
Eliana tampak berdiri bersama Dinda di pinggir jalan Kampus itu. Eliana merogoh kantong tas nya dan mengambil benda pipih dari dalam tas tersebut.
“Halo Pak Ujang dimana? Ini Saya sudah di pinggir jalan menunggu.” Ujar Eliana sembari melirik kiri dan kanan. “Eliana apa sebaiknya Kita mencari tempat untuk duduk saja sambil menunggu.” Ucap Dinda, kakinya mulai pegal karena telah berdiri dari tadi.
“Tidak Dinda, Pak Ujang sudah di Kampus dan sudah otw kesini.” Sahut Eliana santai. “Baiklah.” Jawab Dinda pasrah.
Dinda berencana untuk bermain di rumah Eliana sambil mengerjakan tugas kuliah mereka berdua. Karena Alex, Dinda pun tak ingin menolak setiap ajakan Eliana untuk bermain ke rumahnya.
“Pak Ujang!” Eliana melambai kala melihat mobil sedan hitam itu. Mobil itu berhenti tepat di depan Eliana dan Dinda. “Ayo naik Din.” Ajak Eliana sembari membuka pintu mobil dan masuk. Dinda pun menyusul untuk masuk ke mobil tersebut.
“Dinda makan apa Kita, di rumah tidak ada makanan.” Terang Eliana, Dia sedang bingung untuk membeli makanan apa dikarenakan stok makanannya telah menipis dan Eliana belum pergi berbelanja. “Kalau Nasi Padang aja gimana Eliana?” Tanya Dinda memberi saran.
“Ah iya benar, Aku juga sudah lama tidak makan Nasi Padang.” Sahut Eliana. “Pak Ujang dimana ada Nasi Padang yang paling enak? Tolong antarkan Kami kesana.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya itu.
“Baik Non.” Jawab Pak Ujang singkat. Kemudian Pak Ujang memutar setir mobil dan menuju ke tempat Nasi Padang terenak di Kota Depok. Setelah membeli Nasi Padang, Eliana bersama dengan Dinda beserta supirnya melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.
“Pak Ujang, nanti sore tolong ke sini lagi ya. Nanti tolong anterin Dinda pulang.” Pesan Eliana kepada supir pribadinya itu sesaat setelah sampai di depan rumahnya. “Baik Non.” Jawab Pak Ujang singkat lalu supirnya itu menginjak pedal gas mobil dan berlalu.
“Ayo masuk Din.” Ajak Eliana kepada Sahabatnya itu. Eliana tengah berusaha membuka pintu rumahnya. “Isshh susah banget dibuka ya, memang udah mau diganti ini gagang pintu.” Ujar Eliana kesal. Dia bahkan menendang perlahan pintu itu.
Dinda hanya diam tanpa merespon temannya itu. Sesekali Dinda menoleh ke belakang untuk melihat rumah Alex, memastikan kalau-kalau si Duda ganteng itu ada keluar rumah. “Dinda, Kamu bisa tolong Aku?” Tanya Eliana.
“Ahhh.. iya ada apa Eliana?” Sahut Dinda sesaat setelah menoleh dari melihat rumah Alex. “Coba deh Kamu yang buka, barang kali bisa.” Ujar Eliana sembari memberikan kunci rumahnya. “Okay.” Jawab Dinda singkat.
Dinda tengah berusaha membuka pintu rumah Eliana. “Beneran keras ini pintu!” Gumam Dinda dalam hati namun ia terus berusaha untuk membuka pintu dan berhasil. “Puji syukurrrr..” Ucap Dinda yang wajahnya sudah dibasahi dengan keringat.
__ADS_1
“Terima kasih Din, mari masuk.” Kata Eliana dan masuk duluan ke dalam rumah diikuti oleh sahabatnya itu. Setelah masuk Eliana langsung meletakkan tasnya di atas sofa dan pergi ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.
Begitupun dengan Dinda, Dia mengikuti temannya itu dan berinisiatif untuk mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air mineral pada dispenser dapur itu. Kemudian dua sejoli itu meletakkan barang-barang yang mereka bawa di atas meja makan.
“Nasi padangnya mana Din?” Tanya Eliana. “Lahhhh… di mobil sama Pak Ujang!” Sahut Dinda. Mendengar hal itu Eliana langsung terduduk lesu. Dinda melongo “Jadi gimana ini? Kamu enggak nelpon Pak Ujang aja suruh putar balik?” Tanya Dinda.
Eliana berdiri dan membuka kitchen set miliknya di atas kompor. “Kelamaan Din, belum lagi kalau kena macet. Aku udah lapar banget, ini Kita makan ini aja.” Ujar Eliana sambil mendorong bungkus pop mie rasa bakso kepada Dinda.
