
Bu Tuti sedang berolahraga kecil di teras rumah. Merasa kepanasan Bu Tuti masuk ke dalam rumahnya dan melanjutkan dengan berlari di tempat. Lari kecil itu diiringi dengan kipas angin yang memutar di dinding ruang tamu.
Kakak dari Aisyah tersebut tak sengaja melihat Aisyah dibalik jendela yang sedang menggendong Hendra. “Nah loh, mau kemana Kamu Aisyah gendong Hendra.” Bu Tuti menyeru dalam hati kala melihat Aisyah melangkah masuk ke dalam halaman Alex.
Melihat Aisyah masuk ke halaman Alex, Bu Tuti keluar rumah dan berjalan perlahan, mengjinjit dan bersembunyi dibalik pagar pembatas rumah. Dia sedang melihat Hendra yang diambil oleh Alex dari Adiknya saat menggendong Hendra. “Ciaileeeehhh.. Aisyahhh sok-sok buang muka Lu.” Kata Bu Tuti dengan nada berbisik dan tersenyum.
Setelah Aisyah melangkah meninggalkan rumah Alex, Bu Tuti segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia melanjutkan olahraga kecilnya.
“Assalamualaikum.” Ujar Aisyah sembari membuka pintu rumah. “Walaikumsalam. Dari mana Kamu Aisyah?” Tanya Bu Tuti tanpa memandang Aisyah. Langkah Adiknya itu terhenti tepat di samping Kakaknya.
“Tadi kan Uni suruh beli odol, nih odolnya.” Ujar Aisyah sembari memberikan pasta gigi yang baru saja Dia beli. “Oh iyaaa.. langsung taruh saja di kamar mandi Aisyah.” Perintah Bu Tuti. Lalu Aisyah pergi ke toilet.
Untuk beberapa saat Bu Tuti berpikir keras. “Hal apa yang harus Aku lakukan agar Aisyah bisa dekat dengan Alex ya..” Bu Tuti menghentikan lari-lari kecilnya. Dia berjalan mondar mandir satu sampai tiga langkah.
“AHA!!” Sebuah lampu lima watt tiba-tiba bersinar di atas kepalanya. Bu Tuti melanjutkan lagi lari-lari kecil menghadap ke dalam rumah. Dia sedang menunggu Adiknya lewat untuk masuk ke kamarnya.
Sebentar saja Aisyah sedang berjalan masuk ke dalam kamarnya. “Arghhhhh….” Bu Tuti berteriak histeris. Dia terduduk dan memegangi pipi kirinya. Mendengar teriakan itu langsung saja Aisyah mendekati Kakaknya.
“Arghhh.. tolong, tolong Aku Aisyah..” Bu Tuti berteriak dan merintih-rintih. “Ada apa Uni?” Aisyah kaget melihat Kakaknya merintih dan berteriak. Jantung berdetak cepat, Aisyah ketakutan, hanya Bu Tuti lah satu-satunya keluarganya.
“Arghhh…. Tolong Aisyahhh…” Bu Tuti menambah volume suaranya. Aisyah kelabakan, Dia bahkan meneteskan air matanya. “Berhasil, Aisyah tertipu!” Gumam Bu Tuti dalam hati. Dia sedang merencanakan sesuatu.
“Iya Uni, apa yang harus Aku lakukan?” Aisyah memangku kepala Bu Tuti yang tergeletak merintih kesakitan. “Cepat panggilkan Alex Aisyah.. cepat.. Huaaa..” Bu Tuti kembali merintih hingga menangis.
__ADS_1
Raut wajah Bu Tuti menunjukkan kesakitan, suara rintihannya seperti orang yang sangat kesakitan tetapi tangisannya tidak mengeluarkan air mata walaupun satu tetes. Namun, tetap saja Aisyah yang polos itu tertipu dengan sandiwara Kakaknya.
Tanpa pikir panjang Aisyah lekas meletakkan kepala Bu Tuti di lantai dan berlari keluar rumah menuju rumah Alex. Bu Tuti yang terpejam itu membuka sebelah matanya melihat Aisyah keluar dari rumah. Dia sedang tertawa cekikikan sekarang. Lalu kembali memejamkan mata menunggu kedatangan Aisyah.
Sementara itu Alex menyantap makan siang bersama ketiga Anaknya. Makan siang itu seperti biasanya, Anak-anaknya makan dengan lahap. Hendra yang semakin hari semakin besar itu diajarkan untuk menyuapi dirinya sendiri hingga Alex bisa makan bersama dengan ketiga Anaknya.
Pada suapan ketiga pada mulut Alex, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Dingdong! Alex meletakkan sendoknya dan berdiri. “Andra, sepertinya ada tamu. Tolong liatin Adikmu Hendra ya, biarkan saja Dia makan sendiri. Andra hanya perlu mengawasi Adek sambil makan.” Pesan Alex.
Andra mengangguk sambil mengunyah lalu Alex membuka pintu. “Assalamualaikum. Alex bisa tolong saya..” Ujar Aisyah dengan pipi yang basah.
Alex terkejut melihat Aisyah yang menangis. “Ada apa Aisyah?” Ucap Alex. “Kakakku Bu Tuti, Aku tidak tahu apa yang terjadi. Secara tiba-tiba Dia hanya merintih kesakitan dan berteriak. Kakakku juga menyuruhku kesini untuk menemuimu.” Tambah Aisyah yang masih menangis.
