Duren Kampus

Duren Kampus
Drama kecil Dino


__ADS_3

Puji Astuti bergegas masuk, perempuan satu ini terlihat muda. Badannya tinggi dan kurus, berkulit putih serta berambut pirang panjang. Hidungnya mancung, wajahnya tirus, matanya besar beralis tebal dan berbulu mata panjang nan lentik. “Permisi Pak Alex, boleh Saya masuk?” Ujarnya.


“Silahkan Adek manis” Jawab Pak Didit.


“Dih yang ditanya Alex yang jawab kenapa Bapak tua itu.” Puji menyeru dalam hati.


“Silahkan Mba, duduk saja di depan Saya.” Sahut Alex sembari mempersilahkan dengan telapak tangan yang terbuka seakan melambai.


“Iya Pak.” Jawab Puji kemudian Dia duduk di sofa tempat Ibu Tukiyem tadi. Lalu seperti tadi, Pak Didit mulai memeriksa biodata dari Puji dengan membuka Map yang telah dipegangnya.


“Adek manis, sebelumnya pernah bekerja di mana ya?” Tanya Pak Didit merayu. Agaknya Dia tertarik dengan calon Babysitter yang satu ini. “Kalau Saya lihat umur Adek cukup muda untuk momong Anak” Tukasnya.


“Iya benar Pak, Saya memang belum mempunyai pengalaman kerja untuk momong Anak. Sebelumnya Saya hanya karyawan perusahaan swasta di bidang Broadcasting dan Media Television. Tapi Saya siap untuk menjaga dan merawat anak Pak Alex dengan sepenuh hati” Jawab Puji. “Bahkan jadi Istri Pak Alex pun Saya siap Pak!” Kata puji dalam hati. Seketika Dia senyum-senyum sendiri sekarang.


Melihat senyuman itu Pak Didit semakin kesemsem. “Oh benarkah? Bagaimana Pak Alex? di terima saja pak.” Pak Didit berkata tanpa menoleh lagi kepada Alex. Mulutnya terbuka lebar dan mengences.


“Ih Bapak tua ini jorok amat sih!” Puji bergumam.


“Hm.. Pak Didit tutup mulutnya dulu nanti lalat masuk.” Ucap Alex yang mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Pak Didit. Mendengar hal itu langsung saja supirnya itu menutup mulut dan mengelap ences itu dibahunya.


“Mba Puji, kalau boleh jujur, tidak masalah Mba Puji tidak mempunyai pengalaman untuk menjadi Babysitter Saya asalkan Mba Puji serius dan melakukan yang terbaik untuk Hendra nantinya. Lagipula yang menentukan diterima atau tidaknya Mba Puji adalah Hendra sendiri. Saya mencoba mencari Babysitter atas pilihan Hendra, ketika Hendra mau dan nyaman kepada calon Babysitter-nya nanti, Saya akan menerima orang tersebut.” Jelas Alex.


Puji mengangguk-nganguk diikuti dengan bola mata Pak Didit yang ikutan naik turun pula. “Kalau begitu tes apa yang harus Saya jalani sekarang Pak?” Tanya Puji Astuti yang sudah siap menjalani tes itu.


“Sebagai penentu coba Mba Puji ajak Hendra bermain.” Ujar Alex. “Ini Kami juga menyediakan mainan jikalau ingin menggunakannya untuk menarik perhatian Hendra.” Tambahnya.

__ADS_1


Boneka Dino jenis T-Rex itu kini tak lagi sendirian, ternyata Pak Didit kembali masuk kamar Andra dan mengambil beberapa mainan lagi seperti mobil-mobilan, robot ironman dan lain-lain.


“Tesnya ternyata gampang sekali, kalau seperti ini pasti lulus Saya.” Kata Puji dalam hati. Dia merasa sangat percaya diri bisa melalui tes itu, baginya itu sangatlah mudah. “Adek sayang namanya siapa?” Sapa Puji kepada Hendra.


“Endlaaa…” Jawab Hendra, dia pun melayangkan senyum manisnya saat menyebutkan namanya.


“Oh Hendraaa… Hendra cakep banget sih sayang.” Tambah Puji. Tak perlu diberi tahu nama itu Puji sudah tahu dari channel Youtube Alex.


“Sini yuk main sama Kakak.” Puji bertepuk tangan sekali dan meluruskan kedua tangannya mengarah kepada Hendra. Lekas Hendra membuang muka ke bahu Alex.


“Kakak ada mainan ini, hayooo..” Tak menyerah Puji merayu Hendra lagi. kali ini ditangannya sudah ada dua mainan, tangan kanan memegang mobil-mobilan dan tangan kiri memegang Dino T-Rex itu.


Hendra hanya menoleh sekali dan kembali membuang mukanya.


