Duren Kampus

Duren Kampus
The end


__ADS_3

Pak Didit tengah menyisir klimis rambutnya. Ia tengah mengenakan kemeja putih dan celana levis berwarna biru serta sepatu hitam yang sudah disemir hitam.


“Ayah mau ke mana hari ini?” tanya istri dari Pak Didit. “Bukankah aku akan mengantar semua undangan itu.” Tunjuk Pak Didit pada undangan yang tersusun rapi di atas meja tamu. Undangan itu terlihat lumayan banyak.


“jadi semuanya ayah yang anter ya? Apa enggak ada orang lain yang bisa disuruh?” Tanya istri Pak Didit lagi. “banyak sih bu yang bisa disuruh, cuman ayah yang menawarkan diri, soalnya ada uang bensin entar dikasih plus uang rokok.” Pungkas Pak Didit.


“oh seperti itu, entar jangan lupa nyetor ya yah.” Sahut bu Tanjung. “Ck.” Pak Didit hanya berdecak kesal. “iya aman bu, yang penting entar sisain buat beli rokok.” Balas Pak Didit. “iya ayah tenang saja.” Jawab bu Tanjung.


Hari ini Pak Didit berencana untuk mengantarkan semua undangan yang dititipkan kepadanya. Ada tiga orang yang menitipkan undangan itu kepadanya. Yang mana masing-masing dari tiga orang itu adalah warganya sendiri, yaitu warga dari blok F perumahan Green Andara Residences.


*


*


Bali.


Di sebuah hotel berbintang lima, pada belakang hotel ada sebuah taman dengan bunga-bunga yang begitu indah. Ada pula kolam berenang di tengah taman itu. Tepat di samping taman itu, hamparan pasir jernih membentang luas ditemani desiran ombak air laut, yah hotel itu berada di pinggir pantai.


Pada hotel bintang lima itu ada sebuah pernikahan secara private dilaksanakan. Hanya orang-orang terdekat dan keluarga saja yang di undang pada acara itu.


“Abipraya.” Seorang ayah dengan tangan yang sudah berkeriput menyentuh bahu anaknya yang telah siap dengan mengenakan jas hitam. “iya ayah?” sahut Abipraya. “sudah waktunya.” Ayah itu menggandeng lengan putranya menuju sebuah panggung berhiaskan bunga melati asli dimana kedua calon pengantin akan berdiri disana untuk mengucapkan sebuah sumpah sacral kehidupan.

__ADS_1


Abipraya terlihat berdiri menunggu calon pengantin wanitanya. Dengan jantung yang berdegup kencang, entah mengapa ia merasa menunggu sangat lama. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berjalan perlahan ke arahnya. Dengan digandeng oleh ayah kandungnya, wanita itu mengenakan gaun putih berbahan sutera, sanggulan rambut dan mahkota berlian, serta rias wajah yang super natural, Eliana bagaikan tuan putri dari kerajaan inggris.


Setelah pengucapan janji pernikahan di hadapan pendeta, para tamu yang hadir serta dihadapan Tuhan, kini Abipraya dan Eliana resmi sebagai pasangan suami dan istri. Keduanya tampak sangat bahagia diiringi dengan tepukan tangan para keluarga dan tamu yang hadir.


Abipraya meraih tangan Eliana dan memakaikannya sebuah cincin berlian. Lalu keduanya saling melayangkan kecupan cinta.


*


*


Sementara itu dihari yang sama, disebuah kota yang terkenal dengan keripik baladonya juga telah berlangsung pernikahan yang cukup sederhana. Aisyah dan Ghandy menikah kembali. Setelah Ghandy tersadar akan segala kejahatannya terhadap Aisyah, ia memutuskan untuk bertaubat dan memulai segalanya dari awal.


“Saya terima nikah dan kawinnya Siti Aisyah binti Abdullah Piliang dengan maskawin yang tersebut.” Ucap Ghandy mantap. “Sah?” tanya sang penghulu. “Sah.” Sahut keduanya saksinya. Dan sekarang Aisyah telah melepaskan status Jandanya.


*


*


Di hari yang sama di waktu yang berbeda, seorang Duda keren beranak tiga sedang duduk di depan penghulu sambil menunggu calon istrinya. Tak lama menunggu, seorang gadis berparas cantik dengan wajah blasteran Indonesia-Arab, gadis mungil itu datang dengan mengenakan kebaya putih serta hijab yang senada.


Yah, dialah Najwa, sang ketua kelas. Akhirnya dengan doa dan usaha yang cukup keras, ia bisa meluluhkan hati Alex. Seorang Duda berparas tampan blasteran Indonesia-Inggris serta memiliki tiga putra telah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Cinta pertamanya adalah Nindi, ibu dari ketiga anaknya. Dan cinta keduanya ialah Najwa sang ketua kelas yang selalu setia menemaninya kemanapun. Ia pun berharap bahwa ini menjadi cinta dan pernikahan terakhirnya.


*


*


Dihari yang sama, diwaktu yang sama ada pula dua orang yang sedang menangis lirih. Yang pertama adalah bu Tuti, kakak dari Aisyah menangis terseduh sendirian di rumah. “Aisyahhh… kini Uni mu sendirian di rumah Aisyah. Tidakkah kau kasian padaku Aisyah…” lirih bu Tuti sambil duduk di atas sofa singgahsananya dan memimjit kedua kakinya dengan tangannya sendiri.


Yang kedua adalah Pak Didit. “Huaaaa…” pensiunan itu menangis histeris. Seluruh anggota keluarga dari Pak Didit merasakan kebingungan yang mendalam. Entah mengapa ayah, kakek, dan suami yang mereka sayangi menangis histeris tanpa mereka tahu penyebabnya.


Bu Tanjung terlihat menenangkan Pak Didit beserta dengan anggota keluarga yang lain. namun Pak Didit hanya terus menangis dan berteriak.


“Mobil… mobil… mobilku hilang! Huaaaa….” Teriak Pak Didit.


The End/selesai.


Ucapan penulis


Terima kasih kepada pembaca setia Duren Kampus. Penulis tak dapat mengungkapkan rasa senangnya kepada setiap pembaca setia Duren Kampus melainkan dengan bersyukur kepada Tuhan YME, dan rasa terima kasih kepada kalian semua. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan keberkahan. Amin.


Alhamdulillah.

__ADS_1


__ADS_2