
Mata Alex terbuka, samar-samar Dia melihat beberapa orang mengelilinginya. Orang-orang itu memakai seragam hijau kebiruan yang polos yang tak ia kenali. Kepala Alex terasa sakit, pandangannya kembali oleng dan memudar, kedua bulu mata itu kembali menyentuh satu sama lain dan Alex tak sadarkan diri lagi.
“Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Nanti setelah pasien sadar mohon untuk tidak memberinya makan dulu. Berikan saja air minum sedikit demi sedikit.” Ujar Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Dokter tua berambut putih itu bernama Dokter Sito. Dokter tersebut adalah Dokter senior di Rumah Sakit bergengsi yang ada di Jakarta.
“Alhamdulillah.. Baik Dok, terima kasih.” Sahut Pak Didit supir, tetangga dan sekaligus Pak RT Alex. Dia mengikuti perawat menggiring Alex ke ruangan VIP RS tersebut. Semua diuruskan oleh supir pribadinya sendirian.
Pak Didit duduk menunggu di sebelah Alex. Pak RT dari Alex itu berharap warganya yang satu ini cepat untuk sadarkan diri. Selama satu jam lebih Pak Didit menunggu agar Alex bangun dan sadar namun Alex tak kunjung sadar. Dia tidak bisa menunggu Alex lebih lama lagi. Kedua putra dari Alex yaitu Andra dan Indra harus segera ia jemput. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Alex sendirian di Rumah Sakit tersebut.
“Pak Didit! Pak Didit kesini.” Teriak Indra, Andra melambai, Pak Didit segera mendekat. Ternyata mereka menawarkan kepada Pak Didit sosis goreng yang dibeli di luar pagar sekolah. Sosisnya terlihat enak, tetapi Pak Didit menolak pemberian dari kedua Anak dari Alex itu.
“Andra, Indra hayuk Kita pulang cepat.” Ajak Pak Didit. Mereka bertiga berjalan menuju mobil. Kepala Pak Didit sedang mumet sekarang. Dia berpikir, mau dibawa ke mana dua bocah ini. Dia juga enggan memberi tahu keadaan yang menimpa Ayah mereka.
Belum lagi terhadap Hendra. Karena Panik melihat kejadian itu langsung saja Pak Didit menggendong Hendra kerumahnya serta menitipkannya kepada sang Istri. Namun, Dia tahu betul bahwa tidak bisa Hendra tinggal lebih lama lagi dirumahnya. Lambat laun Hendra akan mencari sosok Ayahnya.
Mobil terhenti di depan rumah Alex. Alih-alih membawa Andra dan Indra masuk rumah. Pak Didit malah membawa Andra dan Indra kerumah tetangga barunya itu. Mengingat bahwa gadis itu hidup sendiri, supir pribadinya Alex yang juga sekaligus Pak RT di komplek itu berencana untuk mengantarkan kedua Putra Alex kepadanya. Pak Didit enggan membawa Andra dan Indra kerumahnya dikarenakan kondisi rumah yang terbilang kecil.
Rumah Pak Didit terbilang kecil untuk menampung seluruh anggota keluarganya. Untuk ukuran rumah type 36 yang memiliki dua kamar. Pak Didit tinggal bersama satu Istri, dua Anak, dua menantu dan lima cucu. Luar biasa! Di tambah satu lagi, Hendra.
Melihat mobil yang terparkir, Istri dari Pak Didit yang bernama Bu Tanjung langsung mendekati mobil tersebut. Bu Tanjung tidak melihat adanya orang di mobil lalu Dia mulai memperhatikan sekitar. Dia melihat Pak Didit mendekati rumah tetangga barunya. Sontak Bu Tanjung mempercepat langkahnya, dengan menggendong Hendra pada pinggulnya ia kemudian menyusul Pak Didit sebagai antisipasi. Antisipasi kalau-kalau Suaminya itu ingin menggatal dan menggoda gadis muda.
“Ayah, ngapain disini?” Tanya Bu Tanjung kepada Pak Didit yang baru saja sampai di depan rumah tetangganya itu.
__ADS_1
“Ini Bu, Alex belum sadarkan diri. Saya bingung mau dibawa kemana dua bocah ini. Jadi Saya teringat kalau Mba penghuni baru ini adalah tetangga baru Kita. Dia tinggal sendirian Bu, Ibu ingat tidak waktu Dia melapor ke Ayah dan memberikan surat domisili.” Jelas Pak Didit dengan hati-hati kepada Istrinya. Sekarang malah Bu Tanjung membalas dengan berbisik-bisik.
“Ide cemerlang Ayah. Sekalian ini Hendra juga. Tidak ada ruang kosong di rumah Kita untuk Balita ini.” Sambil menutup sebelah sisi mukanya dengan tangan Bu Tanjung komat kamit. Andra dan Indra kebingungan. Merasa bosan, Indra malah memencet bel rumah. Cukup sekali dipencet gadis itu langsung membuka pintu.
Seketika mata Pak Didit dan Istrinya tebelalak. Mereka belum selesai melakukan kesepakatan itu. Dan langsung saja Bu Tanjung memberikan Hendra kepada gadis itu. Gadis itu terkejut. Tapi tidak menolak dan langsung menggendong Hendra dengan sigap agar tidak terjatuh. Heran agaknya, tetangga barunya sedang merasa bingung.
“Ada apa ini Bu?” Tanya gadis itu terheran-heran. Sekarang mata gadis itu tertujuh kepada dua bocah yang berada di bawahnya.
