
Puluhan orang itu membubarkan diri perlahan, pada kesempatan ini pun Bu Tuti ikut membubarkan diri dan pulang. Setelah memasuki rumah dan menutup pintu Dia kembali berteriak. “Aisyahh….” Teriakan pertama itu tidak berhasil memanggil Aisyah. “Aisyahhhh… cepat kesini.” Bu Tuti berteriak lagi dengan nada yang lebih tinggi lalu kembali duduk di sofa untuk menatap layar TV.
Agak lama Aisyah datang dibandingkan penggilan yang pertama. “Aisyah kenapa lama datang Kamu? Kakak panggil dari tadi.” Tanya Bu Tuti kepada Adiknya itu.
“Tadi nanggung Uni, lagi ngaji dan hampir terselesaikan satu lembar jadi sudah selesai ngaji selembaran baru Saya buka mukenah dan ke sini Uni.” Jelas Aisyah yang sudah berdiri di depan Bu Tuti.
“Oh begitu baiklah.” Jawab Bu Tuti memaklumi. “Kamu daripada nganggur, mau kerja tidak?” Tanya Bu Tuti kepada Adiknya.
Mendengar hal itu Aisyah langsung mengangguk dan bersemangat, telah lama Dia mencari pekerjaan. Sudah cukup lama baginya tinggal di rumah Bu Tuti tanpa berpenghasilan. Semua kebutuhannya memang ditanggung percuma oleh Kakaknya namun ada kalanya Aisyah merasa segan dan tak mau membebani Kakaknya.
Susahnya mencari pekerjaan membuatnya menganggur serta memilih membantu Kakaknya. Ditambah lagi statusnya sebagai Janda membuatnya takut untuk keluar rumah, kalau-kalau Dia direndahkan di masyarakat.
“Bekerja? Iya mau Uni, asalkan halal dan tidak beresiko.” Jawab Aisyah sambil menunduk memandang lantai.
“Tidak, ini tidak beresiko, dan juga halal, yang penting Kamu mau.” Ujar Bu Tuti sambil memijit-mijit Kakinya. “Aisyah sini pijit Aku.” Pinta Bu Tuti sembari mendongak melihat wajah Adiknya. Aisyah pun mendekatinya dan duduk di lantai lalu memijit-mijit kaki Bu Tuti.
“Memangnya pekerjaan yang Uni maksud pekerjaan apa?” Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.
“Ini pekerjaan yang mudah saja bagimu, bahkan Kamu bisa saja bekerja tanpa meninggalkan rumah ini.” Kata Bu Tuti yang sekarang memegang remote TV dan memindahkan channel TV-nya.
“Pekerjaan apa itu, kenapa sepertinya aneh.” Sahut Aisyah, masih saja tangannya bergerak untuk memijit kaki Kakaknya.
__ADS_1
“Itu si Alex lagi cari Babysitter, Dia itu orang kaya, pasti gajinya besar. Kalau Kamu mau, Dia pasti akan menerimamu karena Hendra lebih nyaman denganmu daripada harus bersama orang baru. Bahkan denganku Hendra enggan, padahal Aku sudah pernah Dia temui. Apalagi para calon Babysitter itu.” Jelas Bu Tuti kepada Adiknya.
Aisyah hanya terdiam tanpa berkata, terlalu banyak hal yang Dia pikirkan hingga mulut masih tertutup. Aisyah hanya sibuk melanjutkan memijit kaki Bu Tuti dari ujung kaki hingga ke lutut.
“Aisyah, kenapa tidak menjawab?” Tanya Bu Tuti yang menunggu respon komentar dari Adiknya.
“Uni…” Aisyah menjawab dengan ragu.
*
Pak Didit pulang dari mengantar Andra dan Indra, mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumahnya. Halaman itu masih ramai dengan para calon Babysitter Alex. Semua mata itu memandang ke arah Pak Didit turun dari mobil tanpa berkedip, bukan karena Pak Didit ganteng melainkan melihat mobil Landcruiser mewah milik Alex. Pak Didit turun dari mobil dan mendekati Istrinya.
“Idihhhh… siapa ini?” Pak Didit bergumam dalam hati sambil melirik Anabelle. Tatapannya heran bercampur bingung seraya berkata ini orang perempuan atau laki-laki. Fisiknya perempuan tulen, tapi jakun dan kumisnya? Ternyata mata Pak Didit cukup jeli untuk melihat kumis tipis yang dilindungi oleh foundation itu. Kemudian Pak Didit mengabaikan Anabelle dan menegur Istrinya.
