
Komandan menjawab dengan mengangguk tanpa berkata. Dia kembali mengarahkan pengeras suara itu kepada mulutnya lalu berkata “Perhatian, bagi siapapun yang ada di sini dan bukan warga sekitar mohon untuk meninggalkan komplek perumahan ini. Sekali lagi, mohon untuk semuanya bubar dan meninggalkan tempat ini”.
“Halahhhh… belum juga lihat Alex keluar. Percuma deh kesini pagi-pagi.” Ucap salah satu dari banyaknya kerumunan orang itu.
“Ya udah biarin aja, mending kita pulang. Udah jelas juga kan ga bakal keterima. Noh! Yang dua belas itu yang lolos kayaknya.” Sahut dari yang lain lagi.
“Engga ah aku engga mau pulang.” Ujar seorang Ibu-ibu yang bersikukuh untuk tetap tinggal.
“Kalau Gue sih mending pulang, ngapain di sini pake di kawal Polisi. Ngadi-ngadi banget dah!” Silih berganti keramaian itu sahut-sahutan setelah mendengar pengumuman dan perintah dari komandan untuk membubarkan diri. Suara yang silih berganti itu terdengar bergemuru, tidak ada kata yang jelas yang bisa didengar di luar keramaian itu, orang-orang yang berada di halaman rumah Pak Didit hanya mendengar rentetan gemaan suara banyak orang.
Tujuh puluh lima persen keramaian itu berangsur berkurang. Suara mesin kendaraan jelas terdengar meninggalkan lokasi itu namun yang dua puluh lima persen lagi bersikukuh untuk tinggal.
“Semuanya, yang masih belum meninggalkan komplek perumahan mohon untuk bubar dan pulang ke rumah masing-masing.” Komandan kembali menyerukan suara ke dalam Toa itu.
Melihat masih ada puluhan orang yang masih tegak di tempat tanpa bergerak, lekas dua orang orang Polisi yang sejak tadi diam mengambil peran. Angga dan temannya kini mendekati orang-orang itu.
“Maaf semuanya, mohon untuk pulang. Karena hanya orang yang namanya yang dipanggil tadi yang akan diseleksi oleh Pak Alex. Jadi mohon kerjasamanya.” Dengan nada setengah berteriak namun sopan Angga berusaha membubarkan sisa keramaian itu.
“Haduh Adek ganteng, kita mah kagak mau jadi Babysitter-nya Alex, kita mau lihat langsung wajah ganteng Youtuber terkenal itu. Kami ini mau minta foto bareng sekalian.” Sahut seorang Ibu-ibu yang berbadan besar.
“Maaf Ibu untuk saat ini belum bisa, lagian Pak Alex tidak keluar rumah sejak tadi. Lain kali saja ya Bu dan mohon kerjasamanya Bu. Nanti warga sekitar bisa merasa terganggu dengan keramaian yang terjadi ini.” Angga berbicara seraya memohon dan menyentuh pundak Ibu itu mengarahkannya keluar komplek. Ibu itu terdorong pelan hingga melangkah maju dan meninggalkan lokasi.
Melihat hal itu puluhan orang yang masih bersikukuh untuk tinggal ikutan melangkah maju. Sepertinya mereka sudah bisa diajak kerjasama dan mengalah. Akhirnya komplek perumahan Alex berangsur sepi dan kembali normal.
“Lapor Komandan, keramaian itu telah sepenuhnya bubar dan teratasi tanpa adanya kericuhan.” Ucap Angga sambil ke hormat dihadapan Komandan yang dibalas dengan hormat singkat.
__ADS_1
“Baik, sekarang kita bisa pulang.” Jawab Komandan singkat.
“Siap Komandan!” Kata Angga tegas dan kembali hormat lalu balik badan.
“Pak Didit Saya dan anggota Saya berencana untuk pulang, keadaan sekarang sudah kembali normal.” Ujar Komandan sembari menjabat tangan Pak Didit.
“Baik Pak, terima kasih Pak atas bantuannya.” Kata Pak Didit sambil menggoyang-goyangkan jabat tangan itu. Kemudian Pak Komandan, Angga Saputra serta temannya pergi. Tinggallah Pak Didit di halaman rumahnya bersama dengan sang Istri beserta dua belas orang calon Babysitter Alex.
“Bu, Ibu urus dulu orang-orang ini, Saya harus menemui Pak Alex dan mengantar anaknya ke sekolah Bu. Masih ada waktu lima belas menit sebelum mereka masuk, waktunya sangat mepet.” Kata Pak Didit kepada Istrinya.
