
“Iya terima kasih Pak, kalau begitu Kami pamit.” Ucap Bu Tanjung. Dia lekas menarik tangan Pak Didit dan lari terbirit-birit bersama Suaminya. Salah tingkahnya tak mau Dia perlihatkan kepada Alex, karena pada dasarnya Dia menyadari kesalahan dalam memberitahukan Alex nominal harga nasi padang yang seharga tiga ratus lima puluh ribu sudah dengan ongkos kirim dan menjadi satu juta rupiah.
Sesampainya di depan rumah, Pak Didit melotot, matanya membulat dan melebar. “Ada apa Ayah?” Tanya Bu Tanjung setelah memperhatikan wajah suaminya. “Itu coba Ibu lihat, itu siluman atau monster?” Ucap Pak Didit sembari menunjuk ke arah Anabelle. Seketika Bu Tanjung melihat Anabelle.
“Astaghfirullah Ayahhh, itu bukan siluman atau monster. Itu Anabelle Ayah!” Sahut Bu Tanjung. Bulu kuduk Pak Didit berdiri, Bahunya bergoyang otomatis seperti kesentrum listrik lalu seketika Dia berlari masuk kerumahnya meninggalkan Istrinya di teras bersama Wanita jadi-jadian yang berjakun itu.
Bu Tanjung memandangi perempuan yang memakai rok mini itu. Dia tengah tidur pulas di atas kursi teras rumah Bu tanjung dengan posisi kepala miring ke kanan, mulut menganga, kaki mengangkang hingga CD-nya jelas telihat. CD itu juga berwarna pink senada dengan warna kemeja yang Ia kenakan. Terlihat setetes air mengalir dengan lamban dari mulut yang menganga itu, Dia mengences. Tiba-tiba Anabelle bergerak dan meluruskan leher lalu menyedot kembali encesnya dan kembali tertidur.
“Ihhh… jorok amat sih lu. Bangun.. oi bangun Anabelle.” Teriak Bu Tanjung. Suara teriakan Bu Tanjung memang luar biasa. Sekali teriak Dia mampu membangunkan Anabelle sampai ketakutan.
“Iya ada apa Mak, ampun Mak, Aku ndak jadi Banci lagi Mak!” Teriak Anabelle sambil menutup wajahnya dengan tas jinjing yang Dia bawa. Dia tebangun ketakutan seperti Anak kecil yang akan dipukul oleh Ibunya, posisi badannya membungkuk dengan kaki dan paha yang merapat.
“Emak-emak, Aku bukan Mamakmu, bangun Anabelle, ini Ibu, Bu Tanjung Bu RT dan tetangganya Alex.” Jawab Bu Tanjung.
Anabelle tersadar kala mendengar nama Alex. “Ha Alex? Mana Alex bu?” Tanyanya. Dia sudah normal dengan posisi duduk dan merapikan rambutnya. Anabelle juga mengambil cermin mini dan sebuah lipstik dari dalam tasnya.
“Ana cuci muka dulu sana. Bauk iler tauk!” Suruh Bu Tanjung yang tak tahan meliat bekas iler itu.
__ADS_1
“Eh iya bu.” Sahut Anabelle yang beridiri ke arah keran yang ada di halaman rumah Bu Tanjung. Keran itu biasa dipakai untuk menyambung selang agar bisa mencuci motor atau mobil. “Sudah Bu.” Kata Anabelle lalu Dia mulai memakai lipstik yang tadi sekaligus memandangi dirinya dalam cermin itu. “Aku memang cantik tiada tara….” Ujarnya centil.
“Iya betul Kamu sangat cantik kalau dilihat dari Monas.” Sahut Bu Tanjung.
“Ih Ibu jangan iri atuhhh..” Jawab Anabelle sembari mengibaskan rambut panjangnya. Anabelle mengambil benda bulat kecil dalam tasnya, sebuah bedak padat, lalu Dia membuka bedak itu dan memakainya dengan centil.
“Alahhh lebay amat Lu, pakai bedak jari pake melentik gitu. Dasar Banci luuu…” Bu Tanjung mengejek, bibir manyun, lalu melirik sinis.
“Ehhh.. Ibu bilang apa barusan? Jangan mentang-mentang Ibu seorang Bu RT terus Aing takut yah. Aku ini BUKAN BANCI, AKU INI ANABELLA, ANA YANG CANTIK JELITA.” Tegas Anabelle. Dia sangat marah dipanggil Banci.
