirian. Mengurusi tiga Anak tanpa memperkerjakan Assiten Rumah Tangga (ART). Kamu luar biasa Alex!” Aisyah menyeru dalam hati. Dia sepertinya mulai mengenal Alex dari Anak-anaknya.
__ADS_1