“Iya Ayah, hati-hati di jalan jangan mengebut.” Pesan Bu tanjung. Lalu Pak Didit meninggalkan Istrinya dan pergi ke rumah Alex. Tak lama berjalan karena dekat, sebentar saja Pak Didit sudah sampai di rumah Alex.
Alex yang memantau sedari tadi melihat Pak Didit berjalan ke arahnya. BRAKK!! Tepat ketika Pak Didit berada di depan pintu, pintu rumahnya terbuka. Tangan kanan Pak Didit yang mengepal seperti tinju untuk mengetuk pintu sontak terhenti.
“Eh.. Eh.. kagek Saya Pak.” Ujar Pak Didit dengan tangan mengepal itu menepuk-nepuk dadanya.
“Ah Pak Alex ini ada-ada saja, mereka semua bubar dan pulang. Tadi ada Polisi yang menertibkan mereka Pak. Untung ada Pak Polisi itu kalau tidak bisa sampai siang orang-orang itu di sini Pak.” Terang Pak Didit.
“Mari Andra dan Indra kita berangkat.” Ajak Pak Didit.
“Pak bagaimana dengan yang melamar pekerjaan sama Saya?” Tanya Alex.
“Soal itu Bapak tunggu saja di rumah nanti Saya kesini lagi sama mereke setelah mengantar Anak-anak ke sekolah. Saya tidak bisa berlama-lama Pak, ini waktunya sudah sangat mepet. Ayo cepattt..” Jelas Pak Didit sembari menarik masing-masing tangan anak Alex. Dia segera membawa Andra dan Indra untuk berangkat ke sekolah.
“Tu..tunggu Pak.” Panggil Alex.
__ADS_1
Brummm… namun Pak Didit tidak menghiraukan Alex lagi, sangat mendesak untuk mengantarnya Anaknya ke sekolah dibanding harus melayani Alex berbincang panjang lebar.
“Dicuekin Saya.” Gumam Alex.
Sementara itu, Bu Tanjung tengah sibuk mengurusi para calon Babysitter Alex. Dia telihat seperti senior yang tengah mengurusi junior. Sepertinya Bu tanjung pengalaman dalam hal ini.
PROK PROK PROK! Suara tepukan tangan dari Bu tanjung. “Perhatikan semuanya, tolong dengarkan Saya. Sebelum kalian bertemu lansgung dengan Alex untuk tes wawancara, apakah kalian sudah membawa persyaratan pelamar seperti yang infokan sebelumnya?” Tanya Bu Tanjung sembari memegang pinggang dengan kedua tangannya. Dia bagaikan mandor sekarang.
“Bawa Bu.” Jawab ke dua belas orang itu bersamaan.
“Kamu yang pakai kemeja Pink sini maju.” Ujar Bu Tanjung sembari menunjuk perempuan yang berjakun itu. Segera perempuan dengan rok mini itu berlari kecil menghampiri Bu Tanjung.
“Namamu siapa?” Tanya Bu Tanjung sembari mendongakkan dagu.
“Songong amat sih ni orang.” Kata perempuan berkemeja Pink itu. “Iya Bu nama Saya Anabelle.” Jawabnya menye-menye.
“Anabelle? Namanya kok serem kayak orangnya ih. Alex mana mungkin mau anaknya dijagain ama elu.” Bu Tanjung menyeru dalam hati. “Anabelle Kamu berdiri di sini samping Ibu.” Perintah Bu Tanjung kepada Anabelle.
“Baik Bu.” Jawab Anabelle sembari memegang lembut poni sampingnya.
“Semuanya berbaris, buat dua baris.” Perintah Bu Tanjung kepada sebelas orang yang ada di depannya. “Haduh lelet banget sih, gitu doang kok lemes banget geraknya. Ayo cepat!” Tegas Bu Tanjung.
Seketika orang-orang itu membuat barisan yang terdiri dari dua baris. Baris yang sebelah kanan diisi dengan enam orang dan baris yang sebelah kiri diisi dengan lima orang.
“Sekarang kalian keluarkan persyaratan yang sudah Saya sebutkan kemarin seperti KTP, CV, atau apapun itu yang bisa meyakinkan Alex untuk menerima kalian bekerja dengannya.” Jelas Bu Tanjung.
__ADS_1
Semuanya mengeluarkan persyaratan yang mereka bawa, Anabelle pun mengeluarkan sebuah Map berwarna merah hati.