“Eh anu neng, tolong jagain Adek ini sebentar saja. Tolong ya neng! Tolong sekali. Bapaknya kecelakaan dan kabur. Eh bukan maksudnya Bapaknya sakit dan di operasi. Juga belum sadarkan diri.” Kata bu Tanjung kaku sambil menggaruk-garuk lehernya. Pak Didit merasa tidak enak hati melihat tingkah Istrinya.
“Begini Bu, Mba inilah yang pertama kali melihat Pak Alex jatuh dan Dia juga yang menelpon Saya. Jadi untuk kronologi jatuhnya Pak Alex Dia lebih paham. Dan Mba, Kami minta tolong untuk menjaga Anak-anak Pak Alex hingga Dia sadarkan diri dan pulang.” Ujar Pak Didit memohon.
Pak Didit juga memberikan sejumlah uang ke gadis itu. Biaya untuk kebutuhan tiga bocah itu. Indra yang sedari tadi kebingungan karena diantar kerumah itu. Sekarang malah tersenyum manis. Dia langsung saja masuk rumah melewati gadis itu tanpa permisi. Kali ini Andra yang terheran melihat tingkah Adiknya.
“Darr…” Bunyi pintu tertutup. Sepertinya gadis itu sedikit kesal untuk direpotkan. Pak Didit dan Istrinya lekas berlari-lari kecil lalu pergi. Bukannya tidak enak, mereka malah cekikikan berdua. Mereka merasa terbebas tanpa penyesalan.
Setelah masuk, gadis itu menaruh Hendra di sofa diikuti dengan Andra dan Indra. Lalu segera menghidupkan TV. Gadis itu menuju dapur, mengambil segelas air putih.
Glek..glek..glek.. air putih itu langsung habis seketika bak orang yang sedang haus di tengah padang pasir. Dia tidak haus, hanya saja gadis itu sedang shock! Dia memandang tiga bocah kecil diruang tamunya kemudian berpikir.
“Harus Aku apakan tiga bocah ini? Apa perlu mereka bertiga Aku taruh di genteng dan jatuh seperti Bapak nya.” Gadis itu bergumam. Lalu menutup mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Jangan!” Gumamnya. Dia tidak tega. Kemudian Dia menggapai telpon genggam yang sejak tadi berada di kantong celananya. Memencet tombol dan melakukan panggilan ke kantor polisi. Belum sempat masuk, dimatikan panggilan itu.
“Jangan!” Dia kembali menggelengkan kepala dan menganggkat dagu melihat ke atas. “Ya Tuhan mimpi apa aku semalam? Oh yesus!” Gadis itu perlu berpikir. Dan menerima apa yang baru saja datang padanya. Dia seorang kristen taat. Selalu percaya bahwa berbuat kebaikan adalah yang terbaik.
Gadis itu kembali menggapai telpon genggamnya. Menelepon seseorang yang mungkin bisa menbantunya. “Halo Pak, bisa antar Saya ke Mall sekarang. Baik Saya tunggu ya Pak.” Tak menunggu jawaban dari yang di telpon langsung saja Dia tutup panggilan itu. Lalu berlari ke lantai dua dan berganti pakaian dengan cepat.
Tak lama kemudian jemputannya datang, dengan membawa tiga bocah titipan Pak RT gadis itu menuju ke Mall terdekat. Mengajak Andra, Indra, dan Hendra untuk makan siang sekaligus jalan-jalan.
Gadis itu masuk ke restaurant Kopi Oey. Restaurant itu adalah restaurant kesukaannya. Para bocah itu memang sedang kelaparan. Andra dan Indra dipesankan Nasi Goreng Kampung. Untuk Hendra, gadis itu mencoba dengan menu Bubur Ayam.
Walaupun Hendra terlihat lucu, tetap saja gadis itu kewalahan. Bagaimana mungkin, Dia anak satu-satunya, tidak mempunyai Kakak apalagi Adik. Dia pun terbilang orang kelas menengah ke atas. Sejak kecil Eliana selalu diurusi oleh pembantu orang tuanya.
Hari ini gadis itu yang mengurus tiga Anak sekaligus. Diperparah dengan Balita yang harus disuapi. Dan yang paling mencengangkan baginya adalah mereka semua Anak dari orang lain.
Dia berusaha memberi makan Hendra. Tetapi Hendra tidak mau makan lagi setelah suapan kedua. Andra dan Indra aman, mereka berdua makan dengan lahap.
Gadis itu memegang kepalanya dengan kedua tangan. Merasa bahwa ini adalah hari terberatnya. Tanpa banyak tanya, melihat Andra dan Indra selesai makan. Gadis itu menggiring ketiganya untuk bermain playground dan mandi bola.
Seketika tiga bocah itu terlihat ceria. Andra dan Indra langsung saja bermain dengan semangat. Melompat di tempat mandi bola serta bermain pelosotan. Sedangkan Hendra duduk manis sambil menggigiti mainan yang ada.
Gadis itu hanya termenung. Tidak berantusias sama sekali. Dia mengambil lagi telepon genggamnya “Pak jemput saya sekarang di tempat yang tadi”.
__ADS_1
Dia menelpon supirnya lagi. Belum puas bermain tiga bocah itu kembali di giring menuju lobi Mall dan menunggu jemputan. Gadis itu serasa ingin meneteskan mata. Tak lama supirnya datang dan mereka pergi.