
Dindong! Bel rumah Alex berbunyi. Andra yang sedang bermain pada Ipad miliknya itu beranjak dari sofa dan segera membuka pintu depan. “Assalamualaikum” Salam seorang gadis mungil, berhijab, dan cantik. Paras wajah arab dari gadis itu masih sangat kental.
“Walaikumsalam.” Sahut Andra. Kedua orang itu masih berdiri di tempatnya masing-masing. Andra yang masih di dalam rumah depan pintu serta gadis yang berjilbab itu masih di teras dan di depan pintu juga. Mereka berdua sedang berhadapan satu sama lain.
Jika Andra hanya terdiam dengan wajah datarnya, maka gadis itu tersenyum manis dengan semangatnya. “Kakak siapa? Dan lagi cari siapa?” Tanya Andra masih dengan wajahnya yang datar.
“Andra siapa yang datang?” Teriak Alex dari dalam kala menyadari Andra masih di depan pintu berdiri. Alex tak dapat melihat siapa tamu yang datang, karena badan Andra yang tinggi mengikuti bibit dari Ayah dan leluhurnya menutupi badan mungil itu. Ditambah dengan posisi teras rumah yang lebih rendah dibandingkan dengan lantai dalam rumah. Hingga keduanya sejajar satu sama lain antara Andra dan gadis itu.
“Ini Aku Najwa Alex.” Ketua kelas itu menyeru dari luar rumah dengan suara yang cukup besar. Dengan sekali menyahut gadis itu mampu mencapai gendang telinga Alex. Seketika Duda keren itu beranjak dari tempatnya untuk menghampiri teman kuliahnya tersebut.
“Silahkan masuk Najwa. Andra bisa minta tolong lanjutkan pekerjaan Ayah. Tolong isikan angin ke dalam semua balon itu.” Kata Alex sembari menunjuk ke ruangan yang penuh dengan warna hitam putih dan berantakkan itu.
“Kenapa lama sekali Najwa?” Tanya Alex kepada Ketua kelas kesayangannya itu. “Di jalan macet Lex, apa sebegitunya Kamu menungguku?” Ujar Najwa sok manja. “Hahaha…” Alex tertawa. “Sejaka kapan Kamu berakting manja seperti itu Najwa? Hahaha..” Alex masih saja tertawa.
“Isshhh.. nyebelin banget emang Kamu ya Alex.” Najwa memutar kedua bolanya matanya kemudian masuk tanpa dipersilahkan. “Kamu Andra kan? Anak sulung dari Alex?” Tanya Najwa kepada laki-laki yang membukakannya pintu tadi. Tampak Andra sedang meniup balon dengan pipi yang menggembul. Setelah selesai meniup barulah Dia melirik ke arah Najwa.
“Iya benar, ada apa Kak?” Sahut Andra sembari mengikat balon itu agar tetap menggembul penuh dengan udara. “Jangan ditiup manual gitu dong, ini pakai ini!” Ucap Najwa. Najwa mendekati Andra dan memberikan alat pengisi udara balon berbasis listrik. “Okay, Thanks ya Kak.” Sahut Andra lagi.
Najwa memandangi ruang tamu itu. “Ckckck.. masih sangat berantakkan.” Gumamnya. “Alex…” Seketika Najwa berteriak memanggil nama Alex. Duda ganteng itu langsung terperanjat dari tempatnya berlari ke arah Najwa yang hanya berjarak tiga meter.
“Kamu gimana sih, enggak becus banget tauk! Acaranya besok pagi, kenapa pada belum ini isshhh.” Kata Najwa sembari memegang pinggangnya di kiri dan kanan. Tampak wajah kesal Najwa, Dia menggeleng tak percaya. Sedangkan Alex memasang wajah datar tak bersalah.
__ADS_1
“Haduh pusing Gue, Lu yang punya Anak malah Aku yang repot tujuh keliling.” Ujar Najwa kemudian mulai membereskan ruang tamu itu yang akan dijadikan tempat untuk merayakan ulang tahun ketiga Putra Alex yaitu Andra, Indra dan Hendra.
Alex hanya berlalu masuk dan menghidupkan TV kemudian menonton drama local berjudul Virgin Mom. Najwa melirik Alex yang sedang menonton dan sedang duduk santai di sofa dengan melipat kaki. “Tuh, Andra itu Ayahmu bukan?” Terang Najwa kepada Anak sulung Alex. Bibir Najwa mengucut lalu miring ke atas.
“Bukan, Dia Kakakku.” Canda Andra. Najwa tak menjawab perkataan Andra, ia hanya memutar kedua bola matanya. “Bapak sama Anak sama saja.” Gumamnya. “Haduhhh.. Kak perutku sakit, maaf Aku harus ke toilet.” Tiba-tiba Andra merasa sakit perut tapi yang dipegangnya kepala bukan perut.
“Mana ada orang sakit perut di kepala.” Sahut Najwa. Menyadari bahwa aktingnya tidak berhasil lekas Andra memindahkan posisi tangannya dari kepala ke perut. “Benaran Kak haduhhh..” Andra kembali pura-pura sakit perut namun sayang aktingnya sangat amatir.
“Kalau enggak mau bantu silahkan. Toh yang ulang tahun kan Kakak bukan Kamu.” Ucap Najwa ketus, ia menyindir. “Beneran Kak enggak apa? Alhamdulillah terima kasih yang Allah engkau kirimkan malaikat pencabut nyawa kemari.” Ujar Andra sumringah.
Najwa yang mendengar kalimat Andra itu sontak menghentakkan Kaki dan menghampiri Andra. Namun sayang saat Najwa lekas ingin menjewer telinga Putra sulung Alex itu, Andra telah menghilang entah kemana. Najwa hanya melongo heran “Punya ilmu apa Anak sulung Alex itu.” Gumamnya.