“Baik Yah…” Jawab Bu Tanjung lalu Dia berdiri dan kembali menaruh kedua tangannya di pinggang. “Perhatian untuk semuanya mari ikuti Kami berdua dan Kamu Anabelle cukup menunggu di teras rumahku saja.” Jelas Bu Tanjung.
“Ihhh kok gitu sih Bu? Saya kan juga pelamar pekerjaan di sini.” Ucap Anabelle sebal. Dia menghentakkan kaki kanannya.
“Nanti Saya akan suruh Alex untuk pergi menemuimu di sini, Kamu tunggu saja. Oh ya, sini semua Map itu.” Ujar Bu Tuti kepada pria yang berkemeja Pink itu.
“Benarkah Bu?” Kata Anabelle sembari memberikan semua Map itu, matanya berbinar. Dia semakin yakin akan keistimewaan yang diberikan oleh Bu Tuti kepadanya. “Entah mimpi apa Aku semalam ya Allah.” Anabelle menyeru dalam hati. Kemudian Anabelle duduk bersantai di kursi teras rumah Bu Tanjung.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu sontak kesebelas orang yang berada di depan Bu Tanjung saling memandang satu sama lain seraya tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Tanjung. Tetapi mereka segan untuk memprotes, takut kalau-kalau bisa dieliminasi saat itu juga.
“Iya benar, tunggu saja di sini.” Bu Tanjung memperjelas. “Yang lain ikuti Saya dan Pak Didit, ayok mari.” Ajak Bu Tanjung kepada para calon Babysitter Alex. Mereka semua berjalan menuju rumah Alex meninggalkan Anabelle.
Dingdong! Pak Didit memencet bel rumah Alex. Alex keluar dengan membuka pintu, kesebelas para calon Babysitter Alex merekah bak bunga yang sedang mekar. Sungguh momen yang sangat mereka tunggu-tunggu. Mata mereka berbinar kala Alex tersenyum ramah kepada semuanya.
“Assalamualaikum Pak Alex, ini bagaimana selanjutnya?” Tanya Pak Didi yang melirik kearah kesebelas orang itu.
“Begini saja Pak Alex, agar tertib bagaimana kalau salah satu saja yang masuk ke rumah. Pak Alex duduk saja di ruang tamu menunggu, biar Saya yang atur di sini. Yang belum dipanggil nanti biarkan saja menunggu dulu di luar.” Sahut Bu Tanjung. Dia mencoba memberi saran kepada Alex lalu Alex hanya mengangguk.
“Ayah, Ayah temani Pak Alex di dalam ya.” Perintah Bu Tanjung kepada suaminya.
“Baik Bu.” Jawab Pak Didit. Kemudian Pak Didit masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Pintu dibiarkan terbuka, Bu Tanjung duduk di kursi teras sedangkan para calon Babysitter Alex menunggu sambil berdiri.
“Perhatian semuanya, yang namanya Saya panggil harap untuk langsung masuk ya.” Ucap Bu Tanjung sembari membuka Map yang telah Dia pangku. “Atas nama Tukiyem.” Teriak Bu Tanjung yang memanggil salah satu dari mereka.
“Engge Saya Bu.” Jawab Bu Tukiyem. Ibu ini mengenakan jilbab pasang berwarna biru dengan motif garis yang berbunya. Memakai baju berwarna putih dan celana berwarna cokelat. Badannya pendek dan gemuk, kulitnya hitam kecoklatan, dari logatnya menjawab Dia berasal dari suku Jawa. Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya Dia seorang Ibu yang bisa momong anak.
Bu Tukiyem masuk rumah Alex. Dia memandangi rumah Alex sekeliling saat setelah selangkah melewati pintu. “Tak pikir rumahne mewah, tapi sederhana. Ternyata Pak Alex orang yang sederhana.” Bu Tukiyem bergumam.
“Sini Bu silahkan duduk.” Pak Didit mempersilahkan Bu Tukiyem untuk duduk di sofa depan Alex.
__ADS_1
“Pak Didit tolong tunggu sebentar ya sama Ibu itu, Saya mau ke dalam bentar.” Ucap Alex setengah berbisik kepada Pak Didit.