
Aisyah sedang memasak didapur. Dia memasak gulai ayam, rebus pucuk ubi yang ditiriskan, sambal cabe yang diberi sedikit terasi, dan ikan lele goreng. Ditengah Aisyah mempersiapkan itu semua, tiba-tiba Aisyah mendengar suara teriakan Kakaknya.
“Argghhh…” Bu Tuti berteriak. “Aisyahhh…. Cepat kemari.” Teriak Bu Tuti lagi. Kakak dari Aisyah itu menjatuhkan sebuah Guci berukuran sedang. Seketika Hendra menangis histeris karena terkejut. “Huaaa…” Hendra menangis gemetaran. Anak itu juga tak sanggup mendengar jeritan Bu Tuti.
Aisyah yang mendengar teriakan Kakaknya beserta tangisan dari Hendra lekas mematikan api kompornya dan berlari menghampiri sumber suara.
“Ada apa Uni?” Tanya Aisyah. Aisyah melihat Hendra dengan pipi yang penuh air mata. “Huaaa..” Hendra menangis tak henti-hentinya. Tanpa menghiraukan jawaban Kakaknya lagi Aisyah segera menggapai Hendra dan menenangkannya.
“Hendra sayangg. Jangan nangis, nanti Kakak kasih permen ya..” Ujar Aisyah sambil mengendong Hendra dan mengusap lembut punggungnya. Dagu Hendra tertahan pada bahu Aisyah.
“Aisyahhh.. Aku tak sanggup lagi. Kau lihat, monster mungil ini memecahkan Guci kesayanganku. Bawa saja Anak ini pergi dari sini Aisyah. Keluarkan Dia!” Teriak Bu Tuti lagi.
Hendra yang tadinya hampir berhenti menangis setelah mendengar Bu Tuti berteriak, akhirnya Dia pun kembali menangis. “Uni! Bisakan untuk tidak berteriak. Hendra takut dengan keributan Uni.” Ujar Aisyah dengan nada yang sedikit meninggi.
“Kalau memang tidak sanggup menjaganya, kenapa harus menerima Hendra saat Alex datang kemari.” Wajahnya sungguh bukan seperti Aisyah. Tidak biasanya Adik dari Bu Tuti bisa sekesal ini.
“Lagi pula, Anak ini bukan monster! Dia hanya seorang Balita yang butuh kasih sayang. Lalu kenapa Uni berteriak-teriak saat berada disampingnya. Jangan Uni, Jangan!” Tambah Aisyah.
“Ohhhh… sekarang kau berani melawanku demi monster kecil ini Ha…!” Bu Tuti meninggikan suaranya. Matanya membulat bak ingin menelan seseorang. Bibirnya bergerak-gerak miring ke atas. Lobang hidungnya mengembang seketika.
“Astaghfirullah, Ampuni Aku ya Allah. Aku khilaf.” Aisyah berucap dalam hati. Dia mulai menyadari hampir saja dirinya marah kepada Kakaknya sendiri.
“Kenapa terdiam Aisyah. Jawab Uni!” Tegas Bu Tuti masih dengan nada yang sama. “Aisyah menundukkan wajahnya, Hendra masih saja menangis “Huaaa.”. Tak sanggup, akhirnya air mata Aisyah pun mengalir membasahi pipinya sama seperti Hendra.
“Tolonglah Uni, kumohonnn.. hentikan suara keras Uni itu. Anak ini sungguh ketakutan Uni.” Ujar Aisyah menangis lirih, hatinya terasa tercabik kala melihat Hendra menangis histeris dan gemetaran seperti itu.
“Baiklah, mulai sekarang kau yang mengurus Hendra. Aku tidak akan mau mengurusnya lagi. Jika besok Alex datang lagi, Aku harap yang akan langsung mengambil monster ini adalah kau Aisyah. Kau mengerti?!” Perintah Bu Tuti.
__ADS_1
“Baik Uni, asalkan Uni berjanji untuk tidak berteriak-teriak jika ada Hendra.” Sahut Aisyah. Hendra mulai diam dengan situasi yang tenang pula. “Baiklah, Aku setuju!” Kata Bu Tuti yang langsung memalingkan wajahnya setelah menjawab.
Kakak dari Aisyah itu meninggalkan Adiknya yang sedang menggendong Hendra. Dia kembali ke singgasananya di sofa depan TV dan duduk. Dia pun menghidupkan TV dan menonton serial Bollywood Jodha Akbar. Kemudian Dia mulai tertawa-tawa sendiri.
Aisyah melirik kesal melihat tingkah dari Kakaknya. Dia pun mengajak Hendra ke dapur untuk menemaninya memasak. Aisyah mengambil sebuah handuk bersih dan diletakkan dilantai dekat kompor tempatnya memasak.
“Hendra sayang, duduk disini ya sayang. Kakak mau masak, Kakak tidak akan kemana-mana. Ini ada mainan silahkan dimainkan. Ada apa-apa panggil Kakak saja ya nak. Kakak ada disini bersama Hendra.” Ujar Aisyah.
Perempuan itu memberikan spatula plastic berwarna hitam serta mangkok plastic berukuran kecil berwarna hijau kepada Hendra. Hendra mengambilnya perlahan dan memandangi peralatan itu kemudian Dia mulai bermain sendiri.
