
“Assalamualaikum wr. Wb. Mohon untuk perhatiannya teman-teman.” Seorang laki-laki berwajah manis berdiri di depan kelas. “Perkenalkan nama Saya Antonius Mahabrata, Saya sama seperti kalian, Saya juga mahasiswa baru. Namun Saya di sini ingin menyampaikan bahwa Dosen pembimbing Kita adalah Dr. Harsanto Nursadi,S.H,M.Si sesuai dengan table informatif yang sudah kalian dapatkan masing-masing.” Kata Antonius.
“Tugas Saya di sini sesuai dengan pesan Bapak Dr. Harsanto barusan bahwa kelas B di harapkan untuk memilih ketua kelas, agar kegiatan yang bisa dilakukan oleh Ketua kelas selanjutnya bisa dihandle langsung olehnya.” Tambah Antonius.
Alex dan seluruh mahasiswa di kelas itu menyimak perkataan dari Antoinus. Namun, Hendra menarik-menarik kera baju Alex. “Ssttt…” Alex mencoba menenangkan Hendra. “Hiks” Hendra menangis, sontak saja Alex menutup mulut Hendra dengan cepat agar tidak terdengar oleh yang lain.
Alex merogoh tas punggungnya, mengambil Ipad Hendra, dan memutarkan sebuah video animasi yang bersuara. Kemudian Hendra kembali tenang saat focus menonton video itu.
“Maaf.. Bapak yang sedang membawa anak, bisa kecilkan suara tablet nya Pak?” Pinta Antonius. Suara dari Ipad Hendra memang terdengar jelas. Lekas Alex mengecilkan volume suara dari Ipad milik Hendra, sudah mengecil namun masih kedengaran.
Antonius hanya menggeleng heran lalu melanjutkan kalimatnya. “Baiklah di sini, biar Saya pimpin untuk pemilihan Ketua kelas. Apakah ada yang bersedia menjadi Ketua kelas?” Tanya Antonius kepada seluruh penghuni kelas.
Beberapa dari mahasiswa baru itu menunjukkan tangan seperti Reza, Najwa, Memei dan Liam. Alex membentuk tangan seperti huruf T, “Permisi boleh Saya memberikan pendapat.” Sahut Alex.
“Iya silahkan.” Jawab Antonius. “Kenapa bukan saudara Antonius saja yang menjadi Ketua kelas?” Tanya Alex, menurutnya Antonius yang cocok menjadi Ketua dilihat dari caranya memberikan arahan saat ini.
“Maaf Pak jika memang tidak ada yang bersedia, Saya akan menjadi Ketua kelas tetapi menjadi Ketua adalah kesempatan bagi siapapun yang berada di kelas ini.” Sahut Antonius berwibawa.
“Sangat disayangkan kalau begitu.” Ucap Alex, Dia sedikit kecewa karena berharap Antonius lah menjadi ketua kelas.
“Baiklah yang setuju Meimei jadi ketua Kelas siapa?” Tanya Antonius. Dua orang dalam kelas menunjukkan tangan. “Yang setuju Liam menjadi Ketua kelas siapa?” Lanjut Antonius. Tidak ada satupun yang menunjukkan tangannya.
__ADS_1
“Hihi…” Reza menutup mulut dan tertawa kecil. “Yang setuju Najwa menjadi Ketua kelas siapa?” Tanya Antonius lagi. Sebagian dari jumlah kelas itu menunjukkan tangannya. “Kalau yang setuju Reza menjadi Ketua kelas siapa?” Lanjut Antonius.
Tak ada satupun yang menunjuk tangan saat nama Reza disebutkan. “Hahaha..” Liam yang berambut keriting itu membalas tertawa, kali ini Liam tertawa keras hingga semuanya dapat mendengarkan tawanya.
Reza memasang wajah cemberut, bibir yang miring dan bola mata hitam memutar. “Whatever!” Kata Reza yang suaranya sangat kecil hingga tidak ada yang mendengarkan apa yang barusan Dia sebutkan.
“Bisa dipastikan bahwa Ketua kelas yang tepilih adalah Najwa. Najwa Kamu bisa ke depan sebentar untuk menyampaikan sepatah atau dua kata.” Tawar Antonius.
Najwa berdiri dan melangkah menghampiri Antonius. Najwa telah berdiri sejajar dengan Antonius. “Bismillahirahmanirrahim terima kasih untuk semuanya karena sudah mempercayakan Ketua kelas kepada Saya. InsyaAllah ke depannya Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan jabatan ini. Sekali lagi terima kasih teman-teman.” Najwa berkata dengan percaya diri.