“Eh emang lu Banci kali…” Ujar Bu Tanjung yang ikutan emosi. Bagaimana mungkin Anabelle mengelak dipanggil Banci karena faktanya Dia memang Banci.
“Eh Lu ngapain emak Gue?” Tanya Istri Adam. Istri Adam menarik rambut panjang Anabelle, tiba-tiba Anabelle “Auwwww… Sakit!” Anabelle tak tahan Dia menjambak rambut Istri Adam dengan tangan kanan dan tangan kiri menjambak rambut Bu Tanjung.
Adam yang tak tahan melihat Istrinya sedang dijambak, Dia pun langsung menonjok pipi Anabelle. “Gedebuk!” “Auwww!” kali ini Anabelle yang berteriak kesakitan dengan suara perempuannya.
Tak tahan karena sudah ditonjok oleh seorang laki-laki, Anabelle beralih ke jiwa laki-lakinya pula. “Kamu cari gara-gara sama Aku ya!” Ujar Anabelle menggunakan suara ngebass, suara laki-lakinya. Belum sempat dijawab Adam langsung saja sebuah pukulan dahsyat dilayangkan oleh Anabelle. “Gedebuk!” pipi Adam ditonjok oleh Anabelle, pukulan Anabelle cukup kuat hingga membuat Adam terjatuh pingsan.
__ADS_1
“Rasain Lu. Mana nih masih berani adu tonjok sama Gue Ha!” Tantang Anabelle.
“Adammmm..” Istri Adam berteriak histeris bersamaan dengan Ibunya. Pak Didit lekas membawa semua Cucunya beserta Andra dan Indra masuk ke rumah.
“Jonoooo…” Teriak Pak Didit memanggil seseorang. Laki-laki itu muncul dibalik gorden pintu dari arah dapur. Pria yang berbadan besar dengan wajah garang. “Jonooo selamatkan Adam di depan Dia sedang ditonjok sama Banci gila.” Perintah Pak Didit kepada anak pertamanya.
Jono adalah Anak pertama Pak Didit yang pengangguran. Dia sangat pemalas, kuat makan, dan hobinya hanya tinggal di rumah namun Dia jago berkelahi. Karena sering berkelahi Dia bahkan tidak lulus SMA karena dikeluarkan dari sekolah setelah membuat ulah dengan meninju Kepala Sekolahnya.
Bukan Jono anak yang nakal, tapi Dia seorang yang tidak bisa harga dirinya diinjak-injak oleh siapapun. Walaupun Dia jago berkelahi tetapi Dia anak yang pendiam dan tidak menganggu orang lain.
“Jonoooo jangan tanggung-tanggung habisi si Banci itu, asal tidak meninggal. Dia bahkan menarik rambut Mamakmu sampai berteriak.” Pak Didit yang sudah berumur tidak bisa tinggal diam untuk tidak melawan Banci itu. Dia mengandalkan Jono diluar tenaganya yang sudah tidak begitu kuat.
“Iya Ayah.” Jawab Jono singkat. Jono keluar dari rumah Pak Didit “Hoiii Banci, jangan lawan perempuan lawan Aku” Ujar Jono dengan wajah bengis. Dia sangat marah mendengar Ibunya disakiti.
“Sini Aku tidak takut, Aku akan memuk….” “Gedebuk! Gedubrak! BUGHH!!!” langsung saja Jono menghabis Anabelle sebelum selesai menyelesaikan kalimatnya. Hanya butuh lima menit, Anabelle sudah babak belur. Pipi kiri dan kanan Anabelle memar, bibirnya berdarah, giginya yang bagian depan atas bahkan patah. “Masih berani melawan Kamu?” Berang Jono, bibir atas bagian kanannya menyeringai memperlihatkan giginya bak singa marah.
Anabelle terbaring lemas namun tetap saja Dia bergegas karena melihat seringai Jono cepat-cepat Dia berdiri untuk meninggalkan rumah Pak Didit dan berlari dengan kaki yang pincang meninggalkan rumah Pak Didit.
__ADS_1
Pak Didit keluar setelah mengamankan Cucunya dan Anak-anak Alex. Setelah sampai di luar rumah, Jono berjalan santai menghampiri Ayahnya. “Sudah aman Ayah.” Kata Jono sembari mengacungkan jempolnya lalu meninggalkan Pak Didit diteras.