Sembari heran, Najwa pun kemudian terlampau kesal. Ia hanya terduduk dan menopang dagu. “Najwa salah sendiri, kenapa Kamu terlalu baik dan berhati malaikat. Lihat, ini pesta orang lain tetapi terlihat seperti dirimu saja yang merayakan pesta ulang tahun disini. Terlebih lagi jika dilihat dari kerja kerasmu.” Najwa berbicara sendiri tanpa ada yang mendengar.
Yah.. itulah Najwa, salah satu perempuan yang mencintai Alex. Rela berkorban matian-matian dari mulai urusan Alex di Kampus, di Rumah, hingga ke urusan Anak Alex. Hanya dengan satu Anak Alex, mengapa demikian? Karena yang Najwa urus hanya Andra seorang.
Lalu bagaimana dengan Indra dan Hendra. Mereka berdua sudah menemukan Ibu mereka masing-masing. Saat ini saja Indra sedang bermain sendiri di rumah Eliana dengan Eliana bermain ponsel di sampingnya. Sedangkan Hendra tertidur nyenyak di kamar Aisyah dengan elusan lembut di punggung.
“Arghhh….! Sial!” Umpat Najwa, kemudian Dia mulai mengerjakan dekor itu sendirian. Satu persatu dikerjakan dengan hati-hati, di mulai dari menyelesaikan mengisi tiga ratus balon yang hanya berwarna dua jenis warna yaitu hitam dan putih. Menempel tulisan Happy Birthday untuk ketiga Anak Alex beserta dengan nama lengkapnya. Hiasan dinding yang didominasi dengan kerlip kertas hitam dan putih. Kemudian kain panjang yang dibentuk sedemikian rupa untuk menambah keren dekorasi tersebut.
Najwa bergelut diruangan itu enam jam. Sesekali Alex datang menawarkan bantuan namun Najwa terlanjur marah dan merajuk. Hal itu malah menambah senang Alex, tentu Dia tidak perlu membantunya lagi bukan? Hehe.
__ADS_1
“Ahhhhh…” Najwa menghela nafas panjang dan terbaring di lantai dengan tangan dan kaki yang melebar. Memandangi langit-langit rumah Alex yang berwarna krem dengan lampu hias minimalis modern. Untuk pertama kalinya Najwa merasakan sensansi capek yang membuatnya bahagia.
Alex datang menghampiri dan berbaring disamping Najwa. Alex meniru semua posisi Ketua kelasnya hingga terlihat kompak. “Apa Kamu sudah selesai Najwa?” Kata Alex sambil menoleh ke kanan memandangi wajah Najwa yang sudah lusuh karena kelelahan.
“Iya sudah beres Alex.” Sahut Najwa sembari menoleh ke kiri memandangi Alex. Najwa tersenyum senang. “Kalau begitu, masih ada toilet yang harus Kamu bersihkan Najwa.” Pungkas Duda keren nan tajir itu.
“WHATTTTTT???” Najwa berkata tak percaya. Sontak Dia duduk dan menghajar Alex dengan tonjokkan sekuat tenaga. Namun sayangnya, sekuat apapun Najwa meninju Alex, tetap saja bagi Duda itu tonjokkan Najwa bagaikan kerupuk lempem.
“Arghhh…” Alex berteriak pura-pura kesakitan kemudian berlari masuk rumah lebih ke dalam lagi. Najwa hanya terduduk dan tak mengejarnya. “Dasar Duda bocah!” Umpatnya. Najwa mengelap tetesan keringat yang ada di pelipih wajahnya dengan lengan lalu berdiri mengemasi barang bawaannya.
“Alex Aku pulang.” Teriak Najwa. Alex hanya melongo dan menjawab “Okay”. Kemudian rumah itu kembali dihuni tanpa seorang perempuan lagi.
*
*
“Selamat ulang tahun Kami ucapkan, selamat panjang umur Kita kan doakan. Selamat sejahtera, sehat, sentosa… selamat panjang umur dan bahagiaaa….” Alunan lagu selamat ulang tahun dinyanyikan oleh para tamu yang sudah hadir.
Tak lupa, keluarga kecil Alex ikutan bernyanyi. Acara ulang tahun yang sederhana itu dihadiri oleh orang-orang yang menyayangi Alex, para tetangga Alex, dan sahabatnya. Para tetangga seperti Pak Didit sekeluarga yang notabene ruangan itu hanya dihadiri oleh Pak Didit dan Istri dan orang yang dianggap penting lainnya. Sedangkan anggota keluarga yang lain menunggu dikursi yang disediakan dibawah Canopy rumah Alex.
Orang-orang yang sayang dengan Alex juga hadir seperti Aisyah, Eliana, Najwa, dan Dinda. Para tetangga seperti Mba Temble, Bu Rosa, Bu Tuti juga hadir. Tak luput, sahabat Alex sejak kecil juga hadir yaitu Abipraya.
__ADS_1
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekaranggg.. juga.. sekarang juga!” para tamu dan keluarga kecil Alex kembali bernyanyi. Saat lagu itu habis dan berhenti, ada tujuh orang yang meniup lilin pada kue tar bertingkat tiga itu sampai padam.
Dear Pembacaku, sekedar mengingatkan, jangan lupa kasih jempol tiap baca ya. Biar penulis tetep semangat untuk berkarya. Dan terima kasih sudah mau baca sampai sejauh ini. Oh ya, penasaran ga dengan tujuh orang itu? Lanjut ke bab 91 yaaa.. Thank Youuu!