“Prok…prok..prok..” Suara tepuk tangan dari ruang kelas terdengar. Najwa menunduk dan kembali ke tempat duduknya. Antonius memandangi jam tangan yang ia kenakan.
“Hai Antonius Saya Alex.” Alex menjabat tangan Antonius. “Iya Saya Antonius.” Antonius lalu membuang wajah ke depan. “Ohh… sepertinya Kamu cukup angkuh.” Alex menyeru dalam hati.
Kemudian Alex menghadap ke kiri yang tak lain dan tak bukan adalah Najwa sang ketua kelas baru. “Hai Najwa, Perkenalkan Saya Alex Cornelius. Saya juga akan berkuliah di sini sama seperti Kamu.” Kata Alex tersenyum ramah kepada Ketua kelas baru itu.
“Saya Najwa, salam kenal Om.” Ujar Najwa sembari bersalaman dengan Alex. Mendengar kata Om yang diucapkan oleh Najwa Alex sedikit tercengang. “Apa karena wajahku Om Om makanya Eliana sering menghindar.” Alex bergumam.
“Jangan panggil Om, panggil saja Saya Alex.” Ujar Alex yang memberikan senyum terindahnya. “Ahhh…” Seketika Najwa meleleh bak cokelat panas. “Baiklah Alex.” Ucap Najwa malu-malu.
“Bolehkan Saya meminta nomor kontakmu Najwa?” Tanya Alex, Dia sangat membutuhkan Najaw untuk ke depannya, mengingat bahwa Alex sangat buta mengenai hal Kampus dan perkuliahan.
__ADS_1
“Baiklah, nol delapan…..” Najwa memberikan nomornye kepada Alex. Mereka berdua bertukaran nomor ponsel dan saling melakukan panggilan suara. “Okay masuk.” Kata Najwa lalu mematikan panggilan suara Alex dan segera menyimpan nomor Alex.
“Alex Pahmud.” Najwa menyimpan nomor Alex dengan nama kontak itu. Tak sengaja Alex melihat nama kontak itu “Kok Alex Pahmud, nama Saya Alex Cornelius.” Tegas Alex. “Opss..” Kemudian Najwa mengedit nama kontak itu menjadi Alex Cornelius.
“Si Oom mah ga ngerti istilah. Ini artinya papah muda ih.” Najwa bergumam. Kemudian Alex menyimpan nomor kontak Najwa dengan nama “Najwa Ketua Kelas.”
“Huss…” Kursi Najwa di tendang-tendang oleh Siska dari belakang. “Ih kenapa sih?” Tanya Najwa sembari menoleh ke arah Siska. “Minta dong kontak Alex.” Siska berkata sambil memberikan ponselnya kepada Najwa.
“Enak aja, Lu minta sendiri sana.” Jawab Najwa ketus. “Eh pelit amat Lu ya.” Sahut Siska kesal. “Nomor Lu aja deh.” Tambah Siska. Kemudian Najwa memberikan kontaknya kepada Siska.
Tak lama berselang seorang Bapak masuk. Bapak itu berambut putih dan mengenakan kacamata hitam. Memakai kemeja putih dan celana dasar hitam. Membawa beberapa buku mata kuliah di lengannya. Lalu Bapak itu masuk dan duduk di meja yang disediakan untuk tenaga pengajar.
“Selamat pagi menjelang siang semuanya.” Sapa Bapak itu, Dia membuka kacamatanya hingga setengah hidung. Menatap tajam Alex yang sedang memangku Hendra. “Kamu siapa?” Tanya Bapak itu heran.
“Saya Alex Cornelius Pak.” Jawab Alex, jantungnya berdetak cepat. “Itu yang Kamu pangku anak mu ya?” Tanya Bapak itu lagi, kali ini alisnya mengkerut. “Iya benar Pak.” Jawab Alex pasrah.
“Apa tidak ada larangan untuk membawa Anak ke Kampus Alex?” Tanya Bapak itu lagi. “Kami sih kurang tau Pak, bukannya Bapak yang lebih tau.” Sahut Reza.
“Kamu diam! Tidak sopan.” Celah Bapak yang merupakan Dosen itu. Sontak Reza terdiam dan menyesal telah menyela tanpa izin. “Kalau soal itu Saya kurang tau Pak.” Jawab Alex jujur.
“Bagaimana bisa Kamu tidak tahu. Kamu harus tahu, Kamu itu sudah menjadi mahasiswa di sini jadi harus tau.” Kata Dosen kemudian kembali memakai kacamatanya. “Alex silahkan keluar kelas.” Perintah Dosen tersebut.
__ADS_1