Duren Kampus

Duren Kampus
Green Andara Residences


__ADS_3

“Assalamualaikum Ayah.”


Andra mengucap salam sepulang sekolah. Di barengi Indra yang meraih tangan Alex untuk bersalaman.


“Walaikumsalam. Para jagoan ayah sudah pulang.”


Ujar Alex yang kini sedang berpelukan dengan kedua putra nya. Andra memeluk kaki kanan Alex, sebaliknya Indra memeluk kaki yang sebelah kiri. Alex hanya bisa membelai kedua rambut anaknya.


“Sekarang taruh tas mu di gantungan baju belakang pintu ya. Habis itu ganti baju dan makan siang. Hari ini ayah sudah pesan ayam KFC kesukaan kalian berdua.”


Kata Alex sambil menoel hidung anaknya bergantian. Andra dan Indra meloncat kegirangan. Mereka berdua segera lari masuk kamar melakukan perintah ayahnya.


Setibanya di meja makan. Sudah siap whole chicken, ayam krispi yang berisi sembilan potong paha. Tak lupa nasi dan jus jeruk segar.


“Hayooo siapa yang tahu sebelum makan harus ngapain dulu?.”


Tanya Alex sambil melatih kedua putranya.


“Cuci tangannnn!.”


Teriak Indra antusias. Indra juga menunjuk tangan kanannya.


“Benar. ayo apa lagi?.”


Alex berkata sembari mengangkat telunjuk kanannya.


“Baca doaaaa…”


Teriak Andra yang juga menunjuk tangan. Alex tersenyum senang. Anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas.


“Benar sekali. Nah sekarang ayo cuci tangan, duduk, dan makan.”


Jelas Alex. Andra dan Indra bergegas melakukan hal yang mereka sebut tadi. Setelahnya mereka makan dengan lahap. Tidak terlihat Hendra di meja itu. Tetap saja bagi Andra dan Indra itu bukan sesuatu yang harus mereka cari. Dikarenakan sedang lapar juga lagi lahap-lahapnya mereka makan.


“Nanti sehabis makan. Jangan lupa untuk mencuci tangan lagi. Menutup makanan yang di meja. Juga cuci piring masing-masing ya. Ingat jagoan hebat itu mandiri.”


Jelas Alex yang berniat mengajarkan anaknya mandiri sejak kecil. Dan bonusnya dia tidak perlu repot-repot lagi cuci piring.


Alex menuju kamarnya. Membangunkan Hendra yang sudah tidur sejak tadi. Hendra dibangunkan untuk makan siang. Setelah bangun lekas Alex menggendongnya dan membawanya ke dapur.


Duduk diatas babychair miliknya. Hendra menunggu, seakan paham betul bahwa jika duduk di kursi itu waktunya untuk makan. Alex mencoba memberi makan Hendra nasi lembek. Mengajarkannya untuk tidak memakan bubur lagi. Mengingat beberapa giginya sudah tumbuh.

__ADS_1


Sembari menyuapi Hendra. Serta memantau Andra dan Indra yang sedang makan. Alex menyalakan TV dan menonton berita. Setelah iklan, muncul iklan mengenai property di jakarta.


Para pengusaha berlomba menggeluti usaha property yang sedang naik daun. Bahkan bukan hanya naik daun, bisnis property memang menjanjikan. Selain mendapat keuntungan yang besar. Berbisnis property selalu untung, karena harga tanah dan bangunan yang selalu naik tiap tahun.


Melihat iklan itu Alex berdecap kagum. Design interior rumah bertema Eropa modern. sedangkan eksterior model Amerika klasik. Perpaduan yang sangat macthing. Alex menyimak.


Ternyata perumahan yang muncul di TV itu adalah perumahan tempat tinggalnya. Tapi rumah Alex hanya rumah sederhana bermodel minimalis modern type 36. Nindi dan Alex sepakat merenovasi rumahnya kala itu menjadi type 45.


Alhasil rumah itu memiliki tiga kamar tidur. Dua kamar mandi, satu dapur, satu ruang tamu, dan satu ruang keluarga. Alex memperhatikan rumah mewah yang di TV itu. Lalu mengerti, rumah mewah yang dimaksud adalah Green Andara Residences blok A-D.


Memang benar, type rumah disana besar dan bertingkat. Alex saja yang satu perumahan tidak pernah menginjakkan kaki disana. Karena Alex dulu keluarga yang sederhana. Yah, walaupun sekarang dia sudah Milyarder dan mampu membeli itu semua.


Tetapi Alex tetap memilih tinggal di rumahnya blok F11. Rumah sederhana penuh kenangan.


“Om telolet om… om telolet om.”


Telepon genggam Alex berdering. Segera dia mengambil dan mengangkatnya.


“Halo pak Alex, boleh minta tolong pak. Saya lagi diluar. Ada orang yang mau membeli rumah disamping rumah mba Eliana. Orangnya sudah sampai pak. Bisa tolong temani sebentar pak.”


Kata pak Didit meminta tolong kepada Alex. Bukan tidak mau menolong, hanya saja Alex kebetulan sedang memberi makan anak-anaknya.


“Pak Didit sebelumnya saya minta maaf. Bukan bermaksud menolak dan tidak mau menolong. Saya sedang memberi makan anak-anak saya pak.”