Adik dari Bu Tuti itu melanjutkan kegiatan masak memasaknya dengan tenang. Tak lupa Hendra bermain dengan nyaman, sesekali Dia mendongak memastikan keberadaan Aisyah.
Setelah memasak Aisyah mulai membereskan dapur kemudian masuk ke dalam kamar bersama Hendra. Tidak ada suara tangis yang terdengar, melainkan suara tertawa riang dari Balita yang berumur dua tahun itu.
“Ahhh… apa Aku bilang. Hendra memang lengket sama Aisyah. Semoga saja akan selalu seperti itu.” Bu Tuti menyeru dalam hati kala mendengar tawa Balita itu.
“Duhhh..” Bu Tuti memijit-mijit kakinya. “Sekarang Aku tidak bisa leluasa menyuruh Aisyah memijit kakiku, karena ada Hendra yang harus Dia urus. Tidak apa Aisyah, kau tak perlu memijitku lagi yang penting Alex menikah denganmu.” Bu Tuti berbicara sendiri.
Hari ini adalah hari yang cerah bagi Alex Cornelius karena untuk pertama kalinya ia merasakan kebebasan. Kebebasan berekpresi untuk dirinya sendiri yang ditahan selama dua tahun lebih. Asanya terasa terkurung, tak bisa menghirup udara dunia luar selain berurusan dengan ketiga putranya.
Alex berjalan perlahan dengan satu tali tas punggung yang terurai ke bawah. Satunya lagi Dia pakai dibahu kanannya. Dia bersinar bak Superstar, para gadis menatap tajam kepadanya. semua mata yang tertuju kepadanya berbinar takjub namun Alex tidak menyadari hal itu.
Saat tiba di kelas, Najwa dikejutkan dengan kedatangan Alex, “Alex itu kau?” Tanya Najwa. Dia bagaikan melihat aktris Hollywood. “Iya Najwa ada apa?” Sahut Alex yang melepaskan kacamatanya dan duduk disamping Ketua kelasnya itu.
Sedangkan Siska, Meimei, dan anggota kelas perempuan lainnya hanya terpatung berdecak kagum. Siska yang paling parah, Dia bahkan sampai mengences melihat Alex. “Mimpi apa Aku semalam?” Ujar Siska yang tak menyadari bahwa Dia sedang mengences.
“Ih jorok Kamu sis.” Tegur Meimei yang melihat air yang menetes dari mulut temannya itu. “Ops sorry!” Sahut Siska dan mengambil tissue di dalam tasnya.
__ADS_1
“Aku masih enggak percaya bahwa itu Alex yang bawa Anak ke kelas kemarin. Kemarin sih pas bawa Anak Dia tetep ganteng, tetapi hari ini Dia luar biasa gantengnyaaa….” Kata Siska terpukau. Kedua bola matanya mengeluarkan emot love bak film kartun.
“Iya benar!” Jawab teman-teman perempuan lainnya bergantian. “Helloooo… kalian nyadar engga sih kalau kalian ngomongin orang dan didengar orangnya. Bisik-bisik bolehhh dong yaaa.” Sela Najwa. Jika mencakup Alex, Ketua kelas satu ini menjadi menjengkelkan.
Para perempuan itu hanya memberikan ekspresi wajah yang bengis. Mereka enggan untuk beradu mulut dengannya, mengingat Dia adalah Ketua teladan dan disiplin.
“Alex Kamu sudah buat WA belum?” Tanya Najwa kepada Alex. “Astaghfirullahhh… belum Najwa.” Alex memukul jidatnya dengan telapak tangannya. Untuk yang kesekian kalinya Dia lupa untuk mengunduh dan menggunakan Whatsapp agar bisa bergabung dengan grup kelasnya.
“Ihhh.. tuh kan!” Kata Najwa kesal. “Alex itu bukan untuk Aku, itu demi kebaikanmu. Kamu enggak mau kan ketinggalan informasi.” Terang Najwa. “Hehehe.. iya maaf.” Sahut Alex sembari menggaruk kulit kepalanya.
“OK! Karena hari ini Kamu sangat fashionable dan tampan. Aku masih kasih satu kesempatan lagi. Jika besok Kamu belum pakai WA, Aku enggak akan kasih informasi apapun tentang tugas kuliah kalau Kamu yang nanya.” Jelas Najwa mengambek.
“Okay okay siap deh Bu Ketua kelas.” Alex merayu temannya agar tidak mengambek. “Ibu, Lu pikir Gue Elu yang sudah Bapak-bapak!” Najwa menyeru dalam hati.
Najwa tak lagi menjawab Alex. Dia hanya mulai menyibukkan dirinya untuk mengambil buku dan pena yang kemudian tak lama setelah itu Dosen mereka masuk ke kelas.
Dear pembacaku
Dari semua bab maaf baru bisa merespon kalian semua
Aku mau share Damagenya Alex pergi ke kampus hari ini
Menurutmu ganteng atau ga nih hehe
Di komen yaaa
__ADS_1
Foto ini sekedar contoh visual ya
Bukan Alex beneran hehe