
Alex masih terduduk diruang tamunya, menatap bingung rumah Eliana. “Apa yang bisa Aku lakukan?” Tanya Alex dalam hati. Dia menoleh dan memandangi jam dinding rumahnya. “Sudah jam setengah enam” Gumamnya. “Aku besok harus minta maaf sama Eliana, sekarang lebih baik Aku urus Anakku dulu.” Alex berkata kepada dirinya sendiri.
Alex masuk ke dalam kamarnya, mengelus lembut telapak kaki Hendra. Anak bungsunya itu bergerak tetapi belum bangun. Alex mengelus jempol kakinya bersamaan dengan kupingnya, akhirnya Hendra membuka matanya. Hendra tersenyum kala melihat Alex yang ada dalam pandangannya.
“Jagoaaan sudah bangun?” Tanyanya pada Hendra. “Iya angunnn..” Jawab Hendra yang masih sedikit oleng dan mengucek-ngucek matanya. “Kita jemput Abang yookkk..”Ajak Alex kepada Hendra. “Ayok!” Jawab Hendra, matanya masih merah selepas tidur tadi.
Alex memegang tangan Hendra kala Ia berjalan menuju rumah tetangganya, mereka berdua menuju rumah Pak Didit. Sesekali saat berjalan bersama Anak bungsunya Alex menoleh melihat rumah Eliana kalau-kalau Gadis cuek itu sedang keluar rumah. “Kalau Eliana muncul Aku akan segera menyapanya.” Gumam Alex.
Duda keren itu berjalan lamban mengikuti langkah Hendra. Sesampainya di rumah Pak Didit, tak jua Alex melihat Eliana keluar dari rumahnya. Hingga Alex mengabaikan pandangannya lalu mengetuk pintu rumah Pak Didit.
Tok..tok..tok..! “Assalamualaikum, Pak Didit..” Kata Alex sedikit berteriak. Bu tanjung keluar menghampiri Alex di depan pintu. “Walaikumsalam, ehhh ada Hendra…” Sapa Bu Tanjung dengan tangan yang ingin menggendong Hendra. Hendra yang melihat itu memeluk kaki Alex sebagai penolakan.
“Aduh memang Anak Ayah yah Kamu..” Tegur Bu Tanjung lembut.
“Bu Andra dan Indra ada? Mau Saya suruh pulang mandi.” Ujar Alex to the point. “Ada-ada ayo masuk Pak Alex.” Bu Tanjung mempersilahkan Alex masuk, karena dipersilahkan masuk, Alex pun masuk bersama Hendra.
__ADS_1
Ini kali pertama Alex masuk ke rumah Pak Didit, sebelumnya hanya berdiri di depan pintu. Rumah itu kini sedikit lebih luas, karena Pak Didit sudah merenovasi rumahnya saat berhasil mendapat keuntungan dari penjualan akibat popularitas Alex tempo lalu.
“Oh jadi ini hasil dari ambil untung kepada Abipraya.” Kata Alex dalam hati. Untuk satu rumah Alex mengetahui itu, rumahnya Abipraya karena Dia bercerita langsung namun Alex tidak memberitahukan kepada Abipraya hal tersebut.
Setelah masuk, Alex mendapati rumah Pak Didit yang sedikit berantakkan. Mainan berserakan di lantai, yah hampir sama rumah Alex. Tetapi rumah Pak Didit lebih berantakkan lagi, Alex tinggal sendiri dengan tiga orang anak bisa terbilang masih rapi dibandingkan dengan rumah Bu Tanjung yang dihuni oleh tiga perempuan.
Hendra bersama Ayahnya duduk di sofa yang berwarna ungu. Rumah itu dipenuhi dengan warna Ungu, dari sofa, gorden, cat dinding hingga segala Aksesorisnya. Alex memegang lagi kepala yang bagian kiri, Migrainnya kambuh lagi melihat ruangan yang serba Ungu. “Pak Didit tidak pusing apa ya liat warna Ungu tiap hari.” Gumam Alex.
“Ayahhhh…” Indra berlari dan memeluk Alex. Andra berjalan di belakang Adiknya, mereka berdua masih mengenakan baju sekolah. “Maaf Pak Didit Saya baru bisa jemput Anak Saya karena tadi Hendra tertidur. Kalau Hendra tertidur, Saya tidak biasa meninggalkannya.” Ujar Alex beralasan padahal Dia sibuk memikirkan Eliana.