“Baik pak, nanti saya suruh istri saya saja pak.”


Pak Didit berkata dengan sigap dan langsung menutup telepon tanpa memberi salam lagi. Alex tidak ambil pusing setiap tingkah pak Didit. Karena dia tahu betul, memang seperti itulah pak Didit. Dia sudah paham.


*


*


“Halo bu, itu di depan ada orang mau nanya rumah. Tolong di temani dulu bu. Saya masih dijalan pulang. Sekarang sedang macet parah bu.”


Jelas pak Didit kepada bu Tanjung. Bu Tanjung tidak menolak dan langsung mengiyakan saja suaminya lalu menutup telpon. Segera menuju depan rumahnya menghampiri orang tersebut.


“Permisi ibu, saya istrinya pak Didit. Pak RT sekaligus marketing perumahan ini. Saya diberitahu katanya ibu sedang di sini untuk menanyakan soal rumah. Berhubung suami saya lagi kena macet. Saya yang menggantikan suami saya untuk menemani ibu.”


Ujar bu Tanjung ramah. Ternyata suaminya itu multi talent sekali. Dia banyak melakukan pekerjaan. Dari supir, pak RT, dan sekarang marketing perumahan Green Santika. Daebak! Pak Didit memang “suhu” (sebutan bagi senior/orang hebat). Bisa jadi dia juga melakukan bisnis MLM (multi level marketing) dari berbagai perusahaan. Sepertinya dan yap benar adanya.


“Boleh saya masuk ke rumah itu untuk melihat-lihat.”

__ADS_1


Tanya ibu muda itu. Dia seorang ibu-ibu jelas dari bentuk dan lekuk tubuhnya. Tapi dia terbilang muda, sekitar berumur tiga puluh tahun. Masih cantik dan berenergi.


“Oh iya tentu boleh ibu ini kuncinya.”


Bu tanjung dengan sopan menjawab dan memberikan kunci rumah. Mereka berdua masuk. Bu Tanjung menjelaskan dengan rinci dari mulai fasilitas, type rumah beserta harganya. Bahasanya mudah di pahami. Sesekali ibu muda itu mengangguk.


Tak lama mereka berdua selesai berkeliling. Ibu muda sangat tertarik agaknya.


“Oh ya bu, yang mana ya rumah pak Alex?”


Tanya ibu muda itu dengan antusias. Dia mulai menoleh kiri dan kanan. Bu tanjung terbelalak. Diam dan memejamkan mata sekejap. Berpikir.


“Ini orang pasti fansnya Alex di Youtube”


Gumam bu Tanjung dalam hati. Mengetahui bahwa ibu muda itu fans Alex. Dia semakin bersemangat, ada tanda-tanda bahwa ibu muda itu pasti akan membeli rumah. Namun bu Tanjung menyesal sekarang. Dia lupa menaikkan harga rumah. Dia merasa bodoh barusan karena telah memberi tahu harga rumah sesuai brosur.


“Tapi ya sudahlah, lain kali bisa ku ajak masuk bisnis MLM suamiku.”


Bu Tanjung kembali bergumam. Sekilas, dia langsung tersadar dan menjawab pertanyaan ibu muda itu.


“Oh ya benar bu. Yang itu di samping rumah saya rumahnya pak Alex. Pak Alex itu baik sekali bu, ganteng lagi. Dan asal ibu tau dia itu Youtuber terkenal. Dia seorang milyarder. Walaupun begitu, dia tidak pernah berniat ingin pindah rumah.”


Dengan semangat bu Tanjung menjelaskan. Alih-alih kembali membicarakan tentang rumah yang mau dijual tadi. Dia lebih menonjolkan Alex sekarang. Karena dia tahu itulah penentu ibu muda itu jadi membeli atau tidak.


“Dengan segala kebaikan dan kelebihannya, ibu tahu tidak? Pak Alex itu duren loh bu. Alias duda keren hihihi…”


Kali ini bu Tanjung berbisik dan cekikikan di kuping muda itu. Sontak ibu itu malu, dan pura-pura tidak tertarik.


“Ah ibu, saya tidak suka duda bu. Saya bersuami ibu. Suami saya lagi kerja jadi tidak sempat menemani saya kesini.”


Ujarnya malu-malu, menolak tapi mau. Bu Tanjung paham betul karakter ibu-ibu yang seperti ini. Istri orang tapi ganjen.


“Kalau begitu saya langsung DP saja ya bu. Besok saya lunaskan rumah itu. Saya akan hubungi pak Didit nanti. Saya pamit ya bu.”


Sembari memberikan uang tunai lima juta rupiah ibu itu permisi dan pulang. Bu Tanjung hanya tersenyum sinis.


“Eehhh… dasar lu istri genit. Punya suami kenapa yang ditanya Alex. Huuu…”


Bu Tanjung mengejek sambil mengangkat tangan yang memegang uang itu seakan ingin memukul ibu muda dari jauh. Tetapi dia melirik tangan kanannya.


“Eh iya, hampir saja. Tidak boleh hilang ini duit. Bisa berabe!”

__ADS_1


Kata bu Tanjung dalam hati. Lekas bu Tanjung pulang kerumah dengan langkah kecil-kecil tapi cepat bak video yang sedang dipercepat.


__ADS_2