“Baiklah, Aku akan kerumah mu tunggu sebentar.” Alex kembali ke dapur menghampiri Anak-anaknya. “Andra tolong jagain kedua Adikmu ya, nanti selesai makan ajak Adek main. Ayah mau ke sebelah ke rumah Bu Tuti.” Pesan Alex lagi.
Aisyah mempercepat langkahnya diikuti dengan Alex. Setelah sampai Aisyah meliaht Bu Tuti terbaring dilantai tak bergerak. Sontak Aisyah berteriak “Uniiii…..” Aisyah menangis histeris.
Alex yang melihat hal itu pun terkejut dan segera berlari kerumah untuk mengambil mobil lalu membawanya tepat di depan rumah Bu Tuti. Dia berusaha menggendong Bu Tuti namun kesulitan karena badan Bu Tuti yang besar dan berlemak.
Alex tak berhenti berusaha hingga Dia berhasil membawa Bu Tuti masuk ke dalam mobil. “Hahaha.. kalian berdua ini sama bodohnya.” Bu Tuti menyeru dalam hati. Dia masih saja pura-pura pingsan.
“Aisyah serahkan Bu Tuti kepadaku. Kamu tolong jaga Anak-anakku. Mereka sedang makan di rumah dan tidak tahu apa-apa. Cukup jelaskan kepada mereka bahwa Aku akan mengantar Kakakmu ke rumah sakit dan akan segera kembali.” Pesan Alex.
Alex menatap tajam kepada Aisyah namun kali ini Aisyah tidak merasakan takut atau sesuatu yang lain. Aisyah merasakan kesungguhan dalam hati Alex untuk menolong Kakaknya. “Baik Alex, cepatlah pergi Alex, Aku tidak ingin Kakakku kenapa-kenapa.” Pesan Aisyah sembari mengelap air matanya.
__ADS_1
“Jangan khawatir Aisyah. Serahkan kepadaku.” Kata Alex sambil memegang kedua pundak Aisyah. Seketika kedua orang itu merasakan jantung mereka berdebar. Aisyah beradu pandang dengan Alex, empat mata. Duda dan Janda itu seketika salah tingkah, kemudian Aisyah menundukkan pandangannya.
“Emm.. maaf.” Ujar Alex melepaskan tangan dari pundak Aisyah. Alex menggaruk-garuk kepalanya yang sedang tidak gatal. Dia masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa berbicara.
Dengan hati berdebar takut bercampur senang Alex mengendarai mobil mewahnya itu. Sedangkan Aisyah pergi ke rumah Alex.
Dingdong! “Assalamualaikum.” Aisyah memberi salam. Andra yang sedang mencuci tangan sehabis makan lekas pergi membuka pintu. “Indra jagain Adek Hendra ya.” Pesan Andra kepada Indra. “Iya.” Jawab Indra singkat.
“Assalamualaikum.” Aisyah memberi salam untuk yang kedua kalinya. “Walaikumsalam.” Ujar Andra menghampiri Aisyah. Andra merasa asing kepada wajah itu. Aisyah pun demikian, Dia tidak mengenal Anak-anak Alex kecuali Hendra.
“Tadi Kakak bertemu dengan Ayah, Ayah sedang dalam perjalan kerumah sakit untuk mengantar Kakaknya Kakak. Jadi, Kakak akan menemani Kamu di rumah sampai Ayah pulang.” Ujar Aisyah lembut dan tersenyum.
“Iya silahkan masuk Kakak.” Andra mempersilahkan Aisyah masuk. Entah kenapa Dia tidak mencurigai Aisyah sedikit pun. Untuk pertama kalinya Aisyah masuk ke dalam rumah Duda ganteng itu. Dia melihat rumah itu sedikit suram tanpa perawatan tangan seorang perempuan.
Gorden dan seprai yang terlihat usang. “Kata Uni Alex itu milyarder, tetapi ku lihat rumah ini sangat sederhana untuk ukuran orang kaya.” Gumam Aisyah dalam hati. “Mungkin, Alex tidak mengerti bagaimana caranya merawat rumah.” Aisyah masih bergumam.
“Kakak, Kami sedang makan siang. Apa Kakak sudah makan? Jika belum ada piring di sana, ada nasi di sana, dan kalau sudah silahkan cuci piring di sana.” Kata Andra. Dia menunjukkan satu persatu tempat itu sesusai kalimatnya.
Aisyah tersenyum lucu melihat tingkah dari Andra. “Sungguh polos Anak ini, mungkin Alex yang dulu mengajarkannya seperti itu sampai saat Dia memperagakannya kepadaku.” Aisyah bergumam. Perutnya terasa tergelitik.
“Kakak…” Hendra mengulas senyum dengan bibir yang celemotan. “Hendra sayang, sudah pinter suap sendiri Kamu nak.” Aisyah mengucap kata sambil mengusap rambut Hendra.
“Iya, Dia sudah pintar suap sendiri. Ayah yang ngajarin!” Sahut Indra yang nasinya belum habis. Aisyah menoleh tersenyum melihat Indra. Indra hanya melanjutkan makannya sampai habis.
__ADS_1
Aisyah mengambil sendok yang dipegang oleh Hendra. “Sini sayang Kakak suapin.” Ujar Aisyah sambil mengelap wajah Hendra dengan tissue basah yang ada di atas meja. Lalu Aisyah melanjutkan dengan menyuapi Hendra sampai habis. Hendra pun dengan senang hati disuapi oleh Aisyah.