“Tinggal Kamu seduh aja Din.” Sambung Eliana. Lalu Eliana membuka pop mie rasa kari ayam miliknya. Mereka berdua menyeduh pop mie dan menunggunya beberapa menit. Sembari menunggu Eliana mulai membuka percakapan kepada sahabatnya itu.
“Hhmm… Din ada yang ingin Aku tanyakan sejak kemarin.” Kata Eliana yang sedang duduk di meja makan bersama Dinda. “Iya ada apa Eliana, apa yang ingin Kamu tanyakan?” Sahut Dinda, kedua tangannya ia lipat di atas meja.
“Apa Kamu menyukai Alex Din?” Eliana menatap Dinda begitupun dengan sahabatnya itu. “Tentu Aku menyukainya, Dia tampan, kaya, dan baik sepertinya.” Jawab Dinda santai. “Maka dari itu Aku ngefans banget sama Dia, terlebih lagi perjuangan hidupnya untuk mengurus ketiga anaknya sendirian membuatku salut.” Tambah Dinda.
Eliana yang mendengar percakapan sahabatnya itu tertegun, ia menelan air ludah seketika. Lalu Eliana menghindari tatapan Dinda. “Ada apa Eliana? Ada apa dengan Alex?” Tanya Dinda heran. Tumben saja temannya itu bertanya hal sepele namun nampaknya dianggap serius.
“Oh ya, Aku menyukai Alex karena Aku ngefans aja sih. Eh Kamu tahu enggak Eliana, waktu Aku masih di Jepang saat pertukaran mahasiswi beberapa bulan lalu, ada seorang Pria disana yang menembakku dan Dia ingin Aku jadi pacarnya.” Ujar Dinda dengan mata berbinar serta tersenyum senang.
“Benarkah Din? Terus gimana Kamu terima?” Ucap Eliana teralihkan oleh topik soal Alex. Dia terkejut senang melihat temannya bisa menarik perhatian orang asing. “Iya, benar. Awalnya sih Aku tolak, secara kan Aku pengen focus belajar di sana. Tapi ternyata Dia orangnya keras kepala dan terus mengejarku hingga akhirnya Aku kalah dan mulai nyaman dengannya.” Terang Dinda.
“Terus.. terus…” Sahut Eliana penasaran. “Terusss Kami jadian deh hehe.” Ujar Dinda sembari tersenyum senang diiringi dengan tawa kecil. “Dan sekarang Kamu sudah putus dengannya?” Tanya Eliana lagi. “Ya enggak dong!” Jawab Dinda singkat.
“Loh? Jadi kalian LDR-Ran ya?” Tanya Eliana memastikan. “Ho’oh.” Jawab Dinda. “Dindaaaa… jadi Alexnya gimana kalau Kamu sudah punya pacar? Jangan Jahat gitu dong.” Kata Eliana, bibirnya mengerucut.
“Eliana ada apa sih dengan Kamu? Emang kenapa dengan Alex. Aku bilang suka Alex ya suka aja sih, sebatas kekaguman seorang fans kepada Aktornya, tidak lebih. Suka bukan berarti cintakan? Aku kan cintanya sama Hokaido.” Jelas Dinda.
__ADS_1
“Nih liat ni fotonyaaa…” Kata Dinda sumringah sambil memperlihatkan foto pacarnya pada ponselnya kepada Eliana. Dia bahkan melakukan video call didepan Eliana, namun karena Hokaido sibuk, nampaknya pacar dari Dinda itu tak sempat untuk melakukan percakapan dan hanya membalas melalui pesan bahwa dirinya tak bisa mengangkat panggilan video itu.
“Hehe Dia sibuk.” Kata Dinda tak enak hati. “Kamu serius sama Dia Din? Vc mu aja enggak diangkat.” Tambah Eliana. “Serius Eliana, Dia bahkan sudah mengenalkanku kepada orang tuanya. Yang menjadi kendala diantara Kami adalah umur Kami yang masih muda. Kami berdua harus menyelesaikan kuliah Kami dulu baru bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius. Pacarku bulan depan mau ke Indo loh, Kamu harus ketemu sama Dia entar. Kita jalan bareng!” Terang Dinda panjang lebar.
“Hemmm…” Eliana hanya bisa tersenyum senang. “Kayaknya ini mie sudah lembek, yuk Kita makan.” Ajak Dinda. “Oh Okay” Sahut Eliana dan langsung meniup pop mie itu sebelum ia makan.