Pak Didit yang keluar bersamaan dengan Anak Alex itu tersenyum dan berkata “Yo Ndak papa toh Pak Alex, jangan sungkan.” “Tapi Pak Alex, maaf jika Saya menanyakannya lagi, Uang nasi padang belum masuk, apa nyasar yo Pak?” Tanya Pak Didit.
“Alhamdulillah…” Ujar Pak Didit setelah melihat bukti transfer tersebut. “Loh ini lebih Pak Alex, bukannya kata Istri Saya satu juta. Ini malah satu juta dua ratus rupiah.” Kata Pak Didit. “Tidak apa Pak Didit itu sengaja Saya lebihkan untuk Cucu Pak Didit.” Ucap Alex.
“Wah kalau begitu terima kasih Pak.” Pak Didit tersenyum sinis. “Bisa juga Aku jajan dua ratus ribu, si Tanjung kan engga tau.” Pak Didit menyeru dalam hati.
__ADS_1
“Lah engga apa kalau lebih Ayah, itu namanya rejeki jangan ditolak.” Kata Bu Tanjung yang tiba-tiba muncul, Dia sedang membawa secangkir teh di atas nampan. “Loh Ibu?” Sahut Pak Didit yang terkaget. “Batal deh, pasti melayang lagi itu dua ratus ribu.” Gumam Pak Didit sembari cemberut.
“Silahkan diminum Alex.” Sapa Bu Tanjung sembari duduk di sofa dan disusul oleh Pak Didit. “Tidak usah repot Bu, Saya sudah mau pulang. Sudah mau maghrib, Anak-anak Saya pada belum mandi hehe.” Sahut Alex. Kemudian Dia meneguk teh hangat itu dan pamit pulang.
“Ya sudah, silahkan. Andra, Indra, dan Hendra pulang mandi dulu ya sayang, besok main lagi kesini ya.” Ucap Bu Tanjung ramah. Hatinya sedang senang, uang belanja sayur satu minggu sudah aman.
“Baiklah, kalau begitu Saya Pamit ya Bu, Pak.” Kata Alex. Mendengar Ayahnya yang pamit segera Andra dan Indra menyalami tangan Bu Tanjung dan Pak Didit. “Hendra sini salam Ibu.” Panggil Bu Tanjung namun Hendra enggan mendekati sepasang Suami Istri itu.
“Memang seperti ini, sangat susah Hendra mau sama seseorang. Saya pamit ya Bu, Assalamualaikum.” Kata Alex sembari keluar dari rumah Pak RT-nya. “Walaikumsalam.” Jawab sepasang Suami Istri itu.
Sesampainya di rumah, Alex memulai rutinitasnya sebagai Ayah dan Ibu. Andra dan Indra sudah bisa mandi sendiri, sedangkan Hendra Dia mandikan. Ketiganya memakai baju piyama dengan motif yang sama tapi beda warna. Andra memakai baju tidur berwarna Merah, Indra berwarna Biru, dan Hendra kombinasi dari keduanya.
Setelahnya tiga bersaudara itu beramain di ruang keluarga. Ruangan ini memang ruang kesukaan mereka, tempat bermain dan menonton TV. Tak lama adzan maghrib pun berkumandang, Alex pergi mandi lalu memakai baju dan menunaikan ibadah sholat maghrib.
Sehabis sholat, Alex pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam keluarga kecilnya. Nasi yang telah dimasak tadi pagi masih cukup untuk makan malam. Dia membuka tudung saji, masih lengkap Ayam goreng yang Dia masak. Alex menatap tumis kangkung pada meja makan di bawah tudung saji tersebut, Alex menghirup baunya kalau-kalau sudah basi, dan ternyata belum.
__ADS_1
Alex lekas memanaskan sayur kangkung tersebut den manyajikannya kembali. Setelah selesai meletakkan semua piring dan sendok, nasi, lauk pauk dan air putih di meja Alex ingin memulai makan malamnya.
“Andra bawa Adikmu ke sini, Indra ayo sini makan.” Ujar Alex kepada Anak-anaknya. Lalu Andra membawa Hendra, disusul dengan Indra. Mereka makan malam bersama dengan lahap dan tenang.