“Sombong juga ni Anak, kalau bukan Anak Alex ngapain juga sih Gue ngajak lu main Hen Hen!” Puji menyeru dalam hati. Lalu Puji melakukan dialog sendiri.


Puji melakukan drama dalam mainan kecil itu. Hendra yang berpaling dari bahu Alex dan mulai memperhatikan Puji. Puji melanjutkan drama mainan kecil itu dengan meletakkannya di meja.


Lalu mengangkat Dino dan menginjakkan kaki Dino ke mobil seakan menghancurkan mobil itu.


“DARR BRAKKK BRUKKK! Hancur Kamu mobil!.” Puji berkata seakan menyuarakan suara untuk Dino itu. “Tidak-tidak jangannn, jangan injak Aku, Aku akan hancur.” Puji menyuarakan mobil-mobilan yang tak ingin diinjak oleh Dino.


Drama itu berlanjut dengan Dino menginjak si mobil-mobilan. “Tolongggg….” Teriak si mobil. “Siapapun tolong Aku…” mobil-mobilan itu berteriak histeris.


Seketika seorang pahlawan berwarna merah dengan dada yang menyala membara datang menolong si mobil. Menangkap kaki Dino dan melemparnya jauh menembus awan.

__ADS_1


Adegan itu semua diperagakan oleh Puji. Tangan Puji mendekatkan mainan Ironman itu kepada mainan Dino dan menyentuhkan kaki mainan Iroman ke badan Dino lalu Puji menjatuhkan Dino hingga ke lantai. Hendra memperhatikan dengan seksama, tidak tersenyum tidak pula menangis. Sepertinya Dia bingung dengan adegan itu tapi menarik untuk Dia lihat mengingat itu adalah sebuah mainan.


Orang kedua yang masuk untuk tes ini ternyata menyita waktu yang cukup lama. Pak Didit ikutan menonton sambil menopang dagunya menggunakan telapak tangan dengan jemari yang menyentuh wajahnya.


Puji menunggu reaksi dari Hendra, namun tidak ada respon dari Hendra selain memandangi mainan-mainan itu.


“Pak Alex, sepertinya Saya tidak menarik perhatian Hendra, memang Dia tertarik untuk melihat Saya sedang bermain bersama mainan ini tapi tidak ada respon yang Dia berikan terhadap Saya dan cerita Saya.” Ujar Puji menyerah. Memang niatnya kesana hanya untuk bertemu Alex dengan Alibi menjadi Babysitter-nya.


“Semoga saja Pak Alex menyimpan nomor WA (Whatsapp) Saya dan menghubungi Saya.” Puji bergumam, Dia berharap dengan pertemuan ini Alex bisa mengenalnya dan jatuh hati padanya. Sungguh niat yang terselubung itu gagal total. Karena faktanya Pak Didit lah yang terkena pesonanya.


“Baiklah kalau begitu Pak Didit silahkan panggilkan calon yang lainnya Pak.” Perintah Alex kepada supir pribadinya itu.


“Loh sudah Pak? Sebentar sekali Pak!” Sahut Pak Didit yang masih ingin melihat drama kecil yang dipermainkan oleh Puji.


Alex tercengang, “Iya sudah Pak, hari sudah menjelang siang kasian yang masih menunggu di luar Pak.” Jelas Alex.


“Eh iya Pak tidak masalah Pak, boleh Saya minta nomor WA Pak Alex?” Puji bertanya memberanikan diri. Dia merasa rugi jika tidak memanfaatkan momen ini untuk meminta langsung nomor Whatsapp Alex.


“Maaf Mba Puji bukan Saya bukan tidak ingin memberikan nomor WA Saya, tapi jujur Saya tidak menggunakan WA Mba.” Terang Alex jujur.


Memang selama ini Dia tidak begitu memperhatikan media sosial selain Youtube. Waktu itu Abipraya pernah membuatkan beberapa akun media sosial namun hingga sekarang satupun dari media sosial itu tidak ada yang Dia gunakan.


“Sangat disayangkan sekali Pak Alex tidak punya nomor WA, bagaimana kalau Adek manis menyimpan nomor WA Saya saja? Atau bisa Adek manis sebutkan nomor Adek saja.” Tawar Pak Didit. Dalam hal ini malah Pak Didit yang merasa rugi jika tidak mendapatkan kontak perempuan tersebut.


“Idih, sama Kamu mah Ogah!” Puji bergumam, mulutnya manyun, keningnya mengerut, lalu Dia berdiri.

__ADS_1


“Kalau begitu Saya pamit ya Pak Alex.” Setelah pamit langsung saja Puji Astuti keluar dari rumah Alex dengan wajah yang masam.


__ADS_2