
Gerkkk… ponsel Alex bergetar. Segera Dia mengecek pesan masuk. “Alex, Kamu dimana? Dosen sudah masuk!” isi pesan dari Ketua kelas. “Aku lagi di belakang Gedung, ada sedikit kendala. Tapi sudah beres. Aku akan ke sana.” Balas Alex.
Alex berjalan perlahan, sesekali Dia berhenti dan terlihat mengintip. Perilakunya bagaikan maling yang takut ketahuan.
“Semoga saja tidak ada yang mengenalku.” Kata Alex dalam hati. Dia merapatkan topinya hingga matanya tak terlihat dibalik topi itu. Yang menonjol diwajahnya hanya hidung dan bibirnya.
Setelah berada di jalan Alex memperhatikan sekitarnya. “Sepertinya aman.” Gumamnya. Kemudian Alex mempercepat langkahnya hingga Dia tiba di kelas.
“Permisi Pak.” Sapa Alex. Dibalik pintu kelas kepalanya terlihat tanpa badan. “Ya, silahkan masuk.” Ujar Dosen tersebut.
Lalu Alex masuk dan langsung duduk. Dosen itu tidak sempat melihat badan Alex yang sedang menggendong Hendra karena Dia langsung kembali menulis di papan tulis.
Alex duduk tepat di sebelah kanan Najwa. Sedangkan di sebelah kanan Alex ada Reza. “Telat terus Lex.” Sapa Reza jutek. “Eh iya hehehe..” Jawab Alex.
Suasana hening, tak ada suara selain dari suara gesekan spidol dan papan tulis saat Dosen sedang menulis di papan tulis itu. Alex membuka bukunya, bersiap untuk belajar.
“Putttt…” Tiba-tiba suara kentut yang halus namun jelas terdengar. Sontak Dosen itu menoleh memandang ke arah tempat mahasiswa yang duduk. “Siapa yang kentut? Tidak sopan!” Tegur Dosen itu kesal.
Tak sengaja matanya langsung tertuju kepada Hendra kala mencari-cari arah dari suara kentut tadi. “Sejak kapan Anak itu di sini?” Tanya Dosen sambil menunjuk Hendra.
“Sejak Alex masuk Pak.” Jawab Antonius. “Mungkin saja Anak itu yang kentut Pak.” Tambah Antonius.
“Apa? Tidak benar. Bukan Anak Saya yang kentut Pak. Jika benar Dia kentut tentu Saya akan merasakannya dan mengetahuinya.” Alex membantah.
“Apa benar Kamu yang bernama Alex?” Dosen itu menatap dalam Alex. Alex menurunkan pandangannya “Iya benar Pak.”. “Jadi semenjak masuk Kamu sudah bawa Anak ini? Apakah ini Anakmu?” Tanya Dosen tersebut.
“Iya benar Pak.” Jawab Alex. Hendra tertawa saat dilihat oleh Dosen tersebut. Dosen itu terdiam seraya berpikir. “Baiklah Kita lanjutkan pelajaran ini.” Ujar Dosen itu kemudian kembali duduk pada kursinya.
“Alhamdulillah” Alex berucap syukur dalam hati karena Dosen itu tidak memperdulikan Hendra.
__ADS_1
Dosen itu menjelaskan, mahasiswa menyimak, begitu pun dengan Hendra. “Ayahhh..” Hendra memanggil Ayahnya dengan nada yang sedikit berbisik. “Anak pinter, Nah gitu ya Hen jangan ribut terus kalau panggil Ayah bisik-bisik aja. Ada apa nak?” Tanya Alex.
“Ipad Ayahhh..” Tambah Hendra. “Enggak bisa sayang, itu di sana ada Dosen yang sedang mengajar.” Bisik Alex. “Dosen itu apa Ayah?” Tanya Hendra. Alex bingung menjawab pertanyaan Anaknya.
Alex melihat Dosen itu yang tengah menjelaskan pelajaran mata kuliah. Dia memperhatikan ciri-cirinya. Dosen itu tinggi dan besar, hari ini Dosen itu mengenakan setelan berwarna hijau. kuping Dosen itu juga cukup besar.
“Dosen itu adalah guru yang mengajar di Universitas sayang.” Jelas Alex. “Duh gimana jelasinnya ya, dibilangin Hendra juga ga bakal ngerti.” Alex menyeru dalam hati sambil mengaruk-garuk kepalanya.
“Ayahhh, itu Hulk.” Kata Hendra menunjuk Dosen itu dan tertawa. Sontak Alex menutup mulut Anaknya agar suara tawanya tidak menganggu yang lain.
Di waktu yang sama, Dosen itu jelas melihat Hendra menunjuk kepadanya lalu tangan Alex mendekap mulut Anaknya. Tetapi Dosen itu mengabaikannya.
Sebuah nada dering Hp Samsung menggema di dalam kelas. “Halo iya, Saya sedang mengajar. Baiklah tunggu sebentar.” Kata Dosen itu saat mengangkat telpon genggam miliknya.
“Ketua kelas siapa?” Tanya Dosen tersebut. Kemudian Najwa menganggkat tangan, “Saya Pak.”. “Kamu tolong ke sini.” Panggil Dosen tersebut.
Najwa berdiri, merapikan bajunya sebentar lalu berjalan mendekati meja Dosen. “Ini, tolong Kamu informasikan ke teman-temanmu untuk mengerjakan tugas ini.” Pesan Dosen itu. “Iya Pak.” Jawab Najwa singkat.
“Alhamdulillah, hari ini Aku selamat!” Syukur Alex dalam hati.
“Teman-teman Bapak tadi sudah keluar dan tidak akan masuk lagi. Jadi Dia memberikan tugas yang akan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.” Jelas Najwa sembari mengibaskan sebuah kertas agar terlihat oleh teman yang lain. Kertas itu pemberian dari Dosen yang tadi.
“Najwa, Kita buat saja grup WA kelas ini. Jadi jika ada informasi penting Kamu tinggal masukin ke grup. Ada tugas juga bisa langsung WA ke grup.” Antonius memberikan saran.
“Benar setuju.” Sahut Siska. “Iya bener banget.” Tambah Reza. “Baiklah kalau begitu Saya akan membuat grup kelas dan memfoto kertas ini lalu Saya masukkan di grup WA kelas nanti.” Ujar Najwa.
Najwa mengambil kertas dalam tasnya. Lalu mendekati temannya satu pertsatu untuk meminta nomor WA anggota kelas itu. Terkecuali Alex, karena memang Alex sudah ada di kontak ponselnya.
“Okay terima kasih teman-teman.” Ujar Najwa sembari tersenyum dan kembali duduk di kursinya. “Alex, nomormu engga ada WA-nya ya?” Tanya Najwa.
__ADS_1
Alex terdiam, Dia melepaskan gendongan Hendra agar bisa berjalan meregangkan otot sebentar sambil menunggu Dosen untuk pelajaran yang kedua.
“Alex..” Panggil Najwa. “Ah iya Najwa, Aku belum pernah menggunakan Whatsapp selama ini.” Sahut Alex tanpa menatap Najwa karena matanya sedang mengawasi Hendra.
Hendra berjalan kesana kemari di depan kelas, tertawa riang. Beberapa mahasiswa ikut senang melihatnya yang kebanyakan dari mahasiswi perempuan. Mahasiswa yang laki-laki tidak begitu menghiraukan Hendra, mereka sedang mengobrol sesama temannya.
“Kenapa engga ada, harus ada. Pokoknya besok harus sudah ada ya.” Pesan Najwa. “Iya iya, Siap Komandan.” Canda Alex. “Hahaha..” Najwa tertawa mendengar perkataan Alex. Sebenarnya baginya perkataan itu kurang lucu, tapi Dia tertawa bukan karena lucu melainkan karena senang.
“Ok, besok bakal kutanyain lagi, ingat ya.” Terang Najwa. “Iya iya.” Jawab Alex singkat.
“Assalmualaikum, permisi.” Seorang perempuan mengenakan hijab masuk. Langkahnya terhenti di tengah kelas kala melihat seorang Balita yang sedang berjalan sendiri.
“Ini Anak siapa?” Tanyanya dengan nada heran, wajahnya tampak kebingungan. Segera Alex mengambil Hendra dan memangkunya. “Alex? Ini Anakmu?” Kata Dosen itu.
Seketika para mahasiswa yang ada di kelas itu bingung termasuk Alex. Alex memangku Hendra sambil tertunduk. Agaknya Alex takut kalau-kalau disuruh keluar lagi.
“Loh kok Ibu itu bisa tahu nama Alex sih?” Ujar mei-mei. “Ya mana ku tahu. Kita sama-sama baru ketemu Ibu itu kan.” Jawab Siska.
“Mungkin Dia teman lama Alex kali ya.” Kata Reza sembari memandang Antonius. Tapi sayang Reza dicuekin oleh Antonius.
“Iya benar Bu ini Anak Saya.” Jawab Alex yang tak berani memandang Dosen itu. “Ya ampunnn Alex… Ibu enggak nyangka loh bisa ketemu Kamu disini.” Kata Ibu itu dengan nada yang bersahabat. Dosen itu langsung saja mendekati Hendra dan ingin menggendongnya.
Hendra yang didekati oleh orang yang tak dikenalnya langsung berlari ke Ayahnya. Anak bungsu dari Alex itu lekas memeluk erat Alex. “Ayahh…” Wajah Alex cemberut dan mengerutkan kening sebagai sinyal penolakannya.
“Hahaha..” Sontak se isi ruangan tertawa melihat hal tersebut termasuk dari Dosen itu sendiri. “Lucunya Kamu nak.” Ujar Dosen mencubit pipi Hendra.
“Ya ampun Alex, Anakmu ini sama seperti Anak Ibu. Ibu juga punya Anak yang berumur dua tahun lebih sama sepertimu. Anak Ibu perempuan tapi ya. Dan, tiap pagi Aku juga membuatkan menu yang selalu Kamu buat. Alhamdulillah Anak Ibu tumbuh sehat. Thank you ya…” Dosen itu lalu duduk di meja Dosen.
Alex hanya tersenyum malu, Dia bersyukur dalam hati. “Kenapa enggak di jawab Alex?” Tanya Najwa. “Oh iya, Saya mau menjawab tetapi Ibu itu sudah di sana.” Sahut Alex.
__ADS_1
“Iya makanya jangan senyum-senyum saja tadi.” Tambah Najwa. “Hehehe..” Alex hanya menyengir.
Prok..prok..prokk Dosen itu bertepuk tangan mencari perhatian. “Halo bisa Kita mulai, sekarang jangan ribut dan coba focus ya.” Terang Dosen tersebut. Dosen itu sangat ramah dan energik. Semua mahasiswa pun menegakkan posisi duduknya dan siap untuk belajar.