Duren Kampus

Duren Kampus
Ketika Abipraya ke Kampus


__ADS_3

Untuk beberapa detik, Alex berdiri terdiam bak patung. Sesuatu yang diluar dugaannya terjadi. Dia pikir selama ini Najwa hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Dengan demikian, Alex dengan leluasa menceritakan kisah asmaranya kepada sahabatnya itu.


Namun hari ini semua memori itu terulang lagi. Ingatan bagaimana Alex menceritakan kisah asmaranya seakan membuat Alex menjadi seorang yang tak punya hati. Walaupun Alex tidak tahu kalau waktu itu Najwa mencintainya. Tetapi hari ini, tetap saja Alex sangat merasa menyesal.


Alex tetap melanjutkan langkahnya. Ia melangkah maju meninggalkan Najwa sendirian.


*


*


Sementar itu, di kediaman Bu Tuti, Kakak dari Aisyah itu masih dengan rutinitasnya duduk di sofa depan TV. Serial yang ia tonton kali ini drama dari turkey. Tak lupa semangkuk kacang kulit yang di kukus telah menemaninya.


Aisyah tampak duduk bersama dengan Hendra di kamarnya. Beberapa mainan terlihat berserakan di lantai bersama kedua orang tersebut. Setelah bermain bersama, Hendra merasa bosan. Melihat pintu kamar Aisyah yang terbuka lekas Hendra berlari keluar.


“Hen, mau kemana?” Kata Aisyah lembut sembari melihat Balita itu. Hendra terus berlari hingga keluar kamar. Aisyah tidak mengerti apakah Anak bungsu dari Alex itu mendengar kalimat dari Aisyah atau tidak, yang jelas Hendra tak menghiraukan perkataan Aisyah.


Merasa dicuekin, Aisyah pun beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Hendra. Ia menemukan Hendra sedang duduk sendiri di atas sofa, dengan sofa yang lain diduduki oleh Bu Tuti.


“Kenapa Hendra ke sini Aisyah, tidakkah kau mengajaknya untuk bermain di kamar mu?” Ucap Bu Tuti tidak jelas karena sambil mengunyah kacang itu. “Apa Uni, maksudnya gimana?” Aisyah memasang kuping kali ini agar dapat mendengar perkataan Kakaknya dengan jelas.


Bu Tuti memiringkan bibirnya lalu menghela nafas kasar. Ia menghabiskan terlebih dahulu kacang yang ada di dalam mulutnya. Setelah itu ia meminum air putih. “Kapan kau akan menikah dengan Alex?” Tanyanya.


Kakak dari Aisyah tidak menanyakan pertanyaan yang sama. Tetapi bagi Aisyah yang tidak mendengar dengan jelas perkataan yang pertama, menurutnya itu adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang tadi.


Pertanyaan Bu Tuti membuat pipi Aisyah memerah. Tidak bisa dipungkiri, Janda kembang satu ini sudah mulai menaruh hati pada Duda keren tetangganya itu. Setelah ia pulang dari penjara untuk menjenguk Ghandy sang mantan Suami, Aisyah memantapkan diri untuk lebih mengenal Alex.


“Bukankah Alex menunggumu?” Tambah Bu Tuti, ia melanjutkan acara makan kacangnya. “Jika memang dia menunggumu, lalu kapan kau akan siap untuk menikah Aisyah?” Ujar Bu Tuti yang matanya tak tertuju kepada Adiknya melainkan ia berbicara sambil menatap layar TV.


Aisyah masih terlihat berpikir, entah mengapa walaupun Alex mulai mengantung di dalam hatinya, ia masih saja mengingat Ghandy. “Uni, sebenarnya ada yang tidak beres terhadap diriku.” Ucap Aisyah.

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau sakit Aisyah?” Tanya Bu Tuti. Kali ini dirinya menatap Aisyah, dia melihat adiknya masih segar saja dan tidak pucat lalu matanya kembali menatap layar TV. “Tidak Uni, aku tidak sedang sakit. Hanya saja, bayangan Ghandy masih saja terus menghantuiku.” Terang Aisyah.