“Oh ya, Eliana apa kau menyukai Alex?” Tanya Dinda. Sahabatnya itu mulai merasakan ada yang tidak beres diantara Eliana dan Alex semenjak jatuhnya temannya itu dari timangan Alex. Dinda tahu betul ada arti di antara tatapan mata mereka berdua kala itu.
“Apa loh kok pertanyaan Kamu gitu sih Din, ada-ada aja.” Pipi Eliana memerah, mau ngaku malu enggak ngaku juga malu. “Aku cuman balik nanya, tadi kan Kamu duluan yang nanya seperti itu.” Sahut Dinda. Dinda makin yakin dengan respon dari temannya itu.
“Emmm…” Eliana hanya mengaduk-ngaduk mie tanpa menjawab. “Eliana, jika Kau menyukai Alex tidak masalah. Itu hakmu, dan kulihat Alex juga tertarik denganmu dengan caranya mendekatimu selama ini.” Ujar Dinda, Dia menghabiskan pop mie nya dengan suapan terakhir. “Ahhh puji syukur perutku sudah kenyang.” Tambahnya.
“Benarkah?” Eliana tak percaya dengan dugaan temannya itu. “Sepertinya hanya Aku yang suka Dia Din, kayaknya sih Alex enggak, Dia kayak biasa-biasa saja.” Sahut Eliana tak percaya. “Menurutku sih gitu, tapi kalau boleh tahu sedalam apa rasamu terhadap Alex Eliana?” Tanya Dinda lagi yang menggeser bungkus pop mie di depannya ke samping.
“Lebih dalam dari rasaku kepada Fredrick. Memang Aku tak ada hubungan apapun dengan Alex, tetapi rasa itu terbangun sudah sejak lama. Sebelum kau tahu bahwa Alex adalah tetanggaku. Hanya saja Aku selalu menampiknya rasa itu Dinda. Alex membuatku melupakan Fredrick dengan cepat, lalu Aku menghindarinya. Lalu Dia muncul lagi di Kampus dan Aku tak tahu harus bagaimana.” Jelas Eliana, raut wajahnya terlihat sedih.
“Jadi selama ini Kamu hanya menghindari Alex dengan kekesalanmu itu?” Kata Dinda menatap tajam temannya. “Benar! Dan Kamu malah selalu menyuruhku untuk menolongnya.” Kata Eliana menatap Dinda kembali, sekarang mereka berdua telah beradu pandang.
Dingdong! Tiba-tiba bel rumah Eliana berbunyi. Eliana menghabiskan suapan terakhir pop mie kemudian minum beberapa teguk air mineral lalu berdiri dan melangkah ke pintu depan.
“Pak Ujang, ada apa?” Eliana berkata setelah membuka pintu rumahnya. “Ini Mba ada yang ketinggalan.” Kata Pak Ujang sambil mengangkat kantong plastic yang berisi Nasi Padang itu. “Oh iya benar ketinggalan, terima kasih Pak Ujang.” Sahut Eliana dan mengambil kantong plastic itu dari tangan Pak Ujang.
“Kalau begitu Saya pamit Non.” Kata Pak Ujang ringkas lalu pergi. Eliana masuk kembali ke dalam rumah, Dia masih mendapati sahabatnya itu masih duduk di meja makan dan sedang minum air. Eliana mengangkat kantong plastic itu kala Dinda meliriknya. Mereka berdua hanya tersenyum dikejauhan dan Eliana mendekati sahabatnya.
“Gimana sudah kenyang baru dateng Nasi Padangnya. Kita kasih Alex aja yuk!” Tawar Eliana senang. Eliana memutar badan untuk pergi keluar rumah. “Eliana…” Dinda menahan tangan Eliana agar tidak pergi ke rumah Alex.
__ADS_1
“Ada apa Dinda? Kenapa sepertinya Kamu tidak setuju.” Kata Eliana heran. “Eliana bisa kah Kamu duduk sebentar. Ada yang ingin Aku tanyakan lagi, dan ini sangat serius.” Dinda memasang wajah yang cemas. Melihat itu Eliana mengambil kursi dan terduduk disamping sahabatnya berhadapan.
“Eliana…” Dinda berkata sembari memegang kedua tangan Eliana. “Betapapun Kamu menyukai atau betapapun Kau mencintai Alex, Aku hanya ingin berpesan bahwa bisakah Kamu untuk tidak melepaskan imanmu demi Alex? karena ku tahu Dia seorang muslim yang taat dan seorang muallaf Eliana. Jangan sampai Dia menyeretmu ke dalam hal itu sama sepertinya.” ke empat mata itu memandang satu sama lain tanpa berkedip. Eliana melepaskan genggaman tangan Dinda dan tertunduk.