Hendra telihat tenang menonton tanpa menyadari bahwa ada dua orang Wanita dewasa yang sedang mengobrol di sampingnya.


“Iya benar, Ghandy memang patut kau sebut hantu.” Sahut Bu Tuti. “Bukan seperti itu Uni, terkadang aku masih memikirkan Ghandy.” Ujar Aisyah jujur kepada Kakaknya.


“Heyyyy.. Aisyah adikku yang cantik tapi bodoh. Buat apa kau memikirkan manusia jahanam seperti dia ha?! Jangan hiraukan perasaanmu itu kepadanya. Dengan semua yang ia lakukan padamu, masih saja kau memikirkannya. Sungguh kau sangat bodoh!” Bu Tuti geram melihat adiknya sendiri.


Aisyah hanya terdiam. Bisa menjawab apa lagi dia? Karena dengan sangat sadar dia juga tahu kalau dirinya itu bodoh.


“Kau harus menentukan pilihanmu Aisyah, jangan biarkan Alex menunggumu terlalu lama. Kasihanilah dia Aisyah, jangan memberikannya harapan palsu.” Tegas Bu Tuti. “Baik Uni.” Jawab Aisyah pasrah.


Aisyah beranjak dari tempatnya untuk mengambil Hendra. Ternyata bocah itu sudah tertidur dengan posisi menghisap jari jempolnya. Aisyah hanya bisa tersenyum kala melihat anak bungsu dari Alex itu tertidur manis. Ia menggendong Hendra dengan perlahan dan membawanya masuk kamar. Meletakkan balita itu di kasur dengan perlahan agar tidak terbangun.


Aisyah pun berniat untuk mengambil wudhu dan ingin melaksanakan sholat istikharah. Dengan kebimbangan yang ia rasakan saat ini. Hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang dapat membantunya.


*


*


“Kau dengar itu Dinda?” Tanya Eliana memastikan. “Tentu aku mendengarnya. Kuping kita masih sejajar dan sama-sama normal. Dengan teriakan yang sebesar itu ku rasa, siapapun yang bersama kita saat ini pasti akan mendengarnya Eliana.” Terang Dinda.


Kedua sahabat ini masih saja memandang satu sama lain. Tidak heran baginya melihat Najwa yang menyatakan cintanya kepada Alex. karena bahasa tubuh Najwa selama ini sangat jelas terlihat bahwa ia menyukai Alex, Alexnya saja yang kurang peka.


Namun yang menjadi diluar nalar mereka adalah Alex. Entah mengapa tetangga dari Eliana tersebut hanya terdiam dan berjalan maju meninggalkan Wanita itu. Karena jika dipikir-pikir, selama Eliana mengenal Alex, hanya Najwa satu-satunya perempuan yang paling banyak mengahabiskan waktu bersama tetangganya itu.


Wanita yang lain yang mengisi hari Alex adalah Wanita yang banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak Alex, termasuk dirinya sendiri.


“Jika melihat dari respon Alex, sepertinya dia tidak menginginkan Wanita itu.” Ujar Dinda seraya berpikir. “Kalau bukan Najwa, lalu siapa lagi Dinda?” Eliana lebih berpikir keras lagi. karena ia tahu bahwa dirinya bukan lagi kandidat yang bisa disandingkan dengan Alex.

__ADS_1


“Entahlah, untuk hal ini, semuanya masih misterius.” Sahut Dinda. “Apakah Alex berniat menjadi single parent untuk selamanya?” Eliana menyeru dalam hati.


Gerrrkkkk… tiba-tiba saja ponsel Dinda berdering. Ada panggilan suara yang masuk ke dalam jaringan ponselnya. Matanya terbelalak kala melihat layar ponselnya. “Fredrickkk..” Gumamnya.


“Ada apa Dinda, kenapa matamu seakan ingin keluar saat melihat hp-mu?” Tanya Eliana heran. “Eliana, apa akhir-akhir ini Fredrick menghubungimu?” Tanya Dinda memastikan. “Ahhh… iya benar! Dan aku tidak sudi untuk mengangkat telepon darinya.” Ujar Eliana sinis.


“Kau lihat ini!” Dinda memperlihatkan layar ponselnya kepada temannya itu. “Fredrickkk…? Ada apa ia menghubungimu Dinda?” Sahut Eliana. “Tentu karena ingin mencarimu, siapa lagi?!” Dinda lekas mengangkat telepon dari mantan pacar temannya itu.


“Halo, iya ada apa Fredrick?” Jawab Dinda pada panggilan suara itu. Tak lupa ia menloadspeaker panggilan itu agar Eliana dapat mendengarkan dengan seksama. “Kau dimana Dinda?” Tanya Fredrick lebih dulu.


“Aku sedang berada di rumah.” Jawab Dinda berbohong. Karena jika Dinda menjawab sedang berada di Kampus tentu bisa ditebak kalau dirinya sedang bersama dengan Eliana.


“Apa kau tidak ke Kampus hari ini Dinda?” Tanya Fredrick lagi. “Uhuk-uhuk.” Dinda sengaja terbatuk. “Tidak Fredrick, aku sedang flu.” Sahut Dinda berpura-pura sakit.


“Oh begitu rupanya. Jika Eliana menjengukmu tolong kabarin ya.” Pesan Fredrick. “Okay baiklah.” Jawab Dinda singkat. lalu panggilan suara itu ditutup oleh mantan pacar Eliana.


“Emang tu orang sudah gila! Enggak ada urat malunya. Untuk apa dia mencarimu setelah menyelingkuhimu.” Berang Dinda emosi. “Biarkan saja, mungkin dia sedang terkena karmanya sendiri hingga ia mencariku.” Eliana tampak tersenyum dalam kemenangan.


“Okay baiklah, kita abaikan saja dia.” Sahut Dinda. Kemudian kedua sejoli ini melangkahkan kaki beranjak dari taman itu. Entah mengapa langkah kedua gadis itu terlihat seperti membututi Alex, hingga jelas terlihat oleh mereka ada sebuah mobil sedan bermerk BMW yang baru saja terparkir.


“Hai Alex…” laki-laki itu turun dengan mengenakan kacamata hitam beserta sport fashionnya. Ia tampak memeluk Alex dengan erat dan mereka berdua tersenyum bersama.


“Ada apa Alex? Tumben-tumbennan kamu minta jemput olehku. Apakah Pak Didit sedang sakit? Atau dia sedang sibuk?” Tanya Abipraya.


Ketika sedang berolahraga di Gym elite pada perumahan miliknya. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari sahabat kecilnya untuk dijemput. Karena itu adalah moment yang langka, Abipraya pun menghentikan kegiatan berolahraganya dan segera menjemput Alex.


“Tidak keduanya Alex. Pak Didit mungkin saja sedang rebahan di rumahnya. Hanya saja Aku sedang banyak pikiran. Dan aku terpikirkan olehmu, jadi aku meneleponmu. Bisakah kita pulang Sekarang? Akan kuceritakan masalahku dalam perjalanan pulang nanti.” Jelas Alex.


Wajah Alex terlihat sedang tidak baik-baik saja. Abipraya sadar akan hal itu, dengan tidak banyak tanya, ia membukakan Alex pintu, dan setelah Duda keren itu masuk, Abipraya pun masuk lalu pergi meninggalkan Kampus itu.

__ADS_1


“Wahhh…” Mata Dinda seakan berbinar, begitupun sebaliknya, Eliana merasakan hal sama. “Hay siapa itu yang barusan bersama Alex?” Tanya Dinda berdecak kagum. Kedua gadis ini sedang melihat Abipraya yang sangat terlihat keren dan manis.


“Entahlah, Aku tidak tahu Dinda. Tapi ku rasa aku pernah melihatnya. Dimana aku pernah melihat pria itu ya.” Kata Eliana seraya berpikir dan mengingat